[berkebun] KLIPING: Daya Tawar Peternak Masih Lemah

7 views
Skip to first unread message

Manglayang

unread,
Jul 1, 2007, 10:49:11 PM7/1/07
to berk...@yahoogroups.com

Daya Tawar Peternak Masih Lemah
Kenaikan Harga Susu Belum Menutup Biaya Produksi

BANDUNG, (PR).-
Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonsia (GKSI) Jabar, Dedi Setiadi,
menegaskan posisi tawar peternak dengan kalangan industri pengolahan
susu (IPS) masih lemah. Hal itu tercermin dari kenaikan harga susu.
Sekalipun harga susu di tingkat internasional sudah naik tinggi, tetapi
kenaikan susu segar di tingkat peternak di Jabar hanya Rp 600,00 - Rp
700,00/liter.

Kenaikan itu dinilai tidak signifikan sebab, saat ini harga susu segar
di tingkat peternak baru sekitar Rp 3.400,00 - Rp 3.600,00/kg. Itu pun
masih ada sekitar 50% lebih susu yang harganya dikisaran Rp 3.400,00/kg.
Sementara, biaya produksi saat ini sudah mencapai Rp 3.800,00/kg - Rp
4.000,00/kg, dan harga susu dunia sudah melonjak hingga Rp 4.800,00 - Rp
5.600,00/kg.

"Setidaknya dengan kenaikan itu, peternak dapat menjual dengan harga Rp
4.000,00/kg. Namun sayangnya, lemahnya daya tawar peternak terhadap IPS
tidak memungkinkan harga ideal tersebut bisa tercapai," katanya saat
ditemui di Bandung, akhir pekan lalu.

Menurut dia, seharusnya saat pasokan susu impor dari Australia turun
drastis karena pemanasan global, para peternak bisa masuk untuk
menyuplai kebutuhan dalam negeri. Karena sampai saat ini, baru sekitar
30% kebutuhan dalam negeri yang disuplai peternak lokal. "Ini
menguntungkan peternak, karena tiga bulan terakhir ada peningkatan
permintaan susu dari IPS hingga 40%," tuturnya.

Dikatakannya, kenaikan harga itu sudah yang ketiga kalinya dalam periode
2006-2007. Satu kali kenaikan pada akhir 2006, lalu April 2007 naik
sebesar Rp 150,00/kg, dan pertengahan Juni ini kembali naik Rp 600,00 -
Rp 700,00/kg.

Dengan demikian, harga susu untuk kualitas rendah menjadi Rp
2.000,00/liter dari sebelumnya Rp 1.800,00/liter dan harga susu untuk
kualitas tinggi menjadi seharga Rp 2.790,00/liter dari Rp 2.500,00/liter.

Sekjen Departemen Pertanian, Dr. Ir. Hasanuddin Ibrahim menuturkan,
dengan kenaikan harga susu dan berkurangnya skim susu impor ini, ada
prospek cerah untuk meningkatkan produktivitas sapi perah di Jabar.
Sebab, Jabar berpotensi untuk meningkatkan produksi susu segar dengan
menambah populasi sapi perah karena masih banyak lahan yang bisa
dipergunakan untuk pakan ternak.

Perlu strategi

Menanggapi peran serta pemerintah untuk mendorong kenaikan harga susu di
IPS, dia mengaku sedang melakukan pembicaraan dengan departemen
perdagangan untuk mambahas hal tersebut. "Karena untuk menge-push IPS,
pemerintah perlu strategi terlebih dahulu sehingga IPS setidaknya bisa
memberikan harga sesuai dengan harga susu dunia," tuturnya.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan
(Disperindag) Jabar. Kenaikan harga susu baru terjadi di beberapa sentra
susu, seperti di Lembang dan Pangalengan. Sedangkan di beberapa pasar,
kenaikan harga susu terjadi pada produk susu bayi dan balita, serta susu
kental manis.

"Rata-rata kenaikan harga susu balita dan bayi di pasaran hanya sekitar
10% dan untuk susu kental manis hanya sekitar 5%-an. Jadi, tidak begitu
berpengaruh ke masyarakat. Karena rata-rata yang mengonsumsi masyarakat
menengah ke atas," ujar Kasie. Pengadaan dan Penyaluran Perdagangan
Dalam Negeri (PDN) Disperindag Jabar, Bambang Kusnadi.

Saat ini, tambahnya kebutuhan susu di Jabar rata-rata 6,5
kg/kapita/tahun. Rendahnya kebutuhan tersebut tidak terlepas dari
mahalnya harga susu, apalagi belakangan ini terjadi kenaikan bahan baku
untuk membuat susu bubuk di dalam negeri, dari Rp 26.000,00 - Rp
27.000,00/kg menjadi Rp 51.000,00/kg. (A-161/A-158)***

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/072007/02/0601.htm

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
SPONSORED LINKS
Drive Traffic

Sponsored Search

can help increase

your site traffic.

Yahoo! Mail

Get it all!

With the all-new

Yahoo! Mail Beta

Official Samsung

Yahoo! Group for

supporting your

HDTVs and devices.

.

__,_._,___
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages