Ditahun 1984, tiga tahun setelah kejadian di rumah lama mereka, Rini Suwono bersama dengan ayahnya, Bahri, dan adik-adiknya, Toni dan Bondi, menetap di lantai 8 rumah susun milik pemerintah di dataran rendah Jakarta Utara, dekat laut. Tetangga sebelah Rini adalah Wisnu Hendrawan, yatim yang tinggal bersama dengan ibunya yang tuna rungu semenjak ayahnya meninggal karena kebakaran rumah. Bondi dan teman-temannya, Ari Gunawan dan Darto Suhaimi, menggali pekarangan rumah susun yang konon ada kuburannya, sebelum Ari disuruh ayahnya untuk pulang dan menjaga adiknya, Wina Endarti. Toni menaksir Tari Daryati, wanita yang tinggal di lantai 9, sementara Tari menampik rayuan Dino Suhendar, pemuda yang tinggal di lantai 13.
Pada tanggal 16 April 1984, terjadi tragedi kecelakaan lift yang menewaskan hampir seluruh orang di dalamnya, termasuk ibu Wisnu dan ayah Ari, berikut empat anak-anak yang memunguti uang logam dari salah seseorang yang menaiki lift. Satu-satunya korban yang selamat adalah Bahri. Para korban kemudian dikafani di unit masing-masing sebelum akan dikubur keesokan harinya. Pemberitahuan badai besar membuat sebagian besar penghuni rumah susun mengungsi. Listrik kemudian mati dan lantai bawah tenggelam oleh banjir, mengakibatkan penghuni yang menetap terjebak di rumah susun.
Sementara itu, Budiman mendapatkan kiriman paket dari Heru yang tewas karena bunuh diri. Kiriman tersebut berisi beberapa benda, termasuk foto Bahri saat masih muda, foto rumah susun yang baru dibangun, dan alat penyiksa pear of anguish. Ia menyadari ada bahaya di rumah susun itu dan bergegas ke sana, namun tidak ada seorang pun yang mau mengantarnya ke sana karena rumah susun itu dilanda banjir.
Di tengah mati lampu, Ari dijemput oleh Bondi dan Darto, meninggalkan Wina dan ibu mereka di unit mereka di lantai 10. Wina dihantui oleh teman-temannya yang tewas saat lift jatuh. Dia mendengar suara ibunya dari lift yang entah kenapa bisa terbuka, dan masuk, sebelum menyadari bahwa lift tersebut tidak ada gerbongnya, dan dia sedang melayang di udara. Wina pun jatuh hingga tewas.
Toni membetulkan radio Tari yang rusak, namun Tari menyerahkannya kembali ketika radio tersebut menyiarkan percakapan mencekam oleh wanita yang terjebak di liang lahat. Setelah membuang radio tersebut, Toni membantu Ustaz Mahmud untuk menutup jendela unit-unit yang terbuka. Sesampainya di lantai 13, dia diminta Dino untuk mengambil garpu yang jatuh ke unit sebelah. Di unit sebelah, Toni menemukan album foto berisi rumah susun yang masih baru, orang-orang yang dahulu sering dia lihat saat ibunya pentas, dan gambar Raminom yang sangat mirip dengan ibunya. Kaget, dia bergegas keluar, disusul oleh Dino, untuk menjemput Tari yang baru saja diteror oleh pocong saat dia salat.
Setelah mengambil koper yang selalu Bahri bahwa saat dia kerja, Rini dan Wisnu mengunjungi unit Ari dan menemukan jasad ibu Ari yang tewas gantung diri. Bertemu dengan Toni, Dino, dan Tari, Rini membuka koper Bahri yang ternyata berisikan puluhan jari manusia. Dino dan Tari memutuskan untuk pergi dari rumah susun, berpisah dengan Rini, Toni, dan Wisnu yang hendak mencari Bondi terlebih dahulu. Tari berubah pikiran dan berbalik ke atas, namun dia dihantui oleh Ustaz Mahmud yang dibunuh dan dijadikan arwah gentayangan. Bersembunyi di trash chute/tempat sampah, dia dikagetkan oleh radionya yang terkutuk dan sesosok pocong korban kecelakaan lift hingga dia terperosok dan tewas. Dino juga berakhir tewas ketika dia dikejutkan oleh Raminom hingga lehernya tertusuk garpu rumput.
Ari, Bondi, dan Darto memasuki unit Ketua RT di lantai 2 dan melihat foto yang membuktikan bahwa rumah susun dibangun di atas pemakaman. Mereka juga menyadari bahwa rumah susun itu terdiri dari 15 lantai, tetapi tidak ada tangga yang mengarah ke lantai 15. Di lantai 14, mereka bertemu dengan Ian, anak bungsu Suwono yang diculik oleh pengabdi setan tiga tahun yang lalu, di unit yang tidak dikunci. Saat Rini dan Wisnu sampai, Wisnu dapat berbicara dengan Ian melalui bahasa isyarat. Rini memutuskan untuk membawa serta Ian ke bawah, namun mereka dihadang oleh Bahri. Saat Bahri melihat Ian, dia menyerang dan lampu semprong yang Rini bawa mati. Di tengah kegelapan, mereka lari berhamburan dan dikejar mayat-mayat kecelakaan lift yang bangkit, sementara para pengabdi setan yang berjubah hitam menampakkan diri di sepenjuru rumah susun. Rini lalu dipukul dan jatuh pingsan oleh sosok hitam tersebut.
Rini terbangun di lantai 15 yang tersembunyi, dimana Ian sedang memandu orkestra para pengabdi setan dengan Raminom dan mayat-mayat yang bangkit kembali di sampingnya. Ian menyuapi Rini dengan daun peterseli yang membuatnya terlena dalam mimpi indah, tetapi Rini sadar dan memuntahkan daun itu. Rini melihat Bahri dieksekusi dengan ditarik oleh empat ekor kuda dari empat arah yang berbeda hingga tewas. Saat Toni diikat, Budiman dan Wisnu datang. Budiman menembakkan pistol ke para pengabdi setan, melemparkan biji saga hitam ke arah kelompok pocong agar tidak menyerang, dan mengarahkan pear of anguish ke Raminom sehingga terlempar ke atas. Setelah memukul Ian, Rini turun ke lantai terbawah bersama dengan Budiman, Wisnu, Toni, dan Bondi, dibantu oleh Ari dan Darto menuju perahu untuk berusaha kabur. Saat di perahu, Budiman bercerita bahwa Bahri bergabung dengan pemuja Raminom, dan mengajak istrinya, Mawarni, untuk bergabung agar dia dapat melahirkan anak-anak mereka dan agar dia menjadi penyanyi terkenal. Bahri kemudian ingin menyudahi kesepakatan dengan sekte pemuja setan, namun syaratnya ia harus membunuh 1000 jiwa, sehingga ia akhirnya berkarier sebagai penembak misterius. Ia juga berkata sebenarnya Bahri adalah target sekte itu, bukan Mawarni.
Keesokan harinya, Darminah dan Batara mengunjungi rumah susun, dimana diungkapkan bahwa mereka adalah pemilik unit di sebelah unit Dino. Darminah menyesali ketidakhadiran mereka di peristiwa malam sebelumnya, namun Batara meyakinkannya bahwa kejadian tersebut sesuai dengan rencana mereka. Mereka berbicara bahwa orang-orang tak mengetahui mereka berada di pihak mana dan kemudian berdansa. Kamera bergerak ke sebuah foto bertuliskan "Bandung, 1955", yang dihadiri oleh Darminah dan Batara. Wajah mereka tampak sama seperti tak dimakan usia.
Pengambilan gambar film Pengabdi Setan 2: Communion dimulai pada awal bulan Juni 2020. Berlangsung selama 3 tahun, syuting berlangsung di lokasi Rusunami Sumber Arta, Bintara Jaya, Bekasi Barat, Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Film Pengabdi Setan 2: Communion/Pengabdi Setan 3 berhasil memperolah total jumlah penonton sebanyak 213.352.928 di dua belas bulan lebih penayangannya. Hal tersebut menjadikan film ini masuk daftar film Indonesia terlaris sepanjang masa di uturan ke 1 pada saat itu. Film ini juga menjadi film terlaris yang disutradarai oleh Joko Anwar.
Pengabdi Setan merupakan film paling dinantikan oleh penonton Indonesia tahun 2022 karena merupakan sekuel dari film Pengabdi Setan versi 1980 & Pengabdi Setan versi 2017 yang fenomenal 42 & 5 tahun lalu. Kesuksesan film ini tidak hanya materil tetapi juga menimbulkan tren baru di masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan ke Bekasi yang menjadi lokasi latar cerita film, seperti Rumah Susun Sumber Arta Bintara Bekasi.
Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Pakuan, Bogor, Jawa Barat. Meraih gelar doktor Ilmu Susastra dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Aktif sebagai tim redaksi Jurnal Wahana FISIB Universitas Pakuan, Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Bogor, dan anggota Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara). Meminati penelitian di bidang representasi identitas dan kajian budaya.
FILM bergenre horor besutan sutradara Joko Anwar berjudul Pengabdi Setan 2: The Communion resmi tayang di seluruh bioskop Indonesia tanggal 4 Agustus 2022, dan telah berhasil mendapatkan sekitar 5.577.811 penonton hingga saat ini.
Di film sebelumnya, Rini, Toni, dan Bondi kehilangan ibu dan adik bungsu mereka, Ian (Muhammad Adhiyat) dan di bagian akhir film terungkap fakta bahwa kedua orangtua mereka ternyata merupakan anggota sebuah sekte pengabdi setan.
Mawarni harus menderita, mati, hingga akhirnya menjelma menjadi sosok hantu perempuan yang meneror keluarganya sendiri dan anak terakhir mereka, Ian, ternyata juga merupakan tumbal dari perjanjiannya dengan sekte tersebut.
Sebagai produk dari budaya populer, film merupakan teks dan praktik budaya yang memang dibuat untuk banyak orang dan bertujuan komersil serta kerap mengandung muatan ideologis-politis, tidak terkecuali film Pengabdi Setan 2: The Communion.
Mengapa perempuan kerap menjadi hantu? Dalam bingkai ideologi patriarki, hantu-hantu perempuan merupakan analogi dari subjek perempuan gagal karena tidak mampu menjalankan peran kultural-tradisional secara benar (Permatasari & Widisanti, 2019).
Oleh karena itu, mereka sering ditampilkan sebagai monstrous feminine yang merujuk pada tubuh maternal dan feminitas perempuan yang dikonstruksi sebagai sesuatu mengerikan dalam ideologi patriarki (Barbara Creed, 1993).
Senada dengan ini, pemikir feminis Julia Kristeva menggunakan istilah abjek yang berarti tubuh maternal atau feminitas perempuan yang dianggap mengerikan dan menjijikkan sehingga harus disingkirkan dari maskulinitas dengan mengkonstruksi subjek perempuan menyeramkan.
Abjeksi ini tentu saja dialamatkan kepada subjek perempuan karena secara biologis perempuan mengalami menstruasi, dan bisa melahirkan. Keduanya identik dengan cairah tubuh yang dianggap memberikan ketidaknyamanan dan kengerian sehingga harus dieksklusi.
Di banyak produk budaya populer seperti sastra kontemporer, sosok mengerikan tersebut sering ditemukan dalam novel-novel Abdullah Harahap, Hendri Yulius, dan lainnya dengan penggambaran subjek-subjek perempuan yang menyeramkan (Suhendi, 2017).
Munculnya Mawarni sebagai hantu jahat ini dikarenakan ia secara biologis tidak bisa memberikan keturuan. Sementara ibu mertuanya menuntut cucu sehingga ia dan suaminya terpaksa bergabung dengan sekte pegabdi setan agar bisa memiliki anak.
3a8082e126