Dengan hormat,
Kami
ingin menyampaikan catatan kegiatan rutin JBFT, edisi 14 Wisata ke
Istana untuk Rakyat. Terimakasih dan salut juga pada peserta dan relawan
yang ikut aktif di wisata. Senang sekali yang ikut sekitar 45 orang
dari berbagai unsur: penyandang disabilitas anak dan dewasa, ada juga
keluarga, mahasiswa, fotografer, pemerintah (satgas kemsos), serta
pekerja kemanusiaan di berbagai bidang. Wisata dimulai dengan kumpul di
area parkiran kantor Sekretariat Negara dekat dengan meja pendaftaran.
Sambil menunggu kumpul seluruh peserta, seperti biasa perkenalan singkat
pengetahuan dasar tentang disabilitas, umumnya tentang 'bagaimana
berinteraksi dengan penyandang disabilitas'. Meski kali ini agak sedikit
terganggu dengan pengumuman dari pihak pengelola wisata Istura. Berikut
adalah catatan sejak awal wisata ini dimulai:
1. Fasilitas fisik yang tersedia di area kompleks wisata:
Meja pendaftaran: informasi yang tidak aksesibel, tidak ada informasi
audio, visual, dan bahasa isyarat yang memudahkan bagi pengunjung
tunanetra dan terutama bagi pengunjung yang tuli. Untuk menuju meja
pendaftaran dan penitipan barang bawaan juga harus melalui step
(perbedaan tinggi lantai antar bidang satu dengan lainnya)
Toilet umum: jelas bagi pengguna kursi roda, khususnya perempuan tidak
bisa masuk ke toilet karena pintu yang sangat sempit. Selain itu
kebersihan yang tidak terjaga, dengan bau yang menyengat membuat
pengunjung sangat tidak nyaman untuk menggunakan toilet.
Kebersihan
di area istana: banyak sampah berserakan, mulai dari kantong plastik,
kertas bungkus nasi, gelas plastik minuman, bahkan botol bekas minuman.
sayang sekali!
Bis
yang disediakan untuk berkeliling di sekitar kompleks istana: tidak ada
satupun bis yang dilengkapi dengan fasilitas poratble ramp atau
hidrolik, yang memudahkan bagi pengguna kursi roda untuk masuk/keluar
bis.
Gedung
pertunjukan film: tidak ada ramp atau bidang miring yang tersedia
didepan gedung tersebut. Pengguna kursi roda, sudah pasti harus digotong
karena tangga yang ada pun cukup banyak (foto terlampir).
Tour
Guide: tidak tersedianya penerjemah bahasa isyarat sepanjang penjelasan
wisata. Terima kasih banyak interpreter bu Pinky untuk dedikasi tenaga dan waktu untuk membantu
teman teman tuli mengikuti penjelasan dari Tour Guide.
Bidang
miring yang tersedia di gedung istana: sangat curam dan berbahaya.
Padahal untuk menyiasatinya, pengelola istana bisa menyediakan incline
lift, yaitu semacam lift hidrolik yang tidak memerlukan perubahan bidang
apapun. hanya dibutuhkan instal handrail yang sangat kuat. Contoh bisa
dilihat di gedung Granadi, Kuningan
Mengamati didalam istana, tidak terlihat kemana jalur darurat. bagaimana jika terjadi emergency? kemana evakuasinya?
2. Fasilitas non fisik di area kompleks istana:
Sikap
yang sama sekali belum memahami bagaimana melayani pengunjung dengan
disabilitas. Potret klasik dari sistem layanan publik di negara memang
seperti itu. Contoh saja, ketika akan membantu pengunjung yang
menggunakan kursi roda. Seringkali 'merasa segera untuk membantu' tetapi
yang penting justru dengar dulu instruksi dari pengguna kursi roda yang
bersangkutan. Jangan sampai niat membantu jadi salah bahkan
mencelakakan!
Sikap
lainnya adalah, seringkali petugas bertanya soal kebutuhan penyandang
disabilitas tetapi bertanya tidak pada yang bersangkutan. Padahal,
seharusnya bertanya langsung pada yang bersangkutan.
Contoh
lain adalah sistem screening: jika ada pengunjung penyandang
disabilitas dan asisten atau pendampingnya. Petugas menginstruksikan
pendamping melalui body screening sementara pengguna kursi roda diminta
melewati jalur lain tetapi dibiarkan.
Membaca
beberapa catatan tersebut, masih banyak pe-er yang harus dikerjakan
oleh pengelola istana agar benar benar disebut sebagai istana untuk
rakyat. Kami sebagai bagian dari warga Indonesia akan merasa malu jika
harus menjadi tuan rumah tamu internasional yang ternyata gedung
kenegaraan saja sangat tidak ramah. Bisa saja kenyataan yang ada di
istana adalah cermin yang sesungguhnya: minimnya kesadaran terhadap
aksesibilitas serta pengawasan baik kebersihan maupun keamanan. Padahal,
Indonesia sudah mempunyai resources yang bagus bagus dan ahli di
bidangnya, tapi???
Demikian catatan JBFT edisi 14 dari kami, kami berharap akan segera ada perubahan di ISTURA menjadi aksesibel dan inklusif bagi siapa saja yang ingin berkunjung.
Salam hangat,
Faisal Rusdi
Inisiator JBFT