Laporan dan masukan untuk ISTURA

1 view
Skip to first unread message

faisal rusdi

unread,
Jul 23, 2013, 5:40:14 AM7/23/13
to istanaun...@gmail.com, BFT, bftja...@gmail.com
Dengan hormat,

Kami ingin menyampaikan catatan kegiatan rutin JBFT, edisi 14 Wisata ke Istana untuk Rakyat. Terimakasih dan salut juga pada peserta dan relawan yang ikut aktif di wisata. Senang sekali yang ikut sekitar 45 orang dari berbagai unsur: penyandang disabilitas anak dan dewasa, ada juga keluarga, mahasiswa, fotografer, pemerintah (satgas kemsos), serta pekerja kemanusiaan di berbagai bidang. Wisata dimulai dengan kumpul di area parkiran kantor Sekretariat Negara dekat dengan meja pendaftaran. Sambil menunggu kumpul seluruh peserta, seperti biasa perkenalan singkat pengetahuan dasar tentang disabilitas, umumnya tentang 'bagaimana berinteraksi dengan penyandang disabilitas'. Meski kali ini agak sedikit terganggu dengan pengumuman dari pihak pengelola wisata Istura. Berikut adalah catatan sejak awal wisata ini dimulai:

1. Fasilitas fisik yang tersedia di area kompleks wisata:

Meja pendaftaran: informasi yang tidak aksesibel, tidak ada informasi audio, visual, dan bahasa isyarat yang memudahkan bagi pengunjung tunanetra dan terutama bagi pengunjung yang tuli. Untuk menuju meja pendaftaran dan penitipan barang bawaan juga harus melalui step (perbedaan tinggi lantai antar bidang satu dengan lainnya)

Toilet umum: jelas bagi pengguna kursi roda, khususnya perempuan tidak bisa masuk ke toilet karena pintu yang sangat sempit. Selain itu kebersihan yang tidak terjaga, dengan bau yang menyengat membuat pengunjung sangat tidak nyaman untuk menggunakan toilet.

Kebersihan di area istana: banyak sampah berserakan, mulai dari kantong plastik, kertas bungkus nasi, gelas plastik minuman, bahkan botol bekas minuman. sayang sekali!

Bis yang disediakan untuk berkeliling di sekitar kompleks istana: tidak ada satupun bis yang dilengkapi dengan fasilitas poratble ramp atau hidrolik, yang memudahkan bagi pengguna kursi roda untuk masuk/keluar bis.

Gedung pertunjukan film: tidak ada ramp atau bidang miring yang tersedia didepan gedung tersebut. Pengguna kursi roda, sudah pasti harus digotong karena tangga yang ada pun cukup banyak (foto terlampir).

Tour Guide: tidak tersedianya penerjemah bahasa isyarat sepanjang penjelasan wisata. Terima kasih banyak interpreter bu Pinky untuk dedikasi tenaga dan waktu untuk membantu teman teman tuli mengikuti penjelasan dari Tour Guide.

Bidang miring yang tersedia di gedung istana: sangat curam dan berbahaya. Padahal untuk menyiasatinya, pengelola istana bisa menyediakan incline lift, yaitu semacam lift hidrolik yang tidak memerlukan perubahan bidang apapun. hanya dibutuhkan instal handrail yang sangat kuat. Contoh bisa dilihat di gedung Granadi, Kuningan

Mengamati didalam istana, tidak terlihat kemana jalur darurat. bagaimana jika terjadi emergency? kemana evakuasinya?

2. Fasilitas non fisik di area kompleks istana:

Sikap yang sama sekali belum memahami bagaimana melayani pengunjung dengan disabilitas. Potret klasik dari sistem layanan publik di negara memang seperti itu. Contoh saja, ketika akan membantu pengunjung yang menggunakan kursi roda. Seringkali 'merasa segera untuk membantu' tetapi yang penting justru dengar dulu instruksi dari pengguna kursi roda yang bersangkutan. Jangan sampai niat membantu jadi salah bahkan mencelakakan!

Sikap lainnya adalah, seringkali petugas bertanya soal kebutuhan penyandang disabilitas tetapi bertanya tidak pada yang bersangkutan. Padahal, seharusnya bertanya langsung pada yang bersangkutan.

Contoh lain adalah sistem screening: jika ada pengunjung penyandang disabilitas dan asisten atau pendampingnya. Petugas menginstruksikan pendamping melalui body screening sementara pengguna kursi roda diminta melewati jalur lain tetapi dibiarkan.

Membaca beberapa catatan tersebut, masih banyak pe-er yang harus dikerjakan oleh pengelola istana agar benar benar disebut sebagai istana untuk rakyat. Kami sebagai bagian dari warga Indonesia akan merasa malu jika harus menjadi tuan rumah tamu internasional yang ternyata gedung kenegaraan saja sangat tidak ramah. Bisa saja kenyataan yang ada di istana adalah cermin yang sesungguhnya: minimnya kesadaran terhadap aksesibilitas serta pengawasan baik kebersihan maupun keamanan. Padahal, Indonesia sudah mempunyai resources yang bagus bagus dan ahli di bidangnya, tapi???

Demikian catatan JBFT edisi 14 dari kami, kami berharap akan segera ada perubahan di ISTURA menjadi aksesibel dan inklusif bagi siapa saja yang ingin berkunjung.

Salam hangat,

Faisal Rusdi
Inisiator JBFT
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages