Re: [PPIP] Kisah

3 views
Skip to first unread message

Ferry Viawan

unread,
Jul 24, 2010, 3:41:13 AM7/24/10
to Ferry Viawan, Banyuwangi 89
Iki Lis, kisah sukses VP Citibank ada di bagian paling bawah. Kisah bagian atasnya mengenai bagaimana kebaikan2 nya. Ya.... Bisa jadi suksesnya buah dari kebaikan yg dia lakukan 

Sent from my iPhone

On 22/07/2010, at 8:45 AM, Ferry Viawan <fer...@yahoo.com> wrote:

Kisah menarik nih ......

Sent from my iPhone

Begin forwarded message:

From: "Baso Zulhijaya" <zulh...@iinet.net.au>
Date: 16 July 2010 7:30:54 AM AWST
To: <Pengaji...@yahoogroups.com>
Subject: Re: [PPIP] Kisah
Reply-To: Pengaji...@yahoogroups.com

 

Bismillah, Kisah lain dari negeri sendiri. Semoga bermanfaat bagi diri saya dan saudara/i yang membacanya. Wassalam, BZ
 
 
*Oleh-oleh dari MaBIT Majlis Al-Kauny IX (Bagian 2)*

*
*

Pembicara lainnya pada MaBIT kali ini adalah Bapak Houtman Zainal Arifin dan
Bayu Gawtama. Dalam pengantarnya Pak Houtman mengungkapkan pentingnya
perhatian dan kasih sayang dalam mendidik anak. “Saat ini banyak anak yang
menjadi yatim (sebelum masanya) karena tidak mendapatkan kasih sayang dari
orangtuanya,” ujar ex Vice President Citibank ini. Karena kasih sayangnya
itulah, ia rela menjadi pemulung selama dua puluh tahun lebih.

Memulung? Ya, sejak 20-an tahun lalu, setiap jelang tengah malam beliau
berkeliling Jakarta mendatangi hotel-hotel untuk mengumpulkan roti-roti sisa
(yang oleh pihak hotel roti tersebut tak boleh lagi dihidangkan esok hari)
lalu membawanya ke penampungan-penampungan dan yayasan-yayasan anak yatim
yang tersebar di berbagai wilayah.

Lalu, adakah kesulitan dalam mengasuh anak yatim? “Kalau kita punya kemauan,
tidak ada yang mustahil, inysa Allah,” jawabnya singkat saat ditanya
mengenai kesuksesannya dalam membina ratusan—bahkan ribuan—anak yatim.

Dia mengisahkan, pada tahun 1984 lalu, Pak Houtman mengundang Muhammad Ali,
sang petinju legendaris, bertandang ke rumahnya—dimana terdapat banyak anak
yatim. Kala itu, Ali sedang ditimpa sakit parkinson: tidak dapat bergerak
bebas dan tidak bisa mengendalikan tubuhnya saat berjalan layaknya orang
sehat. Namun, saat berkunjung ke rumah beliau, Ali tampak sangat sehat. Ia
melangkah, berlari-lari dan bermain dengan bebasnya bersama anak-anak yatim
layaknya orang sehat. Bahkan ia naik turun tangga antara lantai bawah dan
lantai atas sembari menggendong anak yatim layaknya seorang yang segar
bugar.

Kisah lainnya, beliau pernah menemukan seorang bayi yang dibuang oleh
ibunya. Punuknya memanjang hingga ke punggungnya. Kedua kakinya saling
menyilang, demikian pula tangannya. Mungkin karena itulah sehingga
orangtuanya membuangnya, hingga muka bayi tersebut sampai dikerumuni oleh
semut.

Merasa iba melihat bayi tersebut, setelah melalui diskusi dengan anggota
keluarganya, beliau membawa bayi itu ke rumahnya. Saat sampai di rumah,
beliau merasakan ada sesuatu yang berbeda; rumah yang tadinya terlihat dan
terasa sempit tiba-tiba menjadi lapang dan luas. Luar biasa! “Setelah
kejadian itu, keajaiban demi keajaiban terus terjadi mengiringi kami,”
kenangnya.

Namun, selang beberapa hari kemudian, bayi itu jatuh sakit. Beliau langsung
membawanya ke rumah sakit di bilangan Pondok Indah. Entah karena kondisi
bayi yang tak sempurna sehingga pihak rumah sakit menolaknya atau karena
sebab lain, kendati kala itu beliau telah memperlihatkan segala bentuk kartu
perbankan miliknya sebagai bukti kesungguhan dan kemampuannya untuk membayar
seluruh tagihan perawatan.

Karena ditolak, beliau kemudian memacu mobilnya menuju sebuah rumah sakit di
bilangan Jakarta Barat dengan harapan bayi itu segera mendapat pertolongan.
Sesampainya di sana, ia disambut oleh suster penjaga. Selang beberapa menit
kemudian, puluhan dokter berjejer sembari memperhatikan bayi mungil itu.
“Mohon ditempatkan di ruang VIP. Saya tidak mau ‘anak saya’ menjadi tontonan
orang banyak,” tegasnya kepada para dokter dengan menyebut bayi itu sebagai
anaknya. Subhanallah!

Setiap hari beliau bolak balik antara rumah, kantor dan rumah sakit. Tak
jarang beliau datang ke rumah sakit dengan pakaian kerja, jas dan dasi yang
masih menggantung, karena sayangnya terhadap anak itu.

Waktu terus bergulir, menit demi menit, jam demi jam, dan hari demi hari,
namun anak itu belum juga mengalami perubahan signifikan. Saat tenggelam
dalam penantian akan kesembuhan “anaknya”, beliau tiba-tiba mendapat berita
bahwa tantenya di Semarang meninggal dunia. Beliau langsung menuju bandara
diantar oleh sopirnya.

Namun, sesaat sebelum naik pesawat, ia mendapat telpon dari rumah bahwa
“anaknya” meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. “Tante di
sana pasti ada yang ngurus. Anak ini siapa yang akan mengurusnya selain
saya?!” Pak Houtman membatin. Beliau mengurung niatnya berangkat ke
Semarang, demi untuk mengurus anaknya yang baru saja dipanggil oleh SWT.

Sesampai di rumah sakit, beliau langsung menuju ruang mayat. Subhanallah, di
sana beliau mendapati bau yang sangat harum, belum pernah ia mencium bau
yang sesejuk dan seharum itu. Bau harum istimewa itu tersebut terus
menyertainya sepanjang jalan hingga sampai ke kuburan.

Setelah anak itu dimasukkan ke laing lahad, salah seorang teman, sebut saja
namanya Sukanto, meminta izin kepada beliau untuk turun mendoakannya.
“Karena saya menilai niatnya baik, maka saya tak dapat melarangnya,”
ujarnya.

Namun, setelah puluhan menit Sukanto berdo’a, ia belum juga berdiri. Ia tak
mau beranjak dari kuburan tersebut. Saat ditanyakan alasannya, Sukanto
menjawab, “Saya melihat pemandangan yang indah sekali. Sebuah pemandangan
yang tiada taranya,” jawabnya.

Setelah pemakaman usai saya berdiri mengucapkan terima kasih kepada
kawan-kawan yang telah turut menyertai anak kami. “Satu hal yang sengaja
saya tak lakukan adalah meminta maaf seperti yang lazim dilakukan banyak
orang, karena saya yakin betul anak itu tak memiliki kesalahan apapun,
sehingga saya tidak perlu memohon maaf,” tegasnya.

Kisah demi kisah terus mengalir dari lisan Pak Houtman, membuat para peserta
MaBIT terharu, bahkan banyak di antara mereka yang meneteskan air mata.
“Sayangilah anak-anak kalian. Jangan biarkan mereka yatim. Dunia ini sudah
penuh dengan anak yatim,” tegasnya menutup kalimatnya sebelum tanya jawab.

*Yatim Sebelum Masanya*

*
*

Kini tibalah giliran Bayu Gawtama (Kang Bayu), pendiri School of Life dan
Yayasan Sahabat Peduli. Kang Bayu menegaskan bahwa dirinya adalah potret
anak yang yatim sebelum masanya. Ayahnya meninggalkan ibunya beserta kelima
orang anaknya, termasuk Kang Bayu yang saat itu baru duduk di bangku Sekolah
Dasar. Karenanya, ibu Kang Bayu harus berperan ganda, menjadi ibu sekaligus
sebagai ayah. Ibunya rela bolak balik antara Tangerang (sebagai tempat
menetapnya) dengan Jakarta (tempatnya mengajar privat dari rumah ke rumah)
guna menghidupi anak-anaknya. “Setelah isya, kami berlima (abang dan ketiga
adik saya, termasuk adik saya yang baru berumur satu setengah tahun) menuju
terminal bis Tangerang untuk menunggu ibu pulang dari Jakarta. Ibu selalu
kembali dari Jakarta ke Tangerang dengan menumpangi bis terakhir,”
kenangnya.

Kondisi itulah yang membuat Kang Bayu gonta ganti profesi. Dia pernah
menjadi tukang semir sepatu, tukang cuci piring di warung Padang, hingga
menjadi kenek angkot. Semua itu ia lakukan guna membantu ibunya menghidupi
dan menyekolahkan anak-anaknya.

Dan, kondisi itu pulalah yang membuatnya menjadi anak yang mandiri, dan
terus berupaya untuk memberikan manfaat sebanyak mungkin kepada anak-anak
yatim dan kaum dhuafa. Dia tahu betul bagaimana pahitnya menjadi anak yang
ditinggal ayah. “Lebaran Bersama Anak Yatim” adalah salah satu programnya.
Hal ini ia lakukan guna membuat anak-anak yatim tersenyum bahagia, suasana
yang tidak pernah dirasakannya saat dirinya masih kecil kendati ayahnya
masih hidup. (my.shandy)***
============ ========= ========= =======

BUAH DARI BELAJAR & MEMBANTU

Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang
yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin,
seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi
Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia
karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.

Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu pak Houtman. Kala itu saya
sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya, Bank
Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta. Selama satu minggu
saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satu nya saya
peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:

Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari
desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan
harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman
harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan
tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta,
pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan
profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan
kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan
impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia
memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta.
Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman
remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin,
berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga
Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan
tekad diazamkan dalam hatinya.

Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah
nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran
kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang
menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran
kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari
berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.

Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan
yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank
(citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja
sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam
sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor,
wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.

Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan.
Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman
percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah
membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan
baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore
saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan
dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah
istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan
tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai
”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai
akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank
seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.

Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi
dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto
kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang
memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk
mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman
sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk
mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan
tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas
mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa
menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai
Tukang Foto Kopi.

Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi
Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus
menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat
salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun
menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun.
“bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff
dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman
menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo,
bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman
diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek,
Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus
berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil
Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut
karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut
Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang
ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan
teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan
yang tidak pernah diduganya.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu
mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk
membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak
segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank
mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang
dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar
biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff,
bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten.
Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun
harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf
pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi
membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan
oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam
memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu
baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir
Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang
mengajarinya tentang istilah bank.

19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First
National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice
President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi
citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin
dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk
sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA.
Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi
staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu
gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi
banyak orang .

Sahabat, begitulah dahsyatnya orang-orang yang HAUS ILMU dan SUKA MEMBANTU,
maka Maha benarlah apa yang difirmankan Allah SWT :

“ Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan
memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka
berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “ (Qs.Al-Mujaadilah : 11).

__._,_.___
Recent Activity:
Penyaluran Infaq Untuk Pembangunan Masjid AN-NUR:

Account Name: An-Nur Islamic Community Center Appeal (ANNICA)
Bank Name: Commonwealth Bank Australia, Cannington WA 6107
Account Number: 066 - 134 - 10346110


Updated info (ceramah "Launching Berinfaq Untuk Masjid AN-NUR", contact persons, estimated cost, dan updated photos), please visit the URL:

http://groups.yahoo.com/group/PengajianPerth/files/Masjid%20AN-NUR/

Membaca Al-qur'an, keutamaan dan adab membaca Al-qur'an, pelajaran dan software Tajwid, mp3 Juz'amma (tajwid), etc. please visit the URL:

http://groups.yahoo.com/group/PengajianPerth/files/Membaca%20Al-Qur%27an/
http://groups.yahoo.com/group/PengajianPerth/files/
.

__,_._,___

 

 

A Khalis T

unread,
Jul 24, 2010, 3:58:44 AM7/24/10
to banyuw...@googlegroups.com
ooohh iyo.. mangkane, judule memang kurang menarik :), dadi mgkin tak woco sekilas

mangkano kadang wartawan nggawe judul sing bombastis cek pembaca tertarik moco


From: Ferry Viawan <fer...@yahoo.com>
To: Ferry Viawan <fer...@yahoo.com>
Cc: Banyuwangi 89 <banyuw...@googlegroups.com>
Sent: Sat, July 24, 2010 2:41:13 PM
Subject: [Banyuwangi89] Re: [PPIP] Kisah

Iki Lis, kisah sukses VP Citibank ada di bagian paling bawah. Kisah bagian atasnya mengenai bagaimana kebaikan2 nya. Ya.... Bisa jadi suksesnya buah dari kebaikan yg dia lakukan 

Sent from my iPhone

On 22/07/2010, at 8:45 AM, Ferry Viawan <fer...@yahoo.com> wrote:

Kisah menarik nih ......

Sent from my iPhone

Begin forwarded message:

From: "Baso Zulhijaya" <zulh...@iinet.net.au>
Date: 16 July 2010 7:30:54 AM AWST
To: <Pengaji...@yahoogroups.com>
Subject: Re: [PPIP] Kisah
Reply-To: Pengaji...@yahoogroups.com

Bismillah, Kisah lain dari negeri sendiri. Semoga bermanfaat bagi diri saya dan saudara/i yang membacanya. Wassalam, BZ
 
 
*Oleh-oleh dari MaBIT Majlis Al-Kauny IX (Bagian 2)*

*
*

Pembicara lainnya pada MaBIT kali ini adalah Bapak Houtman Zainal Arifin dan
Bayu Gawtama. Dalam pengantarnya Pak Houtman mengungkapkan pentingnya
perhatian dan kasih sayang dalam mendidik anak. “Saat ini banyak anak yang
menjadi yatim (sebelum masanya) karena tidak mendapatkan kasih sayang dari
orangtuanya,” ujar ex Vice President Citibank ini. Karena kasih sayangnya
itulah, ia rela menjadi pemulung selama dua puluh tahun lebih.

Memulung? Ya, sejak 20-an tahun lalu, setiap jelang tengah malam beliau
berkeliling Jakarta mendatangi hotel-hotel untuk mengumpulkan roti-roti sisa
(yang oleh pihak hotel roti tersebut tak boleh lagi dihidangkan esok hari)
lalu membawanya ke penampungan- penampungan dan yayasan-yayasan anak yatim
"Berlapang-lapangla h dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan
.

__,_._,___

 

 

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages