Bismillah, Kisah lain dari negeri sendiri. Semoga
bermanfaat bagi diri saya dan saudara/i yang membacanya. Wassalam,
BZ
*Oleh-oleh dari MaBIT Majlis Al-Kauny IX (Bagian
2)*
*
*
Pembicara lainnya pada MaBIT kali ini adalah Bapak
Houtman Zainal Arifin dan
Bayu Gawtama. Dalam pengantarnya Pak Houtman
mengungkapkan pentingnya
perhatian dan kasih sayang dalam mendidik anak.
“Saat ini banyak anak yang
menjadi yatim (sebelum masanya) karena tidak
mendapatkan kasih sayang dari
orangtuanya,” ujar ex Vice President Citibank
ini. Karena kasih sayangnya
itulah, ia rela menjadi pemulung selama dua puluh
tahun lebih.
Memulung? Ya, sejak 20-an tahun lalu, setiap jelang tengah
malam beliau
berkeliling Jakarta mendatangi hotel-hotel untuk mengumpulkan
roti-roti sisa
(yang oleh pihak hotel roti tersebut tak boleh lagi
dihidangkan esok hari)
lalu membawanya ke penampungan-penampungan dan
yayasan-yayasan anak yatim
yang tersebar di berbagai wilayah.
Lalu,
adakah kesulitan dalam mengasuh anak yatim? “Kalau kita punya kemauan,
tidak
ada yang mustahil, inysa Allah,” jawabnya singkat saat ditanya
mengenai
kesuksesannya dalam membina ratusan—bahkan ribuan—anak yatim.
Dia
mengisahkan, pada tahun 1984 lalu, Pak Houtman mengundang Muhammad Ali,
sang
petinju legendaris, bertandang ke rumahnya—dimana terdapat banyak anak
yatim.
Kala itu, Ali sedang ditimpa sakit parkinson: tidak dapat bergerak
bebas dan
tidak bisa mengendalikan tubuhnya saat berjalan layaknya orang
sehat. Namun,
saat berkunjung ke rumah beliau, Ali tampak sangat sehat. Ia
melangkah,
berlari-lari dan bermain dengan bebasnya bersama anak-anak yatim
layaknya
orang sehat. Bahkan ia naik turun tangga antara lantai bawah dan
lantai atas
sembari menggendong anak yatim layaknya seorang yang
segar
bugar.
Kisah lainnya, beliau pernah menemukan seorang bayi yang
dibuang oleh
ibunya. Punuknya memanjang hingga ke punggungnya. Kedua kakinya
saling
menyilang, demikian pula tangannya. Mungkin karena itulah
sehingga
orangtuanya membuangnya, hingga muka bayi tersebut sampai dikerumuni
oleh
semut.
Merasa iba melihat bayi tersebut, setelah melalui diskusi
dengan anggota
keluarganya, beliau membawa bayi itu ke rumahnya. Saat sampai
di rumah,
beliau merasakan ada sesuatu yang berbeda; rumah yang tadinya
terlihat dan
terasa sempit tiba-tiba menjadi lapang dan luas. Luar biasa!
“Setelah
kejadian itu, keajaiban demi keajaiban terus terjadi mengiringi
kami,”
kenangnya.
Namun, selang beberapa hari kemudian, bayi itu jatuh
sakit. Beliau langsung
membawanya ke rumah sakit di bilangan Pondok Indah.
Entah karena kondisi
bayi yang tak sempurna sehingga pihak rumah sakit
menolaknya atau karena
sebab lain, kendati kala itu beliau telah
memperlihatkan segala bentuk kartu
perbankan miliknya sebagai bukti
kesungguhan dan kemampuannya untuk membayar
seluruh tagihan
perawatan.
Karena ditolak, beliau kemudian memacu mobilnya menuju sebuah
rumah sakit di
bilangan Jakarta Barat dengan harapan bayi itu segera mendapat
pertolongan.
Sesampainya di sana, ia disambut oleh suster penjaga. Selang
beberapa menit
kemudian, puluhan dokter berjejer sembari memperhatikan bayi
mungil itu.
“Mohon ditempatkan di ruang VIP. Saya tidak mau ‘anak saya’
menjadi tontonan
orang banyak,” tegasnya kepada para dokter dengan menyebut
bayi itu sebagai
anaknya. Subhanallah!
Setiap hari beliau bolak balik
antara rumah, kantor dan rumah sakit. Tak
jarang beliau datang ke rumah sakit
dengan pakaian kerja, jas dan dasi yang
masih menggantung, karena sayangnya
terhadap anak itu.
Waktu terus bergulir, menit demi menit, jam demi jam,
dan hari demi hari,
namun anak itu belum juga mengalami perubahan signifikan.
Saat tenggelam
dalam penantian akan kesembuhan “anaknya”, beliau tiba-tiba
mendapat berita
bahwa tantenya di Semarang meninggal dunia. Beliau langsung
menuju bandara
diantar oleh sopirnya.
Namun, sesaat sebelum naik
pesawat, ia mendapat telpon dari rumah bahwa
“anaknya” meninggal dunia. Inna
lillahi wa inna ilaihi raji’un. “Tante di
sana pasti ada yang ngurus. Anak
ini siapa yang akan mengurusnya selain
saya?!” Pak Houtman membatin. Beliau
mengurung niatnya berangkat ke
Semarang, demi untuk mengurus anaknya yang
baru saja dipanggil oleh SWT.
Sesampai di rumah sakit, beliau langsung
menuju ruang mayat. Subhanallah, di
sana beliau mendapati bau yang sangat
harum, belum pernah ia mencium bau
yang sesejuk dan seharum itu. Bau harum
istimewa itu tersebut terus
menyertainya sepanjang jalan hingga sampai ke
kuburan.
Setelah anak itu dimasukkan ke laing lahad, salah seorang teman,
sebut saja
namanya Sukanto, meminta izin kepada beliau untuk turun
mendoakannya.
“Karena saya menilai niatnya baik, maka saya tak dapat
melarangnya,”
ujarnya.
Namun, setelah puluhan menit Sukanto berdo’a,
ia belum juga berdiri. Ia tak
mau beranjak dari kuburan tersebut. Saat
ditanyakan alasannya, Sukanto
menjawab, “Saya melihat pemandangan yang indah
sekali. Sebuah pemandangan
yang tiada taranya,” jawabnya.
Setelah
pemakaman usai saya berdiri mengucapkan terima kasih kepada
kawan-kawan yang
telah turut menyertai anak kami. “Satu hal yang sengaja
saya tak lakukan
adalah meminta maaf seperti yang lazim dilakukan banyak
orang, karena saya
yakin betul anak itu tak memiliki kesalahan apapun,
sehingga saya tidak perlu
memohon maaf,” tegasnya.
Kisah demi kisah terus mengalir dari lisan Pak
Houtman, membuat para peserta
MaBIT terharu, bahkan banyak di antara mereka
yang meneteskan air mata.
“Sayangilah anak-anak kalian. Jangan biarkan mereka
yatim. Dunia ini sudah
penuh dengan anak yatim,” tegasnya menutup kalimatnya
sebelum tanya jawab.
*Yatim Sebelum Masanya*
*
*
Kini
tibalah giliran Bayu Gawtama (Kang Bayu), pendiri School of Life dan
Yayasan
Sahabat Peduli. Kang Bayu menegaskan bahwa dirinya adalah potret
anak yang
yatim sebelum masanya. Ayahnya meninggalkan ibunya beserta kelima
orang
anaknya, termasuk Kang Bayu yang saat itu baru duduk di bangku Sekolah
Dasar.
Karenanya, ibu Kang Bayu harus berperan ganda, menjadi ibu sekaligus
sebagai
ayah. Ibunya rela bolak balik antara Tangerang (sebagai tempat
menetapnya)
dengan Jakarta (tempatnya mengajar privat dari rumah ke rumah)
guna
menghidupi anak-anaknya. “Setelah isya, kami berlima (abang dan ketiga
adik
saya, termasuk adik saya yang baru berumur satu setengah tahun)
menuju
terminal bis Tangerang untuk menunggu ibu pulang dari Jakarta. Ibu
selalu
kembali dari Jakarta ke Tangerang dengan menumpangi bis
terakhir,”
kenangnya.
Kondisi itulah yang membuat Kang Bayu gonta
ganti profesi. Dia pernah
menjadi tukang semir sepatu, tukang cuci piring di
warung Padang, hingga
menjadi kenek angkot. Semua itu ia lakukan guna
membantu ibunya menghidupi
dan menyekolahkan anak-anaknya.
Dan,
kondisi itu pulalah yang membuatnya menjadi anak yang mandiri, dan
terus
berupaya untuk memberikan manfaat sebanyak mungkin kepada anak-anak
yatim dan
kaum dhuafa. Dia tahu betul bagaimana pahitnya menjadi anak yang
ditinggal
ayah. “Lebaran Bersama Anak Yatim” adalah salah satu programnya.
Hal ini ia
lakukan guna membuat anak-anak yatim tersenyum bahagia, suasana
yang tidak
pernah dirasakannya saat dirinya masih kecil kendati ayahnya
masih hidup.
(my.shandy)***
============ ========= ========= =======
BUAH DARI BELAJAR &
MEMBANTU
Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu
dengan seorang
yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman
Zainal Arifin,
seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang
kemudian menjadi
Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1
di Indonesia
karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di
USA.
Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu pak Houtman. Kala
itu saya
sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya,
Bank
Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta. Selama satu
minggu
saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satu nya
saya
peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:
Sekitar
tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari
desa ke
jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan
harapan,
Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman
harus
menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan
tidak
mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta,
pekerjaan tidak
mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan
profesi sebagai
pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan
kemudian ke lampu merah
menjajakan dagangannya.
Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman
kehilangan cita-cita dan
impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah
kolong jembatan, dia
memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran
di jalan Jakarta.
Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan
berdasi. Houtman
remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan
berpendingin,
berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat
itu juga
Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah
cita-cita dan
tekad diazamkan dalam hatinya.
Azam atau tekad yang kuat
dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah
nasib. Tanpa menunggu
waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran
kerja ke setiap gedung
bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang
menurutnya bagus maka pasti
dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran
kerja. Houtman menyisihkan setiap
keuntungan yang diperolehnya dari
berdagang asongan digunakan untuk membiayai
lamaran kerja.
Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari
sebuah perusahaan
yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First
National City Bank
(citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun
diterima bekerja
sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar,
paling bawah dalam
sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan
ruangan kantor,
wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.
Tapi Houtman
tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan.
Diterimanyalah
jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman
percaya bahwa
nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah
membuka pintu
masa depan menjadi orang yang berbeda.
Sebagai Office Boy Houtman selalu
mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan
baik. Terkadang dia rela membantu
para staf dengan sukarela. Selepas sore
saat seluruh pekerjaan telah usai
Houtman berusaha menambah pengetahuan
dengan bertanya tanya kepada para
pegawai. Dia bertanya mengenai istilah
istilah bank yang rumit, walaupun
terkadang saat bertanya dia menjadi bahan
tertawaan atau sang staf
mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai
”ngapain nih OB
nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai
akhirnya Houtman
sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank
seperti Letter of
Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.
Suatu saat Houtman tertegun
dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi
dokumen (saat ini dikenal dengan
mesin photo copy). Ketika itu mesin foto
kopi sangatlah langka, hanya
perusahaan perusahaan tertentu lah yang
memiliki mesin tersebut dan
diperlukan seorang petugas khusus untuk
mengoperasikannya. Setiap selesai
pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman
sering mengunjungi mesin tersebut dan
minta kepada petugas foto kopi untuk
mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir
mengoperasikan mesin foto kopi, dan
tanpa di sadarinya pintu pertama masa
depan terbuka. Pada suatu hari petugas
mesin foto kopi itu berhalangan dan
praktis hanya Houtman yang bisa
menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi
naik jabatan dari OB sebagai
Tukang Foto Kopi.
Menjadi tukang foto
kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi
Houtman tidak cepat
berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus
menambah pengetahuan dan
minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat
salah seorang staf memiliki
setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun
menawarkan bantuan kepada staf
tersebut hingga membuat sang staf tertegun.
“bener nih lo mo mau bantuin gua”
begitu Houtman mengenang ucapan sang staff
dulu. “iya bener saya mau bantu,
sekalian nambah ilmu” begitu Houtman
menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh
salah, kalau salah tanggungjawab lo,
bisa dipecat lo”, sang staff
mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman
diberi setumpuk dokumen, tugas
dia adalah membubuhkan stempel pada Cek,
Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada
kolom tertentu. Stempel tersebut harus
berada di dalam kolom tidak boleh
menyimpang atau keluar kolom. Alhasil
Houtman membutuhkan waktu berjam-jam
untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut
karena dia sangat berhati-hati sekali.
Selama mengerjakan tugas tersebut
Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia
membaca dan mempelajari dokumen yang
ada. Akibatnya Houtman sedikit demi
sedikit memahami berbagai istilah dan
teknis perbankan. Kelak pengetahuannya
ini membawa Houtman kepada jabatan
yang tidak pernah
diduganya.
Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan
selalu
mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan
untuk
membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun
tidak
segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di
Citibank
mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi
yang
dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.
Peristiwa
pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar
biasa heboh dan
kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff,
bahkan rekan sesama
OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten.
Houtman dianggap
tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun
harus OB juga”
begitu rekan sesama OB menggugat.
Houtman tidak patah semangat, dicibir
teman-teman bahkan rekan sesama staf
pun tidak membuat goyah. Houtman terus
mengasah keterampilan dan berbagi
membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya
membantulah yang bisa diberikan
oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki.
Houtman tidak pernah lama dalam
memegang suatu jabatan, sama seperti ketika
menjadi OB yang haus akan ilmu
baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan
pekerjaan baru. Sehingga karir
Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan
sesama OB bahkan staff yang
mengajarinya tentang istilah bank.
19
tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First
National
City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice
President. Sebuah
jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi
citibank sendiri
berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin
dijabat oleh orang
Indonesia.
Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor
Houtman masuk
sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya
berpendidikan SMA.
Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah
diembannya, menjadi
staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat
keuangan salah satu
gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi
inspirator bagi
banyak orang .
Sahabat, begitulah dahsyatnya
orang-orang yang HAUS ILMU dan SUKA MEMBANTU,
maka Maha benarlah apa yang
difirmankan Allah SWT :
“ Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan
kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah,
niscaya Allah akan
memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan:
"Berdirilah kamu, maka
berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang
yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “
(Qs.Al-Mujaadilah : 11).