BandungBergerak.id - Bila memasuki bulan Rajab di Babakan Dangdeur Pasirbiru, sebelum dimulai pengajian majelis talim ibu-ibu, pengajian mingguan di Masjid Ar Rahman, Al Amanah, Nurul Iman, maka selalu terdengar pupujian, nazaman (di Sunda biasa disebut nadoman) "Sasih Rajab" sebagai ungkapan kerinduan (kecintaan) umatnya terhadap Rasulullah Saw.
Di buku Puisi Pupujian dalam Bahasa Sunda dijelaskan pupujian ialah puisi yang berisi puja-puji, doa, nasihat, dan peiajaran yang berjiwakan agama Islam. Puisi pupujian ini biasa diucapkan dengan berlagu.
Menurut Kamus Basa Sunda yang disusun oieh R. Satjadibrata (1954) pupujian berasai dari kata puji, muji yang berarti mengucapkan kata-kata kebaikan (kelebihan). Puji berasal dari bahasa Sanskerta, dari akar kata puj yang dalam bahasa Inggris berarti honor (penghormatan, hormat).
Dengan hafalnya dan seringnya mengucapkan serta mendengarkan pupujian, diharapkan anak-anak didik, para santri, serta masyarakat umum tergugah dan mempunyai keinginan untuk mengikuti nasihat serta ajaran agama yang dikumandangkan melalui puisi pupujian itu.
Beberapa informan pun mengatakan bahwa pupujian berfungsi sebagai alat pendidikan agama, adab, dan susila kemasyafakatan. Puisi pupujian dipergunakan untuk mempermudah cara menyampaikan pendidikan. Dengan cara dinazamkan (dinyanyikan), pendidikan agama dan adab susila mudah diterima, terutama oleh anak-anak usia sekolah. Pupujian juga dipentaskan sebagai hiburan pada acara khusus keagamaan, seperti Rajaban, Mauludan, musabaqoh tilawatil Quran, imtihan. Bahkan di pondok pesantren Darul Amal, Karanggedang, Ciamis, pupujian dipergunakan juga untuk membangunkan santri-santri dari tidurnya.
Pada masa-masa sebelum perang, pupujian sering dikumandangkan, baik di pesantren dan madrasah maupun di mesjid, langgar, ataupun tempat-tempat pengajian lainnya. Pupujian dikumandangkan saat-saat menjelang salat subuh, magrib, dan isya, kadang-kadang sesudahnya. Di pesantren dan di madrasah pupujian juga dikumandangkan pada waktu pelajaran berlangsung, sedangkan di tempat-tempat pengajian lainnya pada saat menunggu waktu mengaji atau sesudahnya.
Pada masa sekarang penggunaan puisi pupujian sudah agak berkurang, baik di mesjid, pesantren-pesantren, maupun tempat pengajian lainnya. Di beberapa tempat pupujian masih dipergunakan, tetapi fungsinya sudah berubah, yaitu dari media pendidikan yang sangat penting menjadi kegiatan kesenian yang sewaktu-waktu saja dipergunakan, misalnya pada waktu memperingati maulud nabi, rajaban, musabaqoh tilawatil Quran, imtihan.
Diduga berkurangnya penggunaan puisi pupujian itu disebabkan tingkat pendidikan dan pengetahuan agama masyarakat sekarang sudah jauh lebih tinggi daripada ajaran-ajaran agama yang dikumandangkan dalam puisi pupujian. Di samping itu, buku-buku tentang ajaran agama Islam sekarang telah banyak beredar dan mudah diperoleh.
Penyebab lainnya, mungkin karena pengaruh kebudayaan modern, masyarakat sekarang menganggap lagu dan ajaran-ajaran dalam puisi pupujian kurang sesuai dengan tuntutan zaman, terutama ajaran tentang adab dan sopan santun (Yus Rusyana, 1986:3, 13-14).
Nazoman Isra Miraj yang ditulis kiai ini dengan aksara pegon dalam bahasa Sunda. Berisi ajaran Islam tentang peristiwa perjalanan (isra) Rasulullah Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang dilanjutkan perjalanannya menuju Sidratul Muntaha (miraj), ketika mendapatkan perintah salat wajib yang lima waktu.
Nazaman merupakan untaian kata yang terikat oleh padalisan (larik, baris) dan pada bait. Nazaman disusun dengan tujuan dilantunkan secara lisan dengan lagu. Tujuannya sebagai media dakwah yang efektif, agar memudahkan pembelajar dalam mengingat isi ajaran yang terdapat di dalamnya.
Bagi sebagian masyarakat pesantren di Kuningan, nazaman dipandang memiliki fungsi sosial-religius. Keberadaannya, secara sosial, dilestarikan turun-temurun, dari satu generasi ke generasi selanjutnya, meskipun kadar fungsi tersebut dapat meningkat atau pun menurun.
Di tengah berbagai media pembelajaran lainnya yang berkembang di Kuningan saat ini, penggunaan nazaman sebagai media dakwah masih banyak ditemukan. Nazaman Isra Miraj hingga saat ini masih dibacakan, utamanya pada acara peringatan Isra Miraj dan Maulid Nabi (mauludan).
Dalam buku Sejarah Pesantren: Jejak, Penyebaran dan Jaringannya di Wilayah Priangan (1800-1945) dijelaskan Raden Adipati Arya Wiranatukusumah (Dalem Haji) menjadi Bupati Bandung, pernah mengadakan peringatan Isra Miraj di kompleks kabupaten.
Bupati ini sangat dihormati oleh penduduk tidak hanya karena ia berasal dari keturunan bupati Priangan sebelumnya, tetapi ia dikenal sebagai bupati yang memiliki perhatian terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan.
Sekitar tanggal 21 Rajab, ia biasa berkeliling ke daerah-daerah, setiap malam peringatan. la juga suka mengadakan ceramah Isra Miraj, menurut catatannya sendiri dalam bahasa Sunda, di masjid. Pertemuan itu dimulai seperti peringatan Isra dan Miraj Iainnnya, yaitu sesudah salat isya dan berlangsung sampai tengah malam.
Peringatan ini biasanya diikuti oleh hajatan. Kaum pria dan wanita menghadiri pertemuan ini dalam jumlah yang sangat besar. Para pejabat dan pegawai masjid membawa istri mereka. Pada 27 Rajab diadakan peringatan Isra Miraj di masjid Kabupaten Bandung, yang dipimpin oleh bupati sendiri.
Sekelompok kecil hadirin kemudian pergi ke kabupaten untuk hajatan, tetapi hajatan yang sebenarnya diadakan di rumah penghulu kepala. Setelah mereka menghadiri hajatan di kabupaten banyak juga orang yang datang ke sini. Pada suatu malam sesudah 27 Rajab, bupati masih mengadakan pertemuan lagi di rumahnya untuk memperingati Isra Miraj bagi mereka yang lebih terpelajar.
Pada sebuah malam sekitar 27 Rajab, beberapa bupati yang Iain mempunyai kebiasaan mengadakan peringatan Isra-Miraj di kabupaten untuk kalangan terbatas. Peringatan untuk umum diadakan di masjid kabupaten dekat alun-alun, di bawah pimpinan penghulu kepala pribadi atau seorang ajengan. Pegawai pribumi, juga kadang-kadang bupatinya sendiri, menghadiri peringatan ini. Demikian pula kaum wanitanya.
Di Tasikmalaya, peringatan yang terbesar diadakan di rumah penghulu kepala yang dihadiri oleh 100 undangan, pria-wanita, pejabat, pegawai masjid dan Iain-Iainnnya. Kadang-kadang, bupati juga hadir bersama istrinya. Sebagian hajat merupakan hadiah dari bupati yang memerintah di Kabupaten tersebut (Dr. Ading Kusdiana, M. Ag, 2014:75-76).
Bagi masyarakat Sunda Islam yang masih menjadikan kesundaannya sebagai identitas dan bagian integral dirinya. Islam dipandang sebagai lokus yang memberi ruang formal sebagai penyempurna dalam mewadahi pengalaman batin dan nilai-nilai kearifan lokal dan pengalaman batin masyarakat Sunda (Ahmad Gibson Albustomi, 2012;ix-x).
Dengan demikian, kehadiran pupujian, nazaman Isra Miraj ini menjadi bukti nyata atas harmonisasi budaya Sunda dengan Islam sebagai petanda identitas muslim Jawa Barat yang berpijak pada khazanah kearifan lokal.
Pasalnya, suatu bangsa yang besar itu tidak akan melupakan tradisi, budaya sendirinya. Justru kehadiran budaya suatu daerah (Sunda) ini menjadi pilar menyangga keberlangsungan Negara Indonesia tercinta ini. Semoga.
BandungBergerak.id akan memberikan penghargaan dan sertifikat kepada penulis dua esai terpilih setiap bulannya. Penentuan esai terpilih, didasarkan pada mutu tulisan dan tingkat keterbacaan, merupakan kewenangan penuh Redaksi.
Dengan mengirimkan tulisan ke BandungBergerak.id, penulis menyepakati bahwa Redaksi memiliki kewenangan untuk menyunting tulisan. Sebisa mungkin kami akan memberikan tanggapan untuk setiap penulis yang telah mengirimkan esai mereka. Terlebih mereka yang esainya belum bisa dimuat.
c80f0f1006