Ketika pariwisata Bali makin terpuruk, kita sebagai masyarakat yang
hidup dari datang dan perginya para wisatawan merasakan himpitan beban
yang makin berat dipundak kita. Kemana kita harus melangkah, apakah
berhenti menggali di bidang pariwisata atau tetap berkutat disini
tetapi berusaha mencari tempat yang
lebih baik, mencari Bvlgary yang lain atau Conrad yang lain.
Kita semakin mengekploitasi budaya kita sendiri budaya warisan nenek
moyang kita:Budaya Hindu. Kita keluarkan semua yang ada bahkan yang
sakral pun kita persembahkan untuk menarik minat wisatawan untuk
datang. Sungguh kalau dilihat kita sudah terpuruk ke dalam jurang yang
makin dalam, sedihnya jurang tersebut kita gali sendiri dengan tangan
tangan anak cucu kita. Tangan tangan yang seharusnya menjadi penerus
budaya Bali tetapi kita malah menghancurkan apa yang semestinya masih
bisa dinikmati oleh anak cucu kita suatu budaya warisan yang bahkan
oleh banyak kalangan dikagumi.
Pernah suatu saat terlintas dibenak saya bahwa budaya Bali sudah tidak
terlihat lagi di mata anak cucu kita, mereka lebih menikmati budaya
barat daripada budaya mereka sendiri. Ini bukan diakibatkan gencar
masuknya budaya barat melainkan lebih disebabkan lemahnya pemahaman
akan budaya kita sendiri. Kelemahan yang bukan berasal dari anak cucu
melainkan dari orang tua mereka yang seharusnya lebih bisa mendidik.
Namun dengan alasan mencari uang, dapur harus mengepul kita membuka
seluas luasnya budaya Bali untuk diekploitasi hanya demi untuk
kepentingan yang namanya pariwisata.
Menurut saya kita harus kembali ke masa lalu disaat budaya kita masih
terjaga, masih asri, semua anak perempuan bisa membuat "banten" bisa
menari begitu juga dengan yang laki bisa membuat "penjor" dan bisa
"nampah" hal yang mesti dilakukan setiap Penampahan Galungan. Mungkin
anda menyadari sekarang anak cucu kita tidak seperti dulu lagi mereka
tidak diajarkan melakukan hal tersebut karena menurut saya orang tua
mereka juga tidak bisa melakukannya.
Pemerintah semestinya mengambil tindakan yang serius untuk mengatasi
masalah krisis pariisata yang dialami oleh msyarakat Bali. Kita harus
berubah dari pariwisata yang mengandalkan Budaya ke pariwisata jenis
lainnya. Masih banyak sumber sumber yang masih bisa kita gunakan untuk
menarik minat wisatawan yang bukan berasal dari budaya. Cukup sudah
ekploitasi budaya hindu gunakan hal lain untuk menarik wisatawan.
Wahai teman teman pernahkan anda membaca surat kabar semacam TTG ASIA
atau yang semacamnya? Saya membaca begitu banyak bukti nyata yang bisa
kita lakukan utuk menarik minat wisatawan untuk datang. Sebagai contoh
negara tetangga kita Malaysia membuat suatu komplek hotel dan gedung
pertemuan bisa menampung ribuan orang mereka mengincar sektor MICE,
apakah bali bisa melakukannya jawabnya BISA SEKALI. Pemerintah bisa
mengangkat sektor ini utuk dikembangkan. Negara Singapura membuka ijin
Casino yang hanya diperuntukkan bagi semua orang yang bukan warga
negaranya. Gimana dengan Bali? tentu BISA. Anda jangan membayangkan ini
akan menghancurkan budaya kita, saya rasa tidak karena budaya kita
sudah kita hancurkan sendiri, malah jika kita mengalihkan pariwisata
budaya ke pariwisata yang lain maka kita bisa menjaga budaya kita dan
kembali ke arah nenek moyang kita dulu.
Hal terakhir yang paling memungkinkan bagi kita adalah mendirikan
Disneyland kita sendiri. Pernahkah anda berpikir malam minggu mau
kemana? Saya bisa pastikan arah anda pasti seputar mall dan berakhir di
tempat hiburan malam semacan Hard Rock atau kamasutra atau paling buruk
nonton film, hanya itu saja yang
tersedia bagi generasi muda kita. Yang merasa bosan mereka melangkah
lebih jauh mengkonsumsi narkoba.Hongkong pada saat disneyland dibuka
jumlah kunjungan ke sana meningkat dengan tajam bahkan pada saat bulan
bulan sepi pun masih bisa dikatakan meningkat.
Bali seharusnya mengikuti Hongkong, Malaysia dan Singapura menggali
potensi potensi lain untuk mendatangkan pariwisata bukan hanya
mengandalkan pariwisata budaya. Lambat laun budaya Bali sirna wisatawan
pun juga enggan datang ke Bali. Sekaranglah saatnya bagi pemerintah
untuk berbuat, bertindak jangan hanya menyerahkan semuanya pada pelaku
pariwisata. Kita harus bantu membantu menjaga warisan budaya leluhur
kita bukan malah menghancurkannya.
Semoga renungan singkat ini bisa membuka hati teman teman sekalian.
Terima Kasih.