Nagabonaris a 1987 Indonesian epic war comedy film directed by M.T. Risyaf. It was Indonesia's submission to the 60th Academy Awards for the Academy Award for Best Foreign Language Film, but was not accepted as a nominee.[1] In 2007, the sequel named Nagabonar Jadi 2 released.
Naga Bonar is a pickpocket. During the withdrawal of the Japanese occupying forces from Indonesia in 1945 he declares himself a general of the Liberation Forces. However, soon a mask becomes his true self, and he becomes a true soldier and patriot.
Nagabonar adalah film komedi situasi tahun 1987 dari Indonesia yang mengambil latar peristiwa perang kemerdekaan Indonesia ketika sedang melawan kedatangan pasukan Kerajaan Belanda pasca kemerdekaan Indonesia di daerah Sumatera Utara.
Naga Bonar (Deddy Mizwar) adalah seorang pencopet di Medan yang sering keluar-masuk penjara Jepang, ia bersahabat dengan seorang pemuda bernama Bujang (Afrizal Anoda). Sepulang dari penjara, Bang Pohan (Piet Pagau) mengatakan tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamasikan di Jakarta, dan di Medan yang belum sempat dimerdekakan harus memperangi Belanda yang sudah memasuki wilayah Indonesia dengan maksud untuk berkuasa lagi. Lewat narator radio, diceritakan penolong Naga Bonar ketika sakit, Dokter Zulbi yang merupakan teman Bang Pohan diperkirakan sebagai mata-mata Belanda yang ternyata itu hanya isu. Naga Bonarpun menjadi tentara garis depan dalam perlawanan terhadap Belanda. Setelah beberapa perlawanan yang sengit, Naga Bonar dititahkan dari markas untuk mundur karena perundingan dengan Belanda mau dilaksanakan.
Perpindahan pasukan dari desa ke markas menjadi saat Naga Bonar mulai tertarik dengan anak Dokter Zulbi, Kirana (Nurul Arifin). Pada perundingan Belanda dengan Indonesia, Naga Bonar yang menjadi wakil Indonesia justru menunjuk Parit Buntar sebagai tempat wilayah tentaranya (karena Naga Bonar tidak bisa membaca peta). Juru tulis pasukan, Lukman, mengatakan bahwa Parit Buntar adalah tempat yang sudah diduduki oleh Belanda. Setelah itu, Naga Bonar mulai mendekati Kirana dengan hasil yang memuaskan. Sehari setelah itu, Bujang mengambil baju jenderal Naga Bonar dan pergi ke Parit Buntar untuk melawan Belanda, naas, ia tewas. Naga pun sangat terpukul dengan kepergian sahabatnya dan akhirnya bersama dengan Kirana, dan pasukannya Naga pergi ke Parit Buntar untuk memusnahkan markas Belanda dan berhasil. Film diakhiri dengan orasi Naga Bonar dan Kirana kepada pemuda indonesia.
Film Nagabonar versi rilis ulang yang telah direkam ulang dirilis pada tahun 2008 dengan menampilkan dialog yang direkam ulang oleh para aktor aslinya. Namun beberapa pemain terpaksa harus digantikan suaranya, di antaranya Roldiah Matulessy dan Robert Syarief yang kedua-duanya sudah meninggal.
Film lanjutan Naga Bonar dirilis pada tahun 2007 yang disutradarai oleh Deddy Mizwar dengan judul Naga Bonar Jadi 2. Film ini menceritakan kisah Naga Bonar (Deddy Mizwar) yang pergi ke Jakarta untuk menemui anaknya, Bonaga (Tora Sudiro).
Globalization in movies has influenced in developing countries such as Indonesia, mainly in the cultural aspect. The global culture presented through movie has brought changes to the local culture. The aim of this article is to illustrate the impact of globalization in Indonesian movies in terms of culture. The two of movies will be interpretation are Nagabonar and Nagabonar Jadi 2, which are become the unit of analysis in this article. Thus, this article will compare the culture described in each movie, and focus on the interpretation of elements of cultural objects and culture is not an object.
3a8082e126