UJIAN PENGORBANAN
Dikisahkan
para malaikat menyoroti kekayaan yang
dimiliki Nabi Ibrahim.
Kita
mengenal nabi yang kaya hanya Nabi Sulaiman. Tapi, ternyata Nabi Ibrahim juga
kaya.
Apalagi,
sejak Nabi Ibrahim mendaptkan sumur Zam-zam. Ternaknya maju.
Konon, Nabi
Ibrahim memiliki 12 ribuan domba dan unta.
Saat itu,
Allah membela Nabi Ibrahim bahwa hati beliau bersih. Iman beliau kuat. Hidupnya
untuk Allah. Saat Nabi Ibraahim ditanya, “PUNYA
SIAPA HART A YANG ENGKAU MILIKI?”.Dijawab oleh Nabi Ibrahim , “PUNYA ALLAH, SEDANG DITITIPKAN
KEPADAKU.JIKA ALLAH HENDAK MENGAMBILNYA, BAHKAN ANAKKU SEKALIPUN PUNYA ALLAH.
JIKA ALLAH MENGHENDAKI, ANAKKU PUN TAK APA-APA, KUSERAHKAN.”
Begitu
kurang lebih epik yang dikisahkan guru saya di pesantren. Dan, ujianpun datang
tidak jauh-jauh. Nabi Ibrahim diuji perkataannya sendiri. Dan, kelak Allah
membuka penglihatan malaikat akan imannnya Nabi Ibrahim, bahkan keluarganya,
yakni imannya Siti Hajar dan Ismail.
Saat,
isyarat mimpi untuk menyembelih Nabi Ismail datang, tanpa ragu Nabi Ibrahim dan
keluarganya membuktikan imannya.
Nabi Ismail
yang saat itu berusia tujuh tahun (menurut riwayat lain 13 tahun) berkata
kepada ayahnya agar mengikat kaki dan tangannya. Agar ayahnya tidak
mendapatinya berontak.
Ia
meminta ayahnya agar menghadapkan wajah
ke tanah agar ayahnya tidak melihatnya, lalu jatuh ibanya.
Ia meminta
jangan melihat dulu anak-anak sebayanya
agar tidak jatuh sedihnya.
Dimulailah
penyembelihan itu. Tapi, pisau itu tumpul. Kali Kedua, Nabi Ismail malah
meminta agar ayahnya menghadapkan wajahnya ke langit. Agar bisa melihat wajah
ayahnya dan melaksanakan perintah Allah dengan gembira. Bukan dengan ketakutan.
Kali inipun
pisau itu tumpul. Nabi Ibrahim mencoba menggoreskannya ke batu. Batu itu
terbelah. Bertanyalah Nabi Ibrahim, “WAHAI
PISAU, MENGAPA ENGKAU KUPAKAI UNTUK MENYEMBELIH ANAKKU ENGKAU TIDAK
SANGGUP?PADAHAL, UNTUK MEMBELAH BATU ENGKAU SANGGUP?”
Batu
menjawab, “AKU DIPERINTAH ALLAH AGAR
TIDAK MEMOTONG LEHER ISMAIL. BAGAIMANA MUNGKIN AKU BERMAKSIAT?MELAWAN
PERINTAH-NYA?”
Malaikat
menyaksikan kesungguhan hati ayah dan anak ini. Bahkan , kesungguhan dan
keteguhan hati Siti hajar. Bagaimana ketika silih berganti setan menggoda agar
mereka membatalkan niat ini.
Peristiwa
ketika setan dilempar batu dijadikan manasik haji.
Jumratul
Uulaa, Jumratul Wustha, dan jumratul ‘Aqaba.
Akhirnya,
Allah pun mencukupi ujian ini. Dan, menggantinya dengan kambing gibas.
Nabi
Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar berhasil melewati UJIAN
PENGORBANAN ini.
Dan,
tertinggallah kita. Bagaimana pengorbanan kita? KITA MEMOTONG WAKTU KERJA UNTUK SHALAT SAJA SERING TIDAK DALAM
PEMOTONGAN (PENGORBANAN) terbaik.
SELALU MENDAHULUKAN PEKERJAAN DAN
MENOMORDUAKAN SHALAT.
SANGGUPKAH KITA MEMOTONG TIDUR MALAM
KITA?UNTUK SHALAT MALAM?.
Memotong harta untuk zakat dan sedekah,
dalam bentuknya yang terbaik?Bukan yang asal-asalan, bukan jangan sampai tidak
zakat dan sedekah.
Sanggupkah kita memotong nafsu syahwat
kita, ketika datang?
Jika sanggup, perbuatan kita pun akan
dilihat Allah dan para malaikat-Nya.
Hikmah Republika: Ustaz Yusuf Mansur