Tionghoa Peranakan Fashion Show

28 views
Skip to first unread message

Aji K. Bromokusumo

unread,
Jun 20, 2012, 12:12:42 AM6/20/12
to aspe...@googlegroups.com
Selamat siang semuanya,


Kebetulan saya mendapat kesempatan hadir di acara fashion show busana dengan thema Tionghoa Peranakan. Hari ini sudah tayang di: http://baltyra.com/2012/06/20/beauty-treasure-fashion-show/

Jangan lupa click SHOW IMAGES/VIEW IMAGES.

Kamsia dan salam hormat,
Aji


=========================================================

Seorang teman baik kontak saya untuk menanyakan tentang organisasi dimana saya bergabung – ASPERTINA (Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia) – karena acara yang dia ikut berpartisipasi. Setelah diskusi yang cukup intens, dia menyampaikan undangan untuk acara Peranakan Fashion show. Pertama mendengar, wow…mestinya sangat menarik, karena memang saya belum pernah hadir sekalipun di acara fashion show dan alasan lainnya adalah tematik yang spesifik: “pakaian Peranakan”. Pertama saya membayangkan bagaimana yang namanya fashion show tapi mengenakan busana kebaya encim berlenggak-lenggok di atas catwalk, tidak terbayang sama sekali.

Akhirnya hari H tiba. Tanggal 14 Juni selepas jam kantor saya meluncur ke arah Jakarta, menuju Hotel Mulia – dimana tempat acara diselenggarakan. Perjalanan menyusuri tol sangat lancar, tapi ketika memasuki tol dalam kota, dari kejauhan di atas triple-decker Tomang ke arah Semanggi terlihat pendar beribu lampu rem tak terlihat ujungnya. Namun karena sudah cukup lama tidak mengukur jalan tol dalam kota, saya coba untuk menikmati sejenak kemacetan yang ternyata jika sudah di tengahnya malah tidak begitu parah seperti terlihat dari atas triple-decker tadi. Singkat cerita saya tiba di Hotel Mulia lima menit lebih dari pukul tujuh. Dalam undangan, acara disebutkan jam 19:00, pikir saya, ah biarlah, misalkan terlambat tidaklah terlalu lama.

Koridor parkir P6 yang sudah cukup akrab karena beberapa kali menghadiri acara di situ masih tetap lengang. Di sana sini mulai nampak manusia berseliweran dengan busana trendy dan fashionable. Semakin mendekati ballroom, semakin penuh lautan manusia yang sudah berjubel. Saya menelepon pak Priyanto Zhang, sang komandan kelompok musik Nanfeng Nusantara yang berjanji membawakan undangan dan kami berjumpa di depan sudut kecil dimana tiga pemusik Nanfeng Nusantara sedang membawakan lagu dengan petikan guzheng dan pi-pa. Cukup lama kami tak berjumpa semenjak bertemu terakhir dalam salah satu penampilan kelompok musik ini. Menurut pak Priyanto, pintu belum dibuka dan makan belum dimulai, padahal sudah pukul 19:30’an.

Tapi tak berapa lama, para koordinator F&B (Food & Beverage) hotel memerintahkan staff yang berjaga di counter makanan untuk memulai menyajikan beberapa hidangan buffet. Berbagai hidangan olahan chef Hotel Mulia menguarkan aroma dan bau yang menggoda. Kebetulan saya berdiri di dekat counter dimsum dan bebek panggang, tak ragu langsung berpindah ke perut. Di sisi lain koridor, ada beberapa hidangan lain yang sepertinya sungguh lezat. Lautan manusia semakin menggila, berjalan pun bertambah susah. Soto Bogor porsi mini dan satu porsi signature-dish-steam-fish menjadi penutup untuk saya. Segera saya berdiri tepat di depan pintu masuk ballroom yang masih dijaga ketat beberapa petugas hotel. Dikatakan mereka pintu akan dibuka jam 20:00.

Antrean semakin sesak dan beberapa orang sudah mulai komplen ke para petugas yang menjaga pintu. Waktu sudah lebih dari pukul 20.00 tapi pintu masih tertutup rapat. Beberapa ibu-ibu dengan dandanan full-spec (muka dilabur, bibir bengep/jontor/bengkak kemerahan, alis digaris dengan pensil 7B, dan rambut diwut-diwut ala sarang burung) dengan bibir mencibir mulai ngomel kenapa pintu masih tertutup sambil kipas-kipas dengan undangan di tangan masing-masing. Semakin banyak ibu-ibu yang merangsek kerumunan di pintu masuk. Kemudian ada satu ibu karena membawa undangan VIP berempat dengan teman-temannya dipersilakan masuk oleh salah seorang petugas, dan akibatnya “jebol”lah pertahanan para petugas yang menjaga pintu, dengan muka ngeri minggir memberikan jalan kepada ibu-ibu “beringas” yang berjejalan memasuki ruangan.

Saya berjalan mencari tempat duduk yang sudah ditentukan dari kode undangan saya. Ternyata saya cukup beruntung mendapatkan tempat yang pas dan strategis untuk jepret-jepret kamera, tidak ada penghalang apapun di depan saya, langsung berhadapan dengan catwalk di hampir ujung penghabisan yang dekat dengan spot untuk para wartawan dan fotografer yang sudah ditentukan oleh panitia. Waktu terus berjalan menunggu tempat duduk terisi oleh para undangan.

Pukul 21:05 lampu dimatikan dan suara pembawa acara menyeruak dari speaker mengumumkan bahwa acara akan segera dimulai. Backdrop panggung menjadi gelap dan sekejap terang dengan sorotan projector…eeeehhh ternyata tayangan iklan bertubi-tubi, yang saya hitung sekitar 15 menit juga, sungguh membosankan. Setelah tayangan iklan disambung dengan acara penyerahan karangan bunga dari siapa untuk siapa, dsb, dst. Lebih dari pukul 21:30 acara fashion show yang sebenarnya baru dimulai. Panggung menjadi gelap, musik berganti dan menghentak, tata lampu bertebaran berbagai warna. Dan dimulailah Beauty Treasure Fashion Show ini.

Tiga perancang malam itu adalah: Jeanny Ang, Deden Siswanto dan Rudy Chandra.

(scanned booklet)

 

Yang pertama adalah rancangan Jeanny Ang

Perhatikan corak aneka warna khas Peranakan, terutama bunga-bunga, motif dan warna cerah ala Batik Pesisir.

(scanned booklet)

 

 

 

Berikutnya adalah rancangan Deden Siswanto

(scanned booklet)

 

 

Dan yang terakhir rancangan Rudy Chandra

(scanned booklet)

 

Secara umum fashion show ini bisa dibilang dahsyat. Demikian yang saya dengar dari kasak-kusuk pengunjung lain yang (mungkin) lebih terbiasa dan memahami fashion show, dibandingkan dengan saya yang baru pertama kali nonton langsung fashion show. Remark saya adalah bahwa fashion show ini ternyata jauh sekali dari bayangan awal “kebaya encim” berjalan di atas catwalk. Terobosan baru dengan corak kain Tionghoa Peranakan dituangkan dalam karya-karya dahsyat tiga perancang dengan apik sekali. Yang jadi perhatian saya adalah malam itu banyak yang datang dengan mengenakan busana khas Peranakan, terutama corak batiknya. Berbagai variasi dari kemeja pria, gaun malam, baju kebaya yang dipadu dengan legging dan masih banyak sekali variasinya.

Saya meninggalkan Hotel Mulia dengan hati puas bisa mendapat kesempatan ikut hadir dalam acara fashion show yang apik dan tentu saja dapat beberapa jepretan lumayan…








--

cheers,
gloBAL communiTY nusantaRA
http://baltyra.com




Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages