







Pak Tjandra Ghozali Yth;
Tentuuya input anda ttg Museum Peranakan dalam milis ASPERTINA – diharapkan dapat menggugah anggota MILIS !
< Maaf yang ternyata sangat terbatas ? – sehingga menurut saya : “BELUM MENYENTUH’ karena di luar Program Kerja ASPERTINA itu sendiri; dan mereka pun perlu FOKUS utk Visi/ Misi APERTIUNA – yang perlu kita hargai >
Saya cuma inin tahu AD/ ART ASPERTINA serta Program yang telah disetujui – agar milis ini memang dapat berguna untuk kalangan terbatas.
Salam Hormat;
Tony S
Teman-teman,
Mengenai rencana pembangunan museum, saya secara pribadi merasa baik sekali. Hanya saja, ini bukan masalah “tersentuh” atau tidak, tetapi karena sebagai organisasi, ASPERTINA telah sepakat untuk fokus kepada hal-hal yang termasuk didalam program kerjanya.
Sekedar masukan, mendirikan dan mengelola sebuah museum yang baik itu tidak mudah dan perlu biaya yang sangat besar.
Kalau di luar negeri, biasanya ada Board of Trustees sebagai dewan penyantun dan Board of Directors sebagai dewan direksi yang menyusun policy atau tata-kelola dari museum itu sendiri.
Untuk pendanaan, Peranakan Museum di Singapura didukung oleh para penyantun pribadi dan korporat, seperti JPMorgan Chase Bank, BNP Paribas, Citibank, Epson Singapore dan Singapore Tourism Board. Belum lagi dukungan dari National Heritage Board milik pemerintah Singapore.
Diluar Board of Trustees and Board of Directors, ada juga Museum Planner yang menyusun segala sesuatu yang terkait dengan konsep awal museum sampai dengan implementasi berbagai aspek yang terkait dengan kegiatan museum itu sendiri.
Kemudian ada Museum Curator yang melakukan riset dari berbagai koleksi yang akan ditampilkan, termasuk menyusun penjelasan dari semua benda yang dipamerkan. Biasanya ada kurator untuk masing-masing bagian dalam museum. Misalnya kurator untuk benda-benda keramik, kurator untuk koleksi batik dan sebagainya. Di Peranakan Museum Singapore, kuratornya adalah Jackie Yoong dari The National University of Singapore (NUS), Peter Lee, peneliti senior dalam bidang budaya Peranakan dan beberapa yang lain.
Sebuah museum juga memerlukan seorang Registrar, yang bertugas mencatat dan memelihara semua barang-barang yang ada didalam koleksi museum, termasuk yang masuk dan keluar, yang dipinjamkan untuk pameran, dsb. Ini disiplin ilmu tersendiri dan perlu orang yang berpengalaman.
Selain itu ada Educator atau Public Programmer yang menciptakan program dan desain yang interaktif diruang-ruang pameran. Seperti kita lihat di Peranakan Museum Singapore, banyak sekali bagian-bagian pameran yang dibuat sangat menarik dan interaktif. Ini karena mereka memiliki Educator atau Public Programmer yang hebat, yang benar-benar paham mengenai visi dan misi museum tersebut.
Ada juga kebutuhan untuk merekrut Exhibition Designers, yang bekerja sama dengan para kurator dan bidang lain. Mereka bertugas menyusun rancangan setiap ruang, sehingga menarik ketika dikunjungi. Navigasi dari awal sampai akhir menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan, seperti yang kita rasakan ketika mengunjungi Peranakan Museum Singapore.
Terakhir ada juga Building Operators, yang bertanggungjawab untuk pengelolaan gedung itu sendiri, termasuk mengurus listrik, air, keamanan, pemeliharaan dsb. Mereka harus bekerjasama dengan Collections Manager dalam memastikan temperatur dan kelembaban udara yang sesuai dengan standar yang dibutuhkan setiap koleksi.
Jadi, pada intinya, membangun sebuah museum bukan pekerjaan mudah. Tidak cukup hanya beberapa orang yang cinta budaya, berkumpul lalu masing-masing membagi tugas. Harus ada orang-orang yang memiliki ketrampilan dan pengalaman yang memadai.
Kalau tidak, ruang yang ingin kita transformasikan menjadi museum akhirnya hanya menjadi gudang penyimpanan barang, dan akibatnya akan jarang ada orang yang mau datang.
Didalam ASPERTINA masih banyak program kerja yang perlu dilakukan. Membangun museum Peranakan adalah suatu pekerjaan raksasa, dan bukan menjadi program organisasi. Perlu ada tim khusus yang benar-benar berpengalaman dan memahami ilmu lintas disiplin dalam pengelolaan sebuah museum.
Ini pendapat saya pribadi.
SS