] KUNJUNGAN KE MUSEUM PERANAKAN SINGAPORE

46 views
Skip to first unread message

Tjandra Ghozalli

unread,
Jul 10, 2012, 5:13:20 AM7/10/12
to aspe...@googlegroups.com

 

 
Tanggal 20 Juni silam, saya berkesempatan mengunjungi Museum Peranakan Singapore yang berlokasi di jalan  Armenian 39, Singapura.  Dengan diantar oleh adik sepupu saya, ibu Catherine Lia yang berdomisili di Singapura - saya dan putera saya, Audi Ghozalli yang lagi sekolah bahasa di Beijing dan kebetulan lagi liburan ke Singapura pergi "survei" untuk mengetahui bagaimana layout sebuah museum peranakan.
Bangunan museum sama sekali tidak mencirikan bangunan Tionghoa tetapi lebih mirip ke gaya barat. https://lh6.googleusercontent.com/-7AiZDrkoP80/T_arI9owrZI/AAAAAAAAAIs/262ksGmQU_8/s512/DSC02385.JPG
Tetapi memang demikian rumah tokoh peranakan Singapura yang berbaur antara gaya rumah barat, Melayu, dan Tionghoa.  Begitu kami masuk ke dalam, maka kami memasuki ruang lobby di mana ada counter karcis masuk. Dewasa S$ 6.00 dan pelajar S$ 3.00.  https://lh5.googleusercontent.com/-nWxzAPBkj7I/T_aXLb_ZDJI/AAAAAAAAAGY/kPxL-pmtfns/s640/DSC02510.jpg
Kami bertiga cukup bayar S$ 15.00, karena anak saya masih pelajar.  Kami kemudian masuk ke ruang "Origin" yang ada di sisi kiri lobby. Di dalam ruang ini terdapat benda benda kaum pendatang, peranakan China, Jawa, dan Tamil.  Di ruang ini ada "time table" peristiwa penting yg terjadi di Asia Tenggara, termasuk pembantaian orang Tionghoa di Batavia tahun 1740. Terdapat deretan foto wajah kaum peranakan dan para tokohnya. 
https://lh3.googleusercontent.com/-tdTJ_pboFxA/T_aXUnxOtCI/AAAAAAAAAGk/2MRCd2dqIhM/s640/DSC02518.jpg
Ada auditorium lengkap dengan projektor video yang menerangkan tentang sejarah kedatangan warga peranakan antara lain memakai tongkang. Di lantai dasar terdapat pula ruang pelajaran / diskusi.  Untuk naik ke lantai 2 tersedia lift. Di tengah ruang lantai 2 terdapat void (cemce) dan di ruang sebelah kiri dan kanan adalah kamar pengantin di mana terdapat satu ranjang pengantin tempo doeloe yang mempunyai dua kabin.
https://lh5.googleusercontent.com/-WjawW3pAHYA/T_aXgBqmjSI/AAAAAAAAAG8/9btMQnxt2-k/s640/DSC02545.jpg
Kabin depan untuk duduk minum teh dan kabin belakang untuk tidur.  Tak lupa dipajang perangkat (rantang susun) untuk sangjit berikut barang bawaan seperti baju, angpao, bahkan kaki babi (terbuat dari polyurethane) yang mirip sekali kaki babi asli.
https://lh5.googleusercontent.com/-rjobm_H1jho/T_aX40C_xWI/AAAAAAAAAH4/6qlDJlXR_qY/s640/s.jpg
Juga barang bawaan seperti pending emas, giwang, tusuk konde, dll dipajang dalam lemari kaca.
https://lh4.googleusercontent.com/-lzMinO25cNg/T_aXmKG1rXI/AAAAAAAAAHI/wNcoTZZmO2w/s640/DSC02549.jpg
Tak lupa dipajang rombongan pengiring pengantin yang memakai baju dinasti Ching dan  pakai payung bundar, sementara pengiringnya pakai kain sarong dan baju kebaya (ala Malaysia).  Di lantai yang sama terdapat ruang Dr. Tan Tsze Chor yang berdonasi barang seni miliknya untuk museum ini.
https://lh4.googleusercontent.com/-uqHua4tTsEw/T_aXamQr7FI/AAAAAAAAAGw/c-F0FtBY7-Q/s512/DSC02539.jpg
Naik lift lagi ke lantai 3, di sebelah kiri ada ruang makan terdapat Tok Panjang (meja panjang) untuk acara makan keluarga dengan segala perlengkapannya yang campuran gaya barat (sendok garpu) dan China (sumpit) yang terkesan mewah. Disebelahnya terdapat dapur peranakan dengan segala perlengkapannya seperti cobek dan gantang. Ruang sebelah kanan adalah ruang agama yang terdiri dari diorama agama kristen dan agama samkaw. Di ujung tengah terdapat ruang duka dengan meja sembahyang dan peti mati! Dan di sebelah depan ada ruang public yang berisi bintang penghargaan pemerintah kolonial Inggris untuk tokoh Tionghoa dan
https://lh5.googleusercontent.com/-23ozAaEgDE8/T_aX1Zw1_eI/AAAAAAAAAHs/auzjgJFeVc0/s640/DSC02593.jpg
ruang conversation di mana terdapat deretan telepon jadul yang kalau diangkat ada suara ncim dengan logat melayu yg kental. Di lantai ini terdapat pula pajangan busana nyonya yang terdiri dari kebaya dan sarung batik. 
https://lh6.googleusercontent.com/-Ugesb3O3mUc/T_aXq2VwnRI/AAAAAAAAAHU/S2xU5quZsqE/s640/DSC02570.jpg
Saya rasa penataan dan kebersihan tiap ruang sangat apik.  Lemari kaca terlihat jelas tidak ada kotoran atau cap tangan.  Seluruh ruang full ac central yang tidak bising.  Pada diorama iringan pengantin ada suara seakan mereka berjalan dan bercakap. Di beberapa sudut ada pojok IT berupa layar sentuh untuk mendapatkan info yg lebih dalam dari tiap diorama. Penataan cahayanya ciamik, tidak silau namun terang. Tiap lantai punya auditorium (semacam theater) dengan projektor video, menjelaskan hal hal penting berkenaan segala benda yg terdapat di lantai itu. Kapan kita punya museum peranakan sebaik ini? Salam Tjandra Ghozalli

__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___


Tony Setiabudhi

unread,
Jul 10, 2012, 10:36:14 PM7/10/12
to aspe...@googlegroups.com

Pak Tjandra Ghozali Yth;

Tentuuya input anda ttg Museum Peranakan dalam milis ASPERTINA – diharapkan dapat menggugah anggota MILIS !

< Maaf yang ternyata sangat terbatas ?  – sehingga menurut saya : “BELUM MENYENTUH’ karena di luar Program Kerja  ASPERTINA itu sendiri; dan mereka pun perlu FOKUS utk Visi/ Misi APERTIUNA – yang perlu kita hargai >

Saya cuma inin tahu AD/ ART ASPERTINA serta Program yang telah disetujui – agar milis ini memang dapat berguna untuk kalangan terbatas.

Salam Hormat;

Tony S

Sony Subrata

unread,
Jul 12, 2012, 2:27:57 AM7/12/12
to aspe...@googlegroups.com

Teman-teman,

 

Mengenai rencana pembangunan museum, saya secara pribadi merasa baik sekali. Hanya saja, ini bukan masalah “tersentuh” atau tidak, tetapi karena sebagai organisasi, ASPERTINA telah sepakat untuk fokus kepada hal-hal yang termasuk didalam program kerjanya.

 

Sekedar masukan, mendirikan dan mengelola sebuah museum yang baik itu tidak mudah dan perlu biaya yang sangat besar.

 

Kalau di luar negeri, biasanya ada Board of Trustees sebagai dewan penyantun dan Board of Directors sebagai dewan direksi yang menyusun policy atau tata-kelola dari museum itu sendiri.

 

Untuk pendanaan, Peranakan Museum di Singapura didukung oleh para penyantun pribadi dan korporat, seperti JPMorgan Chase Bank, BNP Paribas, Citibank, Epson Singapore dan Singapore Tourism Board. Belum lagi dukungan dari National Heritage Board milik pemerintah Singapore.

 

Diluar Board of Trustees and Board of Directors, ada juga Museum Planner yang menyusun segala sesuatu yang terkait dengan konsep awal museum sampai dengan implementasi berbagai aspek yang terkait dengan kegiatan museum itu sendiri.

 

Kemudian ada Museum Curator yang  melakukan riset dari berbagai koleksi yang akan ditampilkan, termasuk menyusun penjelasan dari semua benda yang dipamerkan. Biasanya ada kurator untuk masing-masing bagian dalam museum. Misalnya kurator untuk benda-benda keramik, kurator untuk koleksi batik dan sebagainya. Di Peranakan Museum Singapore, kuratornya adalah Jackie Yoong dari The National University of Singapore (NUS), Peter Lee, peneliti senior dalam bidang budaya Peranakan dan beberapa yang lain.

 

Sebuah museum juga memerlukan seorang Registrar, yang bertugas mencatat dan memelihara semua barang-barang yang ada didalam koleksi museum, termasuk yang masuk dan keluar, yang dipinjamkan untuk pameran, dsb. Ini disiplin ilmu tersendiri dan perlu orang yang berpengalaman.

 

Selain itu ada Educator atau Public Programmer yang menciptakan program dan desain yang interaktif diruang-ruang pameran. Seperti kita lihat di Peranakan Museum Singapore, banyak sekali bagian-bagian pameran yang dibuat sangat menarik dan interaktif. Ini karena mereka memiliki Educator atau Public Programmer yang hebat, yang benar-benar paham mengenai visi dan misi museum tersebut.

 

Ada juga kebutuhan untuk merekrut Exhibition Designers, yang bekerja sama dengan para kurator dan bidang lain. Mereka bertugas menyusun rancangan setiap ruang, sehingga menarik ketika dikunjungi. Navigasi dari awal sampai akhir menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan, seperti yang kita rasakan ketika mengunjungi Peranakan Museum Singapore.

Terakhir ada juga Building Operators, yang bertanggungjawab untuk pengelolaan gedung itu sendiri, termasuk mengurus listrik, air, keamanan, pemeliharaan dsb. Mereka harus bekerjasama dengan Collections Manager dalam memastikan temperatur dan kelembaban udara yang sesuai dengan standar yang dibutuhkan setiap koleksi.

Jadi, pada intinya, membangun sebuah museum bukan pekerjaan mudah. Tidak cukup hanya beberapa orang yang cinta budaya, berkumpul lalu masing-masing membagi tugas. Harus ada orang-orang yang memiliki ketrampilan dan pengalaman yang memadai.

Kalau tidak, ruang yang ingin kita transformasikan menjadi museum akhirnya hanya menjadi gudang penyimpanan barang, dan akibatnya akan jarang ada orang yang mau datang.

Didalam ASPERTINA masih banyak program kerja yang perlu dilakukan. Membangun museum Peranakan adalah suatu pekerjaan raksasa, dan bukan menjadi program organisasi. Perlu ada tim khusus yang benar-benar berpengalaman dan memahami ilmu lintas disiplin dalam pengelolaan sebuah museum. 

Ini pendapat saya pribadi.

SS

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages