Tradisi dan Tata Cara Kematian Tionghoa

720 views
Skip to first unread message

Aji K. Bromokusumo

unread,
May 25, 2012, 12:18:18 AM5/25/12
to aspe...@googlegroups.com
Selamat siang semuanya,


Saya mencoba menelisik dan menuangkan dalam tulisan mengenai Adat, Tradisi dan Tata Cara Kematian menurut budaya Tionghoa yang saya alami dalam keluarga saya. Mungkin di keluarga lain berbeda adat istiadat dan tradisinya.

Tulisan ini dimuat bersambung karena panjang sekali. Hari ini sudah tayang bagian pertama di: http://baltyra.com/2012/05/25/tradisi-dan-tata-cara-kematian-tionghoa-1/

Terima kasih dan salam hormat,
Aji


=====================================================

Artikel ini ditulis karena terinspirasi artikel pak Anwari yang berjudul Sakit dan Mati, dan terpicu oleh diskusi dengan bu Nunuk di artikel Batik Modern serta artikel Pemakaman dan Makam di Belanda dan juga diskusi dengan Itsmi di komentar artikel pak Anwari.

Budaya Tionghoa dikenal dengan segala kerumitan adat istiadat dan tata caranya, mulai dari kehamilan, kelahiran sampai lengkapnya siklus manusia yaitu kematian.

Catatan khusus:

Tulisan ini tidak untuk memertentangkan agama, keyakinan dan kepercayaan para pembaca, tapi murni untuk sharing apa yang saya ketahui.

Tidak semua kaum Tionghoa menjalankan adat istiadat dalam tulisan ini. Adat istiadat tidak ada hubungannya dengan agama tertentu, walaupun memang bagi sebagian orang yang sudah memeluk agama tertentu, adat istiadat seperti ini ada yang tidak menjalankannya, namun masih ada juga yang menjalankannya.

Tulisan ini tidak bermaksud mengedepankan takhayul (superstitious) ataupun berhala, sekali lagi murni adalah adat istiadat dan tata cara yang dikenal dalam budaya Tionghoa.

Kongco Tan Hong Soe (kakeknya Papa) meninggal dunia. Circa 1950′an, Papa umur belasan – no. 2 berdiri di depan.

Siklus kehidupan manusia ditutup dengan kematian. Dengan kematian, berarti purna sudah seorang manusia menjalani siklusnya di dunia. Dilahirkan, tumbuh dewasa dan kemudian berakhir dengan mati. Kematian bisa datang kapan saja atau disebabkan apa saja. Namun dalam budaya Tionghoa, masih ada lagi kehidupan setelah kematian.

Karena adanya kepercayaan seperti itu, dalam budaya Tionghoa, prosesi mulai mengantarkan mendiang dari awal sampai ke pemakaman/kremasi sangat penting dan memiliki banyak makna mendalam.

Waktu seseorang meninggal dunia, keluarga yang ditinggalkan akan menyiapkan segala macam keperluan mengantar mendiang ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Untuk standard jaman dulu hanya diperbolehkan pemakaman. Sangat jarang sekali ada kremasi. Standard keumuman apakah dimakamkan atau dikremasi berbeda dari satu tempat ke tempat lain dan dari keluarga yang satu ke keluarga yang lain.

Hal-hal yang biasa dipersiapkan oleh keluarga yang ditinggalkan:

Pemakaman atau Kremasi

Menentukan apakah dimakamkan atau dikremasi. Seluruh anggota keluarga akan merundingkan masalah ini. Makin besar keluarga, makin rumit perundingan untuk masalah ini. Secara tradisi, anak lelaki tertua lah yang memiliki suara terkuat untuk menentukan apakah dimakamkan atau dikremasi. Atau memang sudah ada pesan khusus dari mendiang apakah dia ingin dimakamkan atau dikremasi.

Kremasi Kong Siem (ayahnya Papa) tahun 1965. Model kremasi masih dengan cara lama, bukan masuk ke ruang bakar khusus seperti sekarang. Prosesi mengelilingi almarhum sebelum kremasi berlangsung. Papa yang di ujung kiri.

 

Suasana di krematorium. Menghantar para tamu berpamitan pulang sebelum kremasi dilaksanakan.

 

Penentuan Upacara/Adat

Bagi yang masih memercayai adat istiadat kepercayaan penghitungan hari pemakaman/kremasi, anggota keluarga akan menghubungi orang yang dipercaya bisa menghitung jam dan hari baik untuk keseluruhan prosesi pemakaman atau kremasi. Untuk keluarga Protestan atau Katholik, biasanya juga akan kontak pendeta atau pastor untuk prosesi upacara sesuai agama.

 

Rumah Duka

Menentukan atau memilih rumah duka tempat mendiang akan disemayamkan sampai pada hari pemakaman/kremasi. Jaman dulu, mendiang akan disemayamkan di rumah sendiri. Biasanya disemayamkan di ruang terdepan, tepat di tengah pintu yang menghadap keluar, dengan posisi peti mati bagian kepala di dalam dan kaki menghadap keluar.

Jaman sekarang, sudah jamak disemayamkan di rumah duka. Pemilihan rumah duka juga tergantung dari budget keluarga. Ukuran, lokasi dan jenis rumah duka akan menentukan harga per hari. Bagi keluarga yang memiliki teman, relasi atau saudara-saudara dalam jumlah banyak, akan disiapkan rumah duka dengan ukuran cukup besar yang cukup untuk menampung para tamu yang melayat dan memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang.

Rumah duka inipun ada jenis yang tertutup atau terbuka. Tertutup maksudnya dalam ruangan tertutup dilengkapi dengan pendingin ruangan, sofa dan di beberapa tempat malah dilengkapi beberapa kamar tempat keluarga dekat mendiang menginap di sana. Sedangkan yang terbuka adalah tempat yang terbuka, tanpa AC (ada yang menggunakan standing AC), dengan deretan kursi untuk para tamu.

Perbedaan di antara keduanya tentu saja dari segi tarif sewa tempat dan juga privacy. Untuk ruangan tertutup, keluarga dan tamu tidak dapat melihat keluarga dan tamu lain di sebelah-sebelahnya, sementara untuk yang terbuka, tentu saja dapat melihat sebelah-sebelahnya.

Contoh rumah duka di Hong Kong (kowloonfuneral.com.hk; website contoh salah satu funeral service di Hong Kong)

 

Deretan peti mati berbagai jenis dan harga di tempat yayasan yang mengurus kematian

 

Salah satu rumah duka di Jakarta

 

Pemakaman Kongco Tan Hong Soe (kakek Papa). Kong Siem – ujung kiri, Papa – depan no. 3 dari kiri, kakak Papa – sebelahnya

 

Kong Siem meninggal dunia. Rumah duka di rumah keluarga. Papa berdiri ujung kiri paling belakang. Emak no. 2 dari kiri

 

Membawa peti dari rumah duka di Jl. Gajah Mada No. 70 – Semarang, ke krematorium

 

Pemakaman Kongco (papanya Kong Ing Tjhiang) dari pihak Mama. Engkong Tan Ing Tjhiang berdiri no. 3 dari kanan (paling tinggi)

 

bersambung…

 

Catatan:

Keseluruhan prosesi dari mulai penutupan peti sampai ke pemakaman/kremasi biasa diurus oleh yang namanya yayasan kematian. Yayasan kematian ini memang khusus bergerak di bidang jasa mengurus prosesi kematian dari awal sampai akhir. Pengurusan jasa ini disesuaikan dengan kehendak keluarga mendiang, apakah dengan cara ajaran Tao, Buddha, Katholik atau Kristen.

Yayasan kematian membantu mulai dari memandikan jenazah, pemilihan dan pembelian peti mati sampai dengan pengurusan pasca pemakaman/kremasi. Pasca pemakaman/kremasi meliputi pengambilan abu mendiang setelah 3 (tiga) hari kremasi, penyimpanan abu di rumah abu yang ditunjuk oleh keluarga mendiang, atau melarung ke laut sesuai kehendak keluarga.



--

cheers,
gloBAL communiTY nusantaRA
http://baltyra.com




Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages