REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--Waspada bagi
anda yang bekerja dibidang jasa seperti perbankan, transportasi publik dan lain.
Apa pasal? Setiap karyawan diharuskan memasang 'senyum' di setiap kesempatan tak
peduli si karyawan sedang dirudung masalah.
Alhasil kadang pekerja
memasang 'senyum palsu'. Rupanya sikap tersebut membuat karyawan justru berisiko
mengalami gangguan psikologis dan produktivitas kerja
menurun.
Studi terbaru mengungkap pekerja yang memasang senyum palsu pada
pekerjaannya menyebabkan suasana hati tertekan. Akibatnya, produktivitas kerja
terancam. Bila produktivitas terancam, karir si karyawan diramalkan tidak akan
lama alias rentan dirumahkan.
Brent Scott, asisten profesor manajemen,
Michigan State University, AS mengatakan pengusaha mungkin hanya berpikir
menggaji karyawan untuk tersenyum. Tapi mereka tidak memikirkan efeknya pada
karyawannya. "Senyum terpaksa menyebabkan kelelahan emosional yang berakibat
buruk bagi organisasi," ungkap dia seperti dikutip
Dailymail, pekan
lalu
Sebelumnya, Scott bersama koleganya Christopher Barnes mempelajari
senyum palsu pada sekelompok supir bus selama dua minggu. Mereka mengamati
setiap efek senyum palsu terhadap emosi para supir.
Mereka juga
memberikan semacam tindakan kepada para supir guna menumbuhkan emosi positif.
"Hasilnya, wanita yang lebih dirugikan lantaran suasana hati mereka jauh lebih
buruk ketimbang para pria," kata dia.
Scoot menjelaskan senyum palsu
memunculkan konflik antara individu dengan norma budaya yang berujung pada
munculnya emosi negatif. Kondisi itu sangat berbahaya bagi perempuan yang boleh
dibilang sulit mengontrol perasaan ketimbang para lelaki.
"Bagi anda
yang kerap memasang senyum palsu dalam jangka panjang menyebabkan anda seolah
merasa kehilangan identitas pribadi,"pungkas dia.
Sayangnya, studi ini
tidak menjelaskan secara detail perbedaan psikologis laki-laki dan perempuan
ketika memasang senyum palsu pada wajah mereka. Disamping itu, Scoot dan
koleganya tidak memberikan solusi untuk menghindari senyum palsu agar efek
negatifnya tidak berimbas.
Salam