Generasi Digital Native
Tahun 2015, fenomena ini
bagaikan tiba-tiba menyeruak ke permukaan, para orang tua kewalahan
menghadapi perangkat modern yang ingin mereka gunakan, dan mereka
akhirnya bisa mempergunakan berkat bantuan Anak-anak atau cucu. Ironi
yang pernah disinyalir oleh Joyoboyo akan sebuah era Kebo Nusu Gudel
(kerbau menyusu pada anaknya), akhirnya tiba. Para remaja berumur 9-20
tahun sangat terampil menggunakan smart device, bahkan terkadang mereka
secara psikologis tidak dapat lepas dari sekeping komputer bernama smart
phone. E-shop atau Toko online berkembang pesat, para remaja ini
bergelut dan melakukan berbagai kegiatan belanja melalui perangkat
internet ini. Kini Ojek, Taksi, Laundry, Makanan siap saji, fashion, air
minum, buku dan banyak barang pendukung kehidupan dapat dipesan secara
online, diantarkan sampai ke teras rumah masing-masing. Penjualan
pakaian, bunga, smart phone, komputer, buku, sepatu, sepeda lebih banyak
jumlahnya dijual secara online
Generasi digital native memiliki ribuan kawan tanpa pernah bertemu muka, mereka sibuk bercakap-cakap, berkelakar melalui ruang-ruang digital. Aplikasi seperti Facebook, twitter, whatsapp, BBM, line, weChat dan sejenisnya sangat marak digunakan bahkan mulai menggantikan model komunikasi. Generasi digital native menjadi sangat ahli dalam "Teknologi tinggi" pada usia sangat muda. Situasi ini menciptakan kegamangan psikologis, sementara ilmu psikologi sendiri tertinggal dalam menjawab fenomena ini. Ilmu psikologi tidak memiliki Yurisprudensi, karena fenomena seperti benar-benar baru muncul dan merebak. Generasi agak a-sosial, gamang dalam pertemuan fisik, dan canggung dalam komunkasi verbal.
Anonymous Hacktivist
Tidak banyak yang memperhatikan ketika sekelompok "remaja" bergabung dalam kelompok tanpa identitas bernama Anonymous,
tidak ada yang benar-benar tahu, siapa saja anggota anonymous, berapa
umur mereka dan apa yang mereka lakukan, sampai salah satu dari mereka
tertangkap mengunduh "program Komputer nasa" senilai USD 1.700.000,-
atau setara Rp 17.000.000,- Mengejutkan sekali, alasan anggota ANON ini
adalah untuk mengingatkan Pemerintah, bahwa mereka membayar TERLALU
MAHAL, untuk program komputer tersebut, sekaligus mengingatkan
pemerintah bahwa mereka sudah dikibuli ahli-ahli komputer, dengan
mengeluarkan biaya Mahal namun sistem keamanan mereka terlalu mudah
dibobol.
Umur pemuda ini sekitar 14 tahun, dua tahun belajar Komputer dengan konsentrasi bahasa C dan unix sistem, dan satu tahun belajar jaringan internet. Anngota-anggota Anonymous tidak saling mengenal antara satu dengan lainnya, mereka diyakini terkonsentrasi di Negara-negara maju seperti Inggris, Amerika, Australia, Swedia, China, India dan beberapa negara lain. Dari keberhasilan pihak berwajib menangkap beberapa anggota anon, rata-rata berumur antara 12 s/d 22 tahun. Tampaknya mereka adalah remaja-remaji yang gelisah, mencoba mendobrak kemapanan yang menurut mereka sangat berlebihan. "Kemarahan" mereka lebih ditujukan pada Pemerintahan berbagai Negara dan Korporasi Raksasa, karena belum diketemukan bukti bahwa mereka mengganggu ketertiban umum atau merusak layanan publik.
Shalat Jamaah dan Digital Native
Beberapa
orang tua yang konsen dengan perkembangan Jaman, mulai diresahkan oleh
gejala ini. Terutama pada jantung ajaran Agama Islam, yakni Shalat
Berjamaah di Masjid, sudah 1500 tahun doktrin Masjid adalah pusat segala
kegiatan paling ideal dan "Dianjurkan Tuhan" akan menghadapi tantangan
serius dengan lahirnya generasi Digital Native ini. Dipastikan generasi
ini sangat tidak menyukai "shalat berjamaah di masjid", karena mereka
enggan atau bahkan gamang berkumpul secara fisik, meski tidak diragukan
bahwa mereka belajar Agama dengan baik melalui alat-alat digital.
Sebagian dari mereka tidak disangsikan, Hafidz al-Qur'an dengan baik,
sebaik Imam Syafii, Imam Hambali, Imam Maliki dan Imam Hanafi.
Lalu
akan seperti apakah, bentuk "shalat Jamaah" yang bisa dilakukan generasi
digital Native, bisa jadi para ulama saat ini dah pemuka Agama,
mengalami kengerian psikologis bahkan sekedar memikirkannya. Akankah
mereka shalat berjamaah dengan menggunakan Video Streaming,
syah kah shalat Jamaah dengan model ini. Ilmu Fikih sendiri, boleh jadi
belum lagi memikirkannya. Dipikirkan atau tidak oleh para Fukaha, para
Ulama dan para Pemuka Agama, mereka akan tiba, bukankah kekuatan Jaman
juga merupakan sebuah "SunatuLlah". Apakah "kita" generasi tua, akan
rela hati generasi Digital Native ini melakukan re-Intepretasi terhadap
ajaran agama, ataukah kita akan menghalangi dengan segala kekuatan untuk
mencegah kemunculan mereka. Kekuatan manakah yang akan mampu menghadang
kehadiran generai Digital Native ??
Tampaknya memang dibutuhkan Ulama - ulama digital untuk menjawab fenomena seperti ini, ulama yang bukan sekedar memahami doktrin dan aturan agama, melainkan Ulama dengan visi panjang dan luas melampui Jamannya. Ulama yang tidak gamang dengan serbuan teknologi dan perkembangan Jaman. Ulama yang tidak alergi pada modernitas, dan tidak terpaku pada kekunoan mereka, atau beranggapan telah menggenggam kebenaran sehingga kebenaran seakan statik bagaikan gumpalan-gumpalan batu.
Mushaf alQur'an pada mulanya ditulis diatas Kulit, daun lontar, tulang dan batu, setelah masa Tsa Ai Ling sang penemu kertas dan Guthenberg dengan teknik cetak menggenggam dunia, muncul Mushaf diatas kertas. Karena ulah manusia pula, Hutan dunia menyusut semakin sempit dan bahan kertas pun semakin Mahal atau tidak tersedia, apa yang bisa dilakukan para pencetak Mushaf apabila suatu hari nanti Kertas musnah dari kehidupan manusia. Boku Digital (eBook) menggantikan peran kertas, saat ini ribuan atau mungkin Jutaan anak muda membaca AlQur'an, Injil, Weda dari smart Phone mereka, tidak sedikit para Khattib dan Ustadz yang membaca AlQur'an dari perangkat Komputer Tablet.
Kembali pada persoalan hakiki Shalat Berjamaah. Hakikat shalat berjamaah dengan keutamaan dilaksanakan dalam Masjid, barangkali akan segera sirna, sementara teknik "pengganti" bahkan belum lagi dipikirkan, atau terlalu mengerikan bagi para Ulama dan Pemuka Agama untuk memikirkannya, boleh jadi dibutuhkan Fuqaha baru yang brilian untuk menjawab tantangan jaman ini yang suka atau tidak, bersedia menerima atau tidak, akan segera muncul dihadapan kita semua
Allahualam Bishowab.....