Shalat Jamaah Virtual : Akankah Terjadi ?

2 views
Skip to first unread message

TEdJO

unread,
Jul 12, 2015, 1:53:34 PM7/12/15
to askarlo-s...@googlegroups.com
http://www.askarlo.org/artikel/421-shalat-jamaah-virtual-akankah-terjadi-.html

Marc Prensky pada tahun 2001 memperkenalkan dan mempopulerkan istilah digital Native generation, satu generasi yang sangat handal dan familiar dalam menggunakan perangkat digital. Pada tahun 2001, kebanyakan orang awam belum berpikir tentang smart phone, smart watch yang di tahun 2015 menjadi sangat umum dan dikenal awam. Bill Gates (Founder Microsoft inc) di tahun 90'an pernah menyampaikan mimpinya, akan keberadaan PC (Personal Computer) di setiap rumah di seluruh jagad. 25 Tahun kemudian, teknologi berkembang melampui impian Bill Gate, kini bukan lagi tiap rumah memiliki PC, namun tiap orang menggenggam PC. Microsoft, tidak berjaya di bidang smart phone, karena dominasi sistem operasi perangkat mungil ini, kini didominasi oleh Google dengan Android dan Apple dengan iOS. Symbian yang pernah berjaya sebagai dominator sistem operasi telepon seluler, bagaikan kehilangan arah dalam pengembangannya. BlackBerry sebagai ratu seluler pun terpuruk, karena salah antisipasi dan percaya diri berlebihan.

Generasi Digital Native
Tahun 2015, fenomena ini bagaikan tiba-tiba menyeruak ke permukaan, para orang tua kewalahan menghadapi perangkat modern yang ingin mereka gunakan, dan mereka akhirnya bisa mempergunakan berkat bantuan Anak-anak atau cucu. Ironi yang pernah disinyalir oleh Joyoboyo akan sebuah era Kebo Nusu Gudel (kerbau menyusu pada anaknya), akhirnya tiba. Para remaja berumur 9-20 tahun sangat terampil menggunakan smart device, bahkan terkadang mereka secara psikologis tidak dapat lepas dari sekeping komputer bernama smart phone. E-shop atau Toko online berkembang pesat, para remaja ini bergelut dan melakukan berbagai kegiatan belanja melalui perangkat internet ini. Kini Ojek, Taksi, Laundry, Makanan siap saji, fashion, air minum, buku dan banyak barang pendukung kehidupan dapat dipesan secara online, diantarkan sampai ke teras rumah masing-masing. Penjualan pakaian, bunga, smart phone, komputer, buku, sepatu, sepeda lebih banyak jumlahnya dijual secara online

Generasi digital native memiliki ribuan kawan tanpa pernah bertemu muka, mereka sibuk bercakap-cakap, berkelakar melalui ruang-ruang digital. Aplikasi seperti Facebook, twitter, whatsapp, BBM, line, weChat dan sejenisnya sangat marak digunakan bahkan mulai menggantikan model komunikasi. Generasi digital native menjadi sangat ahli dalam "Teknologi tinggi" pada usia sangat muda. Situasi ini menciptakan kegamangan psikologis, sementara ilmu psikologi sendiri tertinggal dalam menjawab fenomena ini. Ilmu psikologi tidak memiliki Yurisprudensi, karena fenomena seperti benar-benar baru muncul dan merebak. Generasi agak a-sosial, gamang dalam pertemuan fisik, dan canggung dalam komunkasi verbal.

Anonymous Hacktivist
Tidak banyak yang memperhatikan ketika sekelompok "remaja" bergabung dalam kelompok tanpa identitas bernama Anonymous, tidak ada yang benar-benar tahu, siapa saja anggota anonymous, berapa umur mereka dan apa yang mereka lakukan, sampai salah satu dari mereka tertangkap mengunduh "program Komputer nasa" senilai USD 1.700.000,- atau setara Rp 17.000.000,- Mengejutkan sekali, alasan anggota ANON ini adalah untuk mengingatkan Pemerintah, bahwa mereka membayar TERLALU MAHAL, untuk program komputer tersebut, sekaligus mengingatkan pemerintah bahwa mereka sudah dikibuli ahli-ahli komputer, dengan mengeluarkan biaya Mahal namun sistem keamanan mereka terlalu mudah dibobol.

Umur pemuda ini sekitar 14 tahun, dua tahun belajar Komputer dengan konsentrasi bahasa C dan unix sistem, dan satu tahun belajar jaringan internet. Anngota-anggota Anonymous tidak saling mengenal antara satu dengan lainnya, mereka diyakini terkonsentrasi di Negara-negara maju seperti Inggris, Amerika, Australia, Swedia, China, India dan beberapa negara lain. Dari keberhasilan pihak berwajib menangkap beberapa anggota anon, rata-rata berumur antara 12 s/d 22 tahun. Tampaknya mereka adalah remaja-remaji yang gelisah, mencoba mendobrak kemapanan yang menurut mereka sangat berlebihan. "Kemarahan" mereka lebih ditujukan pada Pemerintahan berbagai Negara dan Korporasi Raksasa, karena belum diketemukan bukti bahwa mereka mengganggu ketertiban umum atau merusak layanan publik.

Shalat Jamaah dan Digital Native
Beberapa orang tua yang konsen dengan perkembangan Jaman, mulai diresahkan oleh gejala ini. Terutama pada jantung ajaran Agama Islam, yakni Shalat Berjamaah di Masjid, sudah 1500 tahun doktrin Masjid adalah pusat segala kegiatan paling ideal dan "Dianjurkan Tuhan" akan menghadapi tantangan serius dengan lahirnya generasi Digital Native ini. Dipastikan generasi ini sangat tidak menyukai "shalat berjamaah di masjid", karena mereka enggan atau bahkan gamang berkumpul secara fisik, meski tidak diragukan bahwa mereka belajar Agama dengan baik melalui alat-alat digital. Sebagian dari mereka tidak disangsikan, Hafidz al-Qur'an dengan baik, sebaik Imam Syafii, Imam Hambali, Imam Maliki dan Imam Hanafi.
Lalu akan seperti apakah, bentuk "shalat Jamaah" yang bisa dilakukan generasi digital Native, bisa jadi para ulama saat ini dah pemuka Agama, mengalami kengerian psikologis bahkan sekedar memikirkannya. Akankah mereka shalat berjamaah dengan menggunakan Video Streaming, syah kah shalat Jamaah dengan model ini. Ilmu Fikih sendiri, boleh jadi belum lagi memikirkannya. Dipikirkan atau tidak oleh para Fukaha, para Ulama dan para Pemuka Agama, mereka akan tiba, bukankah kekuatan Jaman juga merupakan sebuah "SunatuLlah". Apakah "kita" generasi tua, akan rela hati generasi Digital Native ini melakukan re-Intepretasi terhadap ajaran agama, ataukah kita akan menghalangi dengan segala kekuatan untuk mencegah kemunculan mereka. Kekuatan manakah yang akan mampu menghadang kehadiran generai Digital Native ??

Tampaknya memang dibutuhkan Ulama - ulama digital untuk menjawab fenomena seperti ini, ulama yang bukan sekedar memahami doktrin dan aturan agama, melainkan Ulama dengan visi panjang dan luas melampui Jamannya. Ulama yang tidak gamang dengan serbuan teknologi dan perkembangan Jaman. Ulama yang tidak alergi pada modernitas, dan tidak terpaku pada kekunoan mereka, atau beranggapan telah menggenggam kebenaran sehingga kebenaran seakan statik bagaikan gumpalan-gumpalan batu.

Mushaf alQur'an pada mulanya ditulis diatas Kulit, daun lontar, tulang dan batu, setelah masa Tsa Ai Ling sang penemu kertas dan Guthenberg dengan teknik cetak menggenggam dunia, muncul Mushaf diatas kertas. Karena ulah manusia pula, Hutan dunia menyusut semakin sempit dan bahan kertas pun semakin Mahal atau tidak tersedia, apa yang bisa dilakukan para pencetak Mushaf apabila suatu hari nanti Kertas musnah dari kehidupan manusia. Boku Digital (eBook) menggantikan peran kertas, saat ini ribuan atau mungkin Jutaan anak muda membaca AlQur'an, Injil, Weda dari smart Phone mereka, tidak sedikit para Khattib dan Ustadz yang membaca AlQur'an dari perangkat Komputer Tablet.

Kembali pada persoalan hakiki Shalat Berjamaah. Hakikat shalat berjamaah dengan keutamaan dilaksanakan dalam Masjid, barangkali akan segera sirna, sementara teknik "pengganti" bahkan belum lagi dipikirkan, atau terlalu mengerikan bagi para Ulama dan Pemuka Agama untuk memikirkannya, boleh jadi dibutuhkan Fuqaha baru yang brilian untuk menjawab tantangan jaman ini yang suka atau tidak, bersedia menerima atau tidak, akan segera muncul dihadapan kita semua

Allahualam Bishowab.....


Wiwit Puspasari

unread,
Jul 12, 2015, 9:16:34 PM7/12/15
to askarlo-s...@googlegroups.com
Kang Tedjo ... sungguh tulisan yang sangat brilian idenya ... aku sungguh terkesan terutama sub bab tentang shalat jamaah dan digital native ... teruslah menulis aku menantikannya , salam seninan wp84.-

________________________________
From: askarlo-s...@googlegroups.com <askarlo-s...@googlegroups.com> on behalf of TEdJO <x112...@gmail.com>
Sent: Monday, July 13, 2015 12:53 AM
To: askarlo-s...@googlegroups.com
Subject: {askarlo:4662} Shalat Jamaah Virtual : Akankah Terjadi ?
--
kunjungi http://www.askarlo.org/

Hanafi

unread,
Jul 12, 2015, 10:16:08 PM7/12/15
to askarlo-s...@googlegroups.com
Tulisan yg inspiratif. Mo ralat/ kritik dikit tentang
"program Komputer nasa" senilai USD 1.700.000,- atau setara Rp 17.000.000,-. Itu kurs tahun brp. Kalau sekarang mestinya 17.000.000,- x Rp. 13.000.000 = Rp. 221.000.000.000.000. jumlah yang sangat fantastis

Salam askarlo


Terkirim dari: Lenovo A859

TEdJO <x112...@gmail.com> menulis:

Moebien

unread,
Jul 12, 2015, 10:26:36 PM7/12/15
to Alumni SMA 1 Pekalongan
Hahahaha... Ralate melu salah...
Rp13.000 per USD1,- kaleeee...
Regards,
Achmad Mubin
Sent from my BlackBerry®

From: "'Hanafi' via ASKARLO" <askarlo-s...@googlegroups.com>
Date: Mon, 13 Jul 2015 09:15:36 +0700
Subject: Bls: {askarlo:4664} Shalat Jamaah Virtual : Akankah Terjadi ?

600667

unread,
Jul 13, 2015, 3:55:03 AM7/13/15
to askarlo-s...@googlegroups.com
Alhamdulillah...
Kita bersyukurlah pd Allah, Askarlo punya kolumnis koyo kang Tedjo iki, heubatt tenan. AKu senneng moco kang, ide & pendapat yg brani, futuris & analis yg handal, serba bisa, suk melbu surga. amiin
 
wassalaam
sh
 
 
From: TEdJO
Sent: Monday, July 13, 2015 12:53 AM

600667

unread,
Jul 13, 2015, 3:55:04 AM7/13/15
to askarlo-s...@googlegroups.com
 
 
From: TEdJO
Sent: Monday, July 13, 2015 12:53 AM
Subject: {askarlo:4662} Shalat Jamaah Virtual : Akankah Terjadi ?
 
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages