Ini ada artikel yg menarik :)
ku-miskin-577214.html
Booming Facebook, Booming Reuni
Ini semua gara-gara Facebook. Hebat betul media sosial yang satu ini
mempengaruhi bahkan mengubah hidup manusia. Bayangkan saja, teman sekolah,
teman sepermainan waktu kecil, mantan kekasih, mantan teman satu kantor,
sanaksaudara, yang sudah puluhan tahun tak berjumpa, yang kita pikir sudah
hilang ditelan bumi, tiba-tiba dalam hitungan minggu atau bulan saja,
sudah ditemukan, bahkan sudah bisa kontak lagi. Ini benar-benar sebuah
keajaban dunia maya !
Booming Facebook, diikuti dengan maraknya penyelenggaraan acara reuni,
sebab pertemuan di dunia maya dirasa tak cukup lagi memuaskan rasa rindu
pada teman di masa lalu. Beragam undangan reunipun berdatangan, dari
reuni SD hingga reuni kantor. Sayangnya tidak seluruh undangan reuni itu
bisa kita hadiri karena berbagai alasan.
Selalu ada perasaan yang sama manakala kita menghadiri acara reuni :
perasaan bahagia ketika rindu terobati ,saat akhirnya dapat berjumpa lagi
dengan sahabat tercinta yang telah hilang bertahun-tahun. Rasa haru biru
yang menyelinapi hati saat menyalami Bapak dan Ibu Guru yang sudah
sepuh, juga suasana nostalgia yang begitu melenakan, yang membuat kita tak
ingat umur, terlupa sejenak bahwa kita kini sudah menjadi orang tua.
Obrolan dan canda tawa yang terjalin, sangat menghanyutkan kita ke masa
muda, saat kita masih sekolah dulu. Ah asyiknya ..
Tak menghadiri reuni sebab miskin
Dalam sebuah kunjungan ke rumah famili saya di Bandung, saya terlibat
obrolan serius dengan seorang kerabat dekat saya. Kerabat saya itu seorang
laki-laki yang usianya lebih muda beberapa tahun dibawah usiaku. Pekerjaan
sehari-harinya adalah berjualan bensin eceran di sebuah kios kecil di
pinggir jalan raya di kota Bandung. Sebut saja nama kerabatku itu Fahmi.
Dengan pekerjaan seperti itu, tentu saja Fahmi tidak bisa membuat
keluarganya (istri dan ketiga anaknya ) hidup nyaman berkecukupan secara
materi. Itu terlihat dari rumah beserta isinya yang sangat sederhana dan
terkesan seadanya. Dan disini, di atas sehelai karpet di ruang keluarga
yang sempit, kami berbincang hangat tentang segala hal, maklum sudah lama
tidak bertemu.
Kebetulan saya dan Fahmi satu sekolah saat di SD dulu. Kepada Fahmi saya
menyampaikan rencana acara reuni akbar SD untuk semua angkatan yang akan
dilaksanakan selepas Lebaran nanti. Mendengar kabar itu, Fahmi hanya
terdiam dan tampak tercenung. Tadinya saya tidak terlalu memperhatikan
perubahan air mukanya. Namun setelah mendengarkan kata-katanya, gantian
sayalah yang tercenung cukup lama
² Aku tak akan menghadiri acara reuni dimanapun, sebab aku miskin ³
Kata kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu lirih dan sedih.
Sayaterhenyak mendengarnya, namun sudah dapat menduga kelanjutan
kalimatnya.
³ Aku malu pada teman-teman yang sudah kaya dan sukses ³
³ Apa hubungannya reuni dengan kaya- miskin ? ayolah datang ! yang penting
silaturahminya. Lagi pula tak akan ada orang yang bertanya-tanya apakah
kita ini kaya atau miskin ! ³, bantahku. Bantahan yang aku tahu terdengar
sangat klise dan sangat naïf jika tidak dapat dikatakan bodoh.
Fahmi hanya tersenyum, menghela nafas, dan menggeleng. ³ Aku nggak akan
datang ³. Pembicaraan tentang reunipun berhenti sampai disitu, tak
dilanjutkan lagi sampai saya dan suami pamit pulang.
Pertanyaan - pertanyaan yang membuat rikuh Š
Apa yang pertama kali ditanyakan di acara reuni, saat pertama kali
berjumpa dengan teman-teman yang sudah lama sekali tidak bertemu ? apakah
pertanyaan seputar : sekarang tinggal dimana ? sudah married ? anaknya
sudah berapa ?. Mungkin terdengar seperti pertanyaan biasa saja, basa-basi
normal yang acap kali terlontar dalam setiap pergaulan. Namun bahkan
pertanyaan sesederhana itu menjadi sangat sensitif bagi sebagian orang
yang (mohon maaf) belum mendapatkan jodohnya sementara usia semakin menua
umpamanya, atau bagi pasangan yang belum mendapatkan keturunan padahal
sudah bertahun-tahun menikah. Jadi jangankan pertanyaan soal kaya atau
miskin ( yang mana pertanyaan seperti ini mustahil dilontarkan dalam
keadaan serius), perkara sudah menikah dan memiliki keturunan saja sudah
cukup membuat sebagian orang enggan menghadiri acara reuni, karena merasa
malu dan minder.
Katakanlah pertanyaan -pertanyaan standar sudah terlampaui, lalu masuklah
kita pada pertanyaan berikutnya, yakni soal pendidikan, soal pekerjaan,
soal karir, dsb.Nah disinlah letak permasalahannya. Ketika pembicaraan
sudah menyangkut masalah-masalah itu, akan ada teman-teman yang merasa
sangat enggan untuk menjawab, karena merasa minder, sebab pendidikan dan
pekerjaannya tak terlampau bergengsi, tak terlampau berkelas dan
menghasilkan income yang besar untuk dibanggakan. Beberapa teman lagi
memilih menghindar dengan tidak menghadiri reuni, daripada harus
menghadapi pertanyaan-pertanyaan serupa itu.
Kadang Reuni Memang menjadi Ajang Pamer
( Ukuran Kesuksesan Kaum Hedonis : HARTA )
Saya tidak dalam kapasitas menilai acara-acara reuni yang sudah saya
hadiri, karena saya sangat menghargai teman-teman yang sudah bersusah
payah menyelenggarakan acara tersebut, dan sebab saya sangat menghormati
teman-teman saya. Lagi pula semua acara reuni yang saya hadiri, jauh dari
kesan hedonik.
Namun di luar itu, kita melihat betapa banyak reuni yang digelar dengan
sangat megah di hotel-hotel berbintang, dengan acara dan sajian makanan
minuman serba mewah dan melimpah, lebih mirip sebuah pesta ketimbang
reuni. Oh ya tentu saja mereka yang hadir adalah orang-orang yang sudah
sukses, sudah kaya raya, atau sudah menjadi pejabat atau tokoh ternama di
negeri ini. Terlihat dari penampilan mereka yang serba gemerlap , juga
terlihat dari deretan mobil mewah yang terparkir di pelataran hotel,
dengan petugas keamanan dan kepolisian berseliweran di sekitar area reuni.
Apakah mereka teman-teman kita ? ya tentu saja, mereka adalah teman-teman
kita, teman sekolah kita. Bahkan mungkin saja mereka adalah teman sebangku
kita, yang terbawa nasib menjadi orang yang sukses secara duniawi. Perkara
mereka telah terlihat bak penduduk negeri langit, jangan lupa sudah berapa
masa kita tak berjumpa dengan mereka ? jangan lupa juga, waktu yang telah
lama terlampaui membuat manusia berubah. Tak hanya fisiknya, namun sifat
dan karakternya pun bisa saja berganti.
Tak usah heran jika kemudian dalam kesempatan reuni, kita menemukan teman
karib kita begitu membanggakan penampilannya yang serba wah, menceritakan
dengan penuh semangat perawatan wajah yang dia jalani, tatkala teman-teman
yang lain memuji kemulusan kulitnya. Menceritakan dengan sumringah
perjalanan-perjalanan bisnisnya ke kota-kota besar dunia , seraya
mempermainkan tali tas Hermesnya yang berharga puluhan juta. Jika sudah
begini, tak ada gunanya kita membanggakan anak kita yang hafal 5 juz Al
Quran, atau juara Olimpiade Fisika, atau rasa syukur karena anak kita
diterima di perguruan tinggi negeri. Tak ada manfaatnya, karena sama
sekali bukan itu ukuran kesuksesan kaum hedonik.
Lebih banyak teman-teman yang kurang beruntung
Lalu bagaimana dengan teman-teman yang belum sukses ? bagaimana dengan
teman-teman yang bekerja mencari nafkah membanting tulang menjual bensin
eceran dan tambal ban seperti Fahmi ? yang tinggal di rumah kontrakan
terselip di pelosok gang sempit yang kumuh dan pengap ? yang hanya
memiliki kendaraan sepeda motor cicilan ?. Apakah orang-orang seperti
Fahmi akan memiliki cukup keberanian untuk hadir ke acara reuni semegah
itu ? Fahmi tidak berani, dan saya rasa banyak orang seperti Fahmi yang
juga tak cukup memiliki nyali untuk melakukannya.
Saya sangat memaklumi perasaan Fahmi. Sebab bagi orang yang tidak mampu,
pembicaraan tentang kelimpahan materi di antara teman yang sukses hanya
akan melukai perasannya. Dia mungkin tidak merasa iri dengan keberhasilan
teman-temannya, tapi dia jelas merasa sedih. Betapa tidak merasa sedih,
jika dilihatnya teman-teman sepermainannya hidup serba berkecukupan,
sementara dia serba berkekurangan ?
Saya jadi berpikir, pantas saja acara- acara reuni yang saya datangi,
hanya dihadiri sebagian kecil saja dari jumlah keseluruhan yang tercatat
dan seharusnya hadir. Kemanakah gerangan teman-teman yang lain ? mengapa
tidak ada kabar beritanya ?. Tadinya saya berpikir, mereka mungkin sibuk,
atau terkendala jarak yang jauh. Namun melihat Fahmi, saya jadi
berpendapat lain. Mungkin karena mereka yang tidak hadir itu memiliki
alasan yang sama dengan Fahmi : merasa malu menghadiri reuni karena miskin.
Seharusnya persahabatan tidak terhalang status sosial
Saya tetap merasa bersyukur, karena sebagian besar teman-teman saya tidak
berkelakuan aneh, meski mereka telah sangat sukses dari segi materi dan
status sosial di masyarakat. Hanya segelintir saja yang bersikap sangat
ajaib, kalau tidak bisa dibilang norak dan berlebihan dalam memamerkan
kekayaannya. Mereka ini sangat tidak empatif terhadap orang-orang yang
kesusahan.
Bagi orang yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi, harta sama sekali
bukan ukuran kesuksesan, dan sama sekali bukan syarat bagi terjalinnya
sebuah pertemanan. Dari dulu sampai kapanpun, teman tetaplah teman, tak
boleh ada yang menghalangi, apalagi hanya sekedar harta yang sifatnya
sementara.
Saya hanya ingin mengatakan bahwa reuni tidak pernah salah. Yang salah
adalah segelintir oknum hadirinnya. Hadirin yang berlagak jadi orang yang
paling penting sedunia, yang bersikap mentang-mentang. Orang-orang seperti
inilah yang membuat teman-teman yang kurang beruntung, menjadi enggan
hadir, dan menyebabkan tujuan reuni tidak tercapai.
Sementara pendapat saya bagi teman-teman yang enggan menghadiri reuni
karena faktor ketiadaan harta, percayalah bahwa sebagian terbesar dari
kami adalah orang-orang yang memandang persahabatan adalah sesuatu yang
sangat bernilai dalam hidup kami. Tak perlu malu menghadiri reuni hanya
karena ketiadaan harta, karena kami tak peduli. Kami hanya rindu padamu,
kami hanya ingin mendengar kabar, bahwa engkau tetap sehat dan penuh
semangat dalam mengarungi kehidupan ini. Selebihnya, tak penting lagi.
Tentu saja kami mengerti perasaanmu, perasaan tidak setara dihadapan
teman-teman yang lain. Tapi ingat, engkau tidak mengetahui apa yang telah
kami lalui dalam puluhan tahun hidup kami. Dan jika engkau menganggap kami
berhasil, kami merasa bersyukur. Namun engkau juga harus tahu, bahwa
ukuran keberhasilan dan kebahagiaan kami, bukan semata-mata sebanyak apa
harta yang kami miliki. Kami hanya ingin berteman denganmu, selamanya :)