Tak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku MiskinTak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku Miskin

216 views
Skip to first unread message

TEJO

unread,
Aug 14, 2013, 9:46:53 PM8/14/13
to askarlo-s...@googlegroups.com
Ini ada artikel yg menarik :)
ku-miskin-577214.html

Booming Facebook, Booming Reuni

Ini semua gara-gara Facebook. Hebat betul media sosial yang satu ini
mempengaruhi bahkan mengubah hidup manusia. Bayangkan saja, teman sekolah,
 teman sepermainan waktu kecil, mantan kekasih, mantan teman satu kantor,
sanaksaudara, yang sudah puluhan tahun tak berjumpa, yang kita pikir sudah
hilang ditelan bumi, tiba-tiba dalam hitungan minggu atau bulan saja,
sudah  ditemukan, bahkan sudah bisa kontak lagi. Ini benar-benar sebuah
keajaban dunia maya !
Booming Facebook, diikuti dengan maraknya penyelenggaraan acara reuni,
sebab pertemuan di dunia maya dirasa tak cukup lagi memuaskan rasa rindu
pada teman di masa lalu.  Beragam undangan reunipun berdatangan, dari
reuni SD hingga reuni kantor. Sayangnya tidak seluruh undangan reuni itu
bisa kita hadiri  karena berbagai alasan.
Selalu ada perasaan yang sama manakala kita menghadiri acara reuni :
perasaan bahagia ketika rindu terobati ,saat akhirnya dapat berjumpa lagi
dengan sahabat tercinta yang telah hilang bertahun-tahun. Rasa haru biru
yang menyelinapi hati saat menyalami Bapak dan Ibu Guru   yang sudah
sepuh, juga suasana nostalgia yang begitu melenakan, yang membuat kita tak
ingat umur, terlupa sejenak bahwa kita kini sudah menjadi orang tua.
Obrolan dan canda tawa yang terjalin, sangat menghanyutkan kita ke masa
muda, saat kita masih sekolah dulu. Ah asyiknya ..
Tak menghadiri reuni sebab miskin
Dalam sebuah kunjungan ke rumah famili saya di Bandung, saya terlibat
obrolan serius dengan seorang kerabat dekat saya. Kerabat saya itu seorang
laki-laki yang usianya lebih muda beberapa tahun dibawah usiaku. Pekerjaan
sehari-harinya adalah berjualan bensin eceran di sebuah kios kecil di
pinggir jalan raya di kota Bandung. Sebut saja nama kerabatku itu Fahmi.
Dengan pekerjaan seperti itu, tentu saja Fahmi tidak bisa membuat
keluarganya (istri dan ketiga anaknya ) hidup nyaman berkecukupan secara
materi. Itu terlihat dari rumah beserta isinya yang sangat sederhana dan
terkesan seadanya. Dan disini, di atas sehelai karpet di ruang keluarga
yang sempit, kami berbincang hangat tentang segala hal, maklum sudah lama
tidak bertemu.
Kebetulan saya dan Fahmi satu sekolah saat di SD dulu. Kepada Fahmi saya
menyampaikan rencana acara reuni akbar SD untuk semua angkatan yang akan
dilaksanakan selepas Lebaran nanti. Mendengar kabar itu, Fahmi hanya
terdiam dan tampak tercenung. Tadinya saya tidak terlalu memperhatikan
perubahan air mukanya. Namun setelah mendengarkan kata-katanya, gantian
sayalah yang tercenung cukup lama
² Aku tak akan menghadiri acara reuni dimanapun, sebab aku miskin ³
Kata ­ kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu lirih dan sedih.
Sayaterhenyak mendengarnya, namun sudah dapat menduga kelanjutan
kalimatnya.
³ Aku malu pada teman-teman yang sudah kaya dan sukses ³
³ Apa hubungannya reuni dengan kaya- miskin ? ayolah datang ! yang penting
silaturahminya. Lagi pula tak akan ada orang yang bertanya-tanya apakah
kita ini kaya atau miskin ! ³, bantahku. Bantahan yang aku tahu terdengar
sangat klise dan sangat naïf jika tidak dapat dikatakan bodoh.
Fahmi hanya tersenyum, menghela nafas, dan menggeleng. ³ Aku nggak akan
datang ³. Pembicaraan tentang reunipun berhenti sampai disitu, tak
dilanjutkan lagi sampai saya dan suami pamit pulang.
Pertanyaan - pertanyaan yang membuat rikuh Š
Apa yang pertama kali ditanyakan di acara reuni, saat pertama kali
berjumpa dengan teman-teman yang sudah lama sekali tidak bertemu ? apakah
pertanyaan seputar : sekarang tinggal dimana ? sudah married ? anaknya
sudah berapa ?. Mungkin terdengar seperti pertanyaan biasa saja, basa-basi
 normal yang acap kali terlontar dalam setiap pergaulan. Namun bahkan
pertanyaan sesederhana  itu menjadi sangat sensitif bagi sebagian orang
yang (mohon maaf) belum mendapatkan jodohnya sementara usia semakin menua
umpamanya, atau bagi pasangan yang belum mendapatkan keturunan padahal
sudah bertahun-tahun menikah. Jadi jangankan pertanyaan soal kaya atau
miskin ( yang mana pertanyaan seperti ini mustahil dilontarkan dalam
keadaan serius), perkara sudah menikah dan memiliki keturunan saja sudah
cukup membuat sebagian orang enggan menghadiri acara reuni, karena merasa
malu dan minder.
Katakanlah pertanyaan -pertanyaan standar sudah terlampaui, lalu masuklah
kita pada pertanyaan berikutnya, yakni soal pendidikan, soal pekerjaan,
soal karir, dsb.Nah disinlah letak permasalahannya. Ketika pembicaraan
sudah menyangkut masalah-masalah itu, akan ada teman-teman yang merasa
sangat enggan untuk menjawab, karena merasa minder, sebab pendidikan dan
pekerjaannya tak terlampau bergengsi, tak terlampau berkelas dan
menghasilkan income yang besar untuk dibanggakan. Beberapa teman lagi
memilih menghindar dengan tidak menghadiri reuni, daripada harus
menghadapi pertanyaan-pertanyaan serupa itu.
Kadang Reuni Memang menjadi Ajang Pamer
( Ukuran Kesuksesan Kaum Hedonis  : HARTA )
Saya tidak dalam kapasitas menilai acara-acara reuni yang sudah saya
hadiri, karena saya sangat menghargai teman-teman yang sudah bersusah
payah menyelenggarakan acara tersebut, dan sebab saya sangat menghormati
teman-teman saya. Lagi pula  semua acara reuni yang saya hadiri, jauh dari
kesan hedonik.
Namun di luar itu, kita melihat betapa banyak reuni yang digelar dengan
sangat megah di hotel-hotel berbintang, dengan acara dan sajian makanan
minuman serba mewah dan melimpah, lebih mirip sebuah pesta ketimbang
reuni. Oh ya tentu saja mereka yang hadir adalah orang-orang yang sudah
sukses, sudah kaya raya, atau sudah menjadi pejabat atau tokoh ternama di
negeri ini. Terlihat dari penampilan mereka yang serba gemerlap , juga
terlihat dari deretan mobil mewah yang terparkir di pelataran hotel,
dengan petugas keamanan dan kepolisian berseliweran di sekitar area reuni.
Apakah mereka teman-teman kita ? ya tentu saja, mereka adalah teman-teman
kita, teman sekolah kita. Bahkan mungkin saja mereka adalah teman sebangku
kita, yang terbawa nasib menjadi orang yang sukses secara duniawi. Perkara
mereka telah terlihat bak penduduk negeri langit, jangan lupa sudah berapa
masa kita tak berjumpa dengan mereka ? jangan lupa juga, waktu yang telah
lama terlampaui membuat manusia berubah. Tak hanya fisiknya, namun sifat
dan karakternya pun bisa saja berganti.
Tak usah heran jika kemudian dalam kesempatan reuni, kita menemukan teman
karib kita begitu membanggakan penampilannya yang serba wah, menceritakan
dengan penuh semangat perawatan wajah yang dia jalani, tatkala teman-teman
yang lain memuji kemulusan kulitnya. Menceritakan dengan sumringah
perjalanan-perjalanan bisnisnya ke kota-kota besar dunia , seraya
mempermainkan tali tas Hermesnya yang berharga puluhan juta. Jika sudah
begini, tak ada gunanya kita membanggakan anak kita yang hafal 5 juz Al
Quran, atau juara Olimpiade Fisika, atau rasa syukur karena anak kita
diterima di perguruan tinggi negeri. Tak ada manfaatnya, karena sama
sekali bukan itu ukuran kesuksesan kaum hedonik.
Lebih banyak teman-teman yang kurang beruntung
Lalu bagaimana dengan teman-teman yang belum sukses ? bagaimana dengan
teman-teman yang bekerja mencari nafkah membanting tulang menjual bensin
eceran dan tambal ban seperti Fahmi ? yang tinggal di rumah kontrakan
terselip di pelosok gang sempit yang kumuh dan pengap ? yang hanya
memiliki kendaraan sepeda motor cicilan ?. Apakah orang-orang seperti
Fahmi akan memiliki cukup keberanian untuk hadir ke acara reuni semegah
itu ? Fahmi tidak berani, dan saya rasa banyak orang seperti Fahmi yang
juga tak cukup memiliki nyali untuk melakukannya.
Saya sangat memaklumi perasaan Fahmi. Sebab bagi orang yang tidak mampu,
pembicaraan tentang kelimpahan materi di antara teman yang sukses hanya
akan melukai perasannya. Dia mungkin tidak merasa iri dengan keberhasilan
teman-temannya, tapi dia jelas merasa sedih. Betapa tidak merasa sedih,
jika dilihatnya teman-teman sepermainannya hidup serba berkecukupan,
sementara dia serba berkekurangan ?
Saya jadi berpikir, pantas saja acara- acara reuni yang saya datangi,
hanya dihadiri sebagian kecil saja dari jumlah keseluruhan yang tercatat
dan seharusnya hadir. Kemanakah gerangan teman-teman yang lain ? mengapa
tidak ada kabar beritanya ?. Tadinya saya berpikir, mereka mungkin sibuk,
atau terkendala jarak yang jauh. Namun  melihat Fahmi, saya jadi
berpendapat lain. Mungkin karena mereka yang tidak hadir itu memiliki
alasan yang sama dengan Fahmi : merasa malu menghadiri reuni karena miskin.
Seharusnya persahabatan tidak terhalang status sosial

Saya tetap merasa bersyukur, karena sebagian besar  teman-teman saya tidak
 berkelakuan aneh, meski mereka telah sangat sukses dari segi materi dan
status sosial di masyarakat. Hanya segelintir saja yang bersikap sangat
ajaib, kalau tidak bisa dibilang norak dan berlebihan dalam memamerkan
kekayaannya. Mereka ini sangat tidak empatif terhadap orang-orang yang
kesusahan.
Bagi orang yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi, harta sama sekali
bukan ukuran kesuksesan, dan sama sekali bukan syarat bagi terjalinnya
sebuah pertemanan. Dari dulu sampai kapanpun, teman tetaplah teman, tak
boleh ada yang menghalangi, apalagi hanya sekedar harta yang sifatnya
sementara.
Saya hanya ingin mengatakan bahwa reuni tidak pernah salah. Yang salah
adalah segelintir oknum hadirinnya. Hadirin yang berlagak jadi orang yang
paling penting sedunia, yang bersikap mentang-mentang. Orang-orang seperti
inilah yang membuat teman-teman yang kurang beruntung, menjadi enggan
hadir, dan menyebabkan tujuan reuni tidak tercapai.
Sementara pendapat saya bagi teman-teman yang enggan menghadiri reuni
karena faktor ketiadaan harta, percayalah bahwa sebagian terbesar dari
kami adalah orang-orang yang memandang persahabatan adalah sesuatu yang
sangat bernilai dalam hidup kami. Tak perlu malu menghadiri reuni hanya
karena ketiadaan harta, karena kami tak peduli. Kami hanya rindu padamu,
kami hanya ingin mendengar kabar, bahwa engkau tetap sehat dan penuh
semangat dalam mengarungi kehidupan ini. Selebihnya, tak penting lagi.
Tentu saja kami mengerti perasaanmu, perasaan tidak setara dihadapan
teman-teman yang lain. Tapi ingat, engkau tidak mengetahui apa yang telah
kami lalui dalam puluhan tahun hidup kami. Dan jika engkau menganggap kami
berhasil, kami merasa bersyukur. Namun engkau juga harus tahu, bahwa
ukuran keberhasilan dan kebahagiaan  kami, bukan semata-mata sebanyak apa
harta yang kami miliki. Kami hanya ingin berteman denganmu, selamanya :)

Mubin

unread,
Aug 14, 2013, 10:14:15 PM8/14/13
to ASKARLO Mailing List
Apik nemen kye...
Iki tulisane sopo kang..? Iloke entuk po rak kalo kita aplot di web askarlo..? Mangsudku ijin karo penulise kepriye? Mbayar..?

Regards,
Achmad Mubin
Sent from my BlackBerry®

From: TEJO <x112...@gmail.com>
Date: Wed, 14 Aug 2013 18:46:53 -0700 (PDT)
Subject: {askarlo:4508} Tak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku MiskinTak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku Miskin

aryono_...@yahoo.com

unread,
Aug 14, 2013, 10:40:39 PM8/14/13
to askarlo-s...@googlegroups.com
Apa yang ditulis.. Adalah kenyataan yg dihadapi banyak teman2 .. Aku ya pernah mengalamin nemuin kanca2 sing sak angkatan ada rasa minder ketemu kanca2..., wegah nek diajak ngumpul2..

Awake dewe bisa maca tulisan iki karena adanya teknologi media komunikasi yg kita dapatkan..., sehingga bisa memberikan tanggapan... Bagaimana dengan teman2 yg boro2 menyentuh internet mungkin HP pun tidak punya... , kehidupan mrk sehari2 adalah mencari apa yg dimakan utk hari ini....

Kok nelangsa aku maca tulisan iku... Tapi apakah kita harus berhenti ber-reunian karena tulisan itu... Nggak lah... Ajang silahturahmi ini harus kita pelihara, dgn luasnya net-work yg menghimpun teman2 baik "sukses dan tidak sukses dalam kehidupan" ini akan menggugah kebersamaan dan akan timbul keinginan berbuat sesuatu....dan yg penting, harus kita lakukan adalah merubah sikap kita... Rangkullah teman seperti itu " di-uwong ke"..., salah satu misi askarlo kudu dijalake ...askarlo utk askarlo.., kumpulke "kail2".. Berikan pada mereka kail itu utk mencari "ikan" .. Insyaalah dengan reunian akan ada manfaatnya... Apapun profesi mereka , mereka adalah teman kita...., jangan menjadikan reunian ini sebagai ajang pamer...

Terima kasih Tejo utk sharing nya..

Salam,
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: "Mubin" <moebi...@yahoo.com>
Date: Thu, 15 Aug 2013 02:14:15 +0000
To: ASKARLO Mailing List<askarlo-s...@googlegroups.com>
Subject: Re: {askarlo:4508} Tak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku MiskinTak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku Miskin

--
kunjungi http://www.askarlo.org/

eny_c...@yahoo.co.id

unread,
Aug 14, 2013, 11:32:15 PM8/14/13
to askarlo-s...@googlegroups.com
Asslm, sedulur, tulisan iku apik memang, bgtu moco kangs trenyuh dan membenarkan. Banyak temen2 yg kurang "bahagia dan berhasil" hidupnya gak mau datang acara reuni. Atau mau hadir tp lbh byk diam dan minder. Terkadang kl mau memperhatikan sejenak, dlm ajang reuni tsb akan terlihat bgmn teman yg sukses lincah mengobrol dan mengumbar senyum kesana kemari, sedangkan teman yg kurang berhasil duduk, diam dan lbh sbg pendengar. Kita berempati dg yg dmk. Namun ternyata tdk semua yg tidak berhasil bersikap dmk, justru sebaliknya ajang reuni tsb dimanfaatkannya baik2 utk mencari kawan2 yg sukses dan selanjutnya di hub utk meminta bantuan dana......bagaimana dg hal yg demikian ? Kl sekali kali bolehlah kita mengulurkan tangan membantu bahkan mmg wajib menolong teman yg sdg kesusahan. Tapi kl selanjutnya kita dijadikan "langganan" jk ybs butuh biaya apa yg hrs kita perbuat ?
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Date: Thu, 15 Aug 2013 02:40:39 +0000
Subject: Re: {askarlo:4509} Tak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku MiskinTak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku Miskin

--
kunjungi http://www.askarlo.org/

--
kunjungi http://www.askarlo.org/

eny_c...@yahoo.co.id

unread,
Aug 14, 2013, 11:48:42 PM8/14/13
to askarlo-s...@googlegroups.com
Asslm, sedulur, tulisan iku apik memang, bgtu moco kangs trenyuh dan membenarkan. Banyak temen2 yg kurang "bahagia dan berhasil" hidupnya gak mau datang acara reuni. Atau mau hadir tp lbh byk diam dan minder. Terkadang kl mau memperhatikan sejenak, dlm ajang reuni tsb akan terlihat bgmn teman yg sukses lincah mengobrol dan mengumbar senyum kesana kemari, sedangkan teman yg kurang berhasil duduk, diam dan lbh sbg pendengar. Kita berempati dg yg dmk. Namun ternyata tdk semua yg tidak berhasil bersikap dmk, justru sebaliknya ajang reuni tsb dimanfaatkannya baik2 utk mencari kawan2 yg sukses dan selanjutnya di hub utk meminta bantuan dana......bagaimana dg hal yg demikian ? Kl sekali kali bolehlah kita mengulurkan tangan membantu bahkan mmg wajib menolong teman yg sdg kesusahan. Tapi kl selanjutnya kita dijadikan "langganan" jk ybs butuh biaya apa yg hrs kita perbuat ?

Śαlαm Reuni

Eny '83

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Date: Thu, 15 Aug 2013 03:32:15 +0000
Subject: Re: {askarlo:4509} Tak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku MiskinTak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku Miskin

Asslm, sedulur, tulisan iku apik memang, bgtu moco kangs trenyuh dan membenarkan. Banyak temen2 yg kurang "bahagia dan berhasil" hidupnya gak mau datang acara reuni. Atau mau hadir tp lbh byk diam dan minder. Terkadang kl mau memperhatikan sejenak, dlm ajang reuni tsb akan terlihat bgmn teman yg sukses lincah mengobrol dan mengumbar senyum kesana kemari, sedangkan teman yg kurang berhasil duduk, diam dan lbh sbg pendengar. Kita berempati dg yg dmk. Namun ternyata tdk semua yg tidak berhasil bersikap dmk, justru sebaliknya ajang reuni tsb dimanfaatkannya baik2 utk mencari kawan2 yg sukses dan selanjutnya di hub utk meminta bantuan dana......bagaimana dg hal yg demikian ? Kl sekali kali bolehlah kita mengulurkan tangan membantu bahkan mmg wajib menolong teman yg sdg kesusahan. Tapi kl selanjutnya kita dijadikan "langganan" jk ybs butuh biaya apa yg hrs kita perbuat ?
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Date: Thu, 15 Aug 2013 02:40:39 +0000
Subject: Re: {askarlo:4509} Tak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku MiskinTak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku Miskin

--
kunjungi http://www.askarlo.org/

--
kunjungi http://www.askarlo.org/

Iin YS

unread,
Aug 14, 2013, 11:24:56 PM8/14/13
to askarlo-s...@googlegroups.com, askarlo-s...@googlegroups.com
Bagus artikelnya......



Sent from my iPhone

On 15 Agt 2013, at 10:48, eny_c...@yahoo.co.id wrote:

> <mime-attachment.html>

Benny Diah Madusari

unread,
Aug 15, 2013, 12:07:49 AM8/15/13
to askarlo-s...@googlegroups.com
Ikut berbagi:
Reuni memang salah satu ajang silahturahmi..setelah sya baca tulisan di web askarlo, memang benar adanya .. reuni akan memerlukan biaya dan tentu yang dapat berkiprah ya bagi yang berduit dan bisa sempat datang..sementara banyak kawan kawan kita yang mungkin kurang sukses jadi keikutsertaan dalam silahturahmi tersebut menjadi tidak bisa diikuti... ada sekelompok ikatan alumni di pekalongan seperti askarlo ..mereka memiliki sebuah toserba , sekretariat di sma nya dulu..mungkin patut ditiru karena meniru yang baik tidak dosa kecuali menuri karya atau skripsi orang lain.. sebagai sebuah wadah alumni yang telah dibentuk secara baik oleh Askarlo..kenapa tidak melakukan aktivitas konkrit dimasyarakat (sudah ada, tp belum menyentuh secara langsung ke teman teman sma yang kurang beruntung yang berada di pekalongan, dan membentuk sekretariat di sma jadi siapapun yang merasa pernah sekolah di sma kartini akan mudah mengkases informasi (tapi maaf kalau sudah ada tapi tidak tahu).. kegiatan yang praktis mengena konkrit akan memberikan sebuah solusi untuk membantu teman teman yang lainnya, dan sebenarnya keberadaan sperti sekretariat di sma sangat penting adanya karna bisa menjadi tempat memberikan informasi pekerjaa, sekolah /pt, beasiswa dll.. SELAMAT MERAYAKAN IDUL FITRI MOHON MAAF LAHIR BATIN.


TEJO

unread,
Aug 15, 2013, 2:19:16 AM8/15/13
to askarlo-s...@googlegroups.com
Hal lain pelajaran dalam artikel tsb, kita sering 'Tidak Sadar' ... mengajukan pertanyaan - pertanyaan "BIASA" tapi sebenarnya sngat mengganggu, misal : "Sekarang Kerja Dimana ?", "Anaknya berapa ?", "Rumahnya dimana ?" ... bisa jadi sahabat kita sedang tidak bekerja formil, tidak memiliki anak dan Tidak Memiliki rumah. Mungkin kalo saya menulisnya sekarang, akan dibilang "Ndophok", tapi ada sebuah periode panjang dalam hidup saya pribadi, saat lulus SMA, saya harus langsung menemukan pekerjaan untuk dapat Gaji dan sekedar makan guna menyambung hidup, akhirnya terdampar jadi kuli proyek perluasan kilang minyak balikpapan. Saat pulang ke Pekalongan dan ketemu 'temen" ditanya "kerja dimana" saya hanya diam membisu, saya termasuk orang yang sedikit bekerja FORMIL, sepanjang karir pekerjaan lebih banyak diisi sebagai "Calo", calo muatan kapal, calo jual beli kapal. Sekarang pun sebenarnya usaha kami adalah "Calo Resmi". Bedanya dulu tidak ada kantor sekarang ada kantornya. Setelah istri saya meninggal, Pertanyaan tentang keluarga sangat menusuk bathin, dan saat rumah tinggal kami adalah rumah kontrakan yang tiap tahun diuber - uber biaya kontrak dan seringkali terpaksa pindah mencari rumah kontrakan yang lebih murah pertanyaan "Tidak Sengaja" .... "Rumahnya dimana", cukup menyakitkan telinga dan hati.

Tulisan di Kompas sangat menggugah dan menjadi sesuatu yang umum, tanpa kita sadari, kita menyakiti sahabat - sahabat kita. Yang terbaik adalah hindari pertanyaan - pertanyaan yang bersifat PRIBADI saat bertemu kawan lama, sampai kita benar - benar tahu situasinya, dan bertanya seperlunya. Bagaimanapun REUNI-an adalah momen indah bagi banyak orang. Tulisan kompasiana tidak melarang atau meniadakan reunian, tapi mengingatkan kita semua, untuk datang dan tidak bertanya hal-hal pribadi / privasi. Tidak berpakaian mencolok (Tapi sebaiknya jangan NGLIGO juga lah, karena ngligo termasuk tidak sopan).

Untuk itu apabila datang reunian Tampilah dengan sederhana, kendarai mobil maserati atau bentley, parkir didepan pintu gerbang, pakailah pakaian bermerk, buatan - buatan designer mahal, kenakan sepatu mewah, pakai seluruh perhiasan yang anda punya .... tapi jangan lupa tulis di punggung dan dada CONTOH CARA HIDUP SEDERHANA.

selamat Re-Unian.

Note : Bien, selama menyebut sumbernya tulisan bisa di upload ke situs askarlo

wassalam

Ahmad hazairin

unread,
Aug 15, 2013, 10:12:57 PM8/15/13
to askarlo-s...@googlegroups.com, askarlo-s...@googlegroups.com
Saya sdh membaca artikel ini sudah lama, bagus tata bahasanya bagus pula isinya krn sebagian merefleksikan kenyataan yg ada krn banyak juga temen2 yg notabenenya kurang beruntung malah semangat bereuni, pertanyaan2 saat reuni ya pasti spt itu tergantung usianya, Kalo kata lelucon saat usia 40an pertanyaane : anakmu piro?, umur 50 an : putumu piro?, umur 60 an : Sopo sing Wes mati?, umur 70 an : Sopo sing ijek urip?, umur 80 an : Sopo kowe? Hehehe

Kalo menurutku tampil opo onone wae......nduwene Maserati yo numpak Maserati, Innova ya Innova, mlaku yo mlaku......yg bermasalah kalo tampile dudu opo onone, nduwe ontel numpake BMW yo popol kang daun raaaa, nduwene pit njilih supercup....ail othok.

Kalo Tanya usia tabu yo ganti pertanyaane "mlebu kuliah tahun piro?", nek wong kalongan biasane cuek2, pertanyaane kdg keluar dari pakem....."kowe dadi kuli keceh nang ndhi? Utowo kowe nglhorhod nang ndhi? Saiki kok sakpore wkwkwkwk.......

Ayo reuni....sukseskan Ketupaganza IV di Yogya ojo nganti ketinggalan moment hunting baring nang merapi lan Andongisasi keliling Marlboro

Salam,

Iyin'89

Sent from my iPad with love
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages