[sekolah-kehidupan] [INSPIRASI] Lupa Memaknai Naif

7 views
Skip to first unread message

Nia Robiatun Jumiah

unread,
Nov 6, 2008, 4:52:22 PM11/6/08
to sekolah kehidupan, menuli...@yahoogroups.com, Taufiq

Semoga status 'Sedikit Melepas Naif :D' akhir-akhir ini yang tertera di ym saya, menjawab beberapa pertanyaan teman yang cukup penasaran. Juga menjawab arti makna naif yang saya fahami sendiri. (*bagi yang masih ngerasa di umurnya yang sekian belum juga mengerti tentang arti naif, tenang teman, saya juga baru tau makna naif akhir-akhir ini.. kikikikik...)  

 

 

Lupa Memaknai Naif

 

Hampir setahun lalu, setelah pulang pada acara suatu komunitas milis (sekolah-kehidupan@yahoogroups.com) di lembang, saat kami pulang sudah hampir petang bahkan saat malam tiba kami masih di jalan. Mobil itu berisi 6 orang diantaranya Kang Taufik, Mas Catur, Mba Asma, Retno, Dyah, dan saya.

Dalam perjalanan, untuk sedikit mengusir kepenatan, dan dalam rangka mebantu sang supir (*maaf kang, dibilang supir) untuk tidak ngantuk. Kami membuat games tebak sifat yang dipelopori Retno. Setiap masing-masing orang yang ada dalam SIMER (SI MERAH, julukan mobil kang taufik-red), masing-masing harus mengungkapkan kekurangan dari tiap orang. Games ini lebih ke arah memberikan masukan yang positif terhadap tiap-tiap orang.

Ketika giliran saya tiba, saya dikejutkan dengan satu kata yang masih asing di telinga saya. Naif! Saya seorang yang naif menurut mereka. Saat itu umur saya hampir menginjak 22 tahun, dan selama itu saya tidak tahu apa arti sebenarnya dari kata naif. Walaupun  Naif juga merupakan group band di Indonesia, yang saya anggap punya karakter kuat dalam kancah musik negeri sendiri. Naif menurut pengertian yang saya simpulkan, adalah orang yang polos, agak kekanak-kanakan, dan memandang hidup selalu lurus tanpa kelokan, dan setiap proses hidup selalu bahagia, tanpa derita, atau bermuram durja.. (hayyah.. mulai lebai)

Sampai pada sore itu, 2 November 2008, hampir satu tahun setelah kejadian itu. Ketika saya menunggu hujan yang tak kunjung reda di sebuah toko buku yang bernama TB. Jendela di kota Bogor (dekat dengan Bogor Botanical Square) yang pada waktu itu kebetulan saya habis menghadiri bedah buku 'Ruang Lengang'-Epri Tsaqib, saya sempat mengobrol dengan beberapa orang dari Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan juga beberapa penulis di sana.

Sore mulai beranjak petang namun hujan masih saja tak kunjung reda, akhirnya obrolan yang lumayan panjang pun terjadi antara saya, Ema (mahasiswi yang bekerja part time di TB. Jendela), dan Mas Daurie (yang ternyata juga salah seorang anggota milis sekolah kehidupan). Dalam rintik hujan yang syahdu dan udara kota Bogor yang semakin dingin,  sambil memandang ke luar jendela obrolan kami mengalir kepada sifat-sifat manusia yang tanpa sadar  kadang muncul kepermukaan. Dan salah satunya adalah tentang memaknai naif.

Kadang manusia,  ketika sedang bahagia lupa memaknai bahwa suatu saat akan merasa sedih. Ketika suatu saat berteman, maka bukan tidak mungkin suatu saat akan tidak berteman. Ketika sedang jatuh cinta, lupa memaknai bahwa bisa saja dari cinta itu kita lupa memikirkan tentang patah hati, kecewa, atau bahkan benci. ketika seseorang menerima kebaikan orang lain, lupa bahwa orang lain itu juga manusia yang selalu punya salah dan tempatnya khilaf dan  manusia juga punya sifat buruk yang mungkin saja muncul secara tiba-tiba.

Kadang ketika seorang teman yang kita percaya tiba-tiba berkhianat, kita lupa memaknai bahwa sifat seseorang tidak selalu baik, sama halnya dengan diri kita, penuh salah dan khilaf. Dan mungkin hal itu yang membuat kita kecewa, karena dengan kenaifan kita terlalu berharap yang muluk-muluk dalam hidup, tanpa memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Sejatinya, dunia umumnya hanya berisi kefanaan belaka.

Keekstreman dalam hidup, termasuk dengan nasib dan hubungan dengan banyak orang juga merupakan  kejutan. Memaknai naif mungkin salah satu kejutan indah dalam sebuah kehidupan. Karena kenaifan membuat saya belajar banyak hal.

Ada beberapa sisi naif yang bisa dipandang baik. Sisi untuk berfikiran positif dan sisi untuk berkhusnudzon (bersangka baik) dengan apapun. Tapi disisi lain, belajar untuk tidak berebih-lebihan dan memahami bahwa kehidupan itu berisi banyak paketan-paketan yang kadang mengejutkan, bisa memberi makna bagaimana kita bisa lebih mengerti arti kekecewaan. Dan "belajar Memahami, sebelum memarahi" (kata-kata yang sering diucapkan mas Daurie, pada saat itu), jadi pelajaran tersendiri.  

            Rintik hujan itu masih juga belum berhenti, ketika waktu sudah menunjukkan jam 19.00 WIB. Saya merasa petang itu hati saya tersirami. Memandangi rintik hujan di perjalanan membuat saya tersenyum dan bergumam 'Life is still beautiful, isn't it?'

 

 

 

 *TFS, buat beberapa orang yang baru saja saya kenal di sana tapi banyak memberi makna. Walaupun sempet ragu untuk datang ke acara itu, karena cuma kenal dengan mas Epri Tsaqib, tapi ternyata saya mendapat kejutan berupa tambahan pelajaran penting dalam hidup.  

 

Blog     : www.musimbunga.multiply.com

Ym Id  : n_groma

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

Quick file sharing

Send up to 1GB of

files in an IM.

Sell Online

Start selling with

our award-winning

e-commerce tools.

Featured Y! Groups

and category pages.

There is something

for everyone.

.

__,_._,___
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages