MenurutWorld Tourism Organisation, rural tourism adalah jenis aktivitas wisata yang memungkinkan pengunjung mendapat pengalaman dengan alam, pertanian, gaya hidup, dan budaya pedesaan. Lokasi yang dipilih sebagai rural tourism biasanya meliputi wilayah non-urban.
Ciwidey-Rancabali tak hanya terkenal dengan wisata Kawah Putih atau Situ Patenggang. Wisatawan juga bisa megunjungi wisata pedesaan di Desa Alamendah di Kecamatan Rancabali. Desa ini ditetapkan sebagai Desa Wisata pada 2 Februari 2011.
Alamendah merupakan salah satu desa agronomi termaju, dengan mayoritas mata pencaharian penduduknya petani dan pedagang. Di sini wisatawan bisa mendapatkan paket wisata yang komplet, baik wisata alam, wisata religi dan agrowisata.
Kegiatan agrowisata yang cukup populer di sana adalah petik stroberi, wisatawan juga bisa belajar mengolah produk pertanian yang tentunya memiliki nilai edukasi yang tinggi buat si kecil. Wisatawan juga bisa menjadi pemerah susu, dan mencoba susu segar yang baru diperah langsung.
Lelah berkelana di sekitar perkebunan, di Alamendah juga terdapat beberapa titik untuk camping ground. Di antaranya adalah Punceling Pass yang memiliki daya tarik air panas dari buminya, kemudian di Kampung Cai Ranca Upas yang dimana pengunjung bisa camping sekaligus melihat rusa, dan terakhir di sekitar area Kawah Putih yang menyajikan pemandangannya yang eksotis.
Masyarakat di Alamendah juga turut menghasilkan produk UMKM yang bisa dijadikan souvenir atau buah tangan yang bisa dibawa ke rumah. Mulai dari kerajinan tangan, snack olahan stroberi, kopi luwak, aromanis, dan yang lainnya. Wisatawan juga bisa menyaksikan seni budaya yang dilestarikan masyarakat Alamendah, seperti karinding atau pencak silat.
Desa Wisata Alamendah ini bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi dengan durasi kurang lebih dua jam dari Kota Bandung. Keberadaan Tol Soroja bisa membuat waktu tempuh menjadi lebih singkat, menjadi kurang 90 menit. Namun, bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan umum, bisa menaiki mobil elf jurusan Ciwidey-Bandung dari Terminal Leuwipanjang, dan turun di Pasar Ciwidey.
Pusing dengan hingar bingar perkotaan, bertandang ke Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya adalah salah satu obat mujarabnya. Kampung yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, ini berada di kawasan lembah yang tenang dan jauh dari keramaian kota.
Salah satu daya tarik dari kampung ini, adalah kebijakan kampung yang menolak modernisasi. Mereka hidup bersahaja, tanpa lampu, tanpa listrik. Kesederhanaan itu juga tercermin pada rupa bangunan rumah di Kampung Naga, yang masih berbentuk rumah panggung.
Rumah tersusun dari kayu dan bambu, sedangkan bagian atapnya terbuat dari daun nipah dan ijuk, atau bisa menggunakan alang-alang. Pasalnya, ada larangan untuk membangun rumah dari genteng atau dinding bata meski mereka mampu.
Wisatawan yang berkunjung ke Kampung Naga bisa belajar bagaimana keseharian dan aktivitas budaya masyarakat setempat yang memegang teguh kearifan lokal dari leluhur. Salah satunya kaum pria wajib memakai iket dan larangan memakai baju kurung, tidak boleh bersepatu dan bersandal. Namun, bagi pengunjung dari luar aturan itu tidak berlaku.
Untuk bisa menikmati suasana dan budaya di Kampung Naga, wisatawan tak perlu membayar tiket masuk. Pasalnya, masyarakat di sini sangat terbuka terhadap wisatawan. Bagi yang berminat untuk menginap pun diperbolehkan, dengan menggunakan rumah warga.
Untuk dari Kota Garut menuju Kampung Naga ini bisa ditempuh wisatawan dengan jarak tempuh 26 KM, dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. Sedangkan, bila berangkat dari Kota Tasikmalaya, jarak tempuhnya kurang lebih 30 km.
Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, bisa menjadi salah satu lokasi yang tepat untuk melepas penat kehidupan kota. Desa adat yang berada di kaki Gunung Halimun ini memiliki daya tarik tersendiri bagi pecinta budaya lokal.
Di sini wisatawan bisa melihat seperti apa kearifan lokal masyarakat, yang masih menjunjung tinggi nilai adat dan tradisi Sunda yang amat kental. Mirip seperti Kampung Naga, rumah warga di Ciptagelar masih berpegang teguh pada tradisi orang Sunda zaman dulu.
Orang yang menempati desa Ciptagelar dikenal dengan sebutan kasepuhan. Kata kasepuhan berasal dari kata sesepuh menggunakan kata ka-an yang berarti tempat tinggal seorang sesepuh. Ini merujuk pada masyarakat di dalamnya yang masih memegang teguh tradisi leluhur.
Di sini juga wisatawan bisa melihat geliat stasiun radio Ciptagelar, yang menjadi wadah komunikasi antar warga Kasepuhan dengan Kasepuhan yang lainnya. Jika beruntung, wisatawan juga bisa melihat rangakaian upacara adat di sana.
Memang untuk menempuh jalur ke Ciptagelar ini, perlu perjuangan ekstra. Sebab, dari jalan biasa mulai dari Kampung Adat Sinaresmi perlu waktu hingga 1,5 jam perjalanan lagi ke Kampung Adat Ciptagelar. Jalan yang dilalui pun masih terbilang off road.
Sedang, lama perjalanan dari Jakarta ke Kampung Adat Sinaresmi butuh waktu hingga 5 jam. Itu pun jika lalu lintas jalan non tol ke Palabuhanratu dalam keadaan lancar. Tetapi, perjuangan itu akan terbayar begitu memasuki kawasan Ciptagelar dengan penduduknya yang ramah someah.
Pesona wisata di Garut tak ada habisnya, salah satu daya tarik wisata di Kota Intan ini adalah Desa Wisata Saung Ciburial. Rural tourism ini terletak di Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Durasi tempuhnya kurang lebih dua jam tak begitu jauh dari Bandung.
Salah satu keunggulan dari desa wisata ini, adalah wisata homestay warga lokal. Di sana wisatawan bisa lebih berinteraksi dengan warga atau wisatawan lain. Suasana pun akan terasa lebih guyub dan penuh rasa kekeluargaan.
Domba merupakan salah satu hewan yang di unggulkan dalam wisata di Garut dan menjadi khas dari Garut. Di Desa Wisata Saung Ciburial, Pengunjung bisa ikut terjun mencoba memandikan, memberi pakan, mengolahragakan domba, dan merawat domba.
Saat memasuki gapura Kampung Jelekong, wisatawan akan langsung disuguhkan dengan deretan galeri lukis. Para pelukis asal Jelekong pun memang belajar melukis secara turun temurun. Diketahui sosok Bah Odin Rohidin lah yang mengenalkan seni lukis di Jelekong.
Geliat pelukis muda di Kampung Jelekong regenerasinya sangat cepat. Hal tersebut dibuktikan dari munculnya Komunitas Gurat yang diinisaiasi oleh pelukis-pelukis muda asal Jelekong. Jangan aneh jika Anda menemukan banyak anak muda yang tengah melukis di pinggir-pinggir jalan.
Jelekong juga tak hanya terkenal seni lukisnya, tetapi juga akan kesenian wayang golek. Dalang kondang Asep Sunandar Sunarya, keturuannya bersama keluarga seni Giri Harja pun terus konsisten melestarikan kesenian Sunda tersebut dari Jelekong. (Tribun Jabar/Syarif Abdussalam)
Tanpa adanya seorang Asep Sunandar Sunarya mungkin Cepot tidak akan sepopuler sekarang ini. Berkat kreativitas dan inovasinya, Ia berhasil meningkatkan lagi derajat wayang golek yang dianggap seni kampungan oleh segelintir orang. Peningkatan itu dilakukan dengan menciptakan wayang Cepot yang bisa mangguk-mangguk, Buta muntah mie, Arjuna dengan alat panahnya, Bima dengan gadanya begitu pula dengan pakaian wayangnya yang terkesan mewah.
Materi dan ketenaran ia dapatkan dari hasil berjuang tanpa henti dengan menghadapi berbagai dinamika kehidupan yang sering kali tidak atau kurang menyenangkan. Sebelum suka datang, tentu duka menghampiri, bahkan sering kali suka dan duka menyatu dalam rentang panjang perjalanan seorang Asep.
Orang tidak banyak tahu bahwa perjalanan dalam profesinya sebagai dalang, demikian berliku. Tidak jarang, di awal kariernya Asep sering mendapatkan kritikan pedas dari berbagai kalangan, terutama dari sang ayah (Abah Sunarya).
Selain maestro wayang golek, Asep Sunandar Sunarya juga sempat menjadi seorang Da'i atau penceramah Agama Islam. Walaupun beliau tidak pernah secara khusus menimba ilmu agama Islam di pondok pesantren. Menurut anak tertuanya Dadan Sunarya, ayahnya adalah seorang pemikir dan pembelajar terhadap apapun termasuk ilmu agama, yang notabene merupakan menu wajib dalam setiap pementasan wayang golek sebagaimana fungsi awalnya yaitu sebagai salah satu media penyebaran agama Islam di Nusantara. Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya mempelajari ilmu agama Islam dengan cara bergaul dengan ajengan ajengan, sepuh sepuh keagamaan, juga kiai pemimpin pondok pesantren.
Mimpi adalah sebuah misteri yang multi tafsir kebanyakan orang menganggapnya sebagai bunga tidur namun tidak sedikit juga yang beranggapan bahwa mimpi adalah medium Tuhan "Menyampaikan" pengetahuan-Nya kepada manusia, dan yang namanya tafsir itu pastinya banyak versi. Kita tidak pernah paham secara detail apa hubungannya antara mimpi dengan kenyataan.
namun inilah kenyataan yang dialami seorang Ibu pada tahun 1955 di Kampung Giriharja Bandung. Ia bernama Tjutjun Jubaedah (biasa dipanggil Abu Tjutjun), isteri seorang dalang terkenal pada masanya yakni Abeng Sunarya (biasa dipanggil Abah Sunarya).
Inilah salah satu episode tautan antara mimpi dengan kelahiran. Ketika usia kandungan Abu Tjutjun menginjak bulan ketujuh Ia bermimpi bahwa kalau anak yang ke-7 dalam kandungannya lahir maka tidak boleh diberi nama. 3 September 1955 Abu Tjutjun melahirkan putra ke-7 seorang anak laki-laki. teringat akan mimpinya maka jabang bayi tersebut tidak diberi nama.
Entah apa hubungannya antara mimpi tersebut dengan niat Abah Sunarya sebab menginjak usia 15 bulan setelah lahir, sang jabang bayi "diserahkan" kepada adiknya Abah yang bernama Ibu Eja (akrab dipanggil Ma Jaja) yang kebetulan belum dikaruniai anak. Sejak saat itu hak asuh sang bayi menjadi tanggung jawab Ma Jaja (alias sang Bibi bagi si Bayi)
Karena sang Bayi tidak bernama tentu ada kekhawatiran pada diri Ma Jaja jika tetangganya menanyakan perihal nama Bayi tersebut. Untuk menyiasatinya maka Ma Jaja berfikir keras hingga muncul ide Sukana yakni semacam akronim dari Bahasa Sunda yang berarti sa suka na (sesukanya). kemudian Sukana menjadi semacam "nama" bagi Bayi tersebut. Ide ini datang sebagai "jalan tengah" atau solusi jitu sebab dengan cara seperti itu Ma Jaja tidak melanggar apa yang diamanatkan oleh sang Kaka.
3a8082e126