Powered by Telkomsel BlackBerry®
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Selamat Berkarya
Ismail,
Jempol koen !!!,
Pendapatmu serupa dengan saya, breakthrough adalah kuncinya, ini yang mesti diomongin, jangan PLN disalah salahkan.
Berkali kali saya omongin, sukses ratio PLTU 10.000 MW hanya 14,7 % itupun kalau PLTU Labuan dihitung sukses, (2 minggu nyala, terus jebol, bayangin konstruksi cost utk dredging jetty saja 500 M, belum ngitung OMnya, untungnya punya PLN, jadi at any cost kalau IPP, berapa PLN harus bayar?; jangan dibandingkan dengan kinerja PLTU Suralaya, Paiton dan Tanjung Jati, waktu FS, masih ada professional geologist yang terlibat, yaitu gueeee !)
Waktu FS PLTA Saguling 1978 (gua terlibat), data hidrologi yang dipakai pada S. Citarum adalah data sejak ABAD XIX, tahu sendiri, data oke, lingkunganpun masih oke, begitu ada pergeseran ikllim, ya wis apa kata BRUNDLAND Commission tentang sustainable development. Untuk kedepan, harus hati hati bakalan ada pump storage Upper Cisokan diatasnya, meskipun secara system nggak keganggu tapi secara hidrologi pasti terganggu kinerja Saguling, belum termasuk masalah masalah geologi : landslide, pore pressure, seepage etc. Sebaliknya Kamojang yang 1982, hingga kini no problem, paling ganti baut.
Bravo Ismail !!
Udibowo
From: Suryadarma <suryadarma.za@gmail.com>