Stoicism Pdf Indonesia

0 views
Skip to first unread message

Varinia Swicegood

unread,
Aug 3, 2024, 10:35:17 AM8/3/24
to anitigeph

The rapid transmission of Covid-19 posed threats and challenges for people all around the world. Based on self-ownership theory, the current study tested the interactive effect of positive religious coping and stoicism in decreasing psychological distress and physical fatigue and increasing intercultural communication among Muslim health workers. This study advances the body of literature regarding coping mechanisms in the form of stoic believes and religion to decrease the stressors during disastrous situations like the COVID-19. Using a longitudinal field survey, data were collected from 243 Muslim health workers performing their duties at various public and private hospitals and medical centers in Bali, Indonesia. Data were analyzed using SmartPLS software. The results revealed that interactive effects of positive religious coping with stoicism helped decrease psychological stress and physical fatigue and increase intercultural communication among Muslim health workers during Covid-19. The study contributed to the body of knowledge regarding the role of religious practices and stoicism in building coping mechanisms among Muslim health workers to sustain themselves in a challenging environment.

Cossette-Lefebvre, . (2020). Personality, privacy, and property: Trans-systemic perspectives on self-ownership (Publication no. 28093033) [Master's thesis, the University of Toronto]. ProQuest Dissertations Publishing.

Lo, G. T. (2012). Do daily spiritual experiences buffer the effects of Stoicism and fatalism on psychological distress and treatment seeking in a Chinese American cancer sample with pain? (Publication No. 3495892) [Doctoral dissertation, Fordham University]. ProQuest Dissertations Publishing.

Mansoor, M. (2021a). Citizens' trust in government as a function of good governance and government agency's provision of quality information on social media during Covid-19. Government Information Quarterly, 101597.

Warbinton, E. (2019). Mental health in rural areas: To what extent do Stoicism, stigma, and community affiliation predict mental health help-seeking behaviors? [Doctoral dissertation, The University of Okalhama]. _Warbinton_Erika_Dissertation.pdf?sequence=5&isAllowed=y

Jika berbicara tentang kebahagiaan, hal ini erat kaitannya dengan fokus kita terhadap hal yang bisa atau tidak bisa kita kendalikan. Nah, coba ngaku deh. Grameds selama ini lebih sering fokus ke hal-hal yang bisa dikendalikan atau malah berfokus pada hal-hal yang tidak bisa kalian kendalikan?

Sayangnya, kebanyakan orang di dunia ini lebih sering berfokus pada hal-hal diluar jangkauan mereka dibandingkan dengan berfokus pada hal-hal yang bisa mereka kendalikan. Padahal, kunci untuk menjadi seorang yang memiliki hidup bahagia, menjadi sosok yang tangguh, dan juga bijaksana, adalah dengan cara memusatkan diri pada hal-hal yang ada di dalam kendali kita, bukan malah sebaliknya.

Stoicism merupakan sebuah filosofi yang berkaitan dengan kebahagiaan hidup dan bagaimana menghindari pikiran-pikiran stres dan jenuh. Ilmu yang satu ini mengajarkan pada kita tentang bagaimana kebahagiaan seseorang itu bersumber dari hal-hal yang bisa kita kendalikan. Jadi untuk meraih kebahagiaan yang dimaksud, kita perlu memfokuskan diri pada apapun yang bisa kita kendalikan.

Stoicism ini diciptakan di kota Athena, Yunani oleh Zeno dari Citium pada awal abad ke 3 sebelum Masehi. Filsafat ini dianut oleh beberapa filsuf dari Yunani, mulai dari Epictetus yaitu seorang mantan budak, Seneca yaitu politisi di era Kaisar Nero, dan juga Marcus Aurelius yaitu seorang kaisar.

Ajaran filosofi stoa ini sangat beragam, tetapi bisa disimpulkan bahwa dasarnya adalah mengenai perkembangan logika yang terbagi menjadi dua, yaitu retorika dan dialektika. Selain itu, filosofi ini juga membahas mengenai perkembangan fisika dan juga etika yang memuat teologi dan politik.

Adapun pandangan mencolok terkait etika adalah tentang bagaimana manusia memilih sikap hidup dengan menekankan apatheia, yaitu hidup pasrah dan tawakal dengan menerima semua keadaan yang ada di dunia. Sikap tersebut adalah cerminan dari kemampuan nalar manusia dan juga kemampuan tertinggi dari semua aspek hidup.

Di dalam filosofi stoicism, semua hal yang terjadi dalam hidup manusia itu bersifat netral. Tidak ada yang berperan positif atau negatif, tidak ada hal buruk atau baik. Hal yang bisa menjadikan hal-hal tersebut menjadi positif atau negatif, baik atau buruk adalah interpretasi kita terhadap hal itu.

Para filsuf Stoic menganggap kebahagiaan itu bukan untuk dikejar. Mereka lebih fokus pada cara bagaimana dapat mengurangi emosi negatif, mulai dari marah, sedih, stres, dan juga galau. Dengan memperbaiki nalar tersebut, maka kita akan lebih mampu mengendalikan perilaku kita dalam menghadapi emosi tersebut. Ketakutan kita untuk menghadapi situasi yang tidak kita diharapkan sebenarnya lebih besar dibandingkan dengan akibat yang akan muncul dari peristiwa tersebut.

Stoicism mengungkapkan bahwa kebijakan atau kebijaksanaan merupakan sebuah kebahagiaan dan penilaian yang harus didasarkan pada perilaku, bukan kata-kata. Dimana kita tidak bisa mengendalikan apapun yang terjadi jika itu berasal dari luar diri kita atau bersifat eksternal. Kita hanya bisa mengendalikan diri kita dan bagaimana cara kita merespon hal-hal yang terjadi di sekitar kita.

Para Stoa mengungkapkan bahwa perasaan takut atau cemburu (entah itu nafsu seksual atau cinta yang penuh gairah terhadap apapun) muncul dari penilaian yang tidak tepat dari orang-orang pada umumnya. Namun bagi orang-orang yang bijak yaitu seseorang yang sudah mencapai kesempurnaan dalam hal moral serta intelektual. Maka hal tersebut tidak akan mereka alami.

Stoik pada masa Seneca dan juga Epictetus menekankan pada sebuah doktrin yang sudah menjadi ajaran Stoa awal, bahwa orang yang bijak akan benar-benar kebal terhadap masalah apapun, kemalangan ataupun derita. Itu artinya, sikap kebajikan sudah cukup untuk mencapai kebahagiaan.

Akan tetapi, hal tersebut tidak semata-mata bahwa hanya orang bijak saja yang bebas dari penderitaan sedangkan orang lain secara moral bersifat jahat. Filosofi ini tidak peduli dengan teori dunia yang rumit. Cara tersebut hanya ingin membantu kita dalam mengatasi emosi yang merusak dan bagaimana cara bertindak dengan benar.

Pengalaman ini juga dirasakan oleh Marc dan Angel Chernoff, pasangan suami istri sekaligus pakar pengembangan pribadi. Namun, mereka berhasil mengubah pola pikir dan kebiasaan sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan.

Bagi kalian yang sudah memiliki kebiasaan buruk menunda-nunda pekerjaan atau tugas. Bahkan sampai tidak tahu lagi cara menghilangkan kebiasaan tersebut. Nah, kali ini penulis akan memberikan beberapa cara agar kalian bisa membentuk pola pikir stoicism dan mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru yang lebih baik lagi. Berikut adalah cara membentuk pola pikir stoicism.

Sebuah praktik penting yang ada di dalam filosofi stoicism adalah tentang bagaimana membedakan hal-hal apa saja yang bisa diubah dan hal apa saja yang tidak bisa kita ubah. Apa yang kita punya dan apa yang kita tidak punya. Contoh hal-hal yang kita punya adalah tinggi badan, warna kulit, bentuk tubuh, cuaca, dan tanah kelahiran. Contoh hal yang tidak kita punya yaitu jadwal transportasi umum yang bisa saja tiba-tiba berubah jadwalnya. Tidak peduli seberapa keras usaha kita, kita tidak akan pernah bisa memaksa orang lain untuk menyukai kita. Dibanding memikir hal-hal yang tidak dapat kita capai, lebih baik kita lebih bersyukur terhadap apa yang sudah kita punya dan kita genggam saat ini.

Apabila kalian ingin memulai hidup dengan menerapkan prinsip stoicism, maka kalian perlu membiasakan diri untuk menulis sebuah jurnal harian. Dalam filosofi Yunani kuno, kebiasaan menulis jurnal tidak seperti menulis buku harian loh. Jurnal harian ini adalah filosofi yang nantinya akan mempersiapkan kalian untuk menghadapi hari-hari di masa depan.

Dengan berbekal jurnal harian ini, kita bisa bercermin pada kejadian yang ada di masa lampau. Jurnal tersebut dapat kalian isi dengan kebijaksanaan dari guru, buku, teman, atau pengalaman pribadi. Dengan rutin menulis jurnal pribadi, bukan tidak mungkin kita akan mengenali diri kita sendiri. Sehingga di masa mendatang kita akan merasa lebih bahagia.

Perlu diingat, bahwa sejatinya hidup bukan hanya tentang hal-hal yang indah dan menyenangkan saja. Akan ada waktunya kita terpuruk, terjatuh, dan juga terluka. Hal tersebut merupakan bagian dari hidup. Hidup dengan menerapkan ilmu stoicism ini artinya kita harus siap dengan sebuah pandangan bahwa sejatinya hidup itu tidak selalu senang dan nyaman.

Ada kemalangan dan kesedihan yang menyertai hidup kita. Oleh karena itu, berusahalah untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi hari-hari yang kelam dan belajarlah untuk dapat berdamai dan menerima emosi-emosi negatif yang menghampiri, seperti takut ataupun cemas. Biasakan diri sendiri untuk tetap tegar dan kuat untuk menghadapi beberapa skenario terburuk.

Hidup akan terasa lebih berat dan sulit, apabila kita hanya berfokus pada permasalahan yang ada. Daripada hanya memikirkan keburukan yang datang, cobalah untuk memberikan sebuah kebaikan dan fokus kepada hal-hal yang baik juga. Misalnya dengan membantu seseorang yang sudah membuat kita sedih atau marah, atau mungkin memberikan senyuman kepada orang-orang yang sengaja menyerobot antrean kita dan menyenggol kita dengan sengaja. Di dalam konsep stoicism, kebahagiaan merupakan sesuatu hal yang kita ciptakan sendiri. Jadi bukan hanya sekedar menunggu kebahagiaan datang. Jadi, daripada kalian larut dalam kesedihan, lebih baik ayo kita ciptakan kebahagiaan kita sendiri dan tersenyumlah.

Inti dari konsep stoicism sebenarnya sangat sederhana. Kita hanya perlu sadar, bahwa sebenarnya kita adalah makhluk yang sangat kecil di muka alam semesta. Begitu juga semua hal yang kita hadapi. Mulai dari kesedihan , rintangan, dan hal-hal negatif lainnya. Itu semua hanyalah butiran debu. Perlu kalian ingat juga bahwa semua pencapaian dalam hidup bisa saja bersifat sementara. Kalian bisa saja sekejap memilikinya dan sekejap pula kehilangan hal tersebut. Jadi, mengapa kita tidak mengganti semua hal buruk yang hadir dengan hal-hal yang baik saja?

c80f0f1006
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages