nurhami...@gmail.com
unread,Oct 28, 2010, 8:11:52 PM10/28/10Sign in to reply to author
Sign in to forward
You do not have permission to delete messages in this group
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to Alumni UKDM IKIP Bandung
Ass. Alhamdulillah, setelah kunjungan silaturahim saya dan Anna Farida
pada Pak Yusuf, adik-adik UKDM ( diwakili Syifa dan Ika dan Alin )
serta Yayan Udaya dan Ocha, saya mendapatkan benang merah dari
"keanehan" yang saya rasakan bersama teman-teman alumni yang lain
(yang sering berdialog dengan saya). Berikut hasil obrolan kami:
a. Pak Yusuf dan Ibu
Beliau merasa senang dengan kunjungan kami, bercerita banyak
tentang suka dukanya kala beliau masih aktif, terutama rasa sedihnya
karena perlakuan kurang layak yang diterima beliau dan rekan
sejawatnya yang berjumlah 109 orang. Beliau memiliki dasar pembelaan
terhadap sikapnya dan rekan-rekan beliau. Nampaknya, menurut pandangan
beliau dan ibu, pihak pemangku kekuasaan saat ini kurang memiliki
kepekaan dan kesabaran untuk memahami sejarah para pendahulunya
sehingga memandang persoalan tentang pemindahan tempat tinggal ini
seperti memindahkan perabot rumah tangga. Beliau berpesan pada kami,
ingatlah, saat kita memangku kekuasaan, jangan silau dan merasa
jumawa. Akan ada waktunya nanti kita akan memetik hasil dikala yang
tidak kita duga. Lalu beliau juga meminta kami untuk tetap meneruskan
kerja kami, terutama karena kami berdua bergerak di bidang pendidikan
anak ( Anna sempat menyerahkan kenangan berupa 2 buku yang
ditulisnya ) dan mewanti-wanti kami untuk waspada pada gerakan
memisahkan anak-anak dari akidahnya karena Ibu yusuf pernah
menterjemahkan buku yang berisi agenda pihak lain untuk menguasai
generasi muslim sejak dini melalui kurikulum pendidikan. Salah satu
contohnya adalah penggunaan doa-doa tidak Islami di TK-TK umum. Itu
terjadi pada tahun 60an. Menurut beliau berdua, gerakan itu tidak
sepenuhnya berhasil karena setelah diterjemahkan, langsung
disebarluaskan pada lembaga-lembaga dakwah sehingga beberapa yang
menajdi pemangku kekuasaan dapat melakukan upaya pencegahan. Namun,
jika dilihat saat ini, sebenarnya pihak lain tersebut telah berhasil
membuat generasi muslim asing dengan akarnya. Setidaknya, bingung bila
diminta untuk membaca doa-doa harian...siapa yang hapal doa masuk dan
keluar kamar mandi? Siapa yang hapal doa melewati kuburan? Siapa yang
hapa doa bercermin atau membuka pakaian? Mungkin bagi guru-guru saja
yang mau menghapalnya. Namun, menjadi bagian dari keseharian umumnya
umat? Siapa yang bisa menjamin?
b. Pertemuan dengan adik-adik UKDM, selain memberikan kegembiraan
karena dapat bertatap muka, juga menyisakan kesedihan mendalam. Dari
keduanya, saya mendapat gambaran, bahwa mereka tidak paham arah
gerakan dakwah. Mereka tidak mengenal visi dan misi lembaga. Tak
pernah disampaikan, apalagi didiskusikan. Kondisi saat ini cukup
memprihatinkan, karena yang dirasakan keduanya adalah adanya
persaingan antar departemen. Memang itu juga yang saya rasakan. Saya
kira, 3 orang kader ukdm yang mengetahui kedatangan saya dan Anna
saling berbagi informasi. Ternyata tidak sama sekali! Dan saat bertemu
pun, keduanya tidak menunjukkan sikap terbuka dan akrab. Memang sih
berbeda angkatan, tapi saya kira itu buka alasan. Berbeda dengan masa
awal UKDM , bila seorang kader mendapat informasi penting, dengan
sendirinya ia akan menyampaikan pada teman-teman lain tanpa komando.
Boleh dikatakan kami memiliki hubungan emosi yang sangat dekat meski
kami berasal dari berbagai kelompok. Perbedaan tempat mengaji bukan
isu utama. Yang menyatukan kami adalah bagaimana agar dakwah di kampus
dapat berjalan dan kita, mahasiswa muslim dapat menunjukkan sikap dan
kerja berkualitas sesuai bidang masing-masing. Sosialisasi visi misi
hampir setiap saat diberikan baik oleh Ketua maupun senior. Kami juga
tidak semata berkutat dengan masalah kampus, tapi kami juga memahami
dan turut andil dengan perjuangan di luar kampus. Satu momen yang tak
terlupakan adalah demo jilbab di kampus IKIP. Agus Ahadi mengatakan,
meski terlambat dibanding universitas lain ( IKIP dulu terkenal dengan
kepatuhannya karena ia akan menjadi pendidik dan kepanjangan tangan
pemerintah ), kita ( IKIP ) telah menunjukkan bahwa kita juga berani
bersuara menentang kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat
terutama masyarakat kampus. Boleh jadi, tekanan terhadap kebebasan
berekspresi dan beribadah menjadi tali yang mengikat ukhuwah kami.
Saya dan Anna sempat berpesan untuk melihat dan menggali lagi visi dan
misi lembaga, tetap menjaga silaturahim antar pengurus dengan
meniadakan prasangka ia berasal dari kelompok apa, dan menba untuk
berkiprah di berbagai UKM sehingga nafas dakwahnya akan terasa. Pada
masa dulu, setiap pengurus UKDM pasti menjadi bagian dari kepengurusan
himpunan mahasiswa, senat, atau UKM lain. Dan itu ternyata sangat
menguntungkan pada saat kita memerlukan gerakan yang memobilisasi
mahasiswa secara umum; dan menjaga silaturahim dengan alumni. Kami
meminta mereka untuk bertahap mengumpulkan data alumni 5 tahun di atas
mereka untuk memudahkan koordinasi dan menyampaikan bahwa kami
berencana membentuk komunitas alumni yang melakukan pertemuan secara
berkala di Bandung. Mudah-mudahan dapat direalisasikan dan mendapat
dukungan dari teman-teman alumni lain.
c. Alhamdulillah kami disambut dengan hangat oleh keluarga Yayan -
Ocha. Di kediaman mungil mereka yang berada di "tungtung gunung" kalau
kata orang Sunda mah, meski hanya dua jam, perbincangan kami cukup
seru. Saya melihat keduanya telah berhasil menjadi kader dakwah di
masyarakat, stidaknya di lingkungan kerjanya. Ocha sangat hangat dan
perhatian pada kedua anaknya ( bukan sekedar memuji, tapi saya melihat
pancaran mata kedua putra-putrinya menyiratkan hal tersebut ),
sementara ayahnya, Yayan tetap menjadi pribadi yang penuh semangat.
Yayan sempat menunjukkan kliping koran yang memuat kiprahnya sebagai
Ketua Senat Mahasiswa dulu yang memimpin demo-demo di kampus. Demonya
ternyata tidak hanya diliput koran lokal, bahkan Republika dan Kompas
[pun pernah memuatnya. Saya merasa sedih karena kehilangan momen untuk
mengetahuinya karena sejak tahun 95 (lulus) saya langsung terbang ke
"dunia lain" menjadi ibu rumah tangga. Saya meminta Yayan untuk
mengkopinya dan rencana saya, akan saya share dengan adik-adik agar
mereka dapat membaca langsung kiprah pendahulunya. Bukan untuk
menyombongkan diri, namun untuk memotivasi mereka agar mereka lebih
bersemangat. Yayan juga memiliki kerinduan yang sama, bahwa ia tidak
ingin adik-adik UKDM tidak terjebak dalam aktivitas tanpa arah.
Semestinya mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih berarti setidaknya
mewarnai UKM dan BEM yang ada saat ini.
DAri hasil kunjungan di atas, ada banyak PR yang perlu diselesaikan.
Saya akan mencatatnya lalu mencoba untuk share dengan teman-teman.
Mungkin itu dulu yang bisa saya tuliskan. Mohon maaf karena lama
menghilang. Terima kasih pada Tien yang setia mengupdate berita dan
keep in touch dengan adik-adik.
Oh ya, saya juga sempat makan di Cafe yang dikelola UKDM dengan teman-
teman UIN. Untuk nuggetnya, bolehlah. Tapi saya menyarankan untuk
membuatnya lebih tipis dan digoreng garing bila pasar yang dituju
adalah remaja dan anak-anak. Juga bentuknya dibuat menarik. Mohon
dukungan dengan mempergunakan produk mereka bagi teman0-teman yang
sedang berjalan-jalan di kota Bandung. Mampir di Angel's Cafe di Jl.
Gerlong Girang (ujung). Produk mereka selain nugget adalah BOM ( BaksO
Meledak), burger jamur, dan sate jamur. sayangnya, saat itu, saya
hanya bisa mencicipi nugget saja, karena barang yang lain sedang
kosong :(
Salam silaturahim...Wass.
Nurhamida
c.