Tangerang Terancam Amnesia Sejarah

0 views
Skip to first unread message

Suryadi

unread,
Dec 14, 2008, 11:31:55 PM12/14/08
to Alumni NeBal2002
Mohon bantuan rekan2 untuk memposting siaran pers ini di site /
blognya masing2 untuk membantu menyelamatkan warisan budaya dan
sejarah bangsa ini.
Sekedar informasi, meskipun telah membahas gedung ini dengan detail
dibukunya, walikota Tangerang kepada Jakarta Post tgl 11 Desember
2008, mengatakan kalau tidak mengetahui keberadaan gedung ini.
Nyatakan partisipasi anda dengan mengunjungi gedung ini.

SIARAN PERS
(http://serpong. org)

Tangerang Terancam Amnesia Sejarah

Rumah Perkebunan Karet di Karawaci Tangerang dalam kondisi kritis.
Dalam pertemuan yang diadakan WALIBATU (Warga Peduli Bangunan Tua) di
Bakoel Koffie, Jl. Cikini Raya, Rabu 10 Desember kemarin, banyak orang
menyuarakan agar pemerintah dan masyarakat segera beraksi
menyelamatkannya. Sejauh ini, media seperti Kompas, Jurnal Nasional,
Media Indonesia, Warta Kota, dan The Jakarta Post telah menuliskan.
Bahkan laporan atas kasus ini ada yang dibuat sampai tiga edisi
(misalnya The Jakarta Post). Demikian pula jaringan Radio CVC, sebuah
radio Australia berbahasa Indonesia (www.cvc.tv) yang siarannya dapat
didengar melalui streaming internet di www.cvc.tv, radio gelombang SW,
dan dipancarkan oleh 20 radio dari Aceh sampai Papua. Namun hingga
sekarang belum nampak langkah konkret Pemerintah Kota Tangerang untuk
menyelamatkannya.

Budi Lim (arsitek), Pia Alisyahbana (tokoh masyarakat yang menaruh
perhatian pada pelestarian budaya), Adolf Heuken (pernulis buku
Historical Sites of Jakarta), dan Yori Antar, arsitek yang dikenal
pula sebagai fotografer, dengan kalimat masing-masing, dalam pertemuan
itu, menekankan posisi penting bangunan ini karena nilai sejarahnya.
Demikian pula sejumlah wartawan dari berbagai koran, majalah, radio,
dan televisi, serta warga masyarakat maupun pengajar sebuah
universitas, yang hadir dalam pertemuan itu.

WALIBATU berpendapat bahwa dari sisi arsitektur, bangunan ini
merupakan bagian dari jejak sejarah arsitektur di Indonesia. Rumah
utama bergaya arsitektur China, sedang rumah lain bergaya indis
(gabungan unsur Eropa dan tropis). Mona Lohanda dalam buku “Kapiten
Cina of Batavia 1837-1942” mengungkapkan rumah ini dibangun pada awal
abad ke-18 oleh Letnan China Oey Djie San yang menguasai perkebunan di
Karawaci, Cilongok. Selain itu, rumah ini merupakan landhuis terakhir
yang masih bersisa di sekitar Jakarta, dan kondisinya terbilang utuh.
Bangunan ini mulai dibongkar sekitar September 2008 atas suruhan ahli
waris; elemen-elemen bangunannya telah dijual ke pihak lain.

Yori Antar bahkan mengingatkan, “Tangerang akan amnesia sejarah jika
bangunan ini hilang.” (amnesia dikenal sebagai salah satu penyakit
kehilangan ingatan/memori). Ia mendorong masyarakat agar melaporkan
jika terdapat arsitek yang terlibat, ke IAI (Ikatan Arsitek
Indonesia). Heuken memastikan bahwa bangunan ini masuk Cagar Budaya
karena usianya lebih dari 50 tahun. Di samping meninggalkan jejak
arsitektur, bangunan itu juga menandai pembukaan Tangerang sebagai
kawasan perkebunan, dan kelak pemukiman. Ia mengingatkan betapa
pentingnya peninggalan bersejarah untuk mengenal asal-usul suatu
warga. “Jangan nanti kita hanya bisa melihat dari potretnya,” kata
Heuken. Pia Alisyahbana, yang juga seorang penerbit dan menjadi
inisiator penggalangan dana untuk penyelamatan Gedung Arsip Nasional,
mendorong agar pemerintah kota mencari upaya agar pengusaha di
Tangerang dapat ikut menyelamatkan bangunan ini. Budi Lim, yang
dikenal sebagai arsitek yang bersama Han Awal memugar gedung Arsip
Nasional dan mendapat award dari UNESCO, mengatakan, saat ini
masyarakat perlu mengambil langkah konkret. Peraturan pemerintah dan
UU perlu, bahkan sangat perlu, namun tidak cukup. Diperlukan gerakan
masyarakat untuk menghimpun dana, dari jumlah berapapun, agar gedung
tersebut dapat diselamatkan dengan cara dibeli.

“Ibaratnya, ada seseorang yang dimutilasi satu per satu bagian
tubuhnya di hadapan kita. Apakah kita menunggu suatu aturan? Kita
harus menyelamatkannya,” ujar Budi Lim. Ia mengajak menempuh aksi
donasi masyarakat. “Kalau dulu kita ketok pintu konglomerat, sekarang
ketok semua pintu. Yang mau nyumbang 100.000 atau 50.000 rupiah juga
silakan.” Budi Lim mengingatkan, style bangunan itu masih lengkap
dengan situs-nya. Bangunan jenis ini dibuat di Indonesia dan kemudian
“turunannya” nampak di Sri Lanka dan beberapa kota di belahan dunia
yang lain. “Masakan kita malah membongkarnya, sementara di negara lain
malahan bisa merawatnya?”

Seorang wartawan mengatakan, bagunan tsb, karena usia dan style-nya,
sudah dapat dimasukkan sebagai benda cagar budaya. Karena dilindungi
oleh UU, pembongkaran atas bangunan tesebut akan berhadapan dengan
hukum. UU Cagar Budaya (BCB) No. 5 Tahun 1992 memang menyebutkan
definisi benda cagar budaya itu.

WALIBATU juga memperlihatkan sebuah surat dari Ronald G. Knapp, SUNY
Distinguished Professor and Chairman Departement of Geography, State
University of New York at New Paltz. Knapp adalah penyusun buku
Chinese Houses: The Architectural Heritage of Nation (2005) dan
Chinese Bridges: Living Architecture from China’s Past (2008). Knapp
pernah mengunjungi Rumah Perkebunan Karet di Karawaci. “It is very,
very sad to see these efforts to destroy an historically – and
architecturally – significant residence. This is especially painfull
for those who value the multi-cultural and multi-ethnic heritage in
Indonesia. It is a tragedy to see that the demolition has already
begun!,” demikian antara lain bunyi surat Knapp.

Sejauh ini Walikota Tangerang, Wahidin Halim, belum menunjukkan
langkah konkret untuk menyelamatkan bangunan tersebut. Di dalam situs
resmi Pemkot Tangerang, Wahidin Halim menulis sebuah buku dengan judul
Ziarah Budaya Kota Tangerang, di mana di dalamnya terkandung situs
Rumah Perkebunan Karet di Karawaci sebagai salah satu jejak sejarah
kota Tangerang.

WALIBATU sejauh ini telah menghimpun 22 tanda tangan warga. Jumlahnya
diharapkan akan bertambah banyak lagi. Petisi untuk penyelamatan Rumah
Perkebunan Karet Karawaci ini akan dikirimkan ke Walikota Wahidin
Halim pada Jumat besok. Tembusan dikirim ke Menteri Budpar, Menteri
Diknas, dan Gubernur Jawa Barat. “Kami memberi kesempatan kepada warga
yang peduli untuk ikut serta menandatangi surat ini,” ujar Mahandis
Yoanata, dari Walibatu.

Sejumlah rekan wartawan yang hadir, mengingatkan bahwa surat saja
tidak cukup. Diperlukan suatu aksi yang lebih konkret. Misalnya, ada
yang mengusulkan, membuat demo. WALIBATU, yang merupakan forum cair
warga yang merasa peduli dengan bangunan tua, sedang memikirkan
langkah lanjutan setelah mengirim surat. WALIBATU menunggu dan
menyambut partisipasi Anda. Dimana pun Anda berada. Akankah Anda
menatap masa depan, dengan menghilangkan sejarah Anda?

WALIBATU adalah forum cair dimana terhimpun warga yang menaruh
kepedulian terhadap pelestarian bangunan tua, dengan partisipan dari
beragam profesi dan usia. Alamat milis: wali...@yahoogroups.com.
Kontak Person: Yoanata HP 08159958115
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages