Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

Anies Baswedan: Benturan Peradaban atau Kalkulasi Kepentingan

1 view
Skip to first unread message

CGNews-PiH Jakarta

unread,
Aug 10, 2008, 1:03:01 AM8/10/08
to
Kantor Berita Common Ground (CGNews)

Kantor Berita Common Ground (CGNews) bertujuan untuk mempromosikan
pandangan konstruktif dan dialog tentang berbagai isu yang
mempengaruhi hubungan Arab-Israel & Muslim-Barat. CGNews tersedia
dalam bahasa Arab, Inggris, Prancis, Yahudi, Indonesia, dan Urdu.
Untuk berlangganan, klik di sini. Untuk arsip artikel-artikel CGNews
yang lawas, silakan kunjungi situs web kami di www.commongroundnews.org.

Edisi 08 - 14 Agustus 2008


Muslim dan Yahudi: Melanjutkan Percakapan
oleh Mehnaz Afridi
Dalam artikel kedua seri hubungan Muslim-Yahudi ini, Mehnaz M. Afridi,
seorang Muslim kelahiran Pakistan yang mengajar kuliah-kuliah tentang
Yudaisme dan Islam, mengingat pengalaman di Yerusalem yang mengilhami
kerjanya dalam hubungan Muslim-Yahudi.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 8 Agustus 2008)

Retorika Timur Tengah Menghalangi Kepentingan AS
oleh Richard Murphy dan Ethan Chorin
Kurangnya pengertian terhadap dinamika regional di Timur Tengah,
ditambah dengan retorika berlebihan telah menyebabkan Amerika Serikat
kehilangan peluang-peluang ekonomi dan politik yang berarti, demikian
menurut Richard Murphy, seorang cendikiawan tamu pada Institut Timur
Tengah, dan Ethan Chorin, seorang peneliti senior pada Program Timur
Tengah di Center for Strategic and International Studies.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 8 Agustus 2008)

Wawancara dengan Anies Baswedan: Benturan Peradaban atau Kalkulasi
Kepentingan
oleh Wahyuana
Anis Baswedan, salah seorang dari 100 intelektual top dunia versi
majalah Foreign Policy menguraikan gagasannya mengenai konflik-konflik
yang muncul dari “kalkulasi kepentingan”, dalam wawancaranya dengan
Wahyuana, jurnalis dari Jakarta dan pendiri Maluku Media Centre.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 8 Agustus 2008)

Kunjungan Burns ke Iran – Langkah Pertama
oleh Anthony Zeitouni
Anthony Zeitouni, peneliti resolusi konflik berbasis di Washington,
mengevaluasi keputusan bersejarah AS untuk meminta Sekretaris Negara
William Burns menghadiri pertemuan EU-Iran di Jenewa.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 8 Agustus 2008)

Maroko, Model bagi Pengekangan Ekstremisme?
oleh Helen Wilkinson
Helen Wilkinson, penulis dan direktur Genderquake Limited, menilai
inisiatif Raja Maroko Mohammed VI untuk memfemininkan wajah Islam
sebagai upaya mengekang ekstremisme Muslim.
(Sumber: Guardian, 23 Juli 2008)

Muslim dan Yahudi: Melanjutkan Percakapan
Mehnaz Afridi

Yerusalem – Sambil duduk di atas bangku sebuah bar di Yerusalem, saya
melihat sekeliling. Banyak laki-laki Israel dalam ruangan, mengaso,
minum bir, dan bermain bola sodok. Saya merasa tenang, tetapi wajah-
wajah kelelahan para prajurit bercerita lain. Bagi mereka, ini
merupakan pelarian dari musuh-musuh mereka yang menunggu dengan sabar
di balik bukit-bukit Yerusalem.

Saya menangkap kilatan mata biru yang dalam dari seorang laki-laki
muda ketika ia berdiri di samping saya dengan sebuah senapan
tergantung di bahunya dan memesan segelas bir. Kami bertukar senyum,
dan ia memutuskan untuk duduk di sebelah saya.

Ia mulai mengajukan pertanyan-pertanyaan pribadi kepada saya. Saya
mengatakan kepadanya bahwa saya berasal dari New York dan sedang
belajar arkeologi dan Injil. Ia menanyakan, mengapa saya memilih topik
yang begitu sulit dipahami, dan saya mengingatkannya bahwa di
Yerusalem itu merupakan sebuah topik umum; setiap orang datang ke sini
untuk mencari dan memahami akar-akar dari tanah tersebut.

Matanya membesar ketika ia meminum birnya, "Tetapi sebagai seorang
Yahudi, tentunya kau tahu bahwa ini adalah tanah air nenek moyang
kita?"

Baru saya sadari, dengan perasaan tertarik, bahwa ia telah mengira
saya seorang Yahudi Amerika yang sedang mengunjungi "tanah air".

"Hmm tidak…. Pertama-tama, saya bukan seorang Yahudi, dan kedua, saya
tidak terlalu yakin milik siapa gerangan tanah ini …" saya menjawab
dengan tenang.

"Jika kau bukan seorang Yahudi, pasti seorang Katholik, bukan?" ia
bertanya, sambil meneguk minumannya.

Saya menarik nafas panjang dan menjawab, "Bukan, saya seorang Muslim
dari Pakistan."

Ia tersenyum, berharap saya sedang bercanda dengannya, "Ayolah…. Tak
seorang Muslim pun datang ke sebuah bar, atau yang lebih tidak mungkin
lagi, ke Israel…. Apalagi seorang perempuan!"

Untuk membuktikan kepadanya, saya membuka kantung ransel saya dan
memperlihatkan paspor hijau mengkilat saya yang bertuliskan, dalam
bahasa Urdu dan Inggris dengan huruf-huruf emas, "Republik Islam
Pakistan". Ia melirik ke paspor tersebut dan meneriakkan sesuatu dalam
bahasa Hebrew kepada yang lain di dalam bar. Kedengarannya
menakjubkan, namun dalam sekejap, semua orang kecuali pramubar
menghilang. Saya duduk terpaku di atas bangku, bingung dan sedih
karena menghilangnya teman bincang-bincang saya tersebut.

Delapan belas tahun telah berlalu, dan sejak saat itu saya telah
menjadikan peningkatan rasa saling pegertian antara Yahudi dan Muslim
sebagai tujuan hidup saya, agar kedua belah pihak dapat mengatasi rasa
takut akan "antara" (the other) ini. Dewasa ini, bekerja dengan bangsa
Yahudi dan berbagi harapan mereka akan perdamaian merupakan sebuah
pengalaman yang mencerahkan.

Saya telah berkunjung ke perkampungan konsentrasi Munich dan Dachau di
Jerman, bekerja dengan lembaga-lembaga nirlaba, seperti Institut Arava
dan Muslims for Progressive Values, yang memperlihatkan rasa saling
menghormati terhadap Yahudi dan Muslim, dan diundang oleh Pusat
Kebudayaan Levantin untuk berbicara dengan kaum Muslim yang merasakan
kepahitan akibat kebijakan-kebijakan Angkatan Bersenjata Israel
terhadap bangsa Palestina, dan dengan bangsa Yahudi yang tidak
mempercayai Muslim karena tindak-tindak kekerasan para ekstremis
Muslim.

Sepanjang jalan, saya menemukan bahwa koeksistensi dan rasa saling
percaya Yahudi-Muslim harus berakar dalam sebuah rasa hormat mendasar
terhadap keyakinan satu sama lain. Landasan bersama ada. Baik dalam
agama Islam dan Yudaisme, masyarakat meminta petunjuk spiritual pada
para pemimpin agama yang dihormati. Walaupun ada perbedaan-perbedaan
dalam bentuk, keduanya juga memiliki ibadah-ibadah utama utama yang
sama, seperti sembahyang, puasa, zakat, hukum makanan, dan kesucian
ibadah. Kesamaan-kesamaan ini sangat jelas ketika membandingkan Islam
dengan Yudaisme Ortodoks.

Sebagai Muslim, kami belajar banyak dari sejarah bangsa Yahudi,
khususnya bagaimana mereka bertahan menghadapi cobaan-cobaan mereka,
sebelum dan setelah Holokos.

Bangsa Yahudi dapat membantu Muslim melayari sebuah dunia pasca 9/11
dengan membagi kesulitan-kesulitan yang juga mereka hadapi di Eropa
dan Amerika Serikat dan upaya-upaya mereka untuk mengatasinya. Di saat
yang sama, Muslim dapat berbuat lebih banyak untuk mengikutsertakan
bangsa Yahudi dalam masyarakat-masyarakat mereka, dengan membantu
mendekonstruksi cap-cap negatif bangsa Yahudi dengan melawan semua
itu.

Jika prajurit Yahudi yang saya temui 18 tahun lalu dapat meluangkan
waktu untuk memahami bahwa saya berada di Yerusalem demi merapikan
perasaan-perasaan saya, tidak hanya tentang Israel tetapi juga tentang
Palestina, kami akan dapat melihat kesamaan-kesamaan dalam agama-agama
kami, kesetiaan nasional kami, dan cinta kami pada tanah air... dan
mungkin membina sebuah persahabatan.

Saya memimpikan satu hari kelak Muslim dan Yahudi lebih dekat dan
saling mempercayai sebagai umat manusia, sehingga kami dapat
melanjutkan melanjutkan percakapan itu.

###

* Mehnaz M. Afridi (www.mehnazafridi.com) mengajar Yudaisme dan Islam
di berbagai universitas Kalifornia Selatan. Artikel ini adalah bagian
dari sebuah seri hubungan Muslim-Yahudi yang ditulis untuk Kantor
Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 8 Agustus 2008,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.

Kembali ke atas

Retorika Timur Tengah Menghalangi Kepentingan AS
Richard Murphy dan Ethan Chorin

Washington, DC – Sungguh naif jika menganggap bahwa kehadiran Wakil
Menteri Luar Negeri, William Burns, dalam pembicaraan nuklir UE-Iran
telah membuka pintu terhadap sebuah perbaikan cepat dalam hubungan AS-
Iran, atau bahwa pemerintah AS telah mengabaikan pilihan militernya.
Tetapi kecondongan terakhir pada diplomasi ini menawarkan sebuah rehat
yang berguna untuk mengambil catatan atas biaya-biaya ekonomi dan
politik yang tidak terlihat diakibatkan retorika yang berlebihan.
Kurangnya pengertian kita akan dinamika regional – khususnya di Teluk
– telah membuat kita kehilangan peluang-peluang komersial baru yang
penting; keengganan untuk melibatkan diri menghalangi kita memperoleh
informasi yang dibutuhkan untuk memerangi ekstremisme di wilayah
tersebut.

Berbagai cap memiliki sebagian kebenaran dalam pengalaman masa lalu,
entah positif entah negatif. Selama lebih dari 30 tahun, ingatan
paling jelas masyarakat Amerika tentang keterlibatan kita di Timur
Tengah berkaitan dengan tindak-tindak kekerasan mengerikan dan harga
minyak, jauh lebih besar daripada aspek-aspek yang lebih positif
lainnya. Pemboman barak-barak AS di Lebanon1983, Pan Am-Lockerbie dan
kekerasan tak berkesudahan di Irak dan Lebanon – ini adalah bahan bagi
tajuk-tajuk berita utama, bukan keberhasilan persetujuan perdagangan
atau peniruan luas berbagai aspek kebudayaan Amerika. Hasilnya:
meningkatnya kemarahan dan retorika "kami melawan mereka" yang tidak
kenal kompromi, terdengar dalam slogan-slogan seperti "perang melawan
teror" dan "benturan peradaban".

Sekali tertanam dalam jiwa bangsa, retorika negatif cenderung memberi
umpan kepada diri sendiri, yang akhirnya membawa kita melebih-lebihkan
atau mengurang-ngurangi berbagai harapan setiap negara dan kemampuan
mereka untuk mempengaruhi kita. Karena itu, penggambaran berulang yang
dilakukan Presiden Ronald Reagan terhadap Mu'ammar Qaddafi sebagai
"Anjing Gila dari Timur Tengah", bukannya mengurangi pengaruh Libya,
malah memberikannya sebuah kedudukan yang tidak terbayangkan.

Kita masih belum memahami bahwa pengalaman terakhir dari negara-negara
kecil Teluk Arab memungkinkan mereka untuk memantulkan kekayaan dan
pengalaman mereka jauh melebihi ukuran, dan melampaui perbatasan
mereka. Karena itu kita melihat Qatar menengahi konflik Arab-Israel,
dan Dubai mengubah keberuntungan dari negara-negara seperti Djibouti
dan Senegal.

Perilaku Amerika terhadap Timur Tengah mempengaruhi kemampuan kita
untuk menarik penanaman modal dari wilayah tersebut pada saat kita
sangat membutuhkannya. Sejak 9/11, marah akibat pembatasan jumlah
bagian yang tidak berarti, dan dicap "uang teroris", para investor
Saudi telah mengurangi pembelian-pembelian AS dan menarik sebagian
besar modal yang ada. Karena menerima tanggapan yang tidak bersemangat
dari bank-bank AS, Otoritas Penanaman Modal Libya – wali dari dana
kekayaan negara sebesar $50 miliar (sebuah kendaraan investasi milik
negara, yang umumnya terdapat di perekonomian penghasil minyak) –
memilih untuk menjadikan London sebagai markas mereka di barat.

Semakin ketatnya persyaratan visa telah mendorong sejumlah besar
mahasiswa Timur Tengah belajar ke tempat lain. Dalam hal terakhir ini,
kehilangan kita jadi berganda, karena mereka yang tidak memiliki
pengalaman pendidikan Amerika tidak dapat menjadi sumber niat baik di
masa depan. Banyak perusahaan besar AS masih enggan berhubungan dengan
Timur Tengah, sementara perusahaan-perusahaan Eropa menarik untung
dari pembukaan-pebukaan komersial yang telah kita bantu ciptakan.

Para pejabat pemerintah telah berulang berkata bahwa kita harus
menganggap serius perkataan Iran, yang umumnya mengacu pada
keinginannya untuk "menghapus Israel dari peta". Dengan berulang kali
menggunakan perkataan presiden Iran, dan mengabaikan pandangan dari
berbagai tokoh Iran lain, kita tidak memperhatikan tingkat kejatuhan
perekonomian Iran yang dilihat oleh para pejabat lain dan para
penduduknya sendiri sebagai masalah terbesar dari rezim mereka.

Kenyataan bahwa kita harus sepenuhnya bergantung pada apa yang Iran
katakan di depan publik merupakan sebuah tanda bahwa kita tidak cukup
mengenal negara itu untuk memahami cara-cara beretorika yang digunakan
para aktor utamanya.

Lebih jauh, kita mengalami kesulitan dalam memahami mengapa bahasa
kita juga tidak berhasil membujuk pihak lain untuk bergabung bersama
kita, karena kita tidak benar-benar meghargai kesulitan-kesulitan yang
dihadapi kawan-kawan dan sekutu-sekutu kita. Kebijakan AS terhadap
Iran meresahkan banyak negara Teluk karena dua hal: mereka sangat
terkait dengan Iran dalam perdagangan, dan mereka tahu bahwa jika
Amerika Serikat menyerang Iran, hubungan mereka dengan Amerika Serikat
dapat membuat mereka menjadi sasaran empuk bagi misil-misil Iran.

Dalam rangka mencari penyelesaian internasional bagi keadaan buntu
yang terjadi saat ini dengan Iran, kita harus bekerja lebih keras
untuk memahami cara kerja di Iran, yang sejauh ini telah luput kita
lakukan. Kita telah menunjukkan ketertarikan kita dalam pembukaan
sebuah "Seksi Kepentingan" di Teheran, dan bangsa Iran telah
mengatakan bahwa mereka bisa terbuka terhadap peningkatan pertukaran
pendidikan dan kebudayaan – semua itu merupakan langkah-langkah
positif. Pelatihan terhadap sebuah kader besar dari analis dalam
perpolitikan Iran, bahasa dan sejarah juga akan memberi manfaat besar.

Hanya melalui upaya penuh kesadaran untuk mengawasi penggunaan bahasa
dan memperoleh pengetahuan baru, kita dapat berharap untuk membalikkan
akibat-akibat dari dekade-dekade penuh hiperbola, dan siap menghadapi
baik ancaman maupun peluang dengan mata terbuka.

###


* Richard Murphy merupakan cendikiawan tamu pada Institut Timur Tengah
dan mantan Asisten Menteri Luar Negeri urusan Asia Timur Dekat dan
Selatan. Ethan Chorin adalah seorang peneliti senior pada Program
Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan
dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sangkalan: Pernyataan dan pendapat dalam komentar ini tidak serta
merta mencerminkan pandangan-pandangan Institut Timur Tengah, yang
secara terbuka tidak mengambil sikap atas kebijakan Timur Tengah.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 8 Agustus 2008,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.

Kembali ke atas

Wawancara dengan Anies Baswedan: Benturan Peradaban atau Kalkulasi
Kepentingan
Wahyuana

Jakarta – Usianya baru 39 tahun, namun pemikiran Anies Baswedan
dianggap begitu berpengaruh, sehingga majalah Foreign Policy
menempatkan rektor Universitas Paramadina ini dalam urutan ke 60 dari
100 intelektual top dunia.

Mengkritisi dominasi pendekatan kebudayaan terhadap konflik-konflik
Muslim-Barat, ia meyakini bahwa konflik-konflik itu tak dipicu oleh
identitas budaya, agama atau peradaban, melainkan oleh sebuah
kalkulasi kepentingan. Ia menjelaskan konsep ini ketika diwawancarai
oleh jurnalis dari Jakarta, Wahyuana.

Apakah yang Anda maksud dengan “kalkulasi kepentingan” dalam konflik
Muslim — Barat?

Baswedan: Pilihan untuk menggunakan kekerasan itu bukan merupakan
cermin dari faktor ideologi, agama atau kultural tapi merupakan cermin
dari faktor kalkulasi strategis atau kalkulasi kepentingan. Sebuah
kelompok memilih untuk menggunakan pendekatan kekerasan atau kedamaian
bergantung pada kalkulasinya terhadap insentif dan disinsentif atas
tiap-tiap pendekatan itu. Lawan dan metode perlawanan sering
ditentukan oleh kalkulasi itu, daripada karena kalkuasi ideologi,
agama dan kultural.

Marik kita lihat hubungan antara Amerika Serikat (AS)dan apa yang
secara umum dikenal kita kenal sebagai mujahidin Afghanistan. Berbagai
kelompok oposisi Afghanistan ini sebelumnya berada dalam barisan yang
sama dengan AS saat berperang melawan pendudukan Soviet di Afghanistan
pada tahun 1980-an. Masa itu AS memandang mereka sebagai pejuang
kemerdekaan atau pahlawan. Kini, sebagian dari kelompok-kelompok itu
berperang melawan AS, kekuatan pendudukan baru, sehingga tanpa pandang
bulu mereka dicap sebagai teroris.

Cara pandang masing-masing pihak terhadap tantangan, kepentingan, dan
posisi masing-masing membuat mereka bersekutu atau bermusuhan.

Apakah itu berarti isu benturan peradaban omong kosong belaka ?

Baswedan: Saya kira terminologi itu terlalu dipaksakan. Sesungguhnya
yang terjadi adalah polarisasi, dan itu selalu muncul sepanjang
sejarah manusia, dalam berbagai bentuk. Ada polarisasi budaya,
ideologi, ras, dan agama. Polarisasi merupakan bagian dari fitrah
kehidupan.

Benturan peradaban Samuel P. Hutington itu terlalu dipaksakan, seakan-
akan ada sebuah situasi konflik yang spesifik antara Muslim dan Barat.
Tapi itu tak benar. Sepanjang sejarah, konflik-konflik yang dinyatakan
sebagai benturan peradaban tak pernah menyangkut agama semata. Perang
Salib contohnya, juga memiliki kepentingan politik dan tanah.

Bagaimana dengan motif-motif ideologis atau religius di balik konflik
Muslim-Barat? Apakah Anda menafikan motif-motif itu?

Baswedan: Saya tidak menafikannya. Motif-motif ideologis atau agama
itu tentu ada, hanya saja mereka berjalan di tingkat mikro, ada pada
motif-motif individual. Agama atau ideologi hanya alat yang dibajak
untuk merekrut, memotivasi, dan menciptakan solidaritas pada para
pelaku yang merasakan hal itu sebagai semacam legitimasi. Konflik-
konflik itu didengungkan sebagai bersifat ideologis atau religius
untuk menginspirasi para pengikut, melegitimasi perang tersebut
sebagai just war, menarik sekutu, dan sebagainya.

Itulah pentingnya kita menggunakan analisa strategis rasional, agar
kita tahu potensi konflik kekerasan yang mungkin timbul, sehingga bisa
segera menemukan cara pencegahannya. Jika kita hanya menggunakan
pendekatan kultural (sebuah pendekatan yang melihat tindakan seseorang
atau kelompok dipengaruhi oleh variabel-variabel psiko-religius-
kultural), kita akan berputar-putar saja, tanpa tahu bagaimana cara
menangani konflik tersebut.

Tetapi bukankah pembajakan ideologi, kebudayaan, atau agama untuk
kepentingan-kepentingan strategis itu menunjukan bahwa mereka dapat
menjadi senjata yang berbahaya?

Baswedan: Tepat sekali. Ideologi, kebudayaan, dan agama adalah senjata
yang sangat ampuh dalam menciptakan solidaritas dan integritas yang
tinggi, karena ketransendentalan dan kemesiahannya. ia dipergunakan
untuk tujuan-tujuan di luar dirinya. Ketika tujuan di luar dirinya itu
tercapai, ia bisa dipergunakan untuk kepentingan-kepentingan strategis
lainnya, yang ketika terjadi perubahan-perubahan geopolitik, bukan tak
mungkin merubah sekutu menjadi musuh.

Bagaimanakah menurut Anda, masa depan hubungan Muslim-Barat?

Baswedan: Sekarang ini ada situasi yang menarik. Islam sedang tumbuh
dan hadir di pusat-pusat peradaban yang menonjol, seperti di kota-kota
utama Amerika atau Eropa. Sebagai minoritas, Muslim di sana harus
mampu menunjukan kepribadian yang baik , menegosiasikan nilai-nilai
Islam melalui bahasa peradaban tuan rumah, menjadi bagian dari
kekayaan peradaban tersebut. Hal yang sama pun dialami oleh orang-
orang Barat yang tinggal di negara-negara Muslim. Di tangan duta besar-
duta besar inilah masa depan hubungan Muslim-Barat terletak, karena
mereka memiliki posisi istimewa untuk menjadi bagian dari masyarakat
Muslim maupun Barat.

###

* Wahyuana adalah jurnalis dari Jakarta dan pendiri Maluku Media
Center (MMC), sebuah organisasi yang mempromosikan dan memfasilitasi
resolusi konflik dan jurnalisme perdamaianan. Artikel ini ditulis
untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di
www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 8 Agustus 2008,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.

Kembali ke atas

Kunjungan Burns ke Iran – Langkah Pertama
Anthony Zeitouni

Washington, DC – Sekretaris Negara urusan Politik Luar Negeri AS,
William Burns, menghadiri pertemuan baru-baru ini di Jenewa antara
Sekretaris UE-Jenderal Javier Solana dengan kepala negosiator nuklir
Iran, Saeed Jalili. Keputusan ini adalah kontak langsung pertama
antara AS dan Iran setelah hampir tiga dekade hubungan yang sulit.
Keputusan untuk mengirim Burns ke pembicaraan itu merupakan tindakan
yang bijaksana dan berani meskipun dia hanya berperan sebagai
pengamat.

Apa pengaruh hal ini terhadap hubungan AS-Iran? Dengan keputusan
sederhana ini, Washington telah mengambil langkah pertama dalam
membalik hubungannya dengan Iran, mengambil inisiatif untuk memecahkan
lingkaran setan ketegangan.

Burns adalah pejabat tinggi AS, memegang posisi tertinggi ketiga dalam
Departemen Dalam Negeri. Sekretaris Negara bertindak sebagai manajer
harian seluruh masalah kebijakan regional dan bilateral, serta
mengamati biro-biro geografis. Konsekuensinya, keputusan pemerintah AS
untuk berpartisipasi dalam pertemuan ini, dengan mengirimkan seseorang
di tingkat ini, mengirimkan pesan yang jelas dan serius.

Dan Iran merespon dengan positif. Manoucher Motakki, Menteri Urusan
Luar Negeri Iran, menyarankan mereka saling mengenal untuk mencapai
pemahaman yang lebih baik tentang asal muasal konflik ini. Dia juga
mengulangi seruan untuk adanya jalur terbang langsung antara Teheran
dan AS. Dan Ali Akbar Wilayati, Penasehat Hubungan Luar Negeri untuk
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, melihat pentingnya keputusan
Washington. Bahkan Wakil Presiden Iran Esfandiar Rahim-Mashaei
menyatakan bahwa rakyat Iran adalah teman rakyat Amerika.

Mengirim Burns ke meja perundingan merupakan tindakan yang bagus, tapi
masih belum cukup. Langkah-langkah berikutnya diperlukan untuk
menunjukkan bahwa Amerika berkomitmen untuk mengadakan hubungan
diplomatis.

Melanjutkan jalur ini dapat mencegah AS memasuki konflik terbuka dan
berpotensi mematikan dengan Iran dan sekutunya di Timur Tengah. Ini
akan menyelamatkan hidup para prajurit AS dan membantu menjaga
kepentingan Amerika di wilayah ini.

Ini juga akan membantu rezim Iran dalam pencariannya akan stabilitas
dan pengakuan. Lebih jauh, kepentingan politiknya akan mensyaratkan
duduk di meja yang sama dengan para pejabat AS dan diakui oleh AS
sebagai teman, bukan sebagai salah satu “rezim nakal” di “Poros
Kejahatan”.

Iran juga bermaksud mengakhiri sanksi AS dan PBB yang terbukti merusak
perekonomian dan standar kehidupan Iran. Iran perlu mulai menjual
minyak buminya (Iran menduduki cadangan minyak kedua terbesar dunia
setelah Rusia) ke AS dan mengembangkan lapangan minyak dan gasnya.

Sesaat setelah pertemuan dengan pejabat politik dan militer senior di
Israel, Koordinator Kepala Staf Gabungan Amerika, Laksamana Mike
Mullen, memperingatkan agar menghindari serangan militer terhadap
Iran. Dia mengatakan bahwa masalah nuklir Iran harus ditangani hanya
melalui saluran diplomatis, dan bahwa perang dengan Iran bukanlah
kepentingan terbaik AS. Melancarkan serangan udara terhadap fasilitas
nuklir Iran akan “sangat menegangkan”, tambah Mullen.

Sebaliknya, perang dengan Amerika juga akan menimbulkan kerusakan bagi
rakyat Iran, yang sudah menderita akibat krisis ekonomi luar biasa,
meski di tengah kenaikan harga minyak yang tinggi. Banyak pakar
politik Iran telah mengungkapkan ketakutan mereka akan serangan
Amerika pada fasilitas nuklir Iran, tentara, dan ekonomi.

Melalui kunjungan Burns, benih diplomasi telah ditanam, namun harus
dirawat.
AS dapat mengandalkan bantuan dari masyarakat sipil untuk terus
membangun hubungan positif dengan masyarakat sipil Iran. Misalnya,
Uskup Episkopal Diosis Washington, DC, John Bryson Chane, baru-baru
ini bepergian ke Iran pada dua kesempatan menghadiri undangan mantan
Presiden Iran Mohammad Khatami. beliau bertukar sudut pandang dengan
sejumlah pemimpin keagamaan dan cendekiawan di Teheran dan Qom dengan
harapan membuka kesempatan untuk “diplomasi teologi.”

Sebagai tambahan, Universitas Katolik Amerika di Washington, DC, telah
bekerja selama beberapa tahun membangun jembatan antara AS dan Iran,
mengorganisir konferensi dengan tema “dialog peradaban” bersama mitra
Iran, dan mengatur pertukaran kunjungan untuk para profesor
universitas Iran dan pendeta. Inisiatif semacam itu harus berlanjut.

Sebagai tambahan, AS berencana untuk memapankan diplomasi di Teheran
bisa menjadi konstruktif bagi kedua pihak. Bagi Amerika, ini bisa
bertindak sebagai jendela pemahaman menuju pemerintahan Iran yang
relatif tak dikenal. Bersamaan dengan kontak langsung dengan para
pejabat Iran, ini akan mendorong diplomasi publik dengan rakyat Iran
vis-à-vis budaya, pendidikan, hak-hak wanita, dan kepentingan bersama
lainnya.

Bagi Iran, ini memberikan kesempatan untuk meningkatkan reputasinya,
melalui kontak dengan para diplomat Amerika. Ini adalah titik awal
yang baik, yang dapat mengarah ke pengakuan yang lebih luas bagi rezim
Iran dan lahirnya ikatan diplomatik.

###

* Anthony Zeitouni (antho...@gmail.com) adalah peneliti resolusi
konflik berbasis di Washington. Artikel ini ditulis untuk Kantor
Berita Common Ground (CGNews) dan bisa dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 8 Agustus 2008,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.

Kembali ke atas

Maroko, Model bagi Pengekangan Ekstremisme?
Helen Wilkinson

Brighton, Inggris – Pengumuman pemerintah Inggris baru-baru ini
tentang mengatasi ekstremisme religius antara lain dengan memberikan
pemuda Muslim “pelajaran kewarganegaraan” merupakan hal yang menarik.
Mudah untuk mencemooh inisiatif untuk menghadapi ancaman ekstremisme
religius Muslim di seluruh dunia, tapi Inggris bukan satu-satunya
negara yang mengejar pendekatan semacam itu. Demikian juga Maroko,
tempat saya tinggal sebagian tahun ini.

Di tepi Eropa, Maroko berdiri dengan bangga di dunia Muslim Arab.
Sementara Islam merupakan agama negara, Raja Mohammed VI telah
menempatkan Maroko dengan tegas dalam persekutuan dengan Barat.

Pendekatannya telah menimbulkan reaksi. Pada 16 Mei 2003, para
pengebom bunuh diri di Casablanca menewaskan 45 orang, menggembar-
gemborkan bangkitnya kembali fundamentalisme religius dan menandai
panggilan waspada bagi Raja. Terorisme menyentuh warga Maroko dan juga
mempertaruhkan strategi Raja untuk investasi luar negeri dan
pariwisata.

Pemilihan parlemen di Maroko, September lalu, menunjukkan rendahnya
kunjungan (hanya 37 persen), terutama di kalangan pemuda. Implikasinya
tidak hanya berhenti pada Raja Mohammed. Negara tetangga Algeria
menuang bayangan kekerasan pada negara kecil ini. Raja tahu dia harus
memberi rakyat Maroko – terutama para pemuda yang menganggur – alasan
untuk berinvestasi dalam masa depan politik dan ekonomi negara
tersebut. Jika tidak, ekstrimis Muslim akan menemukan anggota baru
seperti yang terjadi di Aljazair. Sebagian akan menemukan jalan ke
Eropa dan Barat, yang lain akan tinggal di Maroko. Itulah sebabnya
Raja Mohammed perlu memberikan pekerjaan dan investasi luar negeri
jika dia ingin mengurangi ancaman tersebut.

Tapi dia tidak bermaksud untuk bersandar pada pertumbuhan ekonomi
saja. Raja memahami bahwa dalam masyarakat sipillah perjuangan untuk
menahan ekstrimis Muslim akan dimenangkan. Maka dari itu pendidikan
juga penting. Karena Islam adalah agama negara, jenis kontroversi yang
mengeruhkan suasana di Inggris tidak begitu tampak. Bukan berarti
prakarsanya tanpa kontroversi, karena Raja telah melampaui
tradisionalis dan memfemininkan wajah Islam. Wanita, beliau percaya,
bisa menjadi penyedia pesan kemanusiaan Islami arus utama.

Inti dari prakarsa Raja Mohammed adalah rekrutmen dan pendidikan
pemandu wanita. Prakarsa ini pertama kali menjadi berita pada April
2006 saat pemerintah Maroko mengumumkan 50 wanita pertama telah lulus.
Kelas kedua – 50 orang lagi – baru-baru ini dipersiapkan untuk peran
mereka di ibukota, Rabat.

Mereka akan bekerja di komunitas lokal, membantu para wanita dengan
pertanyaan-pertanyaan keagamaan dan memberikan dukungan di sekolah-
sekolah dan penjara. Dengan bekerja berhadapan di dalam masyarakat,
para wanita (masih merupakan pengurus dan perawat utama dalam
masyarakat Maroko dalam peran mereka sebagai ibu, saudara, tante,
teman dan pelindung komunitas), akan menghadirkan wajah arus utama
Islam dan mengurangi ekses-ekses kekerasan fundamentalis.

11 September 2001 menunjukkan bahwa dalam dunia yang kian terhubung
secara global, terorisme, seperti perdagangan, tidak mengenal
perbatasan. Prakarsa Raja Mohammed menyadarkan akan implikasi lain –
yakni bahwa pemahaman lintas-budaya adalah vital, dan bahwa wanita
dapat memimpin jalan dalam memoderatkan pesan-pesan Islam.

Pemerintah Inggris dan para pemimpin komunitas Muslim di sana
selayaknya mengadopsi pendekatan raja Maroko. Di Inggris, kurangnya
wanita yang berbicara atas nama dan untuk komunitas Muslim amat
menyolok, padahal pendidikan dimulai di dalam rumah dan keluarga, dan
berlanjut dalam ruang informal masyarakat sipil – seperti kelompok
relawan, sekolah, dan masjid.

Untuk mengatasi ancaman teroris, dan menghentikan subversi Islam dalam
namanya, wajah Islam harus difemininkan baik dalam wilayah publik
maupun pribadi di Inggris. Dan inisiatif yang mempromosikan komunikasi
antar-agama dan pemahaman lintas-budaya harus didukung. Tanpanya –
seperti yang ditekankan oleh kepala City Circle, Asim Siddiqui – dalam
budaya di mana agama dan negara terpisah, Muslim dan lainnya akan tak
mempercayai inisiatif yang menargetkan satu sektor komunitas tanpa
menjangkau yang lain.

###

* Helen Wilkinson adalah penulis Time Out – The Costs and Benefits of
Paid Parental Leave dan direktur Genderquake Limited. Artikel ini
disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan bisa
dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Guardian, 23 Juli 2008, www.guardian.co.uk
Telah memperoleh hak cipta.

Kembali ke atas


Tentang CGNews
Kantor Berita Common Ground menyediakan berita, opini-editorial, fitur
dan analisis tentang berbagai isu yang mempengaruhi hubungan Arab-
Israel & Muslim-Barat. CGNews mempersindikatkan artikel-artikel yang
konstruktif, memberikan harapan, mendorong dialog dan saling
pengertian, kepada saluran-saluran berita seluruh dunia. Baca terbitan-
terbitan lawas kami.

Komentar? Silakan mengirim email ke cgn...@sfcg.org. Ingin
mengirimkan artikel?
Kami menyambut sumbangan artikel dari para ahli lokal dan
internasional yang ingin memberikan pandangan-pandangan membangun dan
analisis tentang berbagai isu yang mempengaruhi hubungan Arab-Israel &
Muslim-Barat.

Jika Anda ingin menyumbangkan artikel, silakan mengirim artikel secara
online.. Ingin mencetak ulang artikel?
Kecuali jika ada pernyataan khusus, artikel-artikel yang ada telah
memperoleh hak cipta dan boleh dicetak ulang oleh saluran-saluran atau
penerbitan berita. Tolong sebutkan sumber asli maupun Kantor Berita
Common Ground. Pandangan-pandangan yang diutarakan dalam artikel-
artikel ini merupakan pendapat pribadi para penulisnya, bukan CGNews
atau afiliasinya.

Kami menghargai waktu dan keleluasaan pribadi Anda. Anda menerima
email ini di %%emailaddr%%.
Kunjungi web kami untuk berhenti berlangganan.

Kantor Berita Common Ground bermarkas besar di 1601 Connecticut
Avenue, NW Suite 200 Washington, DC 20009 USA. Kunjungi kami di
webhttp://www.commongroundnews.org.

Kirim ke teman | Lihat sebagai halaman web | Hubungi kami |
©2008 Kantor Berita Common Ground

Layanan ini merupakan prakarsa nirlaba Search for Common Ground,
sebuah lembaga swadaya masyarakat (NGO), yang bermarkas di Washington
dan Brussels, yang misinya adalah untuk mengubah cara dunia menangani
konflik - menjauhi konfrontasi penuh permusuhan menuju penyelesaian
dengan kerja sama.

0 new messages