Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

Setelah Koran Selesai Dibaca

32 views
Skip to first unread message

Hangtuah Digital Library

unread,
Feb 11, 2006, 2:02:09 PM2/11/06
to
Setelah Koran Selesai Dibaca

Umur koran tidaklah lama. Berita yang ditulis di koran hanya punya
nilai sampai sekitar pukul 07.00 saja. Semakin siang nilainya semakin
turun, karena berita yang ada di dalamnya menjadi basi. Setelah lewat
satu hari, nilai koran itu jatuh drastis, nyaris tidak dibutuhkan lagi
sebagai bahan pengetahuan sekaligus bacaan.

Namun, bagi beberapa orang, koran bekas tidak benar-benar tanpa nilai.
Meski hanya menjadi setumpuk kertas, koran bekas ternyata masih dicari
dan diperjualbelikan, bahkan menjadi komoditas perdagangan antardaerah.
Di Bandung, koran bekas ini merupakan salah satu barang dagangan yang
dikirimkan ke luar daerah, terutama Cirebon dan Sukabumi.

"Koran bekas yang masih bersih dan bagus kami jual dalam bentuk paket
seberat 30 kilogram ke Cirebon dan Sukabumi. Sisanya, koran yang mutu
kertasnya jelek atau koran yang kotor dikirimkan ke pabrik daur ulang
di daerah Sadang, Purwakarta," ujar Nanang, Kepala Gudang pengumpul
koran bekas di Jalan Banteng, Bandung.

"Ekspor" koran bekas ini terbilang besar. Sebuah bandar pengumpul
koran bekas bisa mengirimkan sekitar 20 ton koran keluar daerah setiap
bulannya. Koran tersebut diperoleh dari agen-agen koran dan dari para
pemburu koran. Pemburu koran ini adalah para pemulung yang mencari
koran bekas dari rumah ke rumah, atau dari lapak ke lapak.

Menurut Nanang, persaingan dalam memperoleh koran bekas ini cukup
ketat. Oleh sebab itu, setiap bandar biasanya mempekerjakan beberapa
karyawan sebagai pemburu koran bekas. "Mereka dimodali uang dan
gerobak oleh bandar pengumpul. Dengan ikatan itu, mereka tidak bisa
menjual ke bandar lain," lanjut Nanang yang saat ini mempekerjakan
sekitar 40 pemulung.

Sampai ke pedagang buah

Di Cirebon, arus perputaran koran bekas cukup tinggi. Sedikitnya ada
sekitar 10 usaha perdagangan koran bekas di Kota Udang itu. Usaha ini
tersebar di Pasar Jagasatru, Jalan Pekalipan, Jalan Kembar, Pasar Pagi,
dan Pasar Celancang. Dengan jumlah pemesanan 5-7 ton koran bekas setiap
bulannya, ada sekitar 60 ton koran bekas diperdagangkan di daerah ini.
Sekitar Rp 90 juta uang berputar setiap bulan dari usaha ini.

"Kami ini hanya sebagai tempat transit. Koran bekas datang dari
Bandung atau Jakarta dalam bentuk ball seberat 30 kilogram. Barang ini
langsung dijual lagi kepada pelanggan tanpa harus dibuka ikatannya,"
ujar Adam, staf administrasi sebuah usaha perdagangan koran bekas di
Pasar Jagasatru, Kota Cirebon.

Koran dari bandar besar ini kemudian didistribusikan oleh beberapa
pedagang kecil. Di tempat ini ikatan koran itu dipecah-pecah menjadi
ikatan yang lebih kecil seberat 1-5 kg. Paket kecil ini umumnya dibeli
oleh pedagang pasar tradisional, pedagang makanan, pakaian, serta
pedagang buah-buahan.

"Hampir seluruh koran bekas itu digunakan untuk pembungkus barang
dagangan," ujar Ny Husen, seorang penjual koran bekas paket kecil di
Pasar Jagasatru. Di samping penjual koran bekas asal Jakarta dan
Bandung, terdapat pula penjual koran bekas yang memperoleh suplai dari
agen-agen lokal di Cirebon dan sekitarnya.

Marni, misalnya, adalah bandar koran bekas yang mendapatkan pasokan
dari agen lokal. Pengusaha yang berlokasi di Jalan Raya Mundu ini
terjun ke bisnis koran bekas sejak tiga tahun lalu. Marni memperoleh
sekitar satu ton koran setiap bulan. Koran ini kemudian dijual ke
bagian timur Kabupaten Cirebon sampai ke daerah Brebes di Jawa Tengah.

Bila penjual koran lain mencampur aduk semua jenis koran dan menjualnya
dengan harga yang sama, tidak demikian dengan Marni. Istri loper koran
ini tidak mencampurkan berbagai koran bekas. Setiap paket koran bekas
yang ia jual berisi koran yang sama. Harganya pun berbeda, berkisar Rp
1.300-Rp 1.700 per kilogram.

"Sebab langganan saya biasanya suka sama jenis koran tertentu,
meskipun hanya digunakan sebagai pembungkus. Ada koran yang disukai
karena lebih lebar. Ada juga yang disukai karena banyak mengandung
timah hitam sehingga bagus untuk pembungkus buah," lanjut Marni.

Menghidupi pengangguran

Dudu Suherman (45), warga Kampung Cikaret, Desa Cibeureum, Kecamatan
Baros, Kota Sukabumi, punya cerita lain. Dudu sudah menjalani usaha ini
sejak tahun 1985. Pertama kali terjun ke dunia koran bekas, Dudu masih
harus mencari sendiri ke tempat-tempat penampungan koran bekas di
Sukabumi.

Setelah paham seluk-beluk distribusi koran bekas, Dudu akhirnya mampu
membeli langsung dari bandar besar di Kota Bandung. Setiap kali
pembelian ke Bandung, Dudu bisa mendapatkan tujuh ton koran Bekas.
Omzet penjualannya di Sukabumi mencapai Rp 7.000.000 per hari. Usaha
ini ternyata menjanjikan. Berangkat dari seorang pengangguran, Dudu
kini malah menjadi seorang pengusaha yang bisa mempekerjakan 15
keluarga penganggur. (d14/d03)

Sabtu, 11 Februari 2006
Copyright © 2002 Harian KOMPAS

Fujanto

unread,
Feb 27, 2006, 1:37:42 AM2/27/06
to
Memang di negara ini limbah kertas tetap laku... artinya warga negara kite
ulet dan kreatif.
Kalo boleh tahu di seputar Jakarte, yg terima limbah/ daur ulang kertas2
dimana ya? bisa sharing2 untuk bahan study banding?...
Alamat/ nama/ kontak jika boleh. ma kacih.


Hangtuah Digital Library <h...@hangtuah.or.id> wrote in message
news:1139684529....@f14g2000cwb.googlegroups.com...

0 new messages