Pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan diperkirakan masih akan
berjalan lambat dengan struktur ekonomi yang relatif rentan. Hal ini
karena kebijakan ekonomi Indonesia cenderung didekati dari sudut
pandang konsumtif.
"Selama ini, sudut pandang kebijakan ekonomi kita selalu buy and sale,
bukan make and sale. Beberapa produk unggulan Indonesia langsung
dijual dalam bentuk bahan baku tanpa pengolahan yang bisa memberikan
nilai tambah. Di sisi lain, pelaku usaha kita membeli barang jadi dan
menjual kembali. Jika, pola ini terus berlangsung, ekonomi kita akan
sulit tumbuh," kata Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Kusmayanto
Kadiman dalam seminar "Arsitektur Perekonomian Indonesia Berbasis
Industri dan Daya Saing Global" di Jakarta, Rabu (1/9/2004).
Kusmayanto mengatakan, meski indikator ekonomi makro menunjukkan
kemajuan yang menggembirakan, tetapi tidak serta-merta mengisyaratkan
jaminan keadaan ekonomi yang lebih baik. Apalagi, jika pada
kenyataannya upaya menekan inflasi justru menekan pula laju kesempatan
kerja baru.
"Lantas, apalah artinya inflasi yang rendah bagi jutaan penganggur?"
ujar Kusmayanto. Menurut dia, inflasi yang rendah dan pengangguran
yang tinggi adalah sebuah paradoks. Kesejahteraan masyarakat akan
tercapai dan sekaligus tersebar secara adil jika kesempatan kerja
berada pada tingkat ketersediaan yang maksimum.
Kusmayanto mengatakan, untuk memicu pertumbuhan ekonomi, salah satu
upaya yang dapat dilakukan adalah menentukan produk komoditas unggulan
yang didasarkan pada tingkat ketersediaan bahan baku, serapan pasar,
atau konsumsi domestik dengan orientasi ekspor dan peluang teknologi.
Kelompok komoditas ini dengan sendirinya merupakan hasil industri
manufaktur dan proses.
"Secara bertahap, industri manufaktur dan proses unggulan inilah yang
akan menjadi komponen utama dalam struktur perekonomian nasional.
Selain itu, pemerintah juga perlu memberi ruang pasar yang luas kepada
barang dan jasa hasil produk dalam negeri," ujarnya.
Mantan Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri Ginandjar
Kartasasmita mengatakan, untuk memulihkan kondisi dan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, perlu kebijakan kemandirian ekonomi, seperti
mempromosikan produk dalam negeri.
"Kebijakan ini bukan berarti kita harus kembali ke kebijakan protektif
dan antibarang impor. Kita masih perlu impor barang, tapi barang yang
diimpor itu haruslah barang-barang yang memang sulit diproduksi di
Indonesia. Kalau beras, gula, atau buah saja harus impor, itu jelas
hanya akan menghabiskan devisa saja," kata Ginandjar.
Menurut dia, gerakan efisiensi nasional sangat penting agar setiap
barang dan jasa Indonesia tidak terbebani oleh berbagai ongkos yang
tidak sepatutnya berada dalam kalkulasi cost structure.
Martani Huseini dari Universitas Indonesia mengatakan, pola konsumsi
masyarakat tidak cukup berdampak pada pertumbuhan industri nasional.
Hal ini karena produk yang dikonsumsi sebagian besar merupakan produk
impor. Untuk itu, diperlukan peningkatan daya saing nasional dengan
memetakan aset manufaktur dan teknologi. (TOM/OTW)
Kamis, 02 September 2004
Copyright © 2002 Harian KOMPAS