"Wah, kapal kita terlambat berangkat dari Benete," kata Idayani, staf
Public Relation PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) sembari melayangkan
pandangannya ke Selat Alas, selat yang memisahkan Pulau Lombok dan
Pulau Sumbawa. Jarum jam menunjukkan pukul 17.00 Wita. Sesuai jadwal,
kapal PT NNT seharusnya sudah merapat di Pelabuhan Kayangan (Lombok)
dan selanjutnya balik lagi ke Benete, pelabuhan PT NNT di Pulau
Sumbawa.
Pelabuhan Kayangan merupakan pelabuhan penyeberangan feri dari Pulau
Lombok menuju Pelabuhan Poto Tano di Pulau Sumbawa. Di dermaga feri,
setiap kapal masuk menuju pelabuhan, seketika kapal yang sandar segera
berangkat. Ini bisa dimaklumi karena tempat sandar hanya mampu
menampung satu kapal, sehingga mesti digilir. Sementara dermaga khusus
untuk kapal PT NNT tidak jauh dari dermaga feri tersebut. Tiba-tiba
petugas dermaga, yang juga karyawan PT NNT memanggil semua penumpang
untuk segera kumpul di ruang tunggu. "Ayo pak naik, biar kapal segera
berangkat," ujarnya.
Buru-buru saya bersama rombongan wartawan lainnya segera memasuki ruang
tunggu, di mana semua barang harus menjalani pemeriksaan, demikian juga
penumpangnya. Akhirnya, meski meleset dari jadwal, kapal Nusa Tenggara
Satu, milik PT NNT tiba dan sandar di dermaga. Penumpang dari Benete
segera berhamburan keluar kapal, selanjutnya giliran penumpang jurusan
Benete memasuki kapal.
Kapal Nusa Tenggara Satu merupakan kapal satu-satunya yang khusus
melayani penumpang yang berkaitan dengan aktivitas PT NNT, apakah itu
karyawan, kontraktor atau tamu perusahaan tambang itu. Setiap hari,
kapal tersebut berangkat dari Benete pukul 08.00 dan 15.30. Sementara
dari Kayangan pukul 10.00 dan 17.00. Kapal Nusa Tenggara Satu terbilang
bagus, bersih dan terawat baik. Sanggup membawa sebanyak 200 penumpang
dan terdiri dari dua lantai. Setelah semua penumpang naik, dengan cepat
kapal Nusa Tenggara Satu meninggalkan dermaga Kayangan dan melaju
dengan kecepatan 20 knots menuju Benete.
Bagi saya yang terbiasa menggunakan feri menyeberangi Bali-Lombok
selama 3,5 jam, menyeberangi Selat Alas menuju Benete selama 1,5 jam
terasa nikmat. Arus kuat di Selat Alas di sore hari itu dilibas Nusa
Tenggara Satu dengan mantap. Pecahan ombak memenuhi sisi kiri dan kanan
kapal. Teman dari majalah bisnis, mungkin karena kondisi kurang fit,
tak kuat menahan goyangan kapal. Tanpa malu-malu, kantong plastik di
belakang kursi disambar untuk memuntahkan isi perut. "Wah keluar lagi
ayam taliwangnya (catatan: sebelum menuju Pelabuhan Kayangan, rombongan
wartawan menikmati makanan khas Lombok, ayam taliwang dan pelecing),"
katanya dengan wajah malu-malu.
PT NNT terletak di Kecamatan Jereweh dan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa
Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. PT NNT menandatangani kontrak
karya dengan Pemerintah Indonesia pada 2 Desember 1986. Kontrak karya
ini memberi izin bagi PT NNT untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi
mineral yang bernilai ekonomis. Tahun 1990, PT NNT menemukan cebakan
tembaga porfiri dalam jumlah besar yang kemudian diberi nama Batu
Hijau. Proyek Batu Hijau memulai masa konstruksi tahun 1996. Masa
konstruksi dan uji coba berlangsung lebih dari 3 tahun dengan biaya 1,8
miliar dollar AS. PT NNT mulai beroperasi penuh pada Maret 2000.
PT NNT adalah perusahaan patungan Indonesia, di mana 80 persen saham
dimiliki oleh PT Nusa Tenggara Partnership (Indonesia) dan 20 persen PT
Pukuafu Indah (Indonesia). Saham sebesar 56,25 persen pada Nusa
Tenggara Partnership dimiliki oleh Newmont Indonesia Limited. Sementara
43,75 persen dimiliki oleh Nusa Tenggara Mining Corporation
(Indonesia). Saat ini PT NNT memperkerjakan 4.200 karyawan tetap dan
3.000 tenaga kerja kontraktor Indonesia, di mana 60 persen diantaranya
berasal dari NTB.
Bijih di Batu Hijau diambil dari permukaan tanah dengan menggunakan
alat berat seperti shovel listrik dan haul truck berkapasitas 240 ton.
Setiap hari 600.000 ton batuan dikeruk dari pit (lubang tambang) yang
saat ini memiliki garis tengah sekitar satu kilometer. Bila proyek Batu
Hijau ini selesai sekitar tahun 2019, bentuk pit akan menyerupai
kerucut terbalik dengan garis tengah dua kilometer dan kedalaman satu
kilometer.
Batu hijau merupakan cebakan tembaga porfiri dengan sedikit kandungan
emas dan perak. Di Batu Hijau, setiap ton bijih yang diolah
menghasilkan rata-rata 4,87 kilogram tembaga, sedangkan emas hanya 0,37
gram. Bijih batuan yang diambil dari lubang tambang setelah diproses
akan berbentuk konsentrat, yakni berupa bubuk batuan halus seperti
pasir. Sebanyak 2.000-4.000 ton konsentrat dihasilkan setiap hari. Saat
dimuat di kapal, konsentrat terlebih dahulu ditimbang dan proses
penimbangan disaksikan perwakilan dari PT NNT, pembeli dan pejabat
pemerintah. Konsentrat akhirnya dikapalkan ke sejumlah fasilitas
peleburan di berbagai negara untuk memisahkan dan mengambil logam
berharga, yakni tembaga, emas, dan perak.
Memasuki kawasan NNT, peraturan ketat diberlakukan bagi siapa saja.
"Siap-siap sabuk pengaman, jangan lupa helm," bisik Idayani agar segera
mengenakan sabuk pengaman. Buru-buru para wartawan memasang sabuk
pengaman dan mengenakan helm. Setiap pos pemeriksaan, petugas membuka
kap mesin mobil, meminta seluruh penumpang turun untuk diperiksa kartu
tanda pengenal khusus yang sudah dibagikan sebelumnya.
Apalagi ketika memasuki pit dan melihat alur produksi, setiap orang
wajib mengenakan helm, sepatu boot, kacamata serta rompi khusus. Tak
aneh, bila memasuki areal tambang, disiplin adalah hal utama. Kecepatan
kendaraan dibatasi sampai 60 kilometer per jam. Jangan coba-coba
melebihi 60 kilometer, risikonya berat, bisa dipecat. Di lubang
tambang, terlihat shovel listrik terus bekerja dan haul truck hilir
mudik mengangkut batuan untuk diproses. "Satu ban haul truck seharga
mobil Kijang lho," tutur salah seorang pegawai PT NNT menunjuk ban truk
berukuran raksasa itu.
Sebagai perusahaan tambang, PT NNT memang tak luput dari sorotan
masyarakat, khususnya para pecinta lingkungan, terkait dengan
pembuangan limbah hasil tambang. PT NNT menempatkan tailing di dasar
laut, jauh dibawah zona laut produktif. Penempatan tailing dipantau
terus menerus agar beroperasi dengan benar.
Menurut Ismed Ghazali, General Supervisor Environmental Affairs PT NNT,
tailing NNT tak lebih dari sisa-sisa batuan yang telah digiling atau
digerus halus setelah mineral berharga yang terkandung di dalamnya
diambil. "Tailing ini tidak berbahaya, tidak beracun dan memiliki sifat
sama dengan pasir di dasar laut," ungkapnya. Bahkan tim independen
Provinsi NTB ikut memantau. Hasilnya, tidak ada indikasi pencemaran
logam berat di perairan laut selatan Sumbawa.
Masalah pembuangan tailing sungguh-sungguh diperhatikan NNT. Ada dua
jenis pipa digunakan, yakni pipa darat dan pipa laut. Pipa darat
terbuat dari baja dan bagian dalamnya dilapisi karet setebal 19 mm
untuk mengurangi erosi dan abrasi akibat aliran tailing. Pipa darat
memanjang sejauh 6 km dari pabrik pengolahan bijih ke tepi pantai.
Sementara pipa laut terbuat dari bahan HDPE (high density
polyethylene), yang kuat dan ringan, memiliki diameter 1 meter lebih
serta ketebalan 90 mm.
Jaringan pipa laut memanjang di dasar laut sejauh 3,2 km dari tepi
pantai. Ujung pipa tempat tailing keluar berada pada kedalaman lebih
dari 100 meter di bawah permukaan laut. Tailing mengalir secara alami
menuruni dinding terjal ngarai Senunu dan mengendap di kedalaman
sekitar 3.000-4.000 meter di bawah permukaan Samudera Indonesia.
"Sistem ini dimonitor terus menerus," jelas Ismed.
Setiap enam bulan pengoperasian tambang dihentikan selama 3-4 hari.
Pada saat inilah pengecekan pembuangan tailing melalui pipa akan
diperiksa. Bila menemukan kebocoran dalam skala besar atau pergantian
pipa akan segera dilakukan. "Selain kita yang mengecek, kita juga
mendapat laporan dari penduduk sekitar bila menemukan pipa yang bocor,"
sambung Ismed.
Selain memperhatikan masalah lingkungan, PT NNT juga memiliki tanggung
jawab untuk memajukan daerah-daerah di sekitar lingkar tambang. "Dulu,
daerah ini tidak seperti sekarang. Kita bangun posyandu, sekolah,
pasar, bendungan, hingga terminal seperti sekarang ini," ujar Malik
Salim, Manajer Senior Hubungan Eksternal PT NTT. Meski Kabupaten
Sumbawa Barat mendapatkan royalti dari NNT lebih besar ketimbang
kabupaten lainnya di NTB, namun NTT tetap memperhatikan kebutuhan
masyarakat -- terutama di lingkar tambang -- melalui empat program
yakni kesehatan masyarakat, pendidikan, infrastruktur dan ekonomi
masyarakat.
Berbagai bantuan seperti pembangunan sekolah, pasar, puskesmas,
perpustakaan keliling, mobil ambulans, pembangunan embung secara rutin
diberikan. Berkat pembangunan embung, petani di sekitar lingkar tambang
yang semula panen sekali setahun, kini bisa panen dua kali setahun.
Masyarakat pun diajak berpartisipasi bagaimana mengelola kawasan pantai
menjadi daerah tujuan wisata. "Dulu pantai Maluk penuh sampah. Kita
ajak masyarakat membersihkannya. Hasilnya seperti sekarang," tutur
Malik membuktikan kepedulian NNT terhadap pantai Maluk. Bagi Malik,
komitmen NNT sejak awal adalah ingin maju bersama masyarakat. Sekarang,
pantai berpasir putih ini memang terlihat bersih. Ada beberapa restoran
dibuka di tepi pantai. Pantai Maluk selalu ramai dikunjungi masyarakat
dan karyawan NNT saat akhir pekan.
Mengunjungi Sumbawa Barat tak ubahnya melihat sebuah kabupaten yang
sedang menggeliat, berbenah diri untuk membangun wilayahnya. Sudah
jelas, keberadaan PT NNT sangat potensial bagi Sumbawa Barat.
Alasannya, selain memberikan pemasukan bagi kas daerah juga ikut
membantu menggairahkan kehidupan masyarakat setempat. Apa yang sudah
dikerjakan PT NNT seharusnya bermanfaat bagi masyarakat sekaligus aset
dalam meningkatkan perekonomian suatu daerah. Merekalah yang berhak
menikmati kekayaan alam itu. (I Made Asdhiana)
Sabtu, 30 Juli 2005, 21:24 WIB
Copyright @ PT. Kompas Cyber Media