• Kisah Para Rasul 24:5, "Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah
penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang
Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari
sekte orang NASRANI."
Tertulus menggambarkan Paulus sebagai pengganggu keamanan dengan kata-kata
yang diperhitungkan akan memberi kesan, bahwa Paulus adalah pemimpin
pemberontak yang sama kelasnya dengan pemimpin-pemimpin pemberontak yang
dengan sekuat tenaga telah Feliks padamkan, dan Paulus lebih berbahaya lagi,
sebab kegiatannya lebih luas. Sangat mudah menggambarkan mesianisme
kerohanian dalam Injil sebagai bentuk mesianisme militan dan politik.
"Sekte orang Nasrani" - penjelasan yang paling baik untuk ini ialah bahwa
orang Kristen mendapat nama itu dari nama Yesus orang Nazaret; tapi ada juga
penjelasan lain, seperti umpamanya bahwa kata itu berarti "penurut". Dalam
bahasa Ibrani dan Arab sampai sekarang orang Kristen masih disebut orang
Nasrani.
Tentang sebutan "Kristen" itu sendiri dapat dijumpai pada tiga ayat:
• Kisah Para Rasul 11:26, "Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu
satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah
murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen."
• Kisah Para Rasul 26:28, "Jawab Agripa: 'Hampir-hampir saja kauyakinkan aku
menjadi orang Kristen!'"
• 1 Petrus 4:16, "Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka
janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama
Kristus itu."
Ketiga ayat di atas mengandung gagasan bahwa Kristen adalah gelar yang
diakui umum pada zaman Perjanjian Baru, sekalipun jelas ada sebutan-sebutan
lain yang dipakai oleh orang Kristen sendiri, yang barangkali lebih disukai.
Pembentukan sebutan itu agaknya berasal dari bahasa Latin, di mana kata nama
benda jamak yang berakhir pada '-iani' mungkin menunjuk kepada serdaru dari
seorang perwira khusus (umpamanya 'Galbiani', berarti orang-orang Galba),
dan oleh karenanya berarti pendukung seseorang. Kedua unsur itu digabungkan
dalam istilah yang pura-pura bersifat militer 'Agustiani'. Paling sedikit
pada bagian akhir abad pertama Masehi istilah 'Caesariani' dipakai bagi
budak-budak dan orang-orang yang dibela Kaisar. Di dalam Injil-injil
dijumpai istilah 'Herodianoi', yang mungkin adalah pendukung-pendukung atau
orang-orang yang dibela Herodes.
Karena itu istilah 'Christia(o)i', mungkin mulanya menggambarkan
"serdadu-serdadu Kristus", atau "rumah tangga Kristus", atau
"pendukung-pendukung Kristus". Ada pendapat bahwa 'Christiani' berpola
kepada 'Agustiani', yaitu pasukan yang terorganisasi terdiri dari
penggemar-penggemar yang menyanyikan, memimpin pujian rakyat terhadap Nero
Agustus. Baik kegairahan para orang percaya, maupun penghormatan yang lucu
dari pemimpin-pemimpin perayaan negara disindir oleh perbandingan di antara
yang satu dengan yang lain. Tapi sebutan "Kristen" mungkin lebih tua
daripada lembaga 'Agustiani'.
Lukas, yang mengenal jelas gereja Antiokhia di Siria, menempatkan pemakaian
pertama sebutan itu di sana. Bentuk Latinnya bukan halangan bagi pendapat
ini. Pasal itu menguraikan kejadian-kejadian pada tahun 40-an abad pertama
Masehi, dan ada pendapat bahwa penghambatan oleh Herodes Agripa pada waktu
itu menimbulkan nama 'Christian(o)i' sebagai kesejajaran dengan musuh-musuh
mereka, para 'Herodian(o)i'. Jika 'Agustiani' menjadi polanya, gelar itu
tidak dapat diciptakan sebelum 59 Masehi, dan Kisah Para Rasul 11:26 tak
dapat dipandang sebagai memastikan penanggalan asal mula gelar itu. Tapi ada
alasan untuk menghubungkan kejadian itu dengan apa yang mendahuluinya, sebab
Lukas baru saja menunjukkan bahwa Antiokhialah jemaat pertama dengan suatu
unsur murni non-Yahudi, bekas penyembah berhala; artinya: Antiokhialah
tempat pertama di mana orang-orang non-Yahudi melihat agama Kristen lain
dari mazhab Yahudi. Nama-nama yang cocok bagi orang-orang yang bertobat
pasti tidak lama kemudian muncul.
Bagaimanapun juga sebutan "Kristen" telah baku pada tahun 60-an. Herodes
Agripa yang licik memakainya pasti untuk menyindir Paulus. Petrus, mungkin
dari Roma, sebelum penghambatan oleh Nero, mengingatkan "para orang pilihan"
di bagian-bagian Asia Kecil, supaya seorang pun jangan malu jika dipanggil
untuk menderita sebagai Kristen. Nero melancarkan tuduhan-tuduhan palsu
terhadap suatu mazhab yang masyarakat umum 'sedang menyebutnya'
('appellabat' - bentuk masa kata kerjanya penting) "orang Kristen".
Kata 'Chrêmatisai' (terjemahan Bahasa Indonesia "disebut") dalam Kisah Para
Rasul 11:26 ditafsirkan bermacam-macam. Ada terjemahan "menyebut diri
mereka", berpendapat bahwa "Kristen" adalah sebutan yang diciptakan di
jemaat Antiokhia. Terjemahannya memang mungkin, tapi tidak harus begitu.
Agaknya lebih sesuai jika masyarakat non-Kristen Antiokhia-lah yang
menciptakan sebutan itu. Di lain tempat, memang masyarakat non-Kristenlah
yang menggunakan sebutan itu.
'Chrêmatisai' sering diterjemahkan "disebut di depan umum" untuk menunjuk
kepada perbuatan resmi dalam mendaftarkan mazhab baru di bawah nama
"orang-orang Kristen". (Pendaftaran dengan mudah akan menerangkan adanya
sebuah sebutan Latin). Tapi kata itu dapat dipakai lebih bebas, dan
barangkali Lukas bermaksud tidak lebih dari menunjukkan, bahwa sebutan itu
dipakai umum di kota pertama, di mana sebuah sebutan yang menunjukkan
perbedaan sangat diperlukan. Dari sini mungkin dengan cepat dan mudah
menjadi resmi dan umum.
Jika sebutan "Kristen" semula adalah nama ejekan, nama itu, seperti halnya
sebutan "Metodis" pada waktu yang lebih kemudian, diterima oleh mereka yang
diejek. Lama-kelamaan orang percaya harus menjawab pertanyaan "Apakah kamu
Kristen?" Tidaklah memalukan untuk menerima maksud sebuah nama kehinaan,
jika nama itu berisi Nama Juruselamat. Dan nama itu mempunyai kelayakan
tertentu: ia memusatkan perhatian kepada unsur yang membedakan di dalam
agama baru ini, yakni bahwa agama itu berpusat kepada Pribadi Kristus. Jika
nama 'Christos' tidak dimengerti oleh kebanyakan non-Kristen, dan mereka
kadang-kadang mengacaukannya dengan nama umum 'Chrêstos', yang berarti
"baik, baik hati", hal itu adalah 'paranomasia', permainan kata, yang dapat
dipakai untuk menghasilkan yang baik. Demikianlah dalam kepustakaan awal
abad 2, nama itu dipakai tanpa persoalan oleh uskup Kristen Ignatius (di
Antiokhia) dan oleh wali negeri Pliny (di daerah yang disebut dalam 1
Petrus).
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
> oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengena-kan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Se-muanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
Di dalam bagian ini ada gagasan yang penting, karena dalamnya ada definisi
Perjanjian Baru tentang kehidupan yang kekal. Mengenal Allah dan mengenal
Yesus Kristus yang telah diutus oleh-Nya adalah hidup yang kekal. Kata
Yunani untuk "kekal" adalah 'aionis'. Kata ini tidak banyak dihubungkan
dengan "lamanya" kehidupan, karena kehidupan yang berlangsung terus-menerus
tidak harus berarti suatu keuntungan. Artinya yang pokok adalah "kualitas"
kehidupan. Hanya ada satu oknum kepada siapa kata 'aionis' dapat diterapkan
secara tepat, dan itulah Allah. Oleh karena itu kehidupan yang kekal tidak
lain adalah kehidupan Allah sendiri. Memiliki dan memasukinya, berarti
mengalami di sini dan sekarang secercah dari kesemarakan, dan kebesaran,
kesukaan, damai, dan kesucian yang kesemuanya tak dapat dipisahkan dari
kehidupan Allah.
"Mengenal Allah" adalah suatu gagasan yang khas dari Perjanjian Lama. Hikmat
itu adalah "pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya" (Amsal 3:18).
"Mengenal kuasa-Mu", kata pengarang kata Hikmat, "adalah akar kekekalan"
(Hikmat 5:3). "Tetapi orang benar diselamatkan oleh pengetahuan" (Amsal
11:9). Impian Habakuk mengenai zaman keemasan ialah "bahwa bumi akan penuh
dengan pengetahuan tentang kemuliaan Tuhan" (Habakuk 2:14). Nabi Hosea
mendengar suara Allah berkata kepadanya, "Umat-Ku binasa karena tidak
mengenal Allah" (Hosea 4:6). Dalam suatu buku tafsiran Rabi ditanyakan, ayat
manakah dalam Alkitab yang paling pendek tapi yang dalamnya tercakup semua
pokok penting hukum Taurat? Jawabnya Amsal 3:6, yang berarti secara harfiah,
"Kenallah Dia, maka Dia akan menuntut jalanmu." Ada lagi uraian Rabinis yang
mengatakan bahwa nabi Amos telah meringkaskan semua perintah-perintah dari
Hukum Taurat menjadi satu hukum, ketika ia berkata, "Carilah Aku, maka kamu
akan hidup!" (Amsal 5:4), karena "mencari" Allah berarti mencari untuk
"mengenal" Dia. Guru-guru orang Yahudi sejak dahulu menyatakan dengan tegas
bahwa untuk hidup yang sejati perlu ada pengelan akan Allah. Apakah artinya
mengenal Allah?
[1] Tentu perlu ada unsur pengetahuan secara intelektual. Hal itu berarti
bahwa setidak-tidaknya mengetahui sebagian tentang bagaimanakah Allah itu
sangat penting. Ambillah dua contoh. Orang-orang penyembah berhala percaya
kepada sejumlah ilah. Tiap bukit, pohon, sungai, gunung, selokan, mempunyai
ilah dan rohnya; semua roh itu bermusuhan dengan manusia; dan orang-orang
itu selalu takut kepada ilah-ilah itu; mereka senantiasa hidup dalam
ketakutan berbuat salah kepada salah satu ilah itu. Para misionaris
menceritakan betapa berartinya kelepasan yang datang kepada mereka tatkala
mereka mengetahui bahwa "hanya ada satu Allah". Pengetahuan yang baru ini
telah menyebabkan perubahan besar dalam hidup mereka. Selanjutnya, sesudah
mereka mengetahui bahwa Allah tidaklah keras dan kejam, melainkan kasih,
maka sikap hidup mereka berputar 180°.
Sekarang mereka mengetahui semua ini, tetapi mereka tidak pernah
mengetahuinya kalau Yesus tidak datang untuk menyatakannya. Mereka memasuki
hidup yang baru, mereka mendapatkan sedikit bagian dari hidup Allah sendiri,
melalui pekerjaan Yesus, mereka mengetahui bagaimanakah Allah itu.
Mengetahui, bagaimanakah Allah itu, adalah kehidupan yang kekal.
[2] Akan tetapi ada sesuatu lagi. Perjanjian Lama biasanya menggunakan kata
"mengetahui" (mengenal) untuk kata (maaf) berhubungan-intim. Adam mengenal
Hawa isterinya, lalu Hawa menjadi hamil dan melahirkan Kain (Kejadian 4:1).
Nah, pengenalan suami-isteri merupakan hal yang paling intim yang bisa
terjadi. Suami dan isteri tidak lagi dua; mereka merupakan satu daging.
Hubungan-intim itu pada dirinya bukanlah hal yang penting; hal yang paling
penting ialah adanya keintiman hati, pikiran, dan jiwa di dalam cinta-kasih
sejati yang mendahului tindakan hubungan-intim itu. "Mengenal" Allah, oleh
karenanya, tidak hanya mempunyai pengetahuan intelektual tentang Dia;
melainkan mempunyai hubungan pribadi yang intim dengan Dia, sama seperti
hubungan yang paling dekat dan mesra dalam hidup. Sekali lagi, tanpa Yesus,
hubungan intim semacam itu dengan Allah tidak akan mungkin dan tidak dapat
dibayangkan. Yesus-lah yang mengajarkan kepada manusia bahwa Allah tidaklah
jauh dan tentu dapat didekati; tetapi Bapa yang nama dan sifat-Nya adalah
kasih.
Mengenal Allah berarti mengetahui bagaimana Allah itu dan mempunyai hubungan
yang intim dengan Dia dan kedua hal itu tidaklah mungkin tanpa Yesus
Kristus.
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
[17] "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum
Taurat, atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya,
melainkan untuk menggenapinya.
[18] Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit
dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum
Taurat, sebelum semuanya terjadi.
[19] Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat
sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain,
ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi
siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat,
ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.
[20] Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar
daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajasn Surga."
Ayat-ayat dalam Matius 5:17-20 pada mulanya menimbulkan kesulitan penafsiran
bagi umat Kristen karena nampaknya menuntut supaya Taurat Perjanjian Lama
diterima dengan utuh walaupun ini tidak dilakukan dalam jemaat pertama dan
ternyata juga tidak dianjurkan dalam bagian lanjutan Khotbah di Bukit.
Justru kesulitan itulah yang membuat umat Kristen segan menganggapnya
sebagai tidak asli. Juga tidak ada dasar objektif untuk menyebut ayat 19
sebagai "polemik anti-Paulus". Pada dasarnya ayat-ayat itu nampaknya
mengkritik orang Farisi dengan suatu peringatan terhadap bahasa
antinomianisme.
Ayat 17 "Janganlah kamu menyangka"; barangkali beberapa dari tindakan Yesus
yang terdahulu membuat mereka punya persangkaan ini - bisa dibandingkan
dengan Markus 2:23-28 yaitu tentang murid-murid Yesus memetik gandum pada
hari Sabat. "Meniadakan" dapat berarti "memecahkan" kesatuan antara "hukum
Taurat" dan "Kitab Para Nabi" sebagai satu kesatuan yang diberikan Allah.
"Menggenapi" - dari bahasa Yunani 'pleroo' - barangkali lebih baik diartikan
dengan "memberi arti yang sepenuhnya", daripada "menaatinya".
Ayat 18. Ada ahli-ahli yang mencoba mengartikan ini sebagai sikap orang
Farisi, tapi pendapat ini nampaknya tidak wajar. "Iota" barangkali adalah
huruf Ibrani 'yôd' yang sering boleh saja dihilangkan. "Titik" barangkali
adalah garis-garis kecil dalam huruf Ibrani tertentu, tapi mungkin juga
berarti huruf Ibrani 'waw' yang juga dapat dihilangkan. "Selama belum lenyap
langit dan bumi" berarti "pada masa ini", menekankan keabadian Taurat.
"Ditiadakan" - dari bahasa Yunani - 'parerchomai' - adalah kata yang sama
dengan "lenyap". "Semuanya terjadi": kata Yunani 'ginomai' sering dipakai
dalam Injil Matius untuk sesuatu yang terjadi sebagai penggenapan nubuat.
Ayat 24:34, 35 sejajar dengan ayat 18 ini dimana 'ginomai' dan 'parerchomai'
sama-sama dipakai. Boleh dikatakan, maksudnya ialah bahwa pada masa ini
tidak ada yang akan dilenyapkan dari Perjanjian Lama sampai semua yang
dinubuatkan dalam Perjanjian Lama tentang Mesias sudah terjadi, dengan
begitu artinya yang sepenuhnya sudah nyata.
Ayat 19 memperluas prinsip-prinsip itu, dari apa yang "digenapi" dengan
datangnya Kristus ke sikap murid-murid terhadap hukum Taurat. "Meniadakan"
("memperlunak"): Inilah yang dianggap oleh sekte Qumran dan sekte-sekte lain
yang dilakukan oleh orang Farisi. Dengan cara penafsiran mereka yang
kasuistis, mereka membuat hukum Taurat itu dapat gampang dilaksanakan dan
karenanya memperlemah (memperlunak) kuasa moral hukum Taurat itu. "Segala
perintah" menunjuk kepada hukum Taurat Perjanjian Lama, tapi mungkin juga
"segalanya" menunjuk kepada hal-hal yang segera menyusul, yakni tafsiran
Kristus yang lebih dalam tentang hukum Taurat, yang menunjukkan jalan kepada
penggenapan yang sesungguhnya. "Menduduki tempat yang paling rendah...
menduduki tempat yang tinggi" artinya secara harfiah, "akan disebut tak
berarti... akan disebut besar".
Ayat 20. Di sini padanan "kebenaran" (Terjemahan Lama) lebih tepat daripada
"hidup keagamaan". Keagamaan berbau inisiatif manusia dan berpusat pada
kegiatan manusia, justru kurang tepat menggambarkan syarat masuk surga.
"Lebih benar": lebih benar, bukan lebih besar! Ahli-ahli Taurat adalah
orang-orang yang menganggap dirinya sebagai pengajar hukum Taurat, dan
Farisi adalah orang-orang yang mengaku mengerjakan hukum Taurat. Masuk ke
dalam Kerajaan Surga bergantung pada hubungan yang baru dengan Allah yang
harus diperlihatkan dalam kehidupan dan ajaran yang bersifat kedalaman dan
kuasa yang baru.
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
• Kejadian 17:9-11, 14, "Lagi firman Allah kepada Abraham: 'Dari pihakmu,
engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.
Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu
serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian
antara Aku dan kamu... Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang
tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara
orang-orang sebangsanya; ia telah mengingkari perjanjian-Ku."
Praktek sunat yang sudah lebih dahulu terdapat di antara bangsa-bangsa lain,
dipakai untuk menandakan orang dimasukkan ke dalam perjanjian Abraham.
Artinya yang berlangsung telah diketahui dari fungsinya pada waktu
ditetapkan. Perjanjian-perjanjian itu diteguhkan dengan sumpah; kutuk sumpah
itu ditunjukkan di dalam upacara-upacara simbolis. Suatu kutuk yang lazim
ialah "pemotongan" (penyerahan) orang yang ditaklukkan untuk dibinasakan dan
peniadaan nama dari benihnya. Yang menyertai tindakan ini adalah suatu
upacara dengan pisau yang melambangkan orang yang tidak memenuhi perjanjian
akan dipotong-potong. Demikianlah sunat adalah suatu upacara pisau yang
dengannya perjanjian Abraham "dipotong".
Ayat 14 menunjukkan bahwa upacara itu melambangkan kutuk pemotongan atau
pemisahan dari persekutuan perjanjian. Lebih tepat lagi, pemotongan kulup
kelamin lelaki melambangkan pemotongan para keturunan. Pada pihak lain,
sebagai tanda sumpah mengakui ketuhanan Allah, maka sunat juga menandai
pengudusan. Perjanjian dengan orang taklukan pada zaman purba meliputi;
kecuali raja yang ditaklukkan itu, juga kerajaannya dan keturunannya.
Demikian juga Tuhan memberikan perjanjian-Nya kepada Abraham, bukan hanya
sebagai seorang pengku iman secara perorangan, melainkan sebagai kepala
suatu masyarakat, dalam hal ini, suatu rumah tangga keluarganya, termasuk
anak-anak dan hamba-hamba, dan hal itu diteruskan hingga
keturunan-keturunannya.
Sunat dihisabkan ke dalam ajaran Musa terkait dengan Paskah, dan agaknya
diteruskan sepanjang zaman Perjanjian Lama. Sunat menjadi ciri asasi
Yudaisme dalam Perjanjian Baru dan menimbulkan pertentangan pada zaman para
rasul. Masyarakat Yahudi pada zaman Perjanjian Baru mengaitkan sunat dengan
Musa begitu rupa, sehingga mereka melupakan kaitannya yang lebih asasi
dengan Abraham.
• Kisah Para Rasul 15:1, "Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan
mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: 'Jikalau kamu tidak disunat
menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat
diselamatkan.'"
• Kisah Para Rasul 15:5, "Tetapi beberaogn orang dari golongan Farisi, yang
telah menjadi percaya, datang dan berkata: 'Orang-orang bukan Yahudi harus
disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.'"
Yesus telah mengingatkan mereka bahwa sunat adalah lebih dahulu dari Musa.
Paulus menekankan bahwa yang tak dapat diterima agama Kristen ialah
pandangan umum yang menghubungkan sunat dengan Musa, dan senantiasa
mengarahkan pembacanya kembali kepada Abraham.
Kejadian 17 menunjukkan bahwa sunat pertama-tama mewujudkan tanda rohani;
kedua, mempunyai arti kebangsaan. Bahwa sunat bersifat kebangsaan, yang
mencirikan keanggotaan bangsa Israel, tidak dapat disangkal. Hal ini memang
sama jelasnya dalam Kejadian 34 seperti juga setelah Musa. Tapi sifat
kebangsaan itu sebenarnya hanyalah dampak sampingan, karena umat Israel
pemilik sunat itu disamakan dengan bangsa Israel Perjanjian Lama. Dalam
Kejadian 17:10-14 sunat disamakan dengan perjanjian yang dibuat oleh
Abraham. Artinya, sunat menandai gerakan yang penuh kasih karunia dari Allah
menuju manusia, dan hanya secara sekunder saja dapat dikatakan menandai
penyerahan manusia kepada Allah. Ketika bangsa itu mengembara di padang
gurun karena tidak diperkenankan Allah, perjanjian itu seolah-olah ditunda
dan sunat tidak diberlakukan. Lagi, ketika Musa berbicara tentang "seorang
yang tidak petah lidaknya" (harfiah "tak bersunat"), hanya karunia firman
Allah yang dapat menyembuhkannya. Selanjutnya, Perjanjian Lama berbicara
tentang sunat sebagai "meterai" atau pemberian kebenaran dari Allah. Karena
itu sunat menjadi tanda dari kasih karunia dimana Allah memilih dan menandai
orang-orang milik-Nya.
Perjanjian sunat bekerja atas dasar kesatuan rohani antar anggota rumah
tangga dan kepalanya. Perjanjian itu diadakan "antara Aku dan engkau serta
keturunanmu turun-temurun". Kejadian 17 ayat 26 dan 27 khususnya
mengungkapkan kebenaran yang sama: "Abraham... Ismael... dan semua orang
dari isi rumah Abraham... disunat bersama-sama dengan dia." Demikianlah asal
mula dan caranya sunat menjadi adat Israel, bukan diterima dan berasal dari
Mesir atau negeri-negeri lain. Sunat Israel tegas berbeda dari sunat pada
bangsa-bangsa lain yang terkait dengan "berjenjang dewasa", dan melulu
bersifat sosial. Sunat Israel adalah pertanda kedudukan di hadirat Allah,
dan bahwa kasih karunia ilahi mendahului perbuatan manusia.
Mereka yang dengan cara demikian menjadi anggota perjanjian diwajibkan
menyatakannya secara lahiriah dengan menaati hukum Allah, seperti dengan
tegas ditunjut kepada Abraham, "Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak
bercela". Hubungan antara sunat dan ketaatan ditekankan sepanjang Alkitab.
Dalam hal ini sunat mengandung gagasan penyerahan diri kepada Allah, tapi
bukan inilah intinya. Sunat menjelmakan, menerapkan janji, dan menghimbau
orang untuk hidup dalam ketaatan sesuai perjanjian. Darah yang tumpah dalam
sunat tidak menyatakan batas penyerahan diri itu, tapi mengungkapkan
tuntutan yang mahal yang dibuat Allah bagi mereka yang dipanggil-Nya, dan
dicirikan dengan tanda perjanjian-Nya.
Tanggapan taat ini tidak senantiasa muncul. Dan sekalipun tanda dan caranya
disamakan dalam Kejadian 17:10-14, namun Alkitab terus terang mengakui,
bahwa bisa saja orang memiliki tanda sunat, tapi tidak lebih dari itu. Jika
demikian, tanda itu tak berarti secara rohani, melainkan menjadi tanda
hukuman. Perjanjian Lama jelas mengajarkan hal itu, justru menuntut realitas
penerapannya sesuai tanda itu, dan mengingatkan bahwa tanpa kenyataan itu
maka tanda sunat sepi arti, dan menubuatkan sunat hati oleh Allah.
Perjanjian Baru tegas dan pasti: bahwa tanpa ketaatan, sunat adalah melulu
omong kosong. Tanda lahiriah pudar tanpa arti jika dibandingkan dengan
menaati perintah-perintah, iman bekerja oleh kasih, dan suatu ciptaan baru.
Namun orang Kristen tidak bebas memandang rendah tanda itu. Walaupun sejauh
tanda itu mengungkapkan keselamatan karena perbuatan-perbuatan hukum, orang
Kristen harus menghindarinya, namun dalam arti batiniah orang Kristen
memerlukannya. Justru ada "sunat Kristus", berupa "penanggalan akan tubuh
(dan bukan hanya sebagian) yang berdosa", suatu perbuatan rohani, yang tidak
dilakukan oleh tangan manusia, suatu hubungan dengan Kristus dalam kematian
dan kebangkitan-Nya, dimeteraikan oleh peraturan penerimaan atas perjanjian
baru. Sebagai akibatnya, orang Kristen ialah "orang bersunat".
• Filipi 3:3, "karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh
Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada
hal-hal lahiriah."
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
WeShackEm!
Cicak bin Kadal <ci...@kadal.com> wrote in message
news:Lz2J4.9180$15.84848@news...
> TENTANG SUNAT
>
> . Kejadian 17:9-11, 14, "Lagi firman Allah kepada Abraham: 'Dari pihakmu,
> . Kisah Para Rasul 15:1, "Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia
dan
> mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: 'Jikalau kamu tidak disunat
> menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat
> diselamatkan.'"
> . Kisah Para Rasul 15:5, "Tetapi beberaogn orang dari golongan Farisi,
• Imamat 11:7, "Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu
kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu."
Imamat 11:1-47 adalah tentang najis karena binatang. Pokok ini dibicarakan
di bawah dua aspek: binatang hidup sebagai bahan makanan, dan hubungan
dengan bangkai binatang, sedangkan ayat 1-23 membicarakan persoalannya
ditinjau dari sudut makanan. Ayat-ayat ini menentukan daging mana yang boleh
dimakan dan tidak. Empat golongan di beda-bedakan.
Di antara binatang berkaki empat, hanya binatang-binatang yang berkuku belah
dan memamah biak yang boleh dimakan. Peraturan ini ditetapkan secara teliti,
dan setelah itu disebutkan empat contoh dari binatang yang tidak memenuhi
syarat: unta, pelanduk, kelinci dan babi hutan. Kelinci bukanlah binatang
pemamah biak, demikian juga pelanduk. Keduanya adalah binatang pengerat atau
pengerikit, tapi kenyataannya rahang binatang ini senantiasa bergerak
sebagai memamah biak. Ini jelas menunjukkan bahwa penguraian itu bukan
dimaksudkan sebagai pembatasan yang bersifat ilmiah, melainkan penguraian
sederhana dan praktis. Binatang yang tidak haram tidak disebutkan di sini,
tapi Ulangan 14:4 dalam mendaftarnya menambahkan kepada ketiga binatang
piaraan (lembu, domba dan kambing), tujuh binatang buas yang termasuk rumpun
pemamah biak. Bagi rata-rata orang Israel, peraturan ini membatasi makan
daging terutama binatang piaraan yang dapat dipakai dalam korban.
Yesus telah mencabut segala peraturan imamat mengenai makanan dan
praktek-praktek yang najis dalam Matius 15:1-20. dalam terang mana Petrus
diperintahkan supaya berbuat, dan Paulus mengumumkan dengan resmi peraturan
tentang tingkah laku kristiani. Titik berat bahwa satu-satunya kenajisan
(haram) yang berarti penting secara agamawi ialah kenajisan hati nurani.
Obatnya adalah korban Kristus, yang dipersembahkan dalam dunia kerohanian.
• Matius 15:11, "Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang
menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan
orang."
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
• Imamat 10:9, "Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau
serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan
kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun."
Imamat 10:1-20 menulis tentang pelanggaran hal yang kudus dan akibatnya.
Dalam bagian yang historis ini pemberitaan tentang penahbisan Harun dan
anak-anaknya itu segera disusul oleh pemberitaan tentang pelanggaran yang
mengakibatkan kematian yang menyedihkan dari kedua anak Harun yang tertua
yang menyaksikan kemuliaan TUHAN di atas gunung.
Penting dalam hubungan ini ialah penyataan dan larangan yang secara langsung
diberikan kepada Harun dan bukan kepada Musa. Paling sedikit adalah mungkin,
sekalipun sama sekali tidak pasti, bahwa dari pemberian hukum yang melarang
penggunaan anggur atau minuman keras oleh imam yang melayani, harus diambil
kesimpulan bahwa Nadab dan Abihu (putra Harun) berbuat seperti yang telah
dilakukan itu karena mereka mabuk. Bagaimanapun keterangannya, kejadian ini
adalah suatu peringatan serius terhadap tiap dosa kelancangan, penonjolan
diri dan sembrono.
Mengenai anggur dan minuman keras itu sendiri, di antara sejumlah kata
searti yang digunakan dalam Perjanjian Lama, yang paling lazim ialah 'yayin'
(biasanya diterjemahkan "anggur") dan 'syekhar' (biasanya diterjemahkan
"minuman keras"). Kedua istilah itu sering dipakai bersama-sama, dan
keduanya digunakan oleh penulis entah untuk memuji anggur dan menimuman
keras atau untuk mengingatkan bahaya-bahayanya. Kata ketiga ialah 'tirosy',
yang kadang-kadang diterjemahkan "anggur baru" atau "anggur manus",
seringkali dipandang sebagai anggur tanpa ragi, justru tidak memabukkan;
tapi pemakaian kata itu dalam Hosea 4:11, juga pemakaiannya dalam Talmud,
menjelaskan bahwa kata itu dapat berarti jelek, sama dengan kata-kata
lainnya. Selanjutnya, meskipun ada buah anggur yang diperas dan dituangkan
ke dalam piala dan segera dihidangkan, namun penting bahwa istilah "anggur"
tidak pernah dipakai untuk sari yang dihasilkannya.
Istilah "anggur baru" tidak menunjuk kepada anggur yang diramu tanpa ragi,
sebab sebenarnya proses peragian bereaksi sangat cepat, dan anggur tanpa
ragi tidak mungkin diperoleh berbulan-bulan setelah panen. Istilah itu lebih
menunjuk kepada tetesan pertama sari buah anggur sebelum tempat pemerasan
anggur diinjak-injak. Anggur tetesan pertama sangat keras, dan serta-merta
menimbulkan dalam pikiran suatu penjelasan tentang keadaan mabuk. Kebiasaan
modern di Palestina, di tengah suatu umat yang sangat konservatif sejauh
terkait dengan pesta agamawi, ada kesan bahwa anggur yang dipakai adalah
beragi. Justru dapat dikatakan bahwa dalam memakai berbagai kata, Alkitab
tidak membuat perbedaan secara tetap antara kata-kata yang searti itu.
Tentu, di suatu lahan dan iklim yang sangat cocok untuk menanam anggur,
sering anggur dihubungkan dengan gandum, dan keduanya menggambarkan
persediaan pangan dan penunjang hidup yang sejahtera, cukup dan memadai.
Karena itu anggur dan gandum dapat dijanjikan sebagai perolehan berkat
Allah, dan kedua hasil panen itu akan diterima Allah bila dipersembahkan
kembali di atas mezbah. Tapi, sebagai disiplin, anggur dan minuman keras
dapat ditolak bila perlu, seperti umpamanya manakala seseorang mengambil
bagian dalam pelayanan imamat (Iamamat 10:9 di atas), atau dalam hal orang
Nazir selama masa nazarnya.
Memantangkan anggur seperti dilakukan oleh orang-orang Rekhab adalah kasus
yang berbeda, sebab pemantangan mereka adalah terkait dengan upaya terus
hidupmengembara dan tinggal di tenda-tenda. Penolakan mereka terhadap anggur
bukan karena bahaya penyalahgunaannya, melainkan karena anggur dan minuman
keras menuntut penyediaan lahan kebun anggur, menanam benih, dan pembuatan
rumah tinggal menetap. Tapi cukup bukti, bahwa dalam kehidupan para petani,
bahaya-bahaya minuman keras sangat jelas. Peringatan-peringatan kitab Amsal
jelas, dan dalam zaman Yesaya bahkan imam-imam pun terjerat.
Kedua segi anggur - kegunaannya dan bahayanya, manfaatnya dan kutuk yang
diakibatkannya, berterima di mata Allah dan dibenci dicatat dalam Perjanjian
Lama, sehingga anggur dapat menyukakan hati manusia atau menyebabkan
pikirannya keliru. Anggur dapat dihubungkan dengan keriangan hati atau
dengan kemarahan. Anggur dapat menyingkap yang memalukan pada Nuh atau, di
tangan Melkisedek, untuk menghormati Abraham.
Dalam pemakaiannya secara kiasa mengacu kepada watak khas yang sama. Anggur
dapat menggambarkan apa yang Allah sendiri telah sediakan, dan apa yang akan
Dia berikan kepada sebanyak orang yang mau menerimanya dari tangan-Nya; tapi
pada segi lain, anggur menggambarkan pengaruh keunggulan Babel yang
memabukkan dan yang membawa kehancuran.
Kata "anggur" yang lazim dalam Perjanjian Baru ialah kata Yunani 'oinos'.
Satu kali muncul kata 'sikera', "minuman keras", kata pinjaman dari bahasa
Semit, dan satu kali 'gleukos', "anggur baru". Kata yang terakhir secara
harfiah berarti "anggur manis"; anggur tahun ini belum ada, tapi ada cara
untuk menjaga anggur tetap manis sepanjang tahun.
Acuan-acuan dalam Perjanjian Baru lebih kecil jumlahnya, tapi, sekali lagi,
segi-segi baik dan buruknya sama jelasnya, dan banyak hal yang dicatat dalam
Perjanjian Lama mempunyai imbangannya dalam Perjanjian Baru.
Yohanes Pembaptis harus memantangkan anggur karena tugasnya yang khusus,
tapi bukan berarti bahwa pada dirinya anggur adalah jahat. Yesus bukan saja
hadir pada pernikahan di Kana di tanah Galilea, tapi ketika anggur habis Dia
sendiri menyediakan anggur lagi dalam jumlah yang luar biasa. Di kemudian
hari, kesediaan-Nya untuk makan dan minum bersama para pemungut cukai dan
orang-orang berdosa, menimbulkan dakwaan bahwa Dia rakus dan peminum anggur.
Penolakan Yesus untuk minum anggur yang diberikan kepada-Nya pada
penyaliban-Nya sesuai dengan kebiasaan Yahudi, tidak didasarkan pada
penolakan atas anggur sebagai anggur, melainkan disebabkan oleh ketetapan
hati untuk mati dengan pikiran yang murni dan jernih. Kemudian Dia menerima
anggur (cuka) yang merupakan minuman biasa bagi pekerja di ladang dan bagi
tentara dari kelas rendah.
Lebih dari satu kali Yesus memakai anggur untuk melukiskan ajaran-Nya.
Markus 2:22 menunjuk pada praktek menempatkan anggur baru ke dalam kantong
kulit baru, dan menekankan ketidakmungkinan untuk melakukan yang lain. Para
penafsir berbeda pendapat mengenai makna perumpamaan ini. Sebab, kalau
anggur yang jelas menunjuk pada bekerjanya ajaran baru Kristus yang hidup
dan berkuasa, maka kantong kulit yang pecah dapat menunjuk baik pada
bentuk-bentuk konvensional tertentu atau keseluruhan sistem Yudaisme maupun
pada hati manusia, yang kesemuanya itu membutuhkan penataan kembali sesuai
tantangan zaman baru yang telah datang. Sayang, kelompok Farisi tidak mau
membuat perubahan-perubahan yang memang harus terjadi karenanya, dan dengan
keras kepala berpegang pada sistem yang padanya nafkah mereka bergantung.
Dalam Perjanjian Baru kata "anggur" dipakai lagi secara kiasan dalam arti
baik maupun jelek. Arti yang terakhir terdapat beberapa kali dalam Wahyu,
untuk melukiskan penduduk bumi sebagai telah dimabukkan oleh persundalan
Babel, sedangkan bumi itu sendiri mabuk dengan darah mereka. Pada lain
pihak, Paulus mendorong pembacanya untuk dipenuhi dengan Roh berlawanan
dengan keadaan mereka yang mabuk karena anggur. Ada kesamaan tertentu
anatara kedua keadaan itu, yang dapat dijadikan dasar pertimbangan yang
mungkin sekali telah membawa Paulus mengungkapkan pikirannya dengan cara
demikian. Pasti ada banyak orang yang pada hari Pentakosta mengartikan
tanda-tanda Roh sebagai tidak lain dari akibat minuman keras. Penafsiran
yang sama telah diberikan jauh sebelumnya atas gerak bibir Hana sewaktu ia
berdoa di depan eli. Karena dianggap kesalahan maka Eli lebih cepat marah
kepada Hana ketimbang kepada anak-anaknya sendiri, padahal kesalahan
merekalah yang sesungguhnya kesalahan.
Paulus mendorong Timotius untuk minum anggur sedikit karena anggur
mengandung daya medis. Tapi dalam Surat-surat Penggembalaan diakui
bahaya-bahaya dari pemakaian anggur secara berlebihan; para penjabat yang
dengan cara apapun mengemban tugas pimpinan dalam jemaat Kristen, baik
laki-laki maupun perempuan, secara khusus diperingatkan mengenai kesalahan
itu, yang tidak akan cocok dengan tugas mereka. Kesalahan itu teristimewa
tidak patut dalam gereja, sebab benar bahwa mabuk adalah pertanda umum sikap
tidak peduli terhadap hal-hal rohani, dan pertanda sikap tak acuh terhadap
kedatangan kembali Kristus, dan hal itu harus lebih disesalkan khususnya di
meja Tuhan, sebab menyatakan bukan saja roh yang sama sekali tidak peduli
terhadap Allah, tapi roh yang sangat sembrono terhadap persekutuan Kristen.
Kesimpulan, meskipun anggur tidak dikutuk sebagai tanpa faedah, namun anggur
bagi orang-orang berdosa mendatangkan bahaya-bahaya tak terkendalikan,
sehingga bahkan mereka yang menganggap diri kuat akan arif memantangkan
minuman keras, toh kendati bukan demi dirinya sendiri, demi saudara-saudara
yang lebih lemah. Memang benar, ada banyak hal lain yang dapat
disalahgunakan di samping anggur, tapi anggur telah sering terbukti penuh
bahaya, sehingga Paulus menyebutnya sekaligus ketika ia meletakkan asas
umum. Bahwa asas ini terkait dan relevan diterapkan pada masa kini, tidak
dipermasalahkan di antara orang-orang yang memikul tanggung jawab Kristen
dengan sungguh-sungguh.
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
Bahasa Perjanjian Lama yang agak konkret memakai istilah "lutut yang lemas"
untuk menggambarkan kelemahan dan ketakutan atau istilah "lutut goyah". Ada
15 ayat dalam Perjanjian Baru, kecuali Ibrani 12:12, selalu memakai
kata-kata itu dalam hubungan dengan membungkuk. Sikap ini dapat menunjukkan
rasa hormat atau tunduk ("membengkokkan lutut dari hatimu") atau pemujaan
agamawi atau ibadah. Dalam pengertian terakhir, berlutut kadang-kadang
merupakan sikap doa.
• Lukas 22:41, "Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar
batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya:"
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya.
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub
as.(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
Betul apa nggak begitu?
>Subject: Re: MEREKA PENGIKUT PAULUS, BUKAN YESUS
>From: "Cicak bin Kadal" ci...@kadal.com
>Date: 4/14/00 8:50 PM Pacific Daylight Time
>Message-id: <si2K4.9395$15.87854@news>
• Matius 14:19, "Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan
setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit
dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti dan memberikannya kepada
murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang
banyak."
• 1 Timotius 2:8, "Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang
laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa
perselisihan."
Di semua jemaat biasanya seboleh-bolehnya laki-lakilah yang memimpin dalam
doa, dan mereka yang melaksanakannya hendaknya mawas diri dalam
pelaksanaannya dengan layak. Begitu juga wanita Kristen haruslah menjauhkan
diri dari perhiasan boros dan supaya berusaha terpuji karena
pekerjaan-pekerjaan baik. Mereka hendaknya memperlihatkan penahanan diri
serta pendiam dan tunduk hati dan kesediaan belajar dalam kerendahan hati,
jangan menonjolkan diri hendak mengajar. Tempat yang layak bagi wanita dalam
hubungannya dengan pria telah dijelaskan dengan aturan asli dalam
penciptaan; dan ketidakcakapannya sebagai pemimpin atas pria telah
digambarkan dengan cara, bagaimana Hawa telah diperdaya dan bagaimana dia
telah melanggar perintah Allah. Panggilan wanita yang khusus adalah untuk
keibuan; dan biarpun ada kesakitan dan bahaya dalam melahirkan anak, wanita
akan diantar dengan selamat, apabila mereka mengandalkan tuntutan-tuntutan
Injil itu dengan sepenuhnya.
Paulus memberikan bimbingan berwibawa yang harus dipakai di segala tempat,
yaitu 'di mana-mana' orang Kristen berkumpul untuk beribadat. 'Menadahkan
tangan' adalah cara yang lazim dari sikap berdoa. Syarat-syarat berdoa; yang
tepat adalah 'tangan yang suci', yaitu kemurnian pribadi dan kebebasan dari
maksud jahat terhadap orang lain.
Ajaran Yesus tentang doa, secara asasi diuraikan dalam
perumpamaan-perumpamaan-Nya yang tertentu. Dalam perumpamaan mengenai teman
meminjam tiga potong roti tengah malam, Yesus menekankan keadaan
keterdesakan dan kesungguhan dalam doa. Dan dasar yang diatasnya hal ini
dibangun ialah kebaikan Allah Bapa. Perumpamaan tentang hakim yang lalim
menantang orang untuk terus berdoa, mencakup ketekunan dan kesinambungan.
Bahwa Allah tidak serta merta menjawab doa bukanlah karena tak acuh,
melainkan karena kasih yang ingin mengembangkan dan memperdalam iman yang
pada akhirnya akan dibenarkan.
Dalam perumpamaan tentang pemungut cukai dan Farisi, Kristus menuntut
kerendahan hati dan penyesalan dalam doa, dan mengingatkan bahaya
mengagungkan diri. Merendahkan diri dalam doa berarti diterima oleh Allah,
meninggikan diri dalam doa berarti menutupi wajah Allah. Kristus mengajarkan
kasih dalam doa pada perumpamaan hamba yang tak adil. Doa yang dijawab Allah
ialah doa yang dinaikkan oleh roh yang suka mengampuni. Doa harus
dibersihkan dari segala kepura-puraan atau kepalsuan. Doa harus lahir dari
kesederhanaan hati dan motivasi yang lugu, serta mengukapkan diri dalam
kesederhanaan ucapan dan permohonan.
Yesus juga menuntut intensitas dalam doa. Jika sekelompok orang Kristen yang
memiliki pikiran Kristus berdoa dalam Roh Kudus, doa mereka akan dikabulkan.
Tapi doa juga harus penuh pengharapan. Doa bersifat percobaan mendapat
sedikit; doa berdasarkan iman yang bekerja dalam penyerahan kepada kehendak
Allah mendapat banyak.
Mengenai sasaran-saran doa, Yesus tidak banyak berbicara. Ia puas dengan
membuat Roh Kudus memimpin murid-murid-Nya dalam doa. Mengenai cara berdoa,
Yesus mengajarkan dua hal penting. Pertama, kini doa harus dinaikkan
kepada-Nya, seperti dahulu ketika Ia masih ada di dunia. Seperti dahulu Ia
menuntut iman, menguji kesungguhan, membukakan ketidaktahuan dan menganggap
diri penuh dosa, pada mereka yang meminta kepada-Nya, demikianlah kini Ia
berbuat sama dalam pengalaman mereka yang menaikkan doa kepada-Nya.
Kedua, kini doa juga harus dinaikkan dalam nama Kristus, oleh-Nya umat
Kristen beroleh jalan masuk kepada Bapa. Berdoa dalam nama Kristus berarti
berdoa seperti Kristus sendiri berdoa, dan berdoa kepada Bapa seperti Anak
memperkenalkan Dia kepada kita; dan bagi Yesus, pusat yang sebenarnya dalam
doa ialah kehendak Bapa. Di sinilah sifat asasi bagi doa Kristiani: suatu
jalan masuk yang baru yang menuju kepada Bapa, yang dijamin Kristus bagi
orang Kristen, dan doa dalam keselarasan dengan kehendak Bapa karena
dinaikkan dalam nama Kristus.
Mengenai praktek doa Yesus, telah diketahui bahwa Ia berdoa secara
tersembunyi; pada waktu ada pertentangan rohani; dan di kayu salib. Dalam
doa-doa-Nya Ia mengucapkan syukur, mencari bimbingan, mengajukan syafaat,
dan bersekutu dengan Bapa.
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya.
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
• Keluaran 40:31, "Musa dan Harun serta anak-anaknya membasuh tangan dan
kaki mereka dengan air dari dalamnya."
Dalam hal ini, yang ditekankan ialah pengurapan (pengudusan) dan pembasuhan
dan pelantikan para imam (penyucian untuk memangku jabatan).
• Keluaran 3:5, "Lalu Ia berfirman, 'Janganlah datang dekat-dekat:
tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu,
adalah tanah yang kudus.'"
Ayat ini tidak ada hubungannya dengan melepaskan alas kaki dalam ibadah.
• 1 Raja-raja 8:44, 48, "Apabila umat-Mu keluar untuk berperang melawan
musuhnya, ke arah manapun Engkau menyuruh mereka, dan apabila merdeka berdoa
kepada TUHAN dengan berkiblat ke kota yang telah Kaupilih dan ke rumah yang
telah kudirikan bagi nama-Mu... apabila mereka berbalik kepada-Mu dengan
segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya di negeri musuh yang mengangkut
mereka tertawan, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke
negeri mereka yang telah Kauberikan kepada nenek moyang mereka, ke kota yang
telah Kaupilih dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu."
1 Raja-raja 8:1-66 mengenai penahbisan Bait Suci. Bagian ini adalah inti
bagian pertama dari 1 Raja-raja. Ayat 44 dan 45 adalah pidato Salomo bagi
umat pada waktu perang dan ayat 46-53 ditujukan bagi mereka yang kembali
dari tawanan.
Dalam Alkitab doa adalah kebaktian mencakup segala sikap roh manusia dalam
pendekatannya kepada Allah. Orang Kristen berbakti kepada Allah jika ia
memuja, mengakui, memuji dan mengajukan permohonan kepada-Nya dalam doa. Doa
sebagai perbuatan tertinggi yang dapat dilakukan oleh roh manusia, dapat
juga dipandang sebagai persekutuan dengan Allah, selama penekanannya
diberikan kepada prakarsa ilahi. Seseorang berdoa karena Allah telah
menyentuh rohnya. Dalam Alkitab doa bukanlah suatu "tanggapan wajar dari
manusia", karena "apa yang dilahirkan dari daging adalah daging". Sebagai
akibatnya, Tuhan tidak "mengindahkan" setiap doa. Ajaran Alkitab mengenai
doa menekankan sifat Allah, perlunya seseorang berada dalam hubungan
penyelamatan atau dalam hubungan perjanjian dengan Dia, lalu secara penuh
masuk ke dalam segala hak istimewa dan kewajiban dari hubungan dengan Allah,
jadi bukan ditekankan kepada membersihkan diri, melepaskan arah kaki atau
kiblat.
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya.
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
Adalah tuntutan adat untuk menguburkan seorang keturunan di kuburan keluarga
(gua atau lubang dalam krang); demikianlah Sara, Abraham, Ishak dan Rebeka,
Lea dan Yakub telah dikuburkan di gua Makhpela, sebelah timur Hebron.
Kadang-kadang orang terpaksa dikuburkan di tempat lain kalau ia meninggal
jauh dari kuburan keluarga, misalnya Debora dikuburkan dekat Betel dan Rahel
di jalan ke Efrata dan kuburan mereka ditandai dengan sebuah tugu dan pohon
besar. Tangisan, perkabungan dan pengenaan kain karung mungkin sampai tujuh
hari. Pembalseman Yakub dan Yusuf dan pemakaian peti bagi Yusuf sesuai
kebiasaan Mesir adalah luar biasa. Mumifikasi menuntut bahwa jeroan harus
dikeluarkan dan disimpan tersendiri, dan tubuh harus dikeringkan dengan
mengemasinya dengan garam. Kemudian tubuh itu dibungkus dengan kain lenan
yang telah diolah dan dibalut keseluruhannya di dalam kain lenan itu.
Pembalseman dan perkabungannya biasanya 70 hari, tapi waktunya pembalseman
bisa lebih pendek seperti pada Yakub.
Penguburan - juga tubuh orang jahat yang telah digantung - harus segera
dilakukan. Kontak dengan orang mati dan perkabungan yang formal mencemarkan
upacara. Perkabungan dengan menangis, mengoyakkan pakaian dan menguraikan
rambut diperolehkan bagi imam-imam keturunan Harun tapi tidak boleh bagi
imam agung atau bagi orang nazir di bawah sumpah. Yang tegas dilarang bagi
imam dan orang awam ialah melukai ("mengiris daging"), memotong tepi
janggut, memotong bersih alis di antara mata dan merajah tanda-tanda. Tidak
boleh makan persepuluhan dalam perkabungan atau mengorbankannya kepada orang
mati juga terlarang. Perbuatan-perbuatan seperti itu adalah adat orang kafir
Kanaan. Wanita-wanita yang tertangkap dalam perang boleh menangisi
orangtuanya satu bulan sebelum mereka kawin dengan orang yang menangkap
mereka. Bagi pemimpin nasional seperti Harun dan Musa diadakan perkabungan
nasional 30 hari sesudah mereka dikuburkan.
[I] Penguburan. Bila mungkin, orang dikebumikan di kuburan keluarga yang
diwarisi dari nenek moyang; demikianlah Gideon dan Simson, Asahel dan
Ahitofel, mungkin juga Saul. Penguburan di dalam rumah seperti Samuel dan
Yoab mungkin artinya sama, kecuali kalau arti harfiahnya adalah di bawah
rumah atau di bawah lantai. Jenazah dipikul di atas tandu. Apabila
penguburan tidak dapat dilaksanakan tepat pada waktunya, itu dianggap sangat
memalukan.
Kuburan biasanya di luar kota; ada sedikit bukti arkeologi tentang
kuburan-kuburan keluarga yang mempunyai ruang (atau beberapa ruang) yang
bentuknya tidak sama, dipahat pada batu karang dilengkapi dengan
bangku-bangku, dapat dicapai melalui jalan sempit dan rendah, daun pintunya
terbuat dari batu yang bentuknya sama dengan lubang pintunya. Sebna,
bendahara kaya, dijatuhi kutuk oleh Yesaya karena membuat kuburan yang besar
di batu karang. Pada upacara penguburan orang-orang mampu, barang
pecah-belah dan barang-barang lain diikutkan dengan jenazah, dimasukkan ke
dalam lubang kubur - demikian tradisi bangsa Kanaan. Tapi pada zaman Israel
hal itu menjadi sesuatu yang formal. Kadang-kadang di Israel dan di tempat
lain pada zaman kuno didirikan tugu peringatan. Di luar Yerusalem ada lahan
yang dikhususkan untuk kuburan masyarakat biasa.
Kuburan penjahat yang telah dihukum mati atau musuh, kadang-kadang ditandai
dengan timbulan batu, misalnya pendosa Akhan, pemberontak Absalom, raja Ai
dan kelima raja Kanaan. Membakar jenazah bukanlah kebiasaan bangsa Yahudi,
tapi dalam keadaan sukar jenazah mungkin dibakar, sedemikian rupa, sehingga
tulang-tulangnya dapat dikuburkan dalam kuburan keluarga, seperti halnya
Saul.
[II] Berkabung. Di Palestina pada milenium pertama, berkabung meliputi:
[1] penggundulan kepala dan pencukuran janggut
[2] melukai badan
[3] mengoyakkan pakaian dan mengenakan karung
[4] menebarkan debu di atas kepala dan berbaring dalam abu; dan
[5] menangis dan mengeluh.
Tidak semuanya ini diperbolehkan oleh hukum Taurat.
Kematian tokoh terkenal sering menimbulkan ratapan puitis. Demikianlah Daud
meratapi Saul dan Yonatan, Yeremia dan orang-orang lain meratapi Yosia.
Seusai penguburan hidangan kadang-kadang diberikan kepada para peratap. Api
besar kadang-kadang menandai penguburan raja Yudea.
Perkabungan berhubungan dengan penyesalan, atau disebabkan oleh kejadian
yang menyedihkan. Ada hunjukan pada "melukai" diri, menangis dan seterusnya
dalam upacara agamawi bangsa kafir atau upacara yang mengkafirkan seperti
perbuatan nabi-nabi Baal di Gunung Karmel dan perbuatan orang Israel yang
datang dengan persembahan bagi Allah. Yehezkiel melihat dalam wahyu
perempuan Yerusalem menangisi Tamuz; dan Yesaya melukiskan upacara kafir
dekat kuburan yang dikerjakan oleh orang Israel yang memberontak.
Adat Yahudi pada zaman Perjanjian Baru hanya berbeda sedikit dibandingkan
pada zaman Perjanjian Lama. Upacara pemakaman sebagai berikut: jenazah
dimandikan, kemudian diurapi, lalu dikenakan pakaian lenan berisi
wangi-wangian, dan akhirnya kaki dan tangan diikat dan wajah ditutupi dengan
serbet.
Menangis, meratap dan memukul-mukul dada adalah hal biasa di Timur Tengah,
dan terdapat juga dalam Perjanjian Baru. Seperti dalam Perjanjian Lama
mungkin juga para peratap dikerahkan. Mungkin Yesus tidak terlalu
mementingkan perkabungan yang penuh kegaduhan dan hanya menurut adat ini. Ia
sendiri menangis tenang dekat kuburan Lazarus. Pada masa ini waktu
perkabungan biasanya 7 hari. Tapi penguburannya dilaksanakan selekas mungkin
sesudah orang meninggal, biasanya pada hari itu juga.
Kuburan biasanya di luar kota. Kuburan umum memang ada, tapi ada banyak
kuburan khusus bagi perseorangan tatau satu keluarga. Ada orang, misalnya
Yusuf dari Arimatea, telah mempersiapkan kuburannya sebelum ia meninggal.
Peti jenazah tidak pernah dipakai; jenazah dibawa ke kuburan dengan dipikul
di atas tandu sederhana.
Membakar jenazah - kremasi, tidak pernah dilakukan orang Yahudi, tapi ada
beberapa jenis kuburan; kuburan yang biasa dalam tanah; kuburan tanpa tanda;
kuburan atau gua dalam liang karang, mungkin dengan tanda atau tiang yang
didirikan di atasnya. Kuburan keluarga sering mempunyai kamar-kamar
terpisah. Dalam kamar ini dibuat papan-papan ('acrosolia') atau
lubang-lubang di tembok ('kokhim') untuk tempat jenazah. Di sini tubuh
mungkin ditaruh dalam tempat penyimpanan, misalnya peti batu atau
'sarkopagus'.
Adat lain zaman Perjanjian Baru adalah menaruh tulang-tulang dalam koper
batu, terkenal sebagai 'ossuari'. Adat ini barangkali meniru peti bangsa
Roma bagi abu-abu jenazah setelah pembakaran. Kalau suatu kuburan keluarga
telah penuh, maka tulang belulang diambil dari tempatnya pada lubang-lubang
di tembok dan dipindahkan ke dalam 'ossuari'. 'Ossuari' dapat memuat
tulang-belulang lebih dari satu orang. Peti-peti ini biasanya mempunyai
gambar atau motif yang berbeda-beda, tapi di antara orang Yahudi ortodoks
sangat sedikit perhiasan yang diperbolehkan. Nama juga sering dituliskan
pada 'ossuari'. Adat untuk menghiasi kuburan mungkin sudah umum pada zaman
Yesus. Ini didasarkan atas hardikan-Nya pada orang Farisi. Ia mengkritik
kebiasaan mencat putih kuburan kendati tujuannya membuat kuburan itu nampak
jelas (terutama pada malam hari), guna menghindari orang menyentuhnya
sehingga tidak menjadi najis.
Untuk menghindari serigala dan pencuri memasuki kuburan, pintunya dikunci
rapat atau (kurang biasa) ditutupi dengan batu datar seperti batu gilingan.
Batu ini, meskipun dengan sukar, dapat digulingkan dari pintu kuburan.
Tentang pakaian berkabung. Kain kasar (Ibrani 'saq', Yunani 'sakkos')
biasanya terbuat dari bulu domba dan berwarna hitam. Kata Ibrani yang sama
sering berarti "karung", yang rupanya terbuat dari bahan yang sama.
Kain kabung dipakai sebagai tanda perkabungan terhadap orang mati, atau
raatapan bagi musibah pribadi atau nasional, atau penyesalan atas dosa, atau
doa khusus untuk memohon pertolongan.
Bentuk kain kabung yang simbolik itu biasanya berupa pita yang dililitkan di
pinggang. Biasanya dipakai langsung meliliti kulit, dan sering terus
dikenakan sepanjang malam. Dalam satu kasus kain kabung dipakai untuk
menggantikan jubah, mungkin di atas pakaian lainnya. Kadang-kadang kain
kabung digelarkan untuk alas tidur, atau digelarkan di depan mezbah atau di
atasnya.
Gembala Palestina mengenakan kain kabung karena murah dan awet. Nabi
kadang-kadang mengenakannya sebagai lambang pertobatan yang mereka
beritakan. Menurut Yunus 3:8 bahkan hewan pun juga diselubungi kain kabung
sebagai tanda permohonan nasional. Mengenakan kain kabung untuk ratapan dan
pertobatan dilakukan tidak hanya di Israel tetapi juga di Damsyik, Moab,
Amon, Tirus dan Niniwe.
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya.
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
Kejadian 22-32 menceritakan kisah ini. Sebelum memasuki tanah warisan, Yakub
harus mengalami suatu pengalaman yang memeteraikan dia sebagai orang yang
beriman, dan dengan suatu tanda gaib menunjukkan kepadanya sumber terakhir
dari berkat-berkat yang menyelamatkan.
• Kejadian 32:24, "Lalu tinggalah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki
bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing."
"Seorang laki-laki". Ia adalah pemimpin bala tentara TUHAN, coba perhatikan
ayat-ayat berikut:
• Kejadian 32:1-2, "Yakub melanjutkan perjalanannya, lalu bertemulah
malaikat-malaikat Allah dengan dia. Ketika Yakub melihat mereka, berkatalah
ia: 'Ini bala tentara Allah.' Sebab itu dinamainyalah tempat itu Mahanaim."
• Yosua 5:13-14, "Ketika Yosua dekat Yerikho, ia melayangkan pandangnya,
dilihatnya seorang laki-laki berdiri di depannya dengan pedang terhunus di
tangannya. Yosua mendekatinya dan bertanya kepadanya: 'Kawankah engkau atau
lawan?' Jawabnya: 'Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang
aku datang.' Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan
berkata kepadanya: 'Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?'"
• Hosea 12:3-5, "TUHAN mempunyai perbantahan dengan Yehuda, Ia akan
menghukum Yakub sesuai dengan tingkah lakunya, dan akan memberi balasan
kepadanya sesuai dengan perbuatan-perbuatannya. Di dalam kandungan ia menipu
saudaranya, dan dalam kegagahannya ia bergumul dengan Allah. Ia bergumul
dengan Malaikat dan menang; ia menangis dan memohon belas kasihan
kepada-Nya. Di Betel ia bertemu dengan Dia, dan di sanalah Dia berfirman
kepadanya:"
"Bergulat" (Ibrani 'wayyë ăbëq') menyindir kepada Yabok. Di Timur Dekat
persoalan-persoalan hukum kadang-kadang diputuskan dengan suatu percobaan
atau ujian. Salah satu caranya ialah bertanding dengan pergulatan. Cerita
ini mengungkapkan sifat asasi dari peri kerajaan Allah sebagai pergulatan
oleh para pedosa bagi pembenaran. Dalam pergumulan Yakub ini jalan
pergulatan sejajar dengan pergumulan rohani.
• Kejadian 32:25-26, "Ketika orang itu melihat bahwa ia tidak dapat
mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal
paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. Lalu kata orang
itu: 'Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.' Sahub Yakub:
'Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.'"
"Ia tidak dapat mengalahkannya". Musuh yang ilahi itu adalah juga TUHAN yang
menyelamatkan dengan pemilihan, yang menguatkan Yakub dengan kasih karunia
untuk terus bergulat dengan Dia, supaya ia tidak dikalahkan dan dikutuk.
Demikianlah dengan bertahan dalam permohonan yang didasarkan iman Yakub
muncul dari pergumulan itu dengan suatu berkat. "Ia memukul" (Ibrani
'naga'). Pembenaran itu didapatkan dengan melalui penderitaan. Karena paha
dipandang sebagai tumpuan sumber pembiakan kekuatan, maka pemukulan paha
Yakub itu adalah tanda akan terpukulnya keturunan Yakub yang akan dipukul
oleh Allah dan oleh penderitaan-Nya serta kemenangan-Nya membenarkan Yakub
dan semua orang pilihan allah. Keinginan malaikat untuk pergi sebelum fajar
menyingsing mengungkapkan kepentingan Allah yang menjaga agar Yakub jangan
binasa karena melihat wajah Allah yang tidak diamati karena kegelapan.
Dengan mengingat hal ini, Yakub menyebut tempat itu 'Pniel', "wajah Allah".
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya.
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
• Kejadian 6:2, "maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan
manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara
perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka."
Ungkapan "Anak-anak Allah" dapat diterjemahkan dengan "anak-anak ilahi".
Nasakah purba menyaksikan adanya ideologi jabatan raja ilahi; raja-raja
manusia disebut anak-anak ilahi yang bermacam-macam. Kultus penghujatan ini
adalah puncak kegemaran keturunan Kain untuk mencari nama. Seperti halnya
"anak-anak perempuan" adalah anak-anak manusia pada umumnya. Yang dimaksud
dengan "dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai
mereka", adalah poligami seperti dilaksanakan di harem-harem raja.
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya.
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
ALLAH MENYESAL. Seperti halnya para pedosa berkembang biak, demikian jugalah
dosa. Menurut penganalisaan Allah kerusakan manusia adalah menyeluruh.
"Menyesallah TUHAN" (ayat 6). Dalam kultus manusia yang aneh itu para pedosa
dipertuhan dan Allahlah yang menyesal! Bahwa dalam waktu dekat benih
perempuan tidak ada lagi, hal itu mengancam maksud Allah yang tidak berubah.
Secara paradoksal maksud yang tidak berubah ini menuntut perubahan
pemerintahan Allah. Suatu pengadilan yang radikal, menyisip pada pelaksanaan
kutuk dan karunia yang umum.
"Aku akan menghapuskan" (ayat 7). Kata-kata ini adalah suatu pernyataan yang
samar-samar tentang penghukuman dengan air bah.
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya.
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
Elo kaga tau bahwa elo ngikut ajaran ahli Fiqih bukan ajaran Qur'an,
apa di Qur'an ada ayat elo disuruh sunat? Sunat itu hukum agama Yahudi,
jadi kalo elo ikutan sunat elo pengikut Yahudi....Nah elo bingung
kan.....
In article <Qj2H4.8733$15.81186@news>,
Sent via Deja.com http://www.deja.com/
Before you buy.
<mah...@my-deja.com> wrote in message news:8e1j3j$fdp$1...@nnrp1.deja.com...
• Kejadian 19:3, "Tetapi karena ia sangat mendesak mereka, singgahlah mereka
dan masuk ke dalam rumahnya, kemudian ia menyediakan hidangan bagi mereka,
ia membakar roti yang tidak beragi, lalu mereka makan."
Malaikat dalam Alkitab (Ibrani 'mal'akh', Yunani 'angelos') menurut
etimologi dan pengertian, adalah pesuruh Allah, yang mengenal-Nya muka
dengan muka, karena itu mempunyai kelebihan daripada manusia. Malaikat tentu
adalah makhluk, tapi suci dan mantap, walaupun mempunyai kemauan yang bebas
dan karena itu bisa terpengaruh terhadap godaan dan dosa. Terdapat banyak
acuan mengenai kejatuhan beberapa malaikat, di bawah pimpinan Setan.
Ada dua fase dalam Perjanjian Lama mengenai ajaran tentang malaikat, yang
secara kasar dibagi oleh masa Pembuangan Babilonia. Perbedaan gamblang
mengenai corak-coraknya yang penting menimbulkan banyak perdebatan mengenai
kronologi.
Dalam periode pra-pengasingan, malaikat Allah ('mal'akh Yahweh') adalah alat
langsung dari kehendak-Nya, tapi tetap tak bernama dan hampir tanpa pribadi
yang nampak. Dalam banyak ayat Allah dan malaikat Allah praktis adalah
sama - penampilan pada Hagar di padang belantara; pada Abraham di Gunung
Moria; pada Musa dalam nyala api yang keluar dari semak duri dan pada Gideon
di Ofra. Ada orang yang mengatakan bahwa malaikat Allah dalam ayat-ayat ini,
merupakan cara untuk melemahkan 'antropomorfisme' (pengertian tentang suatu
ilah dengan sifat-sifat manusia). Alkitab menggambarkan suatu makhluk rohani
yang terpisah dari Allah, tapi dengan integritas yang tak diragukan,
kebajikan dan kepatuhan terhadap Dia.
Malaikat pernah menampakkan diri kepada manusia sebagai pembawa perintah dan
berita khusus dari Allah. Mereka dapat memberi bantuan khas untuk
pelayan-pelayan Allah yang miskin dan fana. Mereka dapat melakukan tugas
bantuan militer, dan - tapi jarang sekali, permusuhan secara aktif terhadap
Israel. Orang-orang dari Sodom atau orang-orang lain yang melakukan
kejahatan mereka pukul. Kehebatan mereka berperang - mendasari gelar ilahi
Allah Zebaot, Tuhan Allah yang mememerintah pasukan malaikat.
Berdasarkan penjelasan ini maka kisah malaikat makan roti bukanlah kisah
yang lucu dan naif karena mereka bersifat pribadi, mempunyai eksistensi
seperti manusia, memiliki sifat atau keadaan seperti manusia meliputi
kecerdasan, perasaan, dan kemauan. Para malaikat memenuhi syarat sebagai
pribadi-pribadi sebab mereka memiliki kecerdasan, perasaan, dan kemauan.
Kenyataan bahwa mereka tidak memiliki tubuh jasmani tidaklah mempengaruhi
keberadaan mereka sebagai pribadi-pribadi. Para malaikat adalah
pribadi-pribadi. Ini berarti bahwa mereka bukanlah semata-mata merupakan
pengejawantahan dari baik dan jahat yang abstrak, seperti anggapan sementara
orang.
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya.
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
Seusai air bah, Nuh yang mungkin sekali petani sebelumnya, membuat kebun
anggur, Nuh mabuk dan berkelakuan tidak senonoh di dalam kemahnya. Ham
melihat ayahnya telanjang, memberitahukannya kepada kedua saudaranya, yang
menutupinya dengan sehelai kain. Mungkin sekali Kanaan, anak Ham, berbuat
sesuatu yang tidak sopan terhadap kakeknya, sebab Nuh mengutuknya sesudah
dia sadar dan mabuknya.
• Kejadian 9:18-27
[18] Anak-anak Nuh yang keluar dari bahtera ialah Sem, Ham dan Yafet; Ham
adalah bapa Kanaan.
Dengan mendahului peristiwanya, kata-kata ini menghubungkan dosa Ham dengan
kutuk atas Kanaan.
[19] Yang tiga inilah anak-anak Nuh, dan dari mereka inilah tersebar
penduduk seluruh bumi.
[20] Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur.
Jika diterjemahkan secara harfiah, ayat ini berbunyi, "Nuh, petani itu,
mulai dan membuat sebuah kebun anggur." Terjemahan Baru memasukkan secara
tidak perlu suatu pertentangan pada berita Alkitab.
[21] Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya.
[22] Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya
kepada kedua saudaranya di luar.
[23] Sesudah itu Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan membentangkannya
pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur; mereka menutupi aurat
ayahnya sambil berpaling muka, sehingga mereka tidak melihat auratnya.
Perbuatan tidak hormat yang keterlaluan ini, jika bukan menunjuk kepada
penerobosan benih ular ke dalam sisa keluar manusia, adalah meramalkannya.
Pertunjukan ketelanjangan ini mengingatkan kembali kepada pekerjaan Iblis;
penutupan ketelanjangan mengingatkan kembali kepada tindakan-tindakan ilahi
untuk memberi pakaian kepada manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, dan
dengan demikian mengungkapkan adanya suatu roh yang berkeinginan untuk
meniru Allah.
[24] Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan oleh
anak bungsunya kepadanya,
Pendahuluan yang menghubungkan pengucapan dengan pembelaan ini menunjukkan
bahwa hal ini pertama-tama adalah sebuah kutukan. Pengulangan kutuk atas
Kanaan dalam hubungannya dengan berkat-berkat atas Sem dan Yafet juga
memiliki daya guna yang sama. Pernyataan ini termasuk kelompok kutuk-kutuk
pribadi, yang dimulai dengan kutuk pertama terhadap Iblis dan diteruskan
dengan kutuk terhadap Kain. Istilah-istilahnya tidak boleh diduniawikan,
tapi harus diartikan dalam wilayah sejarah kudus yang menyusul sesudah
penghakiman Allah terhadap Iblis.
[25] berkatalah ia: "Terkutuklah Kanaan, hendaknya ia menjadi hamba yang
paling hina bagi saudara-saudaranya."
Kutuk (atau berkat) itu tidak diterapkan kepada segala anggota golongan
bangsa yang diwakili oleh perorangan yang disebut namanya, tapi lebih dapat
diartikan sebagai mendapat pemenuhan yang luar biasa dalam sejarah golongan
itu. Demikianlah Sem dan Yafet diberkati dalam keturunan mereka, sama
seperti Ham dikutuk dalam keturunannya. Disebutkannya anak Ham, Kanaan,
hanya untuk menunjukkan lebih jelas dalam hal itu dan secara langsung
menunjuk kepada pemenuhannya yang akan datang. Pertentangan antara Kanaan
dan kedua saudara lainnya, yang disamakan dengan persekutuan perjanjian,
menerangkan penolakannya. Penaklukan Kanaan menandai terkalahkannya benih
Iblis; benih perempuan akan meremukkan kepala mereka. Ada permainan kata
dalam nama Kanaan, 'käna' dipakai untuk penaklukan dan benar-benar menunjuk
kepada penaklukan Israel atas tanah Kanaan, pemenuhan kutuk Nuh.
[26] Lagi katanya: "Terpujilah TUHAN, Allah Sem, tetapi hendaklah Kanaan
menjadi hamba baginya.
Puji-pujian ini mengandung pemberkatan. Kutuk atas Iblis mengandung di
dalamnya keselamatan bagi pilihan Allah; demikianlah kutuk atas Kanaan
adalah alat pemberkatan kepada Sem-Israel. Israel memiliki kerajaan yang
dijanjikan dengan merampas Kanaan. 'Sem' berarti "nama"; pemberkatan itu
adalah identifikasi Sem dengan nama Allah yang dikaitkan dengan perjanjian.
Yahweh, seperti secara khas nampak dalam perjanjian Abraham.
[27] Allah meluaskan ('yapt') kiranya tempat kediaman Yafet ('yepet'), dan
hendaklah ia tinggal dalam kemah-kemah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi
hamba baginya."
Perkembangan yang luar biasa dalam sejarah penyelamatan yang menjadikan
Yafet dapat masuk ke dalam perjanjian Abraham, adalah pengutusan para rasul
dalam Perjanjian Baru kepada orang-orang bukan Yahudi.
Jadi, kesimpulannya, Alkitab tidak melecehkan para nabi, namun menceritakan
kejadian yang sebenarnya dan kejadian itu memiliki makna tersendiri seperti
yang diuraikan di atas.
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya.
• Kejadian 16:11-12, "Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: 'Engkau
mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya
Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu. Seorang
laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu;
tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan
melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya."
Pemberitahuan demikian itu banyak terdapat dalam cerita kepahlawanan Kanaan
dari rian tahun ke-2 sebelum Masehi. Ismael ['yisma'él', "Allah kiranya
mendengar").
Tentang "keledai", ada dua kata Ibrani diterjemahkan demikian: 'aton'
mengacu kepada daya tahannya, 'khamor' mengacu kepada bulu yang
kemerah-merahan dari jenis keledai paling biasa. Kata 'aton' ditemukan
terutama dalam cerita tentang keledai Bileam dan keledai-keledai Kisy;
'khamor' sering dipakai dalam Perjanjian Lama. Kata-kata ini berkaitan hanya
dengan keledai yang dijinakkan. Ada dua kata lain yang artinya keledai liar,
yaitu 'arod' dan 'pere'. Kata yang pertama terdapat baik dalam bahasa Aram
('arad'), maupun sebagai 'arod' dalam bahasa Ibrani; kebanyakan penerjemah
menerjemahkannya "keledai liar" walaupun hal ini diragukan oleh beberapa
ahli. 'Pere' terdapat 9 kali, diterjemahkan keledai liar. Jenis keledai ini
dikenal sebagai keledai hutan ('Equus onager') dan masih dapat ditemukan di
bagian-bagian Asia Barat dan Tengah.
"Keledai liar" adalah makhluk yang digemari dalam perburuan di padang pasir,
menggambarkan kebanggaan kebebasan mengembara suku Ismael.
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya.
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
LOT tidak pernah disebut-sebut sebagai nabi dalam kitab Perjanjian Lama. LOT
adalah anak laki-laki Haran, adik Abraham yang paling muda, sehingga Lot
adalah kemenakan Abraham. Terkecuali riwayat hidupnya dalam Kitab Kejadian,
namanya tidak disebut lagi dalam Perjanjian Lama (kecuali sebagai acuan
untuk turunannya dalam ayat-ayat berikut:
. Ulangan 2:9, "Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: 'Janganlah melawan Moab
dan janganlah menyerang mereka, sebab Aku tidak akan memberikan kepadamu
apapun dari negerinya menjadi milikmu, karena Ar telah Kuberikan kepada bani
Lot menjadi miliknya.'"
. Ulangan 2:19, "maka engkau sampai ke dekat bani Amon. Janganlah melawan
mereka dan janganlah menyerang mereka, sebab Aku tidak akan memberikan
kepadamu apapun dari negeri bani Amon itu menjadi milikmu, karena Aku telah
memberikannya kepada bani Lot menjadi miliknya."
. Mazmur 83:7-9, "Penghuni kemah-kemah Edom dan orang Ismael, Moab dan orang
Hagar, Gebal dan Amon dan Amalek, Filistea beserta penduduk Tirus, juga
Asyur telah bergabung dengan mereka, menjadi kaki tangan bani Lot. Sela."
Nama Lot disebut oleh Yesus dalam Lukas 17:28-32 dan juga oleh Petrus dalam
2 Petrus 2:7 dan ayat-ayat berikutnya.
Lot menyertai Terah, Abram dan Sarai tatkala mereka berjalan dari Ur ke
Haran, dan pergi bersama Abram dan Sarai ke Kanaan, terus ke Mesir, dan
kemudian kembali ke Kanaan lagi. Kelemahan wataknya pertama kali nampak
tatkala ia demi pertimbangan mementingkan diri sendiri memilih lembah Yordan
yang diairi dengan baik. Keputusan ini membawanya ke tengah-tengah orang
Sodom yang jahat, dan ia harus ditolong dari akibat kebodohannya, mula-mula
oleh Abraham, kemudian oleh dua malaikat. Pada peristiwa yang kemudian itu
ia menunjukkan kelemahan dan kecenderungannya untuk melakukan kompromi.
Penyelamatannya dari Sodom secara jelas dikaitkan dengan ingatan Allah
terhadap Abraham dalam Kejadian 19:29.
Melalui kemabukannya dua anak perempuannya memperoleh anak dari dia, dan mer
eka menjadi leluhur dari bangsa Moab dan bangsa Amon.
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya.
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
Ishak mengatakan, "Aku sudah tua". Kata-kata ini adalah ungkapan yang sah
untuk mengantarkan wasiat-wasiat terakhir. Ishak berumur 137 tahun dan masih
hidup 40 tahun lagi. Maksud Ishak untuk memberikan berkatnya kepada Esau dan
rencana Ribka untuk membelokkannya kepada Yakub berpangkal pada sikap pilih
kasih. Penipu yang dengan sembarangan menyebut nama Allah mengucapkan lebih
banyak kebenaran daripada yang ia sadari. Penipuan Ribka yang menyeluruh itu
diarahkan kepada indera-indera Ishak yang masih berfungsi, kecuali
pendengarannya; tapi raba, rasa dan bau menenangkan telinga-telinganya.
Berkat Ishak yang bernada sajak itu tidak mengutip istilah-istilah
perjanjian yang mendahuluinya. Seolah-oleh keadaan yang meragu-ragukan itu
merintangi Ishak untuk memberi pengungkapan yang lebih tegas. Segi-segi lain
yang terkandung di dalam berkat ini ialah tanah perjanjian, kebangsaan
dengan memegang kekuasaan serta kedudukan pengantara penghakiman ilahi.
Bukti sah dari puing Nuzi menunjukkan bahwa wasiat yang diberikan secara
lisan oleh seorang bapa yang akan meninggal dan dikutip di dalam proses
pengadilan, dianggap sah. Wasiat semacam itu memiliki sifat sumpah. Ishak
kaget, karena sekalipun ia menghendaki sesuatu yang bertentangan dengan
firman Tuhan sebelum kelahiran anaknya, namun firman itu berdaya guna juga
melalui wasiat yang telah diucapkannya dalam bentuk sah yang tidak dapat
dibalikkan.
"Menipu" adalah padanan dari bahasa Ibrani 'äqab', "memegang tumit". Esau
yang sangat marah itu melihat kejadian ini sebagai ulangan dari pertukaran
yhak anak sulung, suatu pemenuhan dari firman yang diucapkan sebelum
kelahirannya, dan sebagai keterangan tentang nama Yakub.
Untuk membebaskan Yakub dari pembalasan dendam Esau, Ribka yang ahli membuat
siasat itu, terpaksa harus menyerahkan anak kesayangannya kepada saudaranya
yang sama kecakapannya, yaitu Laban, agaknya Ribka meninggal sebelum keadaan
menguntungkan untuk memanggil Yakub kembali.
Pendekatan Ribka yang licik terhadap kedua-duanya, baik Yakub maupun Esau
untuk memikirkan kesenangannya secara ironis justru menjadikan mereka
mendatangkan kepadanya kesukaran-kesukaran yang tidak mereka inginkan
menimpanya.
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya.
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
Lagian masih perlu Sunah sebagai bahan pendukung, tulisan panduan yang
diprodusir oleh Muhamad dan rekan2, itulah yang umumnya diikuti, koq
sudah sempurna masih perlu tulisan pendukung? apa ini sempurna
namanya?........
Tanpa Sunah apa Qur'an bisa berdiri sendiri dengan kesempurnaannya?
In article <_LjN4.9876$15.95117@news>,
<mah...@my-deja.com> wrote in message news:8eepvq$mic$1...@nnrp1.deja.com...
> Bukti nyata, moslem itu pengikut Muhamad bukan Allah,
Anda salah besar, cara berpikir anda benar-benar blunder, tidak ada bukti
otentik tentang pernyataan anda itu.
> katanya Quran paling sempurna, turun dari Allah,
Betul sekali dan itu pasti.
> tapi menginterpretasikannya aja susah banget,
Susah, bagi manusia yang tidak menggunakan otaknya untuk berpikir.
> kaga bisa 100% dimengerti bahasa manusia, apa ini sempurna?
Manusia itu makhluk yang lemah dengan segala keterbatasan kemampuan yang ada
pada dirinya. Banyak sekali aspek kehidupan di alam jagad raya ini yang
belum atau
mungkin tidak akan pernah bisa dimengerti dan dipahami 100% oleh manusia. Al
Qur'an
memang banyak sekali, - jutaan, milyaran bahkan mungkin tak berhingga -
menyimpan rahasia yang belum terungkap sampai saat ini oleh manusia.
Kesempurnaan Al Qur'an terletak pada 'dirinya sendiri' dan bukan diukur dari
ketidakmampuan manusia untuk bisa memahaminya.
Logika berpikir anda sungguh dangkal, oleh karenanya saya tidak heran bila
anda bisa betah, tetap bertahan dengan agama anda saat ini.......Lha wong
sama-sama dangkalnya...
> Lagian masih perlu Sunah sebagai bahan pendukung, tulisan panduan yang
> diprodusir oleh Muhamad dan rekan2, itulah yang umumnya diikuti, koq
> sudah sempurna masih perlu tulisan pendukung? apa ini sempurna
> namanya?........
Allah SWT Maha Tahu akan kelemahan manusia. Sunnah Rosul sangat diperlukan
sebagai contoh nyata tentang bagaimana perintah dan petunjuk dari dalam Al
Qur'an, bisa dilaksanakan oleh manusia. Lebih dari itu, Al Qur'an diciptakan
oleh Allah SWT sedemikian rupa agar manusia mau berpikir, menggunakan
akalnya dalam menggali isi Al Qur'an tersebut. Kalau Allah SWT menciptakan
Al Qur'an dengan isi yang sangat-sangat mendetail tentang segala sesuatunya,
lalu apa gunanya lagi manusia diberi akal-pikiran?
> Tanpa Sunah apa Qur'an bisa berdiri sendiri dengan kesempurnaannya?
He...he....he...dasar otak anda memang adanya didengkul.......
Heh mahmoet! Anda punya otak kok guoblok banget sih?...
Dan anehnya lagi, anda kok betah banget sih hidup dengan kondisi seperti
itu? ....he....he....he....kaciannnnn.
Kejadian 38:1-30 Yehuda dan Tamar
[1] Pada waktu itu Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya dan menumpang pada
seorang Adulam, yang namanya Hira.
[2] Di situ Yehuda melihat anak perempuan seorang Kanaan; nama orang itu
ialah Syua. Lalu Yehuda kawin dengan perempuan itu dan menghampirinya.
[3] Perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki dan
menamai anak itu Er.
[4] Sesudah itu perempuan itu mengandung lagi, lalu melahirkan seorang anak
laki-laki dan menamai anak itu Onan.
[5] Kemudian perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki sekali lagi,
dan menamai anak itu Syela. Yehuda sedang berada di Kezib, ketika anak itu
dilahirkan.
[6] Sesudah itu Yehuda mengambil bagi Er, anak sulungnya, seorang isteri,
yang bernama Tamar.
Pemisahan Yehuda lebih lanjut menggambarkan tidak adanya kesatuan dalam
keluarga Yakub. Hal ini tentunya terjadi segera sesudah Yusuf dijual, sebab
selama waktu hingga hijrahnya Yakub ke Mesir, yang kira-kira lebih dari 20
tahun, Yehuda telah menikah dan mempunyai beberapa anak lelaki, dan mereka
juga menikah. Pasal 38 ini meliputi waktu hingga Kejadian 42:1. Yehuda turun
dari Hebron di pegunungan ke tanah orang Filistin yang berbukit-bukit. Gerak
ini turun, juga secara kiasan, dilihat dari ukuran perjanjian, sebab
hasilnya ialah bersaudara dengan orang Kanaan Hira dan kawin dengan orang
Kanaan Syua.
[7] Tetapi Er, anak sulung Yehuda itu, adalah jahat di mata TUHAN, maka
TUHAN membunuh dia.
Dalam kematian mendadak dari anak sulungnya ini Yehuda diperhadapkan dengan
kemerosotan keturunannya yang cepat, yang disebabkan persekutuannya yang
terlalu erat dengan orang-orang Kanaan.
[8] Lalu berkatalah Yehuda kepada Onan: "Hampirilah isteri kakakmu itu,
kawinlah dengan dia sebagai ganti kakakmu dan bangkitkanlah keturunan bagi
kakakmu."
Perkawinan levirat demikian itu dilaksanakan secara luas (bandingkan bangsa
Het dan kode hukum Asyur Tengahan, dan bandingan 'pagodanghon' dalam
masyarakat Batak) dan kemudian diatur bagi Israel oleh Musa (Ulangan 25:5
dan ayat berikutnya). Anak sulung yang dilahirkan dari perkawinan baru ini
dihitung sebagai ahli warus saudara yang telah mati, untuk menyambung
kelangsungan namanya. Onan menginginkan bagian warisan anak sulung itu untuk
namanya sendiri.
[9] Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab
itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya
terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya.
[10] Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN
membunuh dia juga.
[11] Lalu berkatalah Yehuda kepada Tamar, menantunya itu: "Tinggallah
sebagai janda di rumah ayahmu, sampai anakku Syela itu besar," sebab
pikirnya: "Jangan-jangan ia mati seperti kedua kakaknya itu." Maka pergilah
Tamar dan tinggal di rumah ayahnya.
Dalam penolakan Onan yang hina untuk menunaikan tugasnya terhadap iparnya
itu dan dalam penghakiman Allah, Yehuda menerima peringatan akan dosanya
terhadap saudaranya Yusuf. Tapi ia juga bersepakat jahat terhadap hak Tamar
dan nama Er.
[12] Setelah beberapa lama matilah anak Syua, isteri Yehuda. Habis berkabung
pergilah Yehuda ke Timna, kepada orang-orang yang menggunting bulu
domba-dombanya, bersama dengan Hira, sahabatnya, orang Adulam itu.
[13] Ketika dikabarkan kepada Tamar: "Bapa mertuamu sedang di jalan ke Timna
untuk menggunting bulu domba-dombanya,"
[14] maka ditanggalkannyalah pakaian kejandaannya, ia bertelekung dan
berselubung, lalu pergi duduk di pintu masuk ke Enaim yang di jalan ke
Timna, karena dilihatnya, bahwa Syela telah menjadi besar, dan dia tidak
diberikan juga kepada Syela itu untuk menjadi isterinya.
[15] Ketika Yehuda melihat dia, disangkanyalah dia seorang perempuan sundal,
karena ia menutupi mukanya.
[16] Lalu berpalinglah Yehuda mendapatkan perempuan yang di pinggir jalan
itu serta berkata: "Marilah, aku mau menghampiri engkau," sebab ia tidak
tahu, bahwa perempuan itu menantunya. Tanya perempuan itu: "Apakah yang akan
kauberikan kepadaku, jika engkau menghampiri aku?"
[17] Jawabnya: "Aku akan mengirimkan kepadamu seekor anak kambing dari
kambing dombaku." Kata perempuan itu: "Asal engkau memberikan tanggungannya,
sampai engkau mengirimkannya kepadaku."
Akhirnya Tamar tahu juga hal itu dan merencanakan untuk mendapat kepuasan
dari Yehuda, yang sekarang adalah seorang duda. Hal ini memang memiliki
dasar yang sah, sebab di beberapa daerah bapa seorang yang mati boleh
mengambil janda anaknya.
[18] Tanyanya: "Apakah tanggungan yang harus kuberikan kepadamu?" Jawab
perempuan itu: "Cap meteraimu serta kalungmu dan tongkat yang ada di
tanganmu itu." Lalu diberikannyalah semuanya itu kepadanya, maka ia
menghampirinya. Perempuan itu mengandung dari padanya.
"Cap meterai"; sebuah meterai panjang bulat yang dikalungkan dengan sebuah
tali di leher, suatu tanda pengenal pribadi. "Tongkat"; ini kadang-kadang
berfungsi sebagai lambang dalam hal jual-beli.
[19] Bangunlah perempuan itu, lalu pergi, ditanggalkannya telekungnya dan
dikenakannya pula pakaian kejandaannya.
[20] Adapun Yehuda, ia mengirimkan anak kambing itu dengan perantaraan
sahabatnya, orang Adulam itu, untuk mengambil kembali tanggungannya dari
tangan perempuan itu, tetapi perempuan itu tidak dijumpainya lagi.
[21] Ia bertanya-tanya di tempat tinggal perempuan itu: "Di manakah
perempuan jalang, yang duduk tadinya di pinggir jalan di Enaim itu?" Jawab
mereka: "Tidak ada di sini perempuan jalang."
"Perempuan jalang". Istilah 'qedesa', "pelacur kuil", seorang yang
mempersembahkan seluruh hidupnya bagi pelayanan keagamaan, yang dipakai bagi
Tamar, mencerminkan kerusakan yang tidak terduga dari peradaban Kanaan.
Padahal keluarga perjanjian itu dijajakan terhadap peradaban demikian itu
karena perbuatan-perbuatan seperti dilakukan Yehuda itu. Dalam kultus
kesuburan orang-orang Kanaan, orang-orang lelaki dan perempuan disendirikan
bagi imoralitas seksual sebagai fungsi-fungsi suci (seperti tampak dalam
arti akar kata 'qedesa').
[22] Kembalilah ia kepada Yehuda dan berkata: "Tidak ada kujumpai dia; dan
juga orang-orang di tempat itu berkata: Tidak ada perempuan jalang di sini."
[23] Lalu berkatalah Yehuda: "Biarlah barang-barang itu dipegangnya, supaya
kita jangan menjadi buah olok-olok orang; sungguhlah anak kambing itu telah
kukirimkan, tetapi engkau tidak menjumpai perempuan itu."
[24] Sesudah kira-kira tiga bulan dikabarkanlah kepada Yehuda: "Tamar,
menantumu, bersundahl, bahkan telah mengandung dari persundalannya itu."
Lalu kata Yehuda: "Bawalah perempuan itu, supaya dibakar."
Dengan mengutus Tamar kembali ke rumah bapanya, Yehuda bermaksud membebaskan
diri daripadanya. Tapi sekarang ia sebagai bapa leluhur meneguhkan hak
pengadilannya, ketika ia melihat suatu jalan untuk bebas daripadanya yang
sekaligus tampak sebagai adil juga. Menurut peraturan hukum Musa yang
kemudian, pembakaran, yaitu penghukuman yang paling berat, diperuntukkan
bagi kejadian-kejadian yang luar biasa, sedangkan pelontaran batu adalah
hukuman yang diperuntukkan bagi kejadian yang terjadi pada Tamar, sebagai
tunangan Syela.
[25] Waktu dibawa, perempuan itu menyuruh orang kepada mertuanya mengatakan:
"Dari laki-laki yang empunya barang-barang inilah aku mengandung." Juga
dikatakannya: "Periksalah, siapa yang empunya cap meterai serta kalung dan
tongkat ini?"
[26] Yehuda memeriksa barang-barang itu, lalu berkata: "Bukan aku, tetapi
perempuan itulah yang benar, karena memang aku tidak memberikan dia kepada
Syela, anakku." Dan ia tidak bersetubuh lagi dengan perempuan itu.
Keduanya melakukan penipuan, tapi Tamar melakukan hal itu untuk mendapatkan
kepastian atas hak-haknya yang sah, sedangkan Yehuda memutarbalikkan
tugas-tugasnya yang sah sebagai bapa leluhur.
"ANU" <a...@yahoo.com> wrote in message news:Qj2H4.8733$15.81186@news...
> Cara Yesus mendakwahkan Injil berbeda dengan Paulus. Paulus menghalalkan
segala cara dalam menyebarkan misinya.
> Tidak banyak yang paham, bahkan mereka yang mengaku Kristen, bahwa antara
Nasrani dan Kristen memiliki makna yang berbeda. Nasrani menunjuk pada
ajaran yang dibawa oleh orang yang berasal dari Nasareth yaitu Isa as atau
Yesus (Matius 2:23, 21:11; Markus 10:47). Pengikutnya disebut sebagai orang
Nashara (Hawariyun), bukan Kristen seperti yang kita kenal.
> Orang Nasrani masih mengikuti ajaran tauhid yang diajarkan Isa as (Yohanes
17:3) dan masih menjalankan hukum Taurat (Matius 5:17), serta menjalankan
ajaran Ibrahim yaitu; khitan (Kejadian 17:9), tidak makan babi (Imamat 11:7)
dan tidak minum-minuman keras (Imamat 10:9). Setelah Nabi Muhammad SAW
datang, mereka meleburkan diri ke dalam Islam (Sejarah Gereja, Dr. H.
Berkhof. Dr. I. H. Engklaar, BPK, hal.75).
> Sedang Kristen adalah keyakinan yang mempercayai bahwa Isa as adalah Tuhan
dan Juruselamat (Mesias). Keyakinan ini berasal dari ucapan Paulus di
Antiokia, kira-kira tahun 40 M setelah Isa as tiada. Pengikutnya lazim
disebut orang Kristen. "...Di Antiokia lah murid-murid itu mula-mula disebut
orang Kristen" (Kisah Rasul 11:26).
> Buku Materi Pokok Agama Katolik karangan Dra. Damascena Ari Suharso C.B
(Karunika, Jakarta 1985, hal 42) menyebutkan, nama Kristen tidak berasal
dari Kristen itu sendiri, melainkan diberikan oleh penguasa Romawi saat itu.
> Nama Kristen oleh orang Romawi dipakai untuk mengejek orang yang dipandang
sebagai budak.Sebutan Kristen juga mengandung arti politik sebagai gerakan
mesias (ala Ratu Adil atau Juruselamat).
> Akidah maupun akhlak diantara keduanya juga berbeda. Nasrani berakidah
tauhid, sedang Kristen tidak. Dengan meleburnya kaum Nasrani ke dalam Islam
setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW-seperti yang dikatakan Dr. H. Berkhof
di atas-maka setelah itu tidak ada lagi kaum Nasrani di muka bumi. Yang
tertinggal hanyalah kaum Kristen, pengikut Paulus. Oleh Paulus, yang juga
seorang Yahudi, ajaran Isa as. yang awalnya mengakui ketauhidan, dirusak
demikian rupa hingga banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan pikiran
sehat. Ayat-ayat Injil dipalsu sedemikian rupa, disisipi kalimat-kalimat
yang saling bertentangan, dan ironisnya itu semua diikuti saja tanpa reserve
oleh para pengikutnya.
> Dalam hal beribadah misalnya. Orang-orang Kristen sekarang ini
melakukannya dengan berlutut. Padahal Nabi Isa as atau Yesus beribadah
dengan bersujud (Matius 26:39). Yang berlutut dan berdoa adalah cara
ibadahnya Paulus (Kis 21:5; Kis 9:40; Kis 20:36). Dalam berdoa, umat Kristen
tidak menengadahkan kedua telapak tangannya, padahal Isa as. melakukan hal
itu (Matius 14:19; 1 Timotius 2:8). Saat akan melaksanakan ritual ibadah,
Isa as melakukannya seperti ibadahnya umat terdahulu, yakni membersihkan
diri dulu atau berwudhu (Keluaran 40:31), melepas alas kaki (Keluaran 3:5),
dan menghadap kiblat (1 Raja 8:44,48; 2 Taw 6:34,38; Mazmur 5:7; Mat 5:17).
Kini, hal-hal tersebut tidak mereka lakukan lagi.
> Dalam hal kematian, mayat orang Kristen mengenakan jas lengkap dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Tata cara ini sama sekali tidak ada dalilnya
dalam Injil. Nabi Isa as ketika wafat dikafani (Lukas 24:12; Yohanes 11:44;
Yohanes 20:5).
> Kristolog Drs. H. Ramly Naway, MSc, dalam makalah yang disampaikan pada
acara Kajian Kristologi Korps Muballigh Muhammadiyah di Jakarta (4/3)
mencatat hal-hal yang 'lucu' dan sangat naif dalam ayat-ayat Injil. Di
antaranya adalah: Allah kalah ketika bergulat melawan Nabi Yakub as.
(Kejadian 32:22-27), Anak-anak Allah tertarik kepada kecantikan anak-anak
manusia, lalu Tuhan menyesal dan pilu hatinya melihat kejahatan manusia
(Kejadian 6:1-8), Malaikat makan roti (Kejadian 19:3).
> Kemudian, para nabi yang seharusnya dihormati pun dilecehkan dalam Injil.
> Nabi Nuh as. mabuk-mabukan dan telanjang dalam kemahnya (Kejadian
9:18-27), Nabi Ismail as. berperangai seperti keledai liar (Kejadian
16:11-12), Nabi Luth as. menghamili kedua putri kandungnya (Kejadian
19:30-38), Nabi Yakub as. menipu ayahnya sendiri (Kejadian 27:1-46), Yehuda
menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38:1-30), Nabi Daud as. menghamili
isteri orang yang akhirnya menurunkan Nabi Isa as. (II Samuel 11:1-27;
Matius 1:6), Nabi Isa adalah nabi yang bodoh, idiot, emosional, dan
berakhlak bejat (Markus 11:12-14; Yohanes 7:8-10;Yohanes 2:4), dan banyak
lagi ayat-ayat lainnya.
> Lebih gila lagi, demi 'misi suci', Paulus membolehkan pengikut berbuat
banyak dosa. "Kata Paulus: Tetapi jika kebenaran Alah oleh dustaku semakin
berlimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang
berdosa?" (Roma 3:7). Paulus juga mengatakan, "Tetapi hukum Taurat
ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa
bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah." (Roma
5:20). Menurut Paulus, di mana para pengikutnya kian banyak melakukan
pelanggaran dan berbuat dosa, maka di situlah kasih karunia Tuhan kian
berlimpah-limpah.
> "Itulah sebabnya, dalam menjalankan misinya, mereka sama sekali tidak
mengindahkan norma-norma atau hukum yang ada. Semuanya adalah sah. Bahkan
dengan semakin banyaknya dosa yang dibuat maka akan kian banyak pula kasih
karunia Tuhan berlimpah-limpah," ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang
juga Sekretaris FAKTA (Forum Antisipasi Kesalahpahaman Terhadap Akidah).
> H. Ramly Naway mencatat, pokok ajaran Paulus intisarinya ada enam; doktrin
trinitas, kepercayaan yang menyebutkan Yesus adalah Juruselamat, kepercayaan
Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit kembali
pada hari ketiga, kepercayaan Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa
warisan dari Adam as, keyakinan Yesus telah bangkit dari antara orang mati
lalu naik ke langit, dan kepercayaan Yesus akan datang lagi pada akhir
Alkitab tidak menutup-nutupi dosa atau keburukan watak dari anak-anak Allah.
Sebenarnya dalam diri Daud terpadu dengan baik sekali keberanian pribadi
dengan keterampilan sebagai panglima, dan dengan bakat ini ia memimpin
bangsa Israel menundukkan musuh-musuhnya secara teratur - yaitu orang
Filistin, Kanaan, Moab, Amon, Aram, Edom, dan Amalek - sehingga namanya
tertulis dalam sejarah, sama sekali lepas dari anti pribadinya dalam rencana
pelepasan Allah.
Kelemahan yang pada saat itu timbul serentak menimpa kekuatan-kekuatan yang
ada di daerah Nil dan Efrat memberikan kemungkinan baginya, dengan jalan
menaklukkan dan dengan jalan persekutuan, untuk memperluas daerah
pengaruhnya dari perbatasan Mesir dan Teluk Akaba ke daerah Efrat hulu.
Sesudah menaklukkan benteng orang Yebusi, bernama Yerusalem, yang dianggap
orang pada waktu itu tak tertaklukkan, ia menjadikan kota itu ibukota
kerajaannya. Dan situlah ia mengendalikan kedua hagian utama kerajaannya,
yang di kemudian hari terbagi dua menjadi kerajaan Yehuda dan Israel.
Dibangunnya sebuah istana, dibukanya jalan-jalan raya, dipulihkannya
jalan-jalan perdagangan sehingga kemakmuran kerajaan itu terjamin.
Tapi tak mungkin melulu hal itu yang utama, yang menjadi cita-cita dari
"seorang yang berkenan di hati TUHAN". Maka segera kelihatan bukti dari
kegairahan Daud dalam soal keagamaan. Dibawanya tabut perjanjian dari
Kiryat-Yearim dan ditempatkan dalam Kemah Suci yang dibangun khusus untuk
itu di Yerusalem. Waktu membawa tabut penjanjian itu terjadi suatu peristiwa
yang mengakibatkan kematian Uza. Banyak dari peraturan keagamaan yang
memperkaya kebaktian Bait Suci di kemudian hari, benmula pada susunan
kebaktian dalam Kemah Suci, yang dibuat oleh Daud pada waktu itu. Dengan
demikian, sebagai menambah pentingnya kedudukannya dari segi strategi dan
politik, Yerusalem menuntut anti keagamaan yang masih lebih besar lagi, dan
dalam pengertian inilah nama Yerusalem selalu dihubungkan sejak saat itu.
Pada masa kejayaan lahiriah dan kegairahan keagamaan yang nyata inilah Daud
terjenumus ke dalam dosa, yang disebut dalam Kitab Suci sebagai "perkara
Uria, orang Het itu". Arti dan makna dari dosa ini, baik ditinjau dan segi
kejijikannya yang hakiki maupun dari akibat-akibatnya dalam seluruh sejarah
Israel yang menyusul kemudian, tak dapat dilebih-lebihkan. Daud bertobat
sampai ke dasar hatinya, tapi perbuatan sudah terlakukan dan terpampang
sebagai bukti, bagaimana dosa menghancurkan maksud Allah untuk
anak-anak-Nya.
Ratapan Daud yang menyayat hati karena dukacitanya mendengar berita kematian
Absalom, adalah suatu gema yang sayup-sayup yang keluar dari lubuk hatinya
yang tersiksa karena mengetahui bahwa kematian itu dan banyak lagi kematian
lainnya, hanyalah sebagian dari tuaian buah hawa nafsunya dan tipuannya yang
ditanamnya puluhan tahun sebelumnya.
Alkitab memang tidak menutup-nutupi dosa atau keburukan watak dari anak-anak
Allah. Adalah termasuk bagian tugas Alkitab mengingatkan seseorang dengan
memakai contoh, maupun untuk memberi semangat. Dosa Daud dalam perkara Uria,
orang Het itu, merupakan contoh soal yang paling kena mengenai hal ini. Aib
itu, yakni "nila setitik merusak susu sebelanga" menjadi cela atas watak
Daud, yang seandainya tanpa aib itu hidupnya adalah luar biasa memuliakan
Allah.
Memang benar, ada unsur-unsur dalam pengalaman Daud yang kelihatannya asing,
dan bahkan menjijikkan bagi insan Perjanjian Baru. Tapi ia "melakukan
kehendak Allah pada zamannya", dan di tengah-tengah angkatan itu ia berdiri
sebagai lampu yang bersinar terang untuk Allah Israel. Banyak dan beragam
yang dia capai; dia tanggap dan pintar bertindak, penyair, pencinta yang
lemah lembut, lawan yang bermurah hati, penegak keadilan yang kokoh, sahabat
yang setia. Dialah orang yang memenuhi apa yang dianggap orang sehat dan
yang mengagumkan, dan hal ini terjadi dengan kehendak Allah, yang
menciptakan dia dan membentuknya untuk tujuan itu.
Orang Yahudi menoleh dengan bangga dan terharu kepada Daud, bukan kepada
Saul, sebagai pendiri kerajaan meneka. Daudlah yamg dipandang sebagai raja
yang diidam-idamkan oleh orang Yahudi yang berpandangan lebih jauh, dan
dalam gambaran inilah mereka menanti-nantikan datangnya seorang Mesias, yang
akan melepaskan umat-Nya dan yang akan duduk di takhta Daud untuk
selama-lamanya. Hal ini bukanlah angan-angan yang kosong, lebih-lebih lagi
bukan penyembahan berhala; hal ini dibuktikan oleh pengakuan Perjanjian Baru
tentang keagungan Daud, dan memang secara nyata Mesias datang dari
keturunannya secara kemanusiaan.
• Markus 11:12-14, "Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya
meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dan dari jauh Ia melihat pohon ara
yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat
apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat
apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Maka
kata-Nya kepada pohon itu: 'Jangan lagi seorangpun makan buahmu
selama-lamanya!" Dan murid-murid-Nya pun mendengarnya."
Kisah Yesus mengutuk pohon ara ini tidak menyatakan bahwa Dia bodoh, idiot,
emosional dan berakhlak bejat. Kisah ini terdapat dalam Matius 21:18-22,
Markus 11:12-14, 20-26. Tindakan Yesus ini menimbulkan kritikan, atas dua
dasar: pertama, perbuatan Yesus yang tidak masuk akal, yaitu mencari buah
ara pada musim Paskah; kedua, perbuatan semacam itu yang dihubungkan dengan
kelaparan-Nya sendiri tidak mungkin dan sekaligus juga tidak layak bagi-Nya.
Pengeritik modern mengatakan, suatu perumpamaan seperti perumpamaan tentang
pohon ara yang tidak berbuah dalam Lukas 13:6-9, telah muncul kembali dalam
bentuk kejadian. Mengenai keberatan pertama dari kedua keberatan itu, dapat
dikemukakan bahwa pohon ara di Palestina memberi hasil panen pertama, yang
terdiri dari buah-buah yang belum masak, seperti tunas-tunas hijau, yang
muncul sebelum daun-daunnya. Tunas-tunas ini dikenal sebagai 'taksh', dan
menjadi makanan umum bagi para 'fellahin' atau petani-petani. Pohon ara
tidak diharapkan mempunyai buah yang matang pada waktu itu sebab belum
musimnya, namun pohon itu seharusnya sudah mempunyai beberapa buah yang
kecil yang sudah dapat dimakan. Tidak adanya tunas-tunas itu membuktikan
dengan jelas, bahwa pohon itu mandul.
Mengenai keberatan kedua, dapat dicatat bahwa inilah satu-satunya mujizat
Yesus yang menghukum, yang karena belas kasih-Nya terhadap manusia dilakukan
atas sasaran yang tidak berjiwa untuk mengajarkan suatu pelajaran
kesusilaan.
Pohon ara adalah lambang bangsa Yahudi, yang berlimpah-limpah dalam
daun-daun pekerjaan keagamaan, tapi mandul dalam buah-buah kebenaran.
Pengutukan pohon itu menubuatkan nasib para pembesar Yahudi, yang saat itu
siap untuk menolak Mesias mereka. Israel Memang diumpamakan dengan pohon
ara, coba perhatikan ayat berikut ini:
. Hosea 9:10, "Seperti buah-buah anggur di padang gurun Aku mendapati Israel
dahulu; seperti buah sulung sebagai hasil pertama pohon ara Aku melihat
nenek moyangmu. Tetapi mereka itu telah pergi kepada Baal-Peor dan telah
membaktikan diri kepada dewa keaiban, sehingga mereka menjadi kejijikan sama
seperti apa yang mereka cintai itu."
• Yohanes 7:8-10, "'Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ,
karena waktu-Ku belum genap.' Demikianlah kata-Nya kepada mereka, dan Iapun
tinggal di Galilea. Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta
itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam."
Kisah ini tidak menerangkan bahwa Yesus bodoh, idiot, dan sebagainya.
Yohanes 7:1 s/d 8:9 menceritakan kisah Yesus pada hari Raya Pondok Daun.
Yohanes 7:1-9 tentang Yesus pindah dari Galilea ke Yerusalem sedangkan
Yohanes 7:10-52 adalah tentang Hari Raya Pondok Daun itu sendiri.
• Yohanes 2:4, "Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu?
Saat-Ku belum tiba.""
Kisah ini tidak menerangkan bahwa Yesus bodoh, idiot, dan sebagainya. Dalam
Injil Yohanes beberapa mujizat digambarkan selaku tanda-tanda. Terdapat
rangkaian dari tujuh tanda demikian dalam cerita Yohanes. Sesudah bagian
besar tanda ini menyusullah pembicaraan tentang salah satu pokok terkait.
Karena itu, jelas, bahwa tanda-tanda ini adalah bagian pelengkap dari
struktur Injil ini. Tanda pertama dapat dikatakan menyediakan pentas bagi
yang berikutnya. Segala tanda ini ditafsirkan sebagai kenyataan dari
kemuliaan Kristus.
• Yohanes 2:11, "Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang
pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan
kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya."
Dalam Yohanes 2:4 terasa agak aneh bahwa Yesus bicara kepada ibu-Nya
demikian, tapi tujuan-Nya ialah untuk mengoreksi pikiran Maria, bahwa Maria
dapat memberi petunjuk-petunjuk kepada Dia. Perintah-perintah yang
diterima-Nya datang hanya dari Allah Bapa (sebagaimana Yohanes tunjukkan
begitu sering). Tapi ucapan ini dapat pula dipandang sebagai langgam bahasa,
yang berarti "pikiran dan kepentinganmu tidaklah sama dengan pikiran dan
kepentingan-Ku. Waktu bertindak dengan cara yang engkau sarankan belum
tiba". Hal ini dapat dibandingkan dengan ayat-ayat bei\rikut ini:
• Yohanes 7:2-6, "Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari
raya Pondok Daun. Maka kata saudara-saudara Yesus kepada-Nya: 'Berangkatlah
dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat
perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan. Sebab tidak seorangpun berbuat
sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau
Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia.'
Sebab saudara-saudara-Nya sendiripun tidak percaya kepada-Nya. Maka jawab
Yesus kepada mereka: 'Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada
waktu.'"
• Yesaya 55:8-9, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu
bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.Seperti tingginya langit dari
bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari
rancanganmu."
Hunjukan kepada "saat Yesus merupakan salah satu ciri Injil ini, yang
menyatakan mendatangnya krisis dan klimaks, tidak saja dalam pikiran
penulis, tapi juga dalam pikiran Yesus. Ayat-ayat berikut ini dapat
dijadikan rujukan.
• Yohanes 7:30, "Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun
yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba."
• Yohanes 8:20, "Kata-kata itu dikatakan Yesus dekat perbendaharaan, waktu
Ia mengajar di dalam Bait Allah. Dan tidak seorangpun yang menangkap Dia,
karena saat-Nya belum tiba."
• Yohanes 12:23, "Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba
saatnya Anak Manusia dimuliakan."
• Yohanes 12:27, "Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan?
Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang
ke dalam saat ini."
• Yohanes 13:1, "Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah
tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.
Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia
mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya."
• Yohanes 17:1, "Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan
berkata: 'Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu
mempermuliakan Engkau.'"
• Roma 3:7-8, "Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah
bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?
Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata:
'Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.'
Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman." - Terjemahan
Authorized Version 1769, "For if the truth of God hath more abounded through
my lie unto his glory; why yet am I also judged as a sinner? And not rather,
(as we be slanderously reported, and as some affirm that we say,) Let us do
evil, that good may come? whose damnation is just."
Ayat ini tidak menyatakan bahwa Paulus membolehkan pengikut berbuat dosa,
melainkan menjawab atas bantahan-bantahan orang Yahudi. Penilaian yang
menyamakan kebenaran Yahudi dengan ketidakbenaran itu pasti mendapat
tantangan. Kecaman terhadap penilaian Paulus mungkin datang dari
penentang-penentangnya. Mungkin juga kecaman ini timbul dalam pemikiran
Paulus sendiri pada saat ia memikirkan tuduhan yang berat terhadap bangsanya
sendiri. Pembaca boleh sependapat dengan kemungkinan yang terakhir, kalau
diingat akan gaya surat seperti 'diatribe'. Tetapi juga boleh memperhatikan
pandangan baru tentang surat ini, yaitu yang mengatakan, bahwa Paulus di
sini memaparkan tantangan-tantangannya terhadap orang-orang Yudais. Kalau
pandangan ini benar, maka di sini Paulus menjelaskan jawaban-jawaban yang
biasa diberikannya dalam perdebatan dengan orang-orang Yahudi Kristen yang
selalu mengikuti dia untuk berbantah-bantah. Bantahan-bantahan dari
pengejek-pengejek yang tidak kelihatan ini ada empat dan yang keempat itulah
yang ditulis dalam Roma 3:7.
Penentang berkeras dan berkata, "Kalau dosaku melayani dengan memuliakan
kedudukan Allah, maka hal ini tidak hanya meniadakan dasar bagi Allah untuk
menghakimi saya, tapi malahan memaafkan dosa saya." Perhatikanlah, Paulus
mengungkapkan bantahan ini dengan melawankan "kebenaran Allah" dengan "kedus
taan orang Yahudi"; jadi kesediaan Allah kepada janji-janji dan
penyataan-Nya dilawankan dengan kedustaan karena tidak percaya dan
kebohongan bangsa Israel. "Mengapa saya masih dipandang sebagai orang
berdosa?" katanya.
Kesimpulan yang wajar adalah: "Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang
baik timbul daripadanya." Paulus di sini mengatakan, bahwa beberapa orang
memfitnah dia karena mereka mengatakan bahwa ungkapan yang jahat ini
merupakan bagian dari ajarannya. Pemfitnah-pemfitnah ini dibungkam mulutnya
dengan kata: "sudah selayaknya mendapat hukuman." Maksudnya: mereka memang
salah dan memang seharusnya mereka dihakimi. Mereka telah memutarbalikkan
ajaran Paulus agar dengan jalan pikiran mereka yang jahat itu (yaitu:
"Marilah kita berbuat jahat supaya yang baik timbul daripadanya") ajaran
Paulus ditertawakan orang dan dipandang immoral. Pada saat itu Paulus tidak
mau melanjutkan jawaban terhadap mereka; ini akan diperbuatnya kemudian bila
ia menekankan kesatuan dengan Kristus dan pemenuhan tuntutan-tuntutan hukum
Allah orang orang percaya dengan Roh Kudus. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak
dibicarakan secara panjang dalam Roma 3:1-20 oleh rasul Paulus. Nanti
pertanyaan-pertanyaan ini akan muncul kembali. Bantahan keempat berkenaan
dengan Roma 3:7 dibicarakan dalam Roma pasal 6.