Bintang Indonesia Online
http://www.bintang.com
Edisi 10 Desember 1997
---------------------------------------------------------------------------
LAPORAN EKSKLUSIF PERNIKAHAN TAMARA BLESZYNSKI - TEUKU RAFLY PASYA
''Dear Ipon and Tamara. Wishing you a happy wedding. Congratulation, may
the both of you always be blessed with love and happines.''
[Image] Demikian kalimat yang tertera di sebuah karangan bunga di kediaman
keluarga Teuku Syahrul, di Jalan Tirtayasa Raya 49 Jakarta, untuk
menyambut kedatangan putra mereka, Teuku Rafli Pasya dan bintang tenar
Tamara Bleszynski, yang baru menikah di Masjidil Haram, Mekkah. Kapan pun,
berita pernikahan memang membahagiakan. Peristiwa sakral ini selalu
menggugah orang untuk berpaling dan larut di dalamnya. Apalagi yang menikah
Tamara Bleszynski, bintang papan atas yang tengah berkibar. Tanggal 1
Desember lalu, keduanya resmi menjadi suami istri. Akad nikah dilangsungkan
di depan Ka'bah, pukul 5.30 waktu setempat seusai menunaikan sholat shubuh,
yang dilanjutkan dengan Thawaf . Rencana pernikahan mereka sebenarnya sudah
dilansir beberapa media, seminggu sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Tapi
tak satu pun yang memastikan tanggal pernikahan. ''Hidup saya lebih komplit
sekarang,'' kata Tamara dengan mata berbinar.
Teuku Rafly Pasya, putra kedua pasangan Teuku Syahrul dan Cut Haslinda,
lahir di Jakarta, 10 Agustus 1973. Curriculum Vitae-nya cukup "gawat".
Gelar Bachelor of Science in Communication diraih di Norwich University,
Military College of Vermont , Amerika Serikat, tahun 1994. Dua tahun
berikutnya, Ipon -- begitu dia biasa disapa, meraih gelar Master of Science
in Multinational Commerce di Boston University. Ipon bertemu Tamara pertama
kali 8 bulan lalu. Keduanya resmi pacaran sebulan lalu. Dua minggu setelah
pacaran, memutuskan menikah. ''Seperti mendapat anugerah yang luaaar
biasa,'' kata Ipon dengan senyum mengembang. ''Ini barangkali buah dari
doa-doa saya,'' tambah pengidola Bill Clinton ini. Ipon tak menampik
kenyataan, ketertarikannya pada Tamara karena semua kriteria yang
diinginkan ada di wanita kelahiran Bandung, 12 Desember 1974 itu. ''Tapi
itu bukan satu-satunya alasan. Saya kagum terhadap keseriusannya belajar
agama,'' ungkap Ipon.
Sedang Tamara bersedia menerima Ipon sebagai suami karena menginginkan
sosok yang bisa membimbingnya. ''Dialah orang yang tepat buat saya," ucap
bintang yang sedang menyelesaikan sinetron Perjalanan bersama Ari Wibowo.
Ipon dan Tamara mengatakan siap mengarungi bahtera rumah tangga, membangun
saling pengertian sejak dini, termasuk soal anak. ''Dia ingin empat anak,
saya pengin tiga. Tapi kami bisa mengkompromikan,'' kata Tamara. Ipon
bersedia memenuhi keinginan Tamara kuliah lagi, bila kontraknya dengan
rumah produksi Multivision selesai. Perkawinan mereka kian sempurna berkat
dukungan kedua orangtua masing-masing. ''Sedari awal saya yakin Ipon pemuda
yang baik,'' puji Farida Gasik, ibunda Tamara. Sedang Nyonya Cut Haslinda,
ibunda Ipon, yakin Tamara mampu menjalankan kewajiban sebagai istri.
''Kalau ingin sukses, mereka harus tahu kewajiban masing-masing,'' saran
wanita asal Banda Aceh ini. Zbignew Bleszynski dan Teuku Syahrul yakin,
anak-anak mereka mampu melewati setiap tantangan yang datang.
Janji telah diucapkan. Mudah-mudahan jadi pasangan abadi. Tamara dan Ipon,
selamat menempuh hidup baru. *masrur/lukmanoelhakim
---------------------------------------------------------------------------
TAMARA:
Sekarang Hidup Saya Lebih Komplit
Alhamdulillah, kami resmi jadi suami istri sejak 1 Desember lalu. Akad
nikah dilangsungkan di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, pukul 5.30 waktu
setempat, seusai sholat shubuh. Selain Mama dan Rafli, beberapa orang dari
Konsul Jenderal RI di Arab Saudi juga hadir. Yang bertindak sebagai wali,
juga salah seorang staf Konsulat Jenderal. Merekalah yang menolong kami
mengurus surat-surat serta perijinan. Sebelum berangkat, kami juga
mempersiapkan segala sesuatunya, hingga semua berjalan lancar. Pokoknya,
sudah sah secara hukum dan agama. Waktu itu Rafli memberi saya Al Qur'an
dan seperangkat alat sholat sebagai mas kawin.
Saya minta maaf pada teman-teman dan siapa saja yang nggak saya beritahu
sebelumnya. Kami menikah di sana semata-mata dengan alasan: sebuah
pertalian yang suci dan dengan niat suci, alangkah afdolnya dilakukan di
Tanah Suci. Apalagi, sudah sejak lama saya menginginkan melakukan Umroh.
Cuma, waktunya belum kesampaian. Syukur, impian saya menjadi kenyataan.
Saya merasa, setelah menikah tanggung jawab lebih besar, baik pada suami
maupun Tuhan. Sekarang, kami jadi lebih sreg melangkahkan kaki menyambut
hari depan.
Sebetulnya rencana menikah ini terbilang kilat, baru 2 minggu setelah kami
resmi pacaran. Kalau semua berjalan lancar, mungkin karena Ridho Allah
semata. Di sana saya nggak mengeluarkan air mata. Tapi air mata bukan
ukuran syahdu atau tidaknya pernikahan bukan?
---------------------------------------------------------------------------
Rafli Bisa Jadi Pembimbing Saya
Wajar bila banyak orang bertanya, siapa sih suami Tamara? Sebelum menjawab
pertanyaan itu, perlu saya tegaskan, saya mencari pria bukan karena gagah
atau kaya, tapi yang mampu mengarahkan dan membimbing saya. Saya yakin
Raflilah orangnya. Agamanya kuat sekali, klop dengan saya yang baru masuk
Islam selama 2 tahun. Saya yakin, dengan dia bakal lebih tentram. Saya
punya keyakinan, orang yang beriman kuat seperti dia tipe pria yang punya
tanggung jawab besar terhadap keluarga. Selain itu, saya melihat, meski
masih muda, sifatnya tidak angin-anginan. Nah, sifat-sifat seperti inilah
yang membuat saya merasa aman. Nggak banyak lho pria seperti dia, apalagi
di zaman seperti ini. Tahu 'kan maksud saya? Banyak lelaki hanya bisa
ngobral janji!
Saya bertemu Rafli pertama kali 8 bulan lalu. Salah seorang teman Rafli,
teman saya juga. Kami berkenalan. Waktu itu biasa-biasa saja, hanya
ngobrol. Kami hanya ketemu bila ada acara-acara tertentu atau pesta ulang
tahun teman. Tapi, dari awal saya melihat Rafli memang beda dengan yang
lain. Sebulan lalu, kami resmi pacaran. Dua minggu setelah pacaran, kami
sepakat untuk menikah.
Orang pertama yang saya beritahu ibu saya. Anehnya, ibu saya langsung
setuju. Tapi dengan syarat, harus dikenalkan lebih dulu. Setelah itu, semua
makin lancar. Mungkin berkat doa-doa saya. Saya selalu minta pada Tuhan
agar diberikan jodoh yang cocok buat dunia dan akherat.
Dulu, dalam setiap wawancara dengan media massa, saya selalu katakan ingin
menikah di usia 27 tahun. Alasan saya waktu itu, karena masih ingin sekolah
lagi. Juga, karena belum siap menerima kehadiran laki-laki dalam kehidupan
saya. Tapi ingat, semua itu hanya rencana. Kalau Tuhan menggariskan saya
harus begini, tak ada yang mampu menahan.
---------------------------------------------------------------------------
Bakal Kuliah Lagi Bersama Sang Suami
[Image] Saya selalu ingin kuliah lagi. Keinginan itu terus menggelora
dalam dada. Meski sekarang resmi jadi istri, saya nggak khawatir
bakal terhambat. Rafli memberi kesempatan sepenuhnya pada saya. Ini
membahagiakan saya. Kalau nggak ada halangan, saya ingin melanjutkan kuliah
di bidang seni. Saya belum tahu bakal sekolah di mana, yang penting Rafli
sudah memberikan lampu hijau. Soalnya, saya harus menyelesaikan kontrak
saya dengan Multivision. Selain menyelesaikan syuting sinetron Perjalanan
sebanyak 20 episode yang baru saya selesaikan 8 episode, bersama Ari
Wibowo, saya juga harus bermain di Anakku Terlahir Kembali II , sebanyak 10
episode.
Insya Allah kami juga bakal mengadakan resepsi. Artinya ditunjukkan pada
orang lain, agar tidak menimbulkan fitnah. Kalau nggak ada halangan,
mungkin setelah Lebaran. Yang pasti kami akan undang semua. Soal bulan
madu, rasanya juga belum bisa kami lakukan sekarang. Entah nanti, yang
pasti tempatnya masih rahasia. Demikian juga soal momongan. Saya nggak bisa
katakan ingin punya anak setahun lagi. Sebab, kalau Tuhan menghendaki,
semua bisa terjadi. Saya ingin punya empat anak, sedang Rafli ingin tiga.
Tapi nggak masalah, ini bisa kami kompromikan.
---------------------------------------------------------------------------
TEUKU RAFLI PASYA:
Saya Bersyukur, Doa Saya Dikabulkan
[Image] (Pria yang akrab dipanggil Ipon ini, kelahiran Jakarta, 10 Agustus
1973. Putra kedua dari lima bersaudara pasangan Drs. H. Teuku
Syahrul -- anggota DPR RI asal Aceh, dengan Hj. Cut Haslinda ini, mengenyam
pendidikan dasar dan menengah di Al Azhar Jakarta. Pendidikan tinggi
diselesaikan di Amerika. Dari Norwich University, Military College of
Vermont , USA, pengagum Bill Clinton yang bertinggi/berat 175 cm/70 kg,
memperoleh Bachelor of Science in Communication , 1994. Sementara, gelar
Master of Science in Multinational Commerce diperoleh dari Boston
University, 1996. Kebahagiaan pria yang kini menjabat sebagai Business and
Development Manager sebuah perusahaan swasta yang berkantor di bilangan
Sudirman ini, semakin lengkap).
Kalau ditanya, bagaimana perasaan setelah menikah, saya bilang, sama dengan
perasaan orang lain yang berhasil mendapatkan yang diinginkan. Sangat
bahagia. Semula kami memang hanya berniat melakukan ibadah Umroh bersama.
Saya menganggap itu satu jalan yang baik untuk mohon petunjuk. Kalaupun ada
rencana lain, itu sekadar rencana. Alhamdulillah, terbuka jalan. Allah
membukakan jalan kami berdua. Apakah ini hanya bualan. Kepengin, tapi
nantinya tidak bertanggung jawab atau apa, bisa saja. Karena, bila berikrar
di sana, di depan Ka'bah, kita tidak bisa main-main, tidak bisa bohong,
tidak boleh macam-macam. Ada sedikit saja niat jelek, nggak bakalan jadi.
Sekalipun niat semula cuma untuk ibadah, kita mempersiapkan segala sesuatu
yang diperlukan sebagaimana layaknya mereka yang akan menikah di Masjidil
Haram. Dua minggu sebelum berangkat, saya telah persiapkan semua surat.
Baik surat-surat ijin untuk saya, maupun surat-surat ijin Tamara. Termasuk,
surat kuasa dari ayah Tamara (Tamara menimpali, ''Surat-surat itu kemudian
kita faks ke Konjen di Jeddah. Jadi mereka sudah tahu. Tiba di sana, kita
tinggal melapor. Mereka juga yang menentukan, siapa walinya,'' tambah
Tamara).
Setiba di Jeddah, saya menghubungi Konsulat Jendral. Mereka meminta surat
kuasa dari ayah Tamara, saksi dari Jakarta, surat ijin dari orangtua saya,
dan lain sebagainya. Semua sudah siap. Kita juga membuat surat untuk
meminta wali hakam. Karena, akad nikahnya di sana. Di wilayah kekuasaan
Konsulat Jenderal Indonesia untuk Jeddah. Lalu, mereka mununjuk seorang
konsuler, Pak Mukmin Maulana, untuk bertindak sebagai wali. Selesai subuh,
di hari terakhir Umroh kami, sekitar pukul 05.30, persis pada 1 Desember
1997 (1 Sya'ban 1417 H), akad nikah dilangsungkan. Selesai akad nikah, kami
melakukan thawaf . Malamnya, langsung terbang ke Jakarta.
Saat akad nikah berlangsung, saya tidak didampingi orangtua. Karena mereka
memang tidak ikut. Persiapan berangkat Umroh, memang terbilang singkat.
Tidak cukup waktu untuk mempersiapkan segalanya, termasuk orangtua saya.
Lagi pula, lebih baik saya membawa pulang hasil yang baik. Ketimbang saya
sudah merepotkan mereka, tapi hasilnya tidak baik. Bisa membuat mereka
sedih. Di Mekah saya benar-benar minta petunjuk. Apakah Tamara memang baik
untuk saya, untuk kehidupan dan agama saya. Orangtua saya tidak keberatan.
Sebab, ini 'kan panggilan. Saya bilang sama orangtua, seandainya Allah
membuka jalan saya dan Tamara, saya mohon petunjuk dan restu.
Saya akhirnya berangkat sendiri. Tamara didampingi ibunya dan Pak Cecep --
orang yang dipasrahi ayah kandung Tamara, Mr. Z. Bleszynski membawa surat
perwalian. Secara hukum Islam, pernikahan kami sudah sah. Ada wali hakim,
ada saksi, ada kedua mempelai, dan ada mas kawinnya, seperangkat alat
sholat dan Al Qur'an. Sebagai suami saya siap menanggung risiko berumah
tangga. Sebab, itu memang sudah menjadi janji saya. Alhamdulillah, pintu
Ka'bah sedang dicuci, sehingga pintunya dibuka (Ka'bah dicuci dalam setahun
dua kali. Tiap 1 Sya'ban 1617 H -- bertepatan dengan 1 Desember 1997). Kata
orang-orang di sana, itu bagus sekali. Saya merasa sangat terharu mendapat
momen seperti itu.
Ini benar-benar buah dari doa saya tahun lalu. Saya minta persis di depan
Ka'bah. Setelah saya menyelesaikan gelar master di Boston tahun lalu,
sebelum pulang saya Umroh. Mensyukuri nikmat kelulusan itu. Pada saat itu,
di depan Ka'bah saya memohon. Saya pikir, sesudah sekolah, lalu kerja, apa
lagi? Ya, menikah dan mempunyai keluarga yang sakinah , yang damai. Saya
mohon, kalau memang dipertemukan dengan jodoh, saya ingin membawanya ke
depan Ka'bah. Kalau bisa menikah di depan Ka'bah. Itu, sekitar Oktober
tahun lalu.
---------------------------------------------------------------------------
Saya Mau Tiga Anak, Tamara Minta Empat
[Image] Saya mengenal Tamara, barangkali sudah lama. Saya tahu, karena
Tamara seorang bintang. Saya mengenal secara lebih nyata sekitar
delapan bulan lalu. Itu pun baru sekadar tahu saja. Saya mulai mengenalnya
lebih jauh sekitar satu setengah bulan lalu. Kami resmi pacaran kurang
lebih satu bulan. Dua minggu sebelum berangkat Umroh, saya coba merevisi
hubungan itu. Walaupun semua orang tahu, hubungan kami masih sangat muda.
Bahkan lebih muda dari umur jagung. Kendati begitu, kita sudah pikirkan.
Karena saya sendiri bertanya, kita ini arahnya ke mana. Mau serius atau
bagaimana? Alhamdulillah, karena saya sendiri sudah kerja, visinya ke
depan, bukan main-main lagi. Alhamdulillah, Tamara juga sama. Akhirnya,
dengan diawali niat baik, Allah membukakan jalan. Walaupun mungkin, kalau
kita lihat, kok secepat itu.
Saya memilih Tamara, karena semua kriteria yang saya inginkan, ada padanya.
Manusia memang nggak ada yang sempurna. Tapi, banyak sekali kriteria yang
saya inginkan, ada pada Tamara. Saking banyaknya, saya susah menyebut satu
per satu. Saya salut dengan sikapnya. Masih muda, tapi sangat tekun ibadah.
Itu barangkali, faktor yang sangat kuat mendorong saya melamar Tamara. Saya
memilih Tamara karena, pertama, Tamara sedang rajin-rajinnya mendalami
Islam. Dia cari tahu sendiri, dan dia menikmati -- menjalani proses
ke-Islamannya itu. Kedua, saya yakin, Allah mengabulkan doa saya setahun
lalu, dengan memberikan Tamara pada saya. Karena itu saya sangat yakin,
Tamara memang pilihan yang tepat.
Orang pertama yang saya beritahu, ibu saya. Tapi, saya tidak ingin gegabah.
Sebelum berbicara panjang lebar dan menjurus, saya memperkenalkan Tamara
lebih dulu pada kedua orangtua, juga keluarga saya. Terus terang, semua
sudah tahu, siapa Tamara. Setelah kenal lebih jauh, mereka ternyata
tertarik pada sikap Tamara, sopan santunnya, ya, banyaklah. Pendeknya,
semua senang dan setuju saya menjalin hubungan dengan Tamara.
Kalau ditanya, apa yang membuat saya cepat-cepat menikah, saya sendiri
tidak begitu paham. Yang jelas, tinggal yang satu ini yang belum saya
lakukan dalam hidup saya. Sekolah sudah, kerja sudah. Menikah dulu, atau
kerja dulu, kita nggak tahu. Tapi, kalau sudah dibukakan jalan, ya jadi.
Itu 'kan panggilan dari Yang Maha Kuasa.
Terus terang, saya tidak pernah membayangkan beristrikan artis. Kalau
terpesona, iyalah. Saya tidak keberatan Tamara terus main sinetron. Itu
'kan karier. Nggak boleh dong , dia sudah meniti kariernya beberapa tahun,
dia punya cita-cita, terus saya datang, bilang nggak boleh begini-nggak
boleh begitu. Yang penting, mana yang baik dan mana yang nggak. Buat saya
nggak apa-apa (Tamara nyeletuk lagi. ''Kamu akan menemani saya sekolah 'kan
ya?'' ujar Tamara manja. ''Insya Allah,'' sahut Rafli).
Saya merasa mendapat anugerah yang luar biasa. Saya kembali lagi ke sana,
Umroh kedua saya, bersama Tamara. Tentu saja, saya sangat surprised .
Sebagai suami, saya mencoba menjadi yang terbaik untuk Tamara. Apalagi
Tamara melihat saya lebih karena agama saya. Sekalipun dibilang alim
sekali, ya tidak. Pakar agama juga bukan. Sebisa saya, saya akan
mengajarkan dia bagaimana menjadi muslimah yang baik. Saya dari TK sampai
SMA di Al Azhar. Saya akan sumbangkan yang saya tahu. Saya pun berharap,
barangkali anugerah ini akan semakin lengkap, bila keluarga sakinah kami
dikaruniai tiga anak. Tamara sih maunya empat.
---------------------------------------------------------------------------
FARIDA GASIK (39), IBU KANDUNG TAMARA:
Sedari Awal Saya Tahu Rafli Anak Baik
[Image] Orangtua mana sih yang tidak bahagia melihat anaknya menikah?
Apalagi mendapat pemuda sebaik Rafli yang saleh dan taat beragama.
Dalam soal ini, dari dulu saya memang agak keras. Semua saya lakukan agar
Tamara tidak menyesal nantinya. Bila Tamara jalan dengan laki-laki, saya
selalu ingin tahu siapa dia, tinggalnya di mana, siapa orangtuanya dan
bagaimana latar belakangnya. Bukan berarti anak saya harus jalan dengan
anak konglomerat. Yang penting, berkelakuan baik. Mana ada sih orangtua
yang tega melihat anaknya sengsara?
Ide menikah di Mekkah sebenarnya sudah direncanakan sejak lama. Saya dan
Tamara sejak dulu memang ingin Umroh, cuma belum ada kesempatan.
Alhamdulillah, saya dan Tamara datang sekaligus menikah.
Saya orang pertama yang diberitahu ketika dia igin menikah. ''Ayolah Ma,
saya serius nih ,'' begitu katanya waktu itu. Saya bilang sama dia,
boleh-boleh saja. Tapi, harus dikenalkan lebih dulu. Ketika saya bertemu
Rafli, feeling saya mengatakan, pemuda ini lain dari yang biasa. Ini
feeling seorang ibu, yang biasanya banyak benarnya. Keyakinan saya makin
bertambah, setelah mengetahui orangtuanya. Saya makin yakin, dia memang
cocok dengan Tamara.
Meski Tamara baru berusia 23 tahun dan Rafli 24, tapi saya yakin mereka
mampu menjalani hidup berumah tangga. Soal tinggal di mana, terserah. Mau
tinggal di sini, boleh. Di sana, juga boleh. Di mana saja, juga boleh. Soal
cucu juga demikian. Kapan saja, boleh. Kebetulan, di rumah ini sudah lama
nggak ada tangis dan suara anak kecil.
---------------------------------------------------------------------------
ZBIGNEW BLESZYNSKI (68), AYAH KANDUNG TAMARA:
Mudah-mudahan Mereka Bisa Melewati Setiap Tantangan
[Image] Komentar saya tentang pernikahan mereka? Baik! Sebagai Papanya
saya bahagia, seperti juga perasaan mereka sekarang. Saya kira
mereka pasangan yang serasi. Tamara pernah tinggal di Australia beberapa
tahun. Begitu juga Rafli, tinggal di Amerika. Pengalaman hidup mandiri di
luar negeri, mungkin makin mengokohkan pondasi rumah tangga mereka.
Perkawinan bukan untuk sehari atau dua hari, tapi untuk selamanya. Itu
membutuhkan saling pengertian yang besar. Mudah-mudahan mereka mampu
melewati setiap tantangan. Saya yakin, mereka mampu. Soal usia bukan
masalah, toh banyak yang menikah lebih muda dari Tamara dan Rafli. Sebagai
Papanya, saya memberikan dukungan moril. Makanya, sehari sebelum berangkat
ke Tanah Suci, mereka saya undang untuk selamatan dan berdoa di mesjid di
Hotel Bukit Indah, Puncak, Jawa Barat. Sekali lagi, mudah-mudahan mereka
jadi pasangan abadi.
---------------------------------------------------------------------------
CUT HASLINDA SYAHRUL (52), IBU KANDUNG RAFLI:
Mereka Harus Tahu Tugas Masing-masing
Saya bersyukur, anak saya sudah melaksanakan kewajiban sebagai umat
beragama. Apalagi mereka menikah di Tanah Suci, di depan Ka'bah, tempat
yang diidamkan Rafli dan Tamara sejak lama. Saya yakin mereka mampu, karena
saya tahu Rafli sejak kecil. Basic pendidikannya cukup. Itu sudah
dibuktikan. Meski hidup beberapa tahun di Amerika, dia tak pernah tergoda
hal-hal yang merugikan kariernya.
Rafli memang beruntung. Setahun lalu, saat lulus dari program Master di
Boston University , saya tawarkan dia pergi ke tempat yang disukai sebagai
hadiah. Dia memilih melakukan Umroh ke Tanah Suci. Di sana dia berdoa agar
diberi kesempatan untuk kembali lagi dengan seorang pujaan hati. Doa itu
ternyata dikabulkan Yang Maha Kuasa. Yang membuat saya lega dan tidak
mengkhawatirkannya, sejak dulu Rafli punya tujuan hidup yang jelas. Dia
punya planning tersendiri, termasuk soal istri. Dalam hal ini kami juga
nggak pernah ikut campur. Apa yang dirasa baik, kami pasti merestui.
Terakhir, saya harapkan Rafli tahu tugasnya sebagai suami. Begitu juga
Tamara. Mereka harus share satu sama lain.
---------------------------------------------------------------------------
PROSESI PERNIKAHAN TAMARA BLESZYNSKI - RAFLI
Dalam dua minggu terakhir berita tentang bintang tenar Tamara Bleszynski
menyeruak ke permukaan. Beberapa media bahkan melansir berita itu sebagai
laporannya. Cuma, belum ada yang memastikan kebenaran berita itu.
Menghadapi momen ini, BI dengan Jurnalisme Kasih Sayang membuktikan
keampuhannya. Untuk menebus keingintahuan pembaca, berikut kami sajikan
prosesi pernikahan Tamara Bleszynski dan Teuku Rafli Pasya di Tanah Suci,
Mekkah.
25 November 1997
Sehari sebelum berangkat Umroh, dilakukan selamatan di hotel milik ayah
kandung Tamara -- Mr. Zbignew Bleszynski, Hotel Bukit Indah, Puncak, Jawa
Barat.
Rabu, 26 November 1997
Pukul 10.45, Tamara didampingi ibunya, Farida Gasik, Rafli dan H. Cecep,
dengan pesawat Garuda (GA 990) bersama rombongan Umroh Biro Perjalanan
Patuna, terbang menuju Jeddah.
Pukul 18.10, Tamara-Rafli, Farida Gasik dan rombongan tiba di Bandar Udara
King Abdul Aziz Jeddah, melanjutkan perjalanan ke Medinah, dan menginap di
Hotel Oberoi. Menginap di Medinah selama dua hari.
Jumat, 28 November 1997
ŠPukul 14.00 menuju Mekkah Al Mukaromah. Menginap di Hotel Hilton.
Senin, 1 Desember 1997
Pukul 05.30. Usai sholat subuh, persis di depan Ka'bah yang pintunya
terbuka karena sedang dicuci, Tamara Bleszynski - Teuku Rafli Pasya, Msc.,
melakukan ijab kabul dengan wali konsuler Konjen RI untuk Jeddah dan
disaksikan beberapa orang, termasuk ibu kandung Tamara, Farida Gasik. Mas
kawin yang disebutkan dalam akad nikah itu berupa Al Qur'an dan seperangkat
alat sholat. Usai melaksanakan ijab kabul, Tamara dan Rafli melakukan
thawaf.
Pukul 12.00, Tamara-Rafli, Farida Gasik dan rombongan check-out dari Hotel
Hyatt, Jeddah, transfer ke bandara internasional King Abdul Aziz, Jeddah.
Pukul 19.40, Tamara-Rafli, Farida Gasik dan rombongan terbang menuju
Jakarta.
Selasa, 2 Desember 1977
Pukul 11.35, Tamara-Rafli, Farida Gasik dan rombongan tiba di Bandara
Soekarno-Hatta. Tamara-Rafli, Farida Gasik dan H. Cecep, dijemput dan
langsung menuju kediaman H. Teuku Syahrul -- akrab dipanggil Teuku Rully,
di Jalan Tirtayasa Raya 49, Kebayoran.
Di kediaman Teuku Rully dilakukan selamatan, syukuran menyambut orang-orang
yang baru datang dari Umroh. BI satu-satunya wartawan yang hadir dalam
upacara selamatan itu. Rabu, 3 Desember 1997
Pukul 20.00, Tamara-Rafli dan keluarga mendapat ucapan selamat dari BI .
Acara dilanjutkan dengan wawancara dan pemotretan di kediaman Tamara di
bilangan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Pukul 21.00, kedua orangtua Rafli, Drs. H. Teuku Syahrul beserta istri, Hj.
Cut Haslinda, tiba. Melanjutkan pembicaraan dengan ayah kandung Tamara, Mr.
Bleszynski, soal rencana seserahan dan lamaran secara formal antar-keluarga
yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
Pukul 22.00, pemotretan kedua mempelai bersama keluarga. Pukul 22.30, kedua
orangtua Rafli, meninggalkan tempat.
Pukul 23.15, BI meninggalkan kediaman Tamara.
[Image]
---------------------------------------------------------------------------
| Berita Utama | Bisik-Bisik | Gosip Mandarin | Gosip Telenovela | Hongsui
| Zodiak | TV & Bioskop | Keluarga Para Bintang | Tips | Tafsiran TV | Tafsiran Video |
---------------------------------------------------------------------------
--
Posted using Reference.COM http://www.reference.com
Browse, Search and Post Usenet and Mailing list Archive and Catalog.
Sift, Inc. accepts no responsibility for the content of this posting.