Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

[SP] Kekejaman & kekerasan struktural di era Soeharto (8/9)

0 views
Skip to first unread message

Hudoyo Hupudio

unread,
Aug 11, 1998, 3:00:00 AM8/11/98
to
Suara INDEPENDEN, No 11/III/September 1997
TOPIK UTAMA

YB Mangunwijaya, Budayawan:

"ORDE BARU ITU LAHIR DARI KEKERASAN"

Keprihatinan Mangun, tentang gejala meruyaknya kekerasan massa, dapat
ditemui di hampir setiap karyanya. Tokoh ini pula, yang tak henti-henti
menyarankan agar Tragedi 65 dipelajari secara tuntas, agar tak terulang
di masa depan. Mangun berpendapat, kekerasan di masa Orde Baru ini lebih
sistematis, dibanding Orde Lama. Intensitasnya pun makin tinggi. Ia
menunjuk macetnya demokrasi, sebagai sebab uneg-uneg masyarakat
menumpuk; dan siap meledak kapan saja, seperti lahar gunung berapi yang
lama terpendam. Berikut cuplikan bincang-bincang Suara INDEPENDEN dengan
romo yang juga novelis itu, di rumahnya. Termasuk soal Kalimantan Barat,
yang dinilainya belum selesai.
-----------------------------

* Setelah kekerasan massal tahun 1965, ternyata masih saja terjadi
kekerasan antar masyarakat...

** Ya, kekerasan setelah tahun 1965 agaknya melebihi jaman Orla. Tapi
memang kekerasan itu gejala umum, semua negara, semua negeri ada
kekerasan. Hanya saja, ada kekerasan yang dapat dikekang oleh adat
istiadat. Kalau "kekerasan gaya modern internasional" itu kan karena
manusia terlepas dari kerangka adat istiadat lama, tapi belum menemukan
adat istiadat baru. Orang itu kalau lepas dari suatu kerangka terus
mudah mengikuti egoisme, hawa nafsu.

* Kekerasan itu terjadi karena faktor struktural atau kultural?

** Orde Baru itu lahir dari kekerasan dan memang metodenya adalah
kekerasan, paksaan. Tidak sekeras, misalnya, Hitler, atau Stalin tapi
toh intinya itu kekerasan. Lain dengan revolusi atau Orde Lama generasi
'28 memang ada kekerasan tapi bukan "struktural". Jadi revolusi waktu
itu pun selalu mencari jalan damai. Hanya karena Belanda mempergunakan
kekerasan maka dilawan. Tapi secara struktural, revolusi dan Orde Lama
itu sendinya, prinsipnya berunding, perdamaian, non violence. Perjuangan
perintisan kemerdekaan jaman Jepang pun tidak ada kekerasan.

* Bagaimana menjelaskan kekerasan masyarakat yang terjadi sejak '65
hingga akhir akhir ini? Kenapa masyarakat Indonesia mampu melakukan itu?

** Karena bangsa Indonesia itu tidak mempunyai suatu struktur dan sistem
mengajukan pendapat pribadi atau mengeluarkan uneg-uneg itu tidak ada.
Ya masyarakat dan negara. Masyarakat juga terkekang, kalau ada yang
punya pendapat lain dengan teman-teman di kampung ya dipukuli. Jadi dari
segi masyarakat, pergaulan sehari hari, berpendapat lain itu musuh.
Agama juga begitu, "Kalau bukan agama saya berarti musuh." Kalau negara
dan masyarakat saling memperkuat suasana ketakutan yang timbul dari
kekerasan fisik maupun psikis, lalu suatu ketika meledak, atau orang
lari. Banyak orang lari; daripada mengamuk, minggat. Sekarang yang lari
itu siapa? Kaum yang punya duit, ijasah tinggi, punya kemampuan itu lari
ke luar negeri; yang tidak suka sama Orde Baru itu ya lari.

* Negara sering menyatakan bahwa bangsa Indonesia itu bangsa yang cinta
damai "toto tentren karto raharjo"...

** Itu kan watak bangsa, suka damai. Tapi itu lain dari struktur
politik. Cinta damai
itu setiap bangsa, setiap orang. Bangsa kita itu memang cinta damai,
tapi cinta damai ini sering dikacaukan dengan "cinta mengalah". Jadi,
kalau tidak berani, terus mengalah, dongkol tapi diam. Itu sering
disebut cinta damai tapi sebenarnya bukan itu cinta damai. Terus
menghindari konflik atau ya, "jangan ramailah, jangan bikin heboh", itu
belum tentu cinta damai. Jadi cinta damai bagi bangsa kita itu
sebetulnya ideal. Tapi kenyataannya banyak orang yang mengamuk, terutama
akhir-akhir ini.

* Ada kepentingan negara dengan jargon "cinta damai" itu?

** Ya, mestinya begitu. RI itu dulu, jaman revolusi dan Orla, tidak
pakai kekerasan. Bahwa ada orang yang keras, itu memang ada, tapi tidak
struktural, tidak sistematis, karena ada arus top down dan bottom up.
Jadi kalau top down melulu, pasti ada kekerasan. Dan kekerasan itu tidak
hanya kekerasan brutal, fisik, tapi juga ada kekerasan batin, mental.

Kalau ada suatu suasana di mana masyarakat takut, dan ketakutan itu
tidak hanya di kalangan bawah tapi juga kalangan menengah, kalangan
atas, itu indikator paling jelas ada kekerasan struktural. Di Orde Lama
orang tidak takut. Ada orang menderita, orang lapar, orang menggerutu,
orang protes, orang maki-maki Soekarno, tapi tidak takut. Revolusi juga
begitu. Jaman Belanda itu takut dan sejak tahun 1965. Dan yang takut
bukan orang kecil saja; semua pegawai negeri itu semua kan takut,
walaupun menteri atau dirjen ya takut, gubernur takut, panglima pun
takut, profesor juga takut. Nah, itu indikator bahwa iklim kekerasan
merajalela.

* Amok itu sebenarnya gejala apa?

** Amok ya karena orang tidak berani; ketakutan yang menumpuk..
menumpuk.. menumpuk. Gambaran paling tepat itu seperti gunung berapi
itu. Laharnya menumpuk.. menumpuk, kelihatannya "damai, indah"; tapi 10
tahun kemudian meledak. Kalau masyarakat itu seperti Gunung Merapi ini,
laharnya bisa keluar, seperti gunung di Hawai, ya tidak meletus. Tapi
kalau tersumbat seperti Kelud, Semeru, Galunggung; nah, di situlah maka
meledak.

* Betulkah Amok itu gejala khas Melayu?

** Di mana-mana amok itu ada. Di Inggris juga ada orang menembaki
anak-anak TK, di Australia juga ada orang yang menembaki orang mandi di
pantai. Itu jika orang sedang frustrasi, seperti vulkan yang menumpuk,
tersumbat, tidak ada outlet. Jadi, demokrasi itu mencegah ledakan amok,
itu demokrasi. Kalau tidak demokratis, ya mesti ada amok.

* Apakah tragedi 30 September 1965 itu tergolong amok?

** '65 itu ya amok, jelas itu. Jadi jaman Orla itu sampai Soekarno
menjadi diktator itu orang mengeluarkan pendapat tidak takut. Tapi
sesudah PKI kuasa, sejak konstituante dibubarkan, '59 , itu orang mulai
takut. Karena PKI memang keras, walaupun yang keras tidak hanya PKI,
semua pihak keras. Di situlah mulainya terjadi kekerasan.

* Pihak mana lagi yang keras?

** Ya banyak, yang non-PKI juga keras, Soekarno kemudian juga jadi
keras, ada Manikebu, LEKRA, itu kan kekerasan juga. Jadi sejak Soekarno
jadi diktator -selalu diktator, ketakutan dan kekerasan itu suatu
tritunggal. Selalu ada diktator, ketakutan dan kekerasan. Nah, mulai
Soekarno jadi diktator, PKI banyak (melakukan) intimidasi, partai lain
juga intimidasi, sama saja terus ketakutan merayap di kalangan
masyarakat. Sehingga seperti yang dikatakan Aidit itu, "Republik kita
hamil tua". Hamil tua apa, tidak jelas. Tapi memang betul istilah Aidit
itu. Ternyata ya itu, meledak kekerasan '65.

* Apa ada kesamaan background antara kekerasan massal '65 dengan yang
baru-baru ini terjadi beruntun?

** Itu agak lain. Kebanyakan amok akhir-akhir ini rekayasa, bukan massa.
Bukan penduduk asli di situ; datang dengan truk-truk itu kan orang luar.
Kalau amok '65 itu kan massa di situ sendiri yang membunuh kawannya
sendiri. Tapi yang akhir-akhir ini kan tidak; yang membakar itu kan
bukan orang di situ, didatangkan.

* Seperti Kalbar kan penduduk setempat...

** Lha, itu mungkin. Yang jelas itu Dayak (Sangau Ledo). Kalau Dayak itu
memang psikologi massa. Itu mengamok sungguh, frustrasi, trance. Orang
sudah tidak sadar berbuat apa. Seperti kerasukan. Kalau Dayak yang
membunuh Madura itu sungguh kerasukan, bukan dari luar. Itu memang
perselisihan antara Dayak dan Madura. Itu sejarahnya memang mengerikan.
Jadi di sana itu kalau ada proyek yang mengambil biasanya selalu orang
Madura, atau orang Banjar atau orang Jawa. Orang Dayak itu tersingkir.

Suatu ketika ada seorang kepala desa Dayak, yang entah bagaimana
kebetulan mendapat proyek, tapi kemudian dicemburui. Suatu ketika dia,
anaknya dan sopirnya bepergian di jalan, mereka dihadang oleh pihak yang
mencemburui itu. Anak dan sopirnya kemudian diculik dan disembunyikan,
tapi sopirnya masih sempat melihat bagaimana bosnya itu dipukul dan
dianiaya. Anak dan sopir ini kemudian disuruh pergi tapi nasib kepala
desa ini sudah tidak jelas. Ini kan sudah lama ada api dalam sekam.
Rakyat kemudian menuntut,yaitu paling tidak ABRI harus mengembalikan
jenazah kepala desa yang dibunuh.

Tentu saja ABRI kemudian mencari korban itu. Saya punya sahabat-sahabat
pastor di sana, ABRI datang minta tolong. Sudah ketemu jenazahnya. Nah
jenazah itu akan dikembalikan ke keluarga korban. Keluarga ini sudah
didatangi oleh ribuan orang Dayak, berkumpul di desa korban. Mereka
menuntut supaya jenazah ini dikembalikan. Nah, ABRI minta tolong (pada
pastor-pastor) karena tahu situasi gawat, bagaimana mengembalikan
jenazah ini. Pastor sebagai pimpinan agama supaya meredakan suasana.
Lalu disiapkan. Ada 10 pastor mempersiapkan ini. Kemudian menentukan
hari untuk mengambil jenazah. Pada hari "H", pastor dan beberapa suster
naik mobil berangkat ke tempat ABRI seperti yang sudah disepakati.
Sesampai di sana, ada berita dari ABRI itu bahwa jenazah sudah
dipulangkan ke desa. Nah, pastornya terkejut. "Waduh gawat, sungguh
gawat," gitu. Kemudian rombongan pastor ini dengan mobil ngebut ke desa
itu. Persis pada saat rombongan pastor ini sampai di desa itu, peti
jenazah kepala desa itu sedang dibuka oleh penduduk Dayak.

Ketika penduduk membuka peti, ternyata mayatnya penuh lumpur, belum
dibersihkan, tangannya sudah tidak ada, kepalanya sudah putus tapi
dijahit lagi, dan yang gawat itu kemaluannya hilang. Sudah; ribuan yang
datang itu, pastor sudah tidak mampu untuk menguasai situasi. Ketika itu
kepala keluarga masih bisa mengekang perasaan, kemudian dia pidato,
"Inilah jenazah Ayahanda kepala desa sudah datang, tapi jelas bahwa kami
orang-orang Dayak sudah tidak dianggap sebagai lelaki!" Langsung ribuan
orang itu menjadi semacam trance sambil mengeluarkan bunyi, "uuu..uuu...
uuu.."; itu ribuan. Trance itu bagi kepercayaan Dayak adalah ketika
nenek moyang datang dan manjing (merasuk) kembali pada penduduk
(istilahnya "Tariu"). Kalau sudah demikian, orang Dayak sudah lupa
segala-galanya, tidak kenal takut, tidak takut mati, terus mengamuk.
Mengamuknya luar biasa, berhari-hari. Sampai polisi dan tentara tidak
berani.

Gereja mencoba meredakan itu tapi para panglima bilang, "Ini bukan
urusan gereja, ini urusan Dayak." Trance ini bahkan sampai menjalar ke
daerah Serawak Malaysia, dan penduduk sana juga ikut kesurupan dan
membantu, tapi distop oleh Malaysia sendiri dan ABRI dengan menutup
perbatasan. Tapi ya pasti ada yang menyusup. Terus berhari-hari,
berminggu-minggu terus terjadi pembunuhan, ribuan, ribuan rumah
terbakar.

Tapi masjid tidak ada yang dibakar, dan kalau menemukan Al Quran di
rumah orang Madura, maka Al Quran tersebut dikumpulkan di masjid. Jadi
mereka tidak menyentuh barang-barang yang keramat, masjid aman, mushola
aman, kitab-kitab Al Quran ya diamankan di masjid. Tapi rumah semua
dibakar, habis, dibunuh habis. Mereka itu bisa mencium siapa orang yang
Madura. Bis-bis distop, masuk dalam bis, diciumi penumpangnya, "Wah ini
Madura!" diambil lalu dibunuh. Sesudah '65, ya ini yang besar-besaran.
Lalu Kopassus didatangkan, tapi tidak mampu mengatasi. Kemudian
mendatangkan bantuan 3 ribu tentara dari Sumatera, terus agak reda
sedikit. Tapi ini belum selesai.

* Apa maksudnya belum selesai?

** Jadi ada 3 tahap, perdamaian (perdamaian pertama itu bagi orang Dayak
tidak ada artinya, hanya formalitas saja), tahap kedua juga belum, tahap
ketiga yang trance itu juga belum. Jadi trance, kesurupan nenek moyang
berdasarkan kepercayaan orang Dayak itu namanya "Tariu". Kalau sudah
"Tariu" itu roh-roh nenek moyang manjing (merasuk) di situ, mereka
mengamuk dan tidak kenal takut. Teman-teman pastor itu cerita mereka
melihat, "Waduh..sudah, menutup mata tidak bisa lihat, tidak tega".
Orang-orang biasa itu terus membunuh, minum darah memenggal kepala,
makan hati enak saja pada saat itu. Nah, fase "Tariu" itu sekarang belum
klikmaks. Fase pertama perdamaian itu, bagi orang Dayak tidak berarti
apa-apa.

Nah, sekarang mereka berhenti karena ada pemilu tapi mereka tetap
membuat senjata, senapan-senapan. Mereka membuat sendiri senapan itu dan
yang dicari sebagai bahan senapan itu pipa-pipa setir mobil itu menjadi
senapan yang besar. Dan pelurunya diambil dari Malaysia, katanya ada
peluru khusus yang besar. Mereka terus produksi senapan. Nah, "Tariu"
ini belum.

Makanya saya pikir, pembakaran hutan di Kalimantan itu apa ya betul
hanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pemegang HPH?

* Anda mengaitkan kebakaran hutan dengan "tariu"?

** Itu harus diinvestigasi. Apa betul itu seperti kata presiden "Bukan
penduduk asli tetapi perusahaan-perusahaan!" Biasanya kan kalau secara
resmi dibantah itu kan biasanya ada udang di balik batu. Kok dibantah.
Level presiden lho ini, bahwa ada kebakaran hutan itu tidak oleh
penduduk asli. Lha ini bagi kita, "Jangan-jangan justru oleh penduduk
asli." Tapi bukan karena mereka berladang pindah-pindah sebagai nomad,
itu mereka sudah tahu caranya. Tapi mungkin pembalasan dendam,
kemarahan. Jadi mungkin pembalasan dendam dengan membakar
perkebunan-perkebunan itu.

Secara politis, kalau hal ini dinyatakan karena "Tariu" itu, sungguh
membahayakan dan SARA dan juga memalukan. Lebih baik kalau
perusahaan-perusahaan itu yang dijadikan kambing hitam saja, netral.
Keterangan resmi memang begitu, yang membakar itu perusahaan atau
clearing hutan. Tapi saya pikir, kalau perusahaan-perusahaan besar itu,
ya apa mereka sebodoh itu dalam membakar hutan. Karena mereka sudah
berpengalaman berpuluh-puluh tahun membakar hutan, apa ya seperti ini
sampai jalan, sungai pun penuh dengan asap. Jangan-jangan yang membakar
hutan itu penduduk (orang Dayak) yang "Tariu". Mereka itu kan sudah
berpuluh-puluh tahun dendam karena perkebunan-perkebunan dari
konsesi-konsesi HPH. Makanya ketika dijelaskan oleh koran bahwa presiden
mengatakan bahwa yang membakar itu bukan penduduk, malah saya curiga,
kok sampai presiden, wong Sarwono saja belum ngomong, kok presiden sudah
mendekritkan bahwa itu bukan penduduk.

* Sarwono menyebut beberapa perusahaan sebagai pihak yang telah
melakukan pembakaran, tapi anehnya perusahaan itu menurutnya tak bisa
dilacak alamatnya....

** Makanya itu, karena kok presiden sendiri langsung mengatakan bahwa
ini bukan penduduk. Lho.. bagi saya dalam kaitan dengan "Tariu" tadi,
rupa-rupanya ya pembalasan dendam orang Dayak. Kalau perusahaan ya aneh,
bunuh diri itu namanya. Lagian kayunya dijual kan masih bisa, kok
dibakar. Ya saya tidak mengatakan pasti, tapi saya curiga.

* Apa tindakan untuk menghilangkan kekerasan massa?

** Ya, demokratisasi itu ditangani serius. Orang bisa bicara,
ketakutan-ketakutan itu harus dihilangkan. Jangan sampai takut
mengutarakan pendapat, itu satu satunya jalan menggemboskan
insting-insting yang terpendam, yang mendongkol itu. Orang itu kalau
sesak harus berteriak, kalau berteriak tidak boleh, ya membunuh
nantinya.

* Bagaimana kalau lebih mengefektifkan lembaga perwakilan rakyat?

** Kalau sistem politiknya berubah ya bisa. Kalau sistemnya begini ya
tidak bisa, wong semua takut kok. Kalau semua takut ya bagaimana? Jadi
harus struktur yang efektif menghilangkan ketakutan. Kalau orang takut
terus, ya ndongkol terus, wong takut.

* Apakah aparat militer yang kuat selalu meredam gejolak kejengkelan
masyarakat?

** Tidak mungkin, 200 juta orang kok. Kalau ketel dikompor masih bisa,
tapi kalau masyarakat itu tidak seperti ketel. Masyarakat itu kalau
sudah out of control, sudah habis. Seperti orang mengamuk, bisanya kalau
sudah membunuh ini-ini lalu sadar kemudian dia nangis.

<bersambung>


----
Read this list on the Web at http://www.makelist.com/list/milis-spiritual/
To unsubscribe, email to milis-spiritu...@makelist.com
To subscribe, email to milis-spirit...@makelist.com
--
Start a FREE E-Mail List at http://www.makelist.com !


Hudoyo Hupudio

unread,
Aug 12, 1998, 3:00:00 AM8/12/98
to
0 new messages