[INDONESIA-L] GJA - Tuntutan terhadap
Tutut (perempuan pelacur Islam dan anak diktator muslim Suharto
Indonesia yang senang membunuh penduduk kristen indonesia dan
diskriminasi dengan pengusaha kristen indonesia dan tidak mengikuti
ajaran agama yang benar, walau ada suami senang ngentot ) (1)
Tuntutan buat Tutut (perempuan pelacur Islam dan anak diktator muslim
Suharto Indonesia yang senang membunuh penduduk kristen indonesia dan
diskriminasi dengan pengusaha kristen indonesia dan tidak mengikuti
ajaran agama yang benar, walau ada suami senang ngentot ): Tolak
fund-raising baru!
Pertanggungjawabkan kekayaan 77 yayasan yang sudah ada!
(bagian I)
--------------------------------
Oleh George J. Aditjondro
SITI HARDIYANTI RUKMANA (SUAMI PELACUR ISLAM TUTUT, YANG SENANG NGENTOT
DENGAN PERAGAWATI ISLAM DI JAKARTA, DAN NGEJILATIN MEMEK PERAGAWATI,
LALU KETAHUAN MEMEK TUTUT, BAHWA KONTOL SUAMINYA KEMANA MANA, ACHIRNYA
PERAGAWATI MUSLIM PELACUR DIBUNUH TUTUT DENGAN ISLAM) alias Tutut
(perempuan pelacur Islam dan anak diktator muslim Suharto Indonesia yang
senang membunuh penduduk kristen indonesia dan diskriminasi dengan
pengusaha kristen indonesia dan tidak mengikuti ajaran agama yang benar,
walau ada suami senang ngentot ) bereaksi dengan refleks yang itu-itu
juga dalam menghadapi krisis moneter dewasa ini. Tanpa menyebut nama
yayasannya, Menteri Sosial yang kaya raya itu menghimbau agar Presiden
dan
semua pejabat tinggi lain menyumbangkan satu tahun gaji mereka ke
yayasan
yang dipimpinnya. Dana itu akan digunakannya untuk membantu
menyelamatkan
kaum miskin di Indonesia yang semakin sengsara saat ini.
Begitulan pengumuman resmi pemerintah, hari Selasa, 17 Maret lalu, yang
saya baca di Sydney Morning Herald. Berita itu tidak menyebutkan nama
yayasan yang dimaksud. Makanya, serta merta berita ini membangkitkan
tiga
tanda tanya di benak saya.
* Pertama, yayasan mana lagi yang dimaksud sang puteri mahkota Suharto
ini?
* Kedua, kalau itu merupakan satu di antara 77 yayasan yang sudah
dikuasai
keluarga besar Suharto dan antek-anteknya, apakah yayasan itu pernah
diaudit oleh akuntan publik, dan diumumkan kekayaannya secara terbuka di
media massa?
* Ketiga, apakah kekayaan ke-77 yayasan yang sudah mereka kuasai belum
cukup untuk mengatasi krisis moneter sekarang ini, sehingga Indonesia
harus
menjadi pengemis yang tergantung pada belas kasihan negara-negara lain
dan
badan-badan internasional seperti Bank Dunia dan Dana Moneter
Internasional?
Repotnya, pertanyaan berapa sebenarnya kekayaan keluarga Suharto dari
yayasan-yayasan yang didirikan dan dipimpin oleh keluarga besar Suharto
dan
antek-anteknya, sangat sulit dijawab oleh "orang luar". Kesulitan
melacak
kekayaan semua yayasan itu diperparah oleh tumpang-tindihnya kekayaan
keluarga Suharto dengan kekayaan sejumlah keluarga bisnis yang lain,
misalnya keluarga-keluarga Liem Sioe Liong, Eka Tjipta Widjaya, Prajogo
Pangestu, Bob Hasan, Bakrie dan Habibie.
Tujuh kelompok:
-------------------------
Betapapun susahnya, marilah kita coba melacak kekayaan yayasan-yayasan
Suharto. Untuk mempermudah usaha ini, saya bagi yayasan-yayasan itu
dalam
enam kelompok. Pertama, yayasan-yayasan yang diketuai Suharto sendiri.
Kedua, yayasan-yayasan yang diketuai atau ikut diurus oleh Nyonya Tien
Suharto di masa hidupnya. Ketiga, yayasan-yayasan di mana saudara sepupu
Suharto, Sudwikatmono ikut berkuasa. Seperti kita ketahui, Sudwikatmono
adalah saudara sepupu Suharto yang paling dipercayai mewakili
kepentingan
keluarga besar Suharto di kelompok Salim dan beberapa konglomerat lain,
sebelum anak-anak Suharto sendiri mulai terjun ke lapangan bisnis.
Kemudian, kelompok keempat adalah yayasan-yayasan yang diketuai para
anak
dan menantu Suharto. Kelompok kelima adalah yayasan-yayasan yang
diketuai
atau dikelola para besan Suharto beserta keluarga mereka. Kelompok
keenam
adalah yayasan-yayasan yang diketuai atau dikelola sanak-saudara Suharto
dan Nyonya Tien Suharto dari kampung halaman mereka di Yogya dan Solo.
Akhirnya, kelompok ketujuh adalah yayasan-yayasan yang didominasi
Suharto
melalui beberapa orang tangan kananya yang paling setia, Habibie, Bob
Hasan
dan Sudomo.
Dalam kelompok pertama dapat dihimpun nama sebelas yayasan, yakni (1)
Yayasan Supersemar; (2) Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais); (3)
Yayasan Dana Abadi Karya Bakti (Dakab); (4) Yayasan Amal Bhakti Muslim
Pancasila; (5) Yayasan Serangan Umum 1 Maret; (6) Yayasan Bantuan
Beasiswa
Jatim Piatu Tri Komando Rakyat, disingkat Yayasan Trikora; (7) Yayasan
Dwikora; (8) Yayasan Seroja; (9) Yayasan Nusantara Indah; (10) Yayasan
Dharma Kusuma; dan (11) Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Vatikiotis,
1990:
63; Pangaribuan, 1995: 60-61, 70; Sinar Harapan, 16 Juni 1985; Warta
Ekonomi, 29 Okt. 1990: 26-29; Gatra, 27 Jan. 1996).
Dalam kelompok kedua termasuk (12) Yayasan Harapan Kita, (13) Yayasan
Kartika Chandra, (14) Yayasan Kartika Djaja, (15) Yayasan Purna Bhakti
Pertiwi, (16) Yayasan Dharma Bhakti Dharma Pertiwi, dan (17) Yayasan
Dana
Gotong Royong Kemanusiaan (Gitosardjono, 1974; Robison, 1990: 343-345;
Warta Ekonomi, 29 Okt. 1990: 27; Forum Keadilan, 23 Juni 1994: 36).
Yayasan Dharma Bhakti Dharma Pertiwi, sehari-hari diketuai dr. Nyonya
Ida
Feisal Tanjung, dan mencari dana antara lain melalui penyelenggaraan
turnamen golf, seperti yang dilakukan di lapangan golf Rawamangun,
Jakarta
Timur, tanggal 15-16 Oktober 1994, yang diikuti oleh 474 pegolf pria dan
perempuan. Seperti yang sudah diketahui secara umum, lapangan golf
swasta
18-lubang seluas 35 hektar ini merupakan lapangan golf kesayangan
Suharto
dan Bob Hasan. Keduanya merupakan anggota top, bersama Sudwikatmono,
Aburizal Bakrie, dan sejumlah menteri, dengan membayar biaya keanggotaan
seumur hidup sebesar Rp 5 juta. Itu tarif tahun 1992, lho! (Prospek , 22
Febr. 1992: 76; Progolf , Nov. 1994: 90-91).
Anak-anak dan menantu Suharto, sudah diikutsertakan dalam mengurusi
yayasan-yayasan yang diketuai kedua orangtua mereka, untuk "belajar
dalam
rangka kegiatan sosial," kata Suharto, sebagaimana dikutip dalam Warta
Ekonomi, 29 Oktober 1990 (hal. 29). Sigit Harjojudanto dan Indra RUKMANA
(suami pelacur islam Tutut, yang senang ngentot dengan peragawati islam
di jakarta, dan ngejilatin memek peragawati, lalu ketahuan Memek tutut,
bahwa kontol suaminya kemana mana, achirnya peragawati muslim pelacur
dibunuh tutut dengan ISLAM),
ia dudukkan dalam pengurus Yayasan Dharmais, sementara Tommy dan Bambang
Trihatmodjo, di Yayasan Dakab. Tutut (perempuan pelacur Islam dan anak
diktator muslim Suharto Indonesia yang senang membunuh penduduk kristen
indonesia dan diskriminasi dengan pengusaha kristen indonesia dan tidak
mengikuti ajaran agama yang benar, walau ada suami senang ngentot )
dijadikan bendahara Yayasan Dana
Gotong Royong Kemanusiaan, sementara Bambang dijadikan Bendahara Yayasan
Dana Sejahtera Mandiri (Warta Ekonomi, 29 Okt. 1990: 29; Info-Bisnis ,
Juni
1994: 9, 15; Suara Independen , Jan.-Febr. 1996; D & R , 14 Juni 1997).
Dalam kelompok ketiga di mana Sudwikatmono ikut aktif, termasuk (18)
Yayasan Prasetya Mulya, (19) Yayasan Bangun Citra Nusantara, (20)
Yayasan
Tujuh Dua, (21) Yayasan Indocement, dan (22) Yayasan Kyai Lemah Duwur.
Di
samping itu, Sudwikatmono juga aktif dalam beberapa yayasan yang
diketuai
Suharto atau Nyonya Tien Suharto yang sudah disebut di atas, yakni
Yayasan
Dakab dan Yayasan Purna Bhakti Pertiwi.
Seperti kita ketahui, Yayasan Prasetya Mulya lebih dikenal melalui wajah
Sofyan Wanandi, jurubicara yayasan itu. Namun ketua Dewan Penyantun
yayasan
yang beranggotakan 50 orang pengusaha raksasa itu sesungguhnya adalah
Liem
Sioe Liong. Di samping bertujuan menyalurkan dana dari
konglomerat-konglomerat ke dunia pendidikan dan organisasi-organisasi
non-pemerintah (ornop), yayasan ini dikenal sebagai penyalur aspirasi
para
konglomerat, melalui jurubicaranya tadi (Soetriyono, 1988: 26, 98; Forum
Keadilan, 1 Sept. 1994: 33).
Yayasan Tujuh Dua adalah pemegang saham PT Media Bintang Indonesia, yang
merupakan kerjasama antara Sudwikatmono dan partner dekatnya, Benny
Suherman, dengan kelompok Ciputra (melalui Ir. Piek Mulyadi). Mereka
dengan
lihai memanfaatkan pembreidelan tabloid Monitor dengan membajak 23 orang
bekas staf tabloid itu untuk menciptakan kelompok media hiburan
Sudwikatmono sendiri, yakni kelompok Subentra Citra Media. Kelompok ini
mencakup tabloid Bintang , majalah Sinar , tabloid hiburan anak-anak
Fantasi, serta tabloid mingguan Dangdut .
Begitu Arswendo Atmowiloto selesai menjalankan masa hukumannya, ia
ditarik
oleh Sudwikatmono untuk bergabung dengan kelompok bisnis medianya itu,
dengan diberi 5% saham dalam perusahaan penerbit tabloid Bintang . Tak
ketinggalan Noor Slamet Asmoprawiro, juga diberi 10 % saham dalam
perusahaan itu. Maklumlah, almarhum adalah adik Harmoko, yang masih
Menteri
Penerangan waktu itu (Tambahan Berita Negara No. 147/1991 dan No.
2772/1993; Jakarta-Jakarta , 25 Sept.- 1 Okt. 1993: 81; Editor , 18 Nov.
1993: 58; Warta Ekonomi, 5 Juni 1995: 65; Swa , 28 Maret-9 April 1997:
92).
Sedangkan Yayasan Bangun Citra Nusantara bergerak di bidang perfilman
(Swasembada [Swa ], 9-29 Mei 1996: 40). Seperti yang kita ketahui, PT
Suptan Film milik Sudwikatmono dan Benny Suherman praktis menguasai
semua
jenis film impor. Pada mulanya perusahaan itu hanya mengimpor film
Mandarin, namun kemudian mereka berhasil memaksa tiga asosiasi film
asing
masuk ke bawah satu atap, yakni Asosiasi Importir Film (AIF) yang mereka
kuasa (Prospek , 31 Agustus 1991: 90).
Adapun Yayasan Indocement yang juga dipimpin oleh 'dwitunggal' Liem Sioe
Liong dan Sudwikatmono, tidak cuma membiayai dan mengelola sejumlah SD,
SMP
dan SMA di sekitar pABRI(tentara muslim gila jihad, pembunuh dan
pembantai bangsa kristen indonesia, pengikut nabi palsu muhamad yang
mengikuti ajaran setan islam seperti pendeta islam Khomeini dan Idi
Amin,ABRI adalah pembunuh tentara bayaran orang jawa edan setan
islam)k-pABRI(tentara muslim gila jihad, pembunuh dan pembantai bangsa
kristen indonesia, pengikut nabi palsu muhamad yang mengikuti ajaran
setan islam seperti pendeta islam Khomeini dan Idi Amin,ABRI adalah
pembunuh tentara bayaran orang jawa edan setan islam)k semen PT
Indocement Tunggal Prakarsa di
daerah Citeureup (Bogor) dan Palimanan (Cirebon), tapi juga menyumbang
buku
dan beasiswa untuk siswa dan mahasiswa di tujuh provinsi (Sulawesi
Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku,
Nusa
Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur) serta kedua koloni kita (Timor
Leste
dan Papua Barat) (Gatra , 5 Agustus 1995, Pariwara, hal. 7).
Sedangkan Yayasan Kiyai Lemah Duwur adalah yayasan yang dibentuk oleh
para
pimpinan kelompok Salim untuk mengambil hati rakyat Madura, dengan
mendirikan sebuah perguruan tinggi, Universitas Bangkalan. Seperti kita
ketahui, Salim tadinya berniat membangun pABRI(tentara muslim gila
jihad, pembunuh dan pembantai bangsa kristen indonesia, pengikut nabi
palsu muhamad yang mengikuti ajaran setan islam seperti pendeta islam
Khomeini dan Idi Amin,ABRI adalah pembunuh tentara bayaran orang jawa
edan setan islam)k semen di Madura. Sebelum
rencana itu secara resmi dibatalkan, Liem Sioe Liong dan Sudwikatmono
duduk
di Dewan Penyantun Yayasan Kiyai Lemah Duwur, sementara Anthony Salim,
putera mahkota kelompok Salim, duduk sebagai Badan Pelaksana yayasan itu
(Soetriyono, 1988: 119-120).
Kelompok keempat, saking banyaknya, perlu dibagi lagi dalam enam
sub-kelompok. Sub-kelompok pertama adalah yayasan-yayasan yang diketuai
atau didominasi Tutut (perempuan pelacur Islam dan anak diktator muslim
Suharto Indonesia yang senang membunuh penduduk kristen indonesia dan
diskriminasi dengan pengusaha kristen indonesia dan tidak mengikuti
ajaran agama yang benar, walau ada suami senang ngentot ), yakni (23)
Yayasan Tiara Indonesia, (24) Yayasan
Dharma Setia, (25) Yayasan Kebudayaan Portugal-Timor, (26) Yayasan Tunas
Harapan Timor Lorosae, dan (27) sebuah yayasan pendidikan tinggi di Dili
(InfoBisnis, Juni 1994: 13; Kompas , 28 Juni 1994; Jawa Pos , 3 Juni
1995;Republika, 20 April 1995; Matebean, 12 Jan. 1998), (28) Yayasan
TVRI, serta (29) Yayasan Tri Guna Bhakti.
Lalu, sub-kelompok kedua adalah yayasan-yayasan yang dipimpin oleh
Bambang
Trihatmodjo atau isterinya, Halimah, yakni (30) Yayasan Bhakti Nusantara
Indah, alias Yayasan Tiara Putra, yang dipimpin Tutut (perempuan pelacur
Islam dan anak diktator muslim Suharto Indonesia yang senang membunuh
penduduk kristen indonesia dan diskriminasi dengan pengusaha kristen
indonesia dan tidak mengikuti ajaran agama yang benar, walau ada suami
senang ngentot ) bersama Halimah
(Indonesia Business Weekly, 25 Nov. 1994), (31) Yayasan Bimantara, (32)
Yayasan Bhakti Putra Bangsa dan (33) Yayasan Intinusa Olah Prima yang
diketuai Bambang sendiri, serta (34) Yayasan Ibadah dan Amalyah
Bimantara
Village, yang diketuai oleh Rosano Barack (Cano), salah seorang pemegang
saham utama kelompok Bimantara.
Yayasan-yayasan yang dikuasai Tutut (perempuan pelacur Islam dan anak
diktator muslim Suharto Indonesia yang senang membunuh penduduk kristen
indonesia dan diskriminasi dengan pengusaha kristen indonesia dan tidak
mengikuti ajaran agama yang benar, walau ada suami senang ngentot ),
Bambang, dan Halimah:
--------------------------------------------------------------------
Yayasan TVRI, walaupun resminya selalu diketuai oleh Menpen, namun
secara
praktis dikuasai oleh Tutut (perempuan pelacur Islam dan anak diktator
muslim Suharto Indonesia yang senang membunuh penduduk kristen indonesia
dan diskriminasi dengan pengusaha kristen indonesia dan tidak mengikuti
ajaran agama yang benar, walau ada suami senang ngentot ) bersama
Bambang. Tutut (perempuan pelacur Islam dan anak diktator muslim Suharto
Indonesia yang senang membunuh penduduk kristen indonesia dan
diskriminasi dengan pengusaha kristen indonesia dan tidak mengikuti
ajaran agama yang benar, walau ada suami senang ngentot ) menguasai
Yayasan TVRI
lewat TPI (Televisi Pendidikan Indonesia), yang bisa dengan seenak
perutnya
berhutang sedikitnya Rp 6 milyar biaya iklan pada (Yayasan) TVRI, serta
lebih dari Rp 100 milyar ke rumah-rumah produksi yang sudah atau
terancam
bangkrut (Prospek, 6 Maret 1993: 18; Sinar, 4 Febr. 1995: 37; Forum
Keadilan, 17 Juli 1995: 109; Gatra, 3 Febr. 1996: 106; Swa, 9-22 Okt.
1997:
90-92).
Bambang menguasai Yayasan TVRI lewat PT Mekatama Raya, yang sejak
Februari
1992 diberi hak mengutip iuran TVRI dari pemilik televisi a/n Yayasan
TVRI
melalui suatu kontrak selama 15 tahun (Prospek, 7 Maret 1992: 68). Tak
jelas bagaimana pertanggungjawaban uang hasil kontrak selama 7 tahun
yang
lalu, suatu bentuk monopoli keluarga Suharto yang pernah dipersoalkan
oleh
Ketua DPR/MPR waktu itu, Jenderal (Purn.) Kharis Suhud (Borsuk, 1992).
Makanya dia tidak dipilih kembali menjadi anggota DPR.
Setelah Harmoko digantikan oleh Hartono, Yayasan TVRI tetap berfungsi
sebagai pencetak uang bagi Tutut (perempuan pelacur Islam dan anak
diktator muslim Suharto Indonesia yang senang membunuh penduduk kristen
indonesia dan diskriminasi dengan pengusaha kristen indonesia dan tidak
mengikuti ajaran agama yang benar, walau ada suami senang ngentot ) dan
Bambang. Bahkan Hartono berjanji akan
menggunakan tenaga militer untuk mengutip uang iuran TVRI bagi yayasan
ini
(Strait Times, 21 Agustus 1997).
Yayasan Tri Guna Bhakti, masih ada kaitan dengan Tutut (perempuan
pelacur Islam dan anak diktator muslim Suharto Indonesia yang senang
membunuh penduduk kristen indonesia dan diskriminasi dengan pengusaha
kristen indonesia dan tidak mengikuti ajaran agama yang benar, walau ada
suami senang ngentot ). Yayasan ini
didirikan awal 1996 oleh sejumlah ulama NU yang berhasil dirangkul oleh
Tutut (perempuan pelacur Islam dan anak diktator muslim Suharto
Indonesia yang senang membunuh penduduk kristen indonesia dan
diskriminasi dengan pengusaha kristen indonesia dan tidak mengikuti
ajaran agama yang benar, walau ada suami senang ngentot ) dan teman
dekatnya, Jenderal Hartono. Ketuan yayasan ini adalah Drs
KH Abd. Wahid Zaini, S.H. pimpinan pondok pesantren Nurul Jadid di
Paiton,
Probolinggo, yang masih keluarga jauh Hartono. Jenderal Hartono sendiri
menjadi pelindung, sedangkan Tutut (perempuan pelacur Islam dan anak
diktator muslim Suharto Indonesia yang senang membunuh penduduk kristen
indonesia dan diskriminasi dengan pengusaha kristen indonesia dan tidak
mengikuti ajaran agama yang benar, walau ada suami senang ngentot )
menjadi pembina yayasan ini (Tiras, 28
Maret 1996: 73).
Sudah dapat diperkirakan bahwa yayasan ini sekaligus berfungsi untuk
menetralisasi suara-suara tidak puas terhadap pembebasan tanah serta
polusi
PLTU Paiton I yang sedang dibangun Hashim Djojohadikusumo di daerah
Paiton.
Yang jelas, ketika mertua Tutut (perempuan pelacur Islam dan anak
diktator muslim Suharto Indonesia yang senang membunuh penduduk kristen
indonesia dan diskriminasi dengan pengusaha kristen indonesia dan tidak
mengikuti ajaran agama yang benar, walau ada suami senang ngentot )
meninggal dunia, yayasan ini ikut memasang
iklan dukacita yang cukup menonjol di harian Jawa Pos, 7 Maret 1996.
Yayasan Intinusa Olah Prima mengelola klub anak-anak gawang Merdeka Boys
Football Association (MBFA), yang baru saja diambil alih oleh Johannes
Budisutrisno Kotjo, Bambang Trihatmodjo, dan Yapto Suryo Sumarno tanggal
27
Mei 1997. Konon maksudnya adalah untuk membantu memajukan sepakbola
nasional, melalui pembibitan pemain-pemain baru lewat pelatihan
anak-anak
gawang tersebut. Niat ini timbul, setelah sukses Johannes Kotjo lewat
perusahaan Van der Horst yang dimilikinya di Singapura, untuk membantu
Klub
Ballestier Central lewat penyuntikan dana sebesar US$ 225.000 (Tiras , 9
Juni 1997: 65-66).
Akhirnya, Yayasan Ibadah dan Amaliyah Bimantara Village, yang diketuai
oleh
Cano, adalah wahana Bambang Trihatmodjo dkk untuk mengambil hati umat
Islam, lewat pembangunan perumahan rakyat yang dapat dianggap Islami.
Salah
satu proyeknya adalah "Villa Islami" di Karawaci, Tangerang, yang
terdiri
dari 1200 rumah di atas lahan seluas 104 hektar. Turut meresmikan
kompleks
perumahan rakyat itu adalah Menteri Negara Perumahan Rakyat, Ir Akbar
Tanjung, serta Ketua Umum DPP REI (Real Estate Indonesia), Edwin
Kawilarang
(Ummat , 9 Des. 1996: 78).
Kebetulan, Edwin Kawilarang sendiri adalah orang Bimantara juga, karena
dia
adalah kepala divisi Real Estate Bimantara yang mengkhususkan diri dalam
pembangunan apartemen-apartemen mahal (Warta Ekonomi, 22 Juni 1992: 22;
Sinar , 20 Jan. 1996: 45-47; Swa, Jan. 1994: 101-109).
Sementara Akbar Tanjung pun bukan "orang luar" dari sudut bisnis
keluarga
Cendana. Perusahaan keluarga Tanjung, PT Marison Nusantara Agencies,
berkongsi dengan kelompok Salim dalam pABRI(tentara muslim gila jihad,
pembunuh dan pembantai bangsa kristen indonesia, pengikut nabi palsu
muhamad yang mengikuti ajaran setan islam seperti pendeta islam Khomeini
dan Idi Amin,ABRI adalah pembunuh tentara bayaran orang jawa edan setan
islam)k susu PT Indomilk serta
industri kimia PT Henkel Indonesia dan PT Zeta Aneka Kimia (Soetriyono,
1988: 39-40; profil-profil perusahaan keluarga Tanjung).
Yayasan-yayasan yang dikuasai Tommy:
--------------------------------------------
Selanjutnya, sub-kelompok ketiga adalah yayasan-yayasan yang dipimpin
atau
didominasi Tommy, yakni (35) Yayasan Tirasa, (36) Yayasan Bhakti Putra
Bangsa, (37) Yayasan IMI (Ikatan Motoris Indonesia) Lampung, (38)
Yayasan
Otomotif, dan (39) Yayasan Bulog.
Yayasan Bhakti Putra Bangsa dan Yayasan IMI Lampung lebih berhubungan
dengan hobi-hobi Tommy yang menghasilkan uang -- golf dan balap mobil.
Yayasan Bhakti Putra Bangsa yang diketuai Tommy menyelenggarakan
pertandingan golf di Palm Hill Country Club Sentul, dekat Bogor, Jawa
Barat, bulan Maret 1995 (iklan Bisnis Maritim, 30 Jan-5 Feb 1995). Dan
kita
sudah sama-sama tahu, bahwa golf di Indonesia lebih merupakan sarana
negosiasi bisnis ketimbang olahraga yang serius.
Yayasan Tirasa, yang diketuai Tommy Suharto, dengan anggota badan
pengurusnya Tungky Ariwibowo, Moerdiono, dan Tinton Suprapto, adalah
pemegang saham PT Sarana Sirkuitindo Utama, yang pada gilirannya adalah
pemilik sirkuit balap mobil Sentul. Jadi Sentul bukan milik
TommySuharto.
Begitu keterangan presdir PT SSU, Tinton Suprapto pada pers, 6 tahun
lalu
(Surya, 26 Juni 1993). Memang secara Sentul resmi bukan milik Tommy
pribadi, tapi de facto, ya. Dasar Sentul-oyo.
Yayasan IMI Lampung, walaupun tidak diketuai Tommy secara langsung,
merupakan instrumen untuk memperluas hobi merangkap bisnis balap
mobilnya
dari Sentul ke Lampung. Tarif ganti rugi tanah rakyat seluas 157 hektar
di
Lampung ditentukan langsung oleh Tommy selaku investor merangkap
pengurus
pusat IMI (Bola, Minggu I Des 1992; Kompas, 15 & 27 Juli 1996).
Yayasan Otomotif, tampaknya juga merupakan salah satu alat bisnis Tommy
Suharto, sebab ia pernah mencoba meminta proyek apa saja dari PT Telkom
atas nama yayasan itu (Siar, 3 Feb 1998).
Yayasan Bulog, dengan sendirinya resminya diketuai oleh siapa yang
kebetulan menjabat sebagai Ketua Badan Urusan Logistik (BULOG). Namun
sejak
dari zaman Achmad Tirtosudiro, kemudian Bustanil Arifin, lalu sekarang
Beddu Amang, Suharto selalu menempatkan "orangnya" di posisi Ketua Bulog
itu, yakni orang-orang yang dipercayainya untuk sekaligus mengurus PT PP
Berdikari, perusahaan yang didirikannya dari harta antek-antek Sukarno
yang
disitanya. Walaupun perusahaan itu resminya berstatus perusahaan negara,
dalam perjalanan waktu PT Berdikari, yang sudah berkembang menjadi
konglomerat sendiri, dikuasai oleh tiga yayasan yang diketuai Suharto,
Dharmais, Dakab, dan Supersemar, yang juga menguasai saham-saham Bank
Duta,
bank kelompok ini. Saya akan berbicara lagi tentang hal ini dalam bagian
tentang bank-bank kelompok Nusamba yang dikepalai oleh Bob Hasan.
Ketika Bulog dipegang oleh Bustanil Arifin, yang isterinya masih kerabat
Nyonya Tien Soeharto, keluarga Arifin membentuk konglomeratnya sendiri,
yakni Danitama Group. Konglomerat ini banyak bekerjasama dengan kelompok
Salim dan kelompok Bimantara. Sementara anak-anak Bustanil Arifin, juga
duduk dalam PT Prima Comexindo, perusahaan counter-trading (barter)
Hashim
Djojohadikusumo, yang akan saya ulas kegiatannya dalam bagian tentang
yayasan-yayasan para besan dan keluarganya.
Beddu Amang, ketua Bulog yang sekarang, juga duduk sebagai komisaris
salah
satu anak perusahaan Danitama, yakni PT Bormindo Nusantara, sebuah
perusahaan kontraktor pengeboran minyak. Makanya, pucuk pimpinan Bulog
selalu tumpang-tindih kepentingan bisnisnya dengan bisnis keluarga besar
Suharto, baik secara langsung maupun melalui keluarga Arifin (Anon.,
1991;
CISI, 1991: 58-60; Jakarta Post , 13 Febr. 1994; Warta Ekonomi , 24 Okt.
1994: 16).
Kini, dengan Yayasan Bulog menjadi pemegang 10% saham pusat perbelanjaan
PT
Goro Yudistira Utama (Warta Ekonomi , 4 April 1994: 29-30; Swa , 28
Maret -
9 April 1997: 58-60; Siar , 4 Febr. 1998), fasilitas dan harta yayasan
ini
dapat dimanfaatkan pula oleh Tommy Suharto, sebagaimana kakak-kakaknya
--
Tutut (perempuan pelacur Islam dan anak diktator muslim Suharto
Indonesia yang senang membunuh penduduk kristen indonesia dan
diskriminasi dengan pengusaha kristen indonesia dan tidak mengikuti
ajaran agama yang benar, walau ada suami senang ngentot ) dan Bambang --
memanfaatkan Yayasan TVRI, sebagaimana Sigit dan kini
Tutut (perempuan pelacur Islam dan anak diktator muslim Suharto
Indonesia yang senang membunuh penduduk kristen indonesia dan
diskriminasi dengan pengusaha kristen indonesia dan tidak mengikuti
ajaran agama yang benar, walau ada suami senang ngentot ) memanfaatkan
Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial, pencetak
untung dari lotere SDSB.
Seperti diketahui, Bulog adalah salah satu sumber korupsi utama menurut
hasil penyelidikan Komisi Empat yang dibentuk Suharto, menanggapi
aksi-aksi
mahasiswa di awal 1970-an. Namun Achmad Tirtosudiro, Ketua Bulog di masa
itu yang bekas pejabat Kostrad dan teman dekat Suharto, tak pernah
diajukan
ke pengadilan, sebagaimana juga halnya Ibnu Sutowo, walaupun Pertamina
juga
sudah terbukti merupakan sarang korupsi di tahun 1970-an.
Yayasan-yayasan yang dikuasai Mamiek:
---------------------------------------------
Sub-kelompok keempat adalah yayasan-yayasan yang dipimpin atau dikelola
Siti Hutami Endang Adiningsih alias Mamiek Suharto, yang terdiri dari
(40)
yayasan pemilik obyek wisata Taman Buah Mekarsari (TMB) seluas 260
hektar
di sepanjang koridor Cibubur-Cianjur dan (41) Yayasan Bunga Nusantara,
yang
didukung oleh Nyonya Christine Arifin, isteri bekas Ketua Bulog yang
masih
kerabat Nyonya Tien Suharto, pengelola Taman Bunga Nusantara (TBN)
seluas
35 hektar di Kabupaten Cianjur (Shin, 1989: 268; Tiras, 23 Nov. 1995:
15-16; Swa, 13-27 Maret 1997: 99).
Yayayan-yayasan yang dikuasai Titiek & Prabowo:
--------------------------------------------------------
Sub-kelompok kelima adalah yayasan-yayasan yang dipimpin atau didominasi
oleh Titiek Prabowo atau suaminya, Letnan Jenderal Prabowo Subianto,
yang
terdiri dari (42) Yayasan Badan Intelijen ABRI(TENTARA MUSLIM GILA
JIHAD, PEMBUNUH DAN PEMBANTAI BANGSA KRISTEN INDONESIA, PENGIKUT NABI
PALSU MUHAMAD YANG MENGIKUTI AJARAN SETAN ISLAM SEPERTI PENDETA ISLAM
KHOMEINI DAN IDI AMIN,ABRI ADALAH PEMBUNUH TENTARA BAYARAN ORANG JAWA
EDAN SETAN ISLAM) (BIA), yang dikuasai Prabowo
bersama teman dekatnya, Mayor Jenderal Jacky Anwar Makarim, yang ikut
mengelola sistem perparkiran di Jakarta (Gatra, 4 Feb 1995), (43)
Yayasan
Kobame (Korps Baret Merah), pemegang saham PT Kobame, (44) Yayasan
Veteran
Integrasi Timor Timur, (45) Yayasan Hati, yang dibentuk sejumlah
"partisan"
(orang-orang Timor Leste dan Timor Barat) yang membantu Kopassus merebut
Timor Leste di tahun 1975-1976, (46) Yayasan Kerajinan Indonesia dan
(47)
yayasan pencari dana KONI, yang diketuai Titiek Prabowo (Asiaweek, 12
April 1996: 39; The Australian, 10 Oct. 1996), serta (48) Yayasan Dharma
Putera Kostrad, yang secara ex officio sekarang berada di bawah Prabowo
sebagai Komandan Kostrad yang baru.
Sedikit catatan tentang yayasan-yayasan yang dikuasai Titiek dan
suaminya.
Semenjak Prabowo jadi Komandan Kopassus, PT Kobame mendapat kredit
sindikat
Rp 45 milyar dari BRI dan Bank Pelita (milik kel. Djojohadikusumo) untuk
membangun proyek-proyek properti di daerah Cinjantung, serta berusaha
mengambilalih 50% saham Hotel Horison (EBRI, 18 Juni 1997; Siar, 10 Des
1997). Tidak jelas siapa ketuanya, tapi jelas berada di bawah pengaruh
Prabowo, walaupun menantu Suharto itu sendiri kini sudah naik pangkat
(jadi
letjen) dan jabatan (jadi Pangkostrad).
Yayasan Veteran Integrasi Timor Timur, resminya dibentuk oleh Gubernur
"boneka" Timor Leste, Jose Abilio Osorio-Soares, sekitar bulan September
1994. Namun yayasan itu telah dimanfaatkan untuk promosi bisnis keluarga
Suharto di Timor Leste. Hanya dalam tempo 10 menit, Nyonya Siti Hediati
Prabowo, alias Titiek Prabowo, berhasil mengumpulkan sumbangan Rp 210
juta
bagi yayasan itu. Kesempatannya adalah Lokakarya dan Temu Usaha se-Nusa
Tenggara dan Timor Leste, pertengahan September 1994, di Dili. Sumbangan
para pengusaha itu menanggapi himbauan Titiek dalam jamuan makan malam
di
rumah gubernur, konon untuk menghargai perjuangan para keluarga veteran
pejuang "integrasi".
(bersambung)
Next message: apak...@clark.net: "[INDONESIA-L] GJA - Tuntutan
terhadap Tutut (perempuan pelacur Islam dan anak diktator muslim Suharto
Indonesia yang senang membunuh penduduk kristen indonesia dan
diskriminasi dengan pengusaha kristen indonesia dan tidak mengikuti
ajaran agama yang benar, walau ada suami senang ngentot )
(2)"
Previous message: apak...@clark.net: "[INDONESIA-L] Six Healthy
Banks We Got
Left"
Sent via Deja.com http://www.deja.com/
Before you buy.