Di Indonesia itu sendiri, perkataan "Tionghoa" atau "Tiongkok" lebih halus,
padahal kata Tiongkok itu sendiri berarti sebuah penghinaan oleh bangsa
Jepang ketika mereka ingin merebut China. Dalam lafal Jepang, Tiong itu
artinya Modyar. Malah mungkin karena budaya, saya sendiri pun kadang suka
latah ngomong ngomong "Tiongkok", "RRT".
Walaupun dari beberapa sumber, katanya Tiongkok itu berasal dari bahasa
Hok-Kien, yang berarti "kerajaan tengah" (Zhongguo , kalau bahasa
Mandarinnya). Saya rasa semua warga keturunan pernah mengalami betapa tidak
enaknya hidup di jaman Soeharto. Semua yang berbau bau Tionghoa dari adat
istiadat sampai agama dinilai haram (Inpres No. 14 tahun 1967). Sampai
sampai harian Indonesia Raya maupun harian Merdeka dibredel karena
menggunakan istilah "Tionghoa" dan bukan "Cina". Walaupun Inpres ini sudah
dicabut oleh Mantan Presiden Abdurahman Wahid, yang masih ada keturunan
Tionghoa.
Guru guru saya dulu pernah berkata kalau di Bumi Indonesia ini semua Orang
Tiong Hoa dan yang berbau Tiong Hoa tidak pernah ikut berjuang bersama untuk
memerdekakan negara ini apalagi membangun. Semua hanyalah eksklusif untuk
orang "Indonesia" saja. Tiongkok hanyalah budaya asing. Padahal, Lagu
kebangsaan Indonesia Raya yang dikarang oleh WR Supratman sendiri
dipublikasikan di Harian Sin Po dan rekamannya dilakukan di toko musik Tio
Pe Kong di Pasar Baru, Jakarta. Lebih gila lagi, ada yang berteori kalau
Komunis, ideologi yang udah di cap jahat itu asalnya dari China. Maka dari
pada itu tidak heran kalau ada yang memaki "Woi Cina! Bokap loe komunis!".
Bahkan diantara anak anak pada saat itu, China pun tidak luput disamakan
dengan penjajah Jepang, hanya karena terlahir dengan mata sipit.
Entah dari mana juga kita punya kelas kelas seperti ini. Malah di komunitas
China sendiri, banyak yang mengeksklusifkan diri, tidak mau bergaul dengan
"pribumi". Malah sampe ada istilah "tiko".
Kata Pribumi sendiri kalau tidak salah adalah pemberian Belanda sebagai
kelas ras paling rendah di Hindia Belanda. Kelas tertinggi adalah "Eropa"
(tulen dari Belanda), Indo (campuran, dan harus diakui ayah sebagai anak),
pribumi (tulen dari Jawa Tengah, Banten atau daerah lainnya). Tolong
dikoreksi kalau salah. Pernah saya membeli jamu di mbak jamu (yah iyalah,
masa beli di tukang bakso). Dia latah manggil saya mas, trus dianya bingung
melihat saya dan minta maaf karena takut salah manggil. Saya bilang aja,
"gak apa apa mbak, manggil aja yang menurut mbak pantas".
kembali ke China deh, China ini menarik sekali kebudayaan mereka untuk
disimak. Karena China itu memang maju dalam budaya terutama dalam hal
kesenian dan kesusastraan. Dulu Kaisar Kaisar China punya istana yang
gila-gilaan, sampe bisa nampung ribuan selirnya. Bahkan medical knowledge
menurut saya lebih canggih punya orang China! Coba lihat saja Sinse Sinse
China, bisa mengetahui penyakit hanya dari denyut nadi. Tante saya yang
kebetulan sudah lama tinggal di China pun kalau berlibur ke Indonesia pasti
akan memakai kaus kaki kalau kemana mana, terutama kalau sedang berada di
dalam rumah. Katanya nanti masuk "Angin Jahat" (chi? gak jelas juga lah!).
Ternyata ini bukan cuma takhayul, karena memang segala macam penyakit dari
hati sampe liver itu pusatnya memang berada di telapak kaki.
Pernah ada kejadian lucu, ketika saya berada di Singapore, kebetulan saya
berkunjung ke salah satu label/distro, yang namanya Thrash Steady Syndicate.
Cukup bingung juga, soalnya ternyata distronya itu didalam rumah! Di
Apartemen lebih tepatnya. Waktu itu saya turun dari bus dengan muka bingung,
wah jangan jangan salah tempat , karena dimana mana gedung semua. Saya tanya
ke salah satu orang yang baru turun dari bus, dan ketika dia lihat alamatnya
dia kaget, karena dia salah satu orang yang bantu bantu di Thrash Steady
Syndicate. Ketika masuk ke rumah, ada neneknya (saya manggil mak cik) maka
dia pun dengan santai bertanya "Wah! Cinakah teman mu? boleh cakap Melayu
kah?". Gila waktu denger itu sih saya cuman senyum senyum aja. Abisnya udah
lama gak denger kata "Cina", Saking kata "Cina" itu udah negatif di
Indonesia. Saya hanya senyum dan berkata halo. haha Mungkin kalau di
Singapore dan di Malaysia masih normal yah kalau di panggil "Cina". Kalau di
Indonesia, wah bisa ribut ribut, satu Glodok atau Pasar Atum perang padahal
cuman beda "H".