Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

Amar Ma’ruf Nahi Munkar - Memerintahkan Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran

45 views
Skip to first unread message

A Nizami

unread,
Oct 21, 2009, 4:04:16 AM10/21/09
to
Islam bukanlah agama individual/nafsi-nafsi yang hanya mementingkan
diri sendiri. Namun juga merupakan agama sosial di mana setiap anggota
masyarakat harus melakukan kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar terhadap
sesama. Menyuruh mengerjakan kebaikan dan Mencegah perbuatan mungkar.
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat
menasihati dengan kebenaran dan nasihat menasihati dengan
kesabaran.” [Al ‘Ashr 2-3]
Dari surat Al ‘Ashr di atas jelas. Selain beriman dan mengerjakan
perbuatan baik, kita juga harus nasehat-menasehati dengan kebenaran
dan kesabaran. Artinya kita tidak bisa diam saja melihat kemungkaran,
namun dengan sabar terus menasehati agar orang-orang lain juga ikut
berbuat baik dan benar dan menghentikan perbuatan mungkar.
Allah menyebut orang yang shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh
berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran sebagai penolong agamaNya
“Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi
niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh
berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada
Allah-lah kembali segala urusan.” [Al Hajj 41]
Luqman juga menyuruh anaknya untuk menyuruh berbuat kebaikan dan
mencegah perbuatan mungkar dan bersabar terhadap resiko yang mungkin
dihadapi karena itu.
Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang
baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah
terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Luqman 17]
Jika kita tidak mau melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, maka Allah
akan menyiksa kita dengan pemimpin yang zhalim dan menindas kita dan
tidak mengabulkan segala doa kita:
Hendaklah kamu beramar ma'ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi
mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan
menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu,
kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdo'a dan tidak
dikabulkan (do'a mereka). (HR. Abu Zar)
Allah mengutuk para pendeta Yahudi dan Nasrani karena mereka
meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar dan menyiksa mereka dengan
bencana dan malapetaka.
Wahai segenap manusia, menyerulah kepada yang ma'ruf dan cegahlah
dari yang mungkar sebelum kamu berdo'a kepada Allah dan tidak
dikabulkan serta sebelum kamu memohon ampunan dan tidak diampuni. Amar
ma'ruf tidak mendekatkan ajal. Sesungguhnya para robi Yahudi dan rahib
Nasrani ketika mereka meninggalkan amar ma'ruf dan nahi mungkar,
dilaknat oleh Allah melalui ucapan nabi-nabi mereka. Mereka juga
ditimpa bencana dan malapetaka. (HR. Ath-Thabrani)

Kita wajib melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar serta saling nasehat-
menasehati. Tidak ada yang maksum selain Nabi. Oleh karena itu,
manusia biasa, ustadz, ulama, atau murobbi dan sebagainya, jika
keliru, kita wajib mengkoreksinya. Jika tidak, maka nasib kita seperti
para Rabi Yahudi dan Rahib Nasrani yang dilaknat Allah. Jika
kemaksiatan dan kemungkaran merajalela, maka Allah menurunkan siksa
yang tidak hanya menimpa orang yang zalim saja.
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa
orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah
amat keras siksaan-Nya.” [Al Anfaal 25]
Bahkan pada shalat pun meski kita telah memilih Imam (pemimpin) yang
paling alim dan paling saleh misalnya seperti Nabi Muhammad, tetap
saja kita berkewajiban mengingatkan Imam jika mereka salah atau lupa
dalam shalat. Apalagi jika manusia itu di bawah level Nabi seperti
wali, ulama, murobi, dan sebagainya. Ini Nabi sendiri yang
memerintahkan.
Bahkan Nabi menyatakan bahwa jihad paling utama adalah menyampaikan
kebenaran di depan penguasa yang zalim dan kejam meski dia menanggung
resiko hukuman yang amat berat.
Jihad paling afdhol ialah menyampaikan perkataan yang adil di hadapan
penguasa yang zalim dan kejam. (HR. Aththusi dan Ashhabussunan)
Nabi menyatakan bahwa jika kita melihat kemungkaran, hendaknya kita
merubah dengan tangan kita. Jika tidak mampu dengan lisan (ucapan)
atau pun tulisan kita. Jika tidak mampu juga dengan hati (diam dan
membenci dalam hati). Namun itu adalah selemah-lemahnya iman. Dengan
hati ini artinya membenci dalam hati. Jika mampu dia akan merubahnya
dengan lisan atau pun tangan.
“Barangsiapa melihat suatu kemungkaran hendalah ia merobah dengan
tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (ucapan),
dan apabila tidak mampu juga hendaklah dengan hatinya dan itulah
keimanan yang paling lemah. (HR. Muslim)
Sayang saat ini sebagian ummat Islam yang untuk diam saja tidak mampu.
Melainkan turut serta mendukung kemungkaran baik dengan lisan/tulisan
mau pun tangan. Sebagai contoh meski Neoliberalisme yang diusung kaum
kapitalis Yahudi dan Nasrani bertentangan dengan Islam, sebagian
ummat Islam justru mendukungnya karena kebodohannya. Begitu juga
aliran sesat banyak yang berkembang dan didukung keberadaannya oleh
sebagian Muslim. Ashobiyyah/fanatisme golongan/nasionalisme kebablasan
yang memecah-belah ummat Islam di seluruh dunia hingga saling bunuh
satu sama lain juga harus dicegah sekuat kita.
Seandainya seseorang dapat hidayah melalui kita, maka itu sangat baik
bagi kita.
“Apabila Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui upayamu, itu
lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit
sampai terbenam.(HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi berkata bahwa bukanlah dari golongan Nabi orang yang tidak mau
beramar ma’ruf nahi munkar.
Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak mengasihi dan menyayangi
yang lebih muda, tidak menghormati orang yang lebih tua, dan tidak
beramar ma'ruf dan nahi mungkar. (HR. Tirmidzi)
Tentu saja dalam beramar ma’ruf nahi mungkar kita harus melakukannya
dengan cara sebaik-baiknya sehingga tidak menyebabkan orang banyak
menjauh.
Permudahlah (segala urusan), jangan dipersulit dan ajaklah dengan
baik, jangan menyebabkan orang menjauh. (HR. Bukhari)
Allah mengajarkan kita untuk berdebat dengan cara yang paling baik.
Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara
yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara
mereka..” [Al ‘Ankabuut 46]
“Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik...” [An Nahl 125]
Bahkan jika perlu, karena menolaknya dengan cara yang sangat baik,
akhirnya orang yang kita cegah itu berubah jadi teman yang setia.
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu)
dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan
antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat
setia.
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-
orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang
yang mempunyai keuntungan yang besar.” [Fushshilat 34-35]
Tentu saja jika kita diserang, kita wajib membela diri. Namun dengan
cara-cara yang baik sehingga orang banyak yang simpati. Bukan dengan
cara yang menimbulkan kebencian orang banyak. Nabi Muhammad SAW sudah
membuktikannya sehingga orang yang dulu jadi musuhnya seperti Umar ra,
Khalid bin Walid, Wahsyi, Abu Sofyan, dan sebagainya berubah menjadi
sahabatnya.
Tidaklah seharusnya orang menyuruh yang ma'ruf dan mencegah yang
mungkar kecuali memiliki tiga sifat, yakni lemah-lembut dalam menyuruh
dan dalam melarang (mencegah), mengerti apa yang harus dilarang dan
adil terhadap apa yang harus dilarang. (HR. Ad-Dailami)
Tapi untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, kita harus
melaksanakannya dulu. Ibda bi nafsik! Mulailah dari diri kita sendiri,
kemudian baru menyuruh orang lain. Jika tidak, resikonya adalah
dilempar ke neraka.
Pada hari kiamat seorang dihadapkan dan dilempar ke neraka. Orang-
orang bertanya, "Hai Fulan, mengapa kamu masuk neraka sedang kamu
dahulu adalah orang yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah
perbuatan mungkar?" Orang tersebut menjawab, "Ya benar, dahulu aku
menyuruh berbuat ma'ruf, sedang aku sendiri tidak melakukannya. Aku
mencegah orang lain berbuat mungkar sedang aku sendiri
melakukannya." (HR. Muslim)
Dalam memberi nasehat juga harus ada hari liburnya agar mereka tidak
jenuh/bosan.
Nabi meniadakan pemberian pelajaran untuk beberapa hari karena
khawatir kejenuhan kami. (HR. Ahmad)
Allah baru menyiksa manusia jika mereka sudah tidak mau mencegah
kemungkaran yang ada di hadapannya.
Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla tidak menyiksa orang awam karena
perbuatan dosa orang-orang yang khusus sehingga mereka melihat mungkar
di hadapan mereka dan mereka mampu mencegahnya, tetapi mereka tidak
mencegahnya. Kalau mereka berbuat demikian maka Allah menyiksa yang
khusus dan yang awam seluruhnya. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah adalah orang yang
paling banyak menasehati sesama (tentunya sesudah dia sendiri
mengamalkannya).
Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat
ialah yang paling banyak berkeliling di muka bumi dengan bernasihat
kepada manusia (makhluk Allah). (HR. Ath-Thahawi)
Perintah Allah jelas: Menyuruh orang berbuat baik dan mencegah
perbuatan yang mungkar.
Pada suatu hari Rasulullah Saw bersabda kepada para sahabatnya: "Kamu
kini jelas atas petunjuk dari Robbmu, menyuruh kepada yang ma'ruf,
mencegah dari yang mungkar dan berjihad di jalan Allah. Kemudian
muncul di kalangan kamu dua hal yang memabukkan, yaitu kemewahan hidup
(lupa diri) dan kebodohan. Kamu beralih kesitu dan berjangkit di
kalangan kamu cinta dunia. Kalau terjadi yang demikian kamu tidak akan
lagi beramar ma'ruf, nahi mungkar dan berjihad di jalan Allah. Di kala
itu yang menegakkan Al Qur'an dan sunnah, baik dengan sembunyi maupun
terang-terangan tergolong orang-orang terdahulu dan yang pertama-tama
masuk Islam. (HR. Al Hakim dan Tirmidzi)
Namun tidak jarang orang karena kemewahan hidup dan cinta dunia
akhirnya tidak mau lagi beramar ma’ruf nahi munkar. Bahkan karena
mendapat uang atau jabatan, tidak segan-segan mereka justru mendukung
kemungkaran dan mencegah perbuatan baik.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-
langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan,
maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji
dan yang mungkar...” [An Nuur 21]
Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah SWT sehingga bisa
mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi kemungkaran serta
mengajarkannya kepada orang lain.
Sumber:
1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz
Almath - Gema Insani Press
Al Qur’an Digitan dan Hadits Web yang bisa didownload di www.media-islam.or.id

tim_Bill_an bin Tit_an

unread,
Oct 21, 2009, 5:20:49 AM10/21/09
to
A Nizami <niza...@gmail.com> wrote in
news:60ee64b0-eba5-46a9...@m3g2000pri.googlegroups.com:

> Islam bukanlah agama individual/nafsi-nafsi yang hanya mementingkan
> diri sendiri. Namun juga merupakan agama sosial di mana setiap anggota
> masyarakat harus melakukan kewajiban Amar Ma�ruf Nahi Munkar terhadap
> sesama. Menyuruh mengerjakan kebaikan dan Mencegah perbuatan mungkar.
> �Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali
> orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat


mosok memerintahkan kebaekan, apinya tiap hari nge-bom in
orang2 laen melolo ??

ngajak mathek rame2 , bijimana sik iki ???

0 new messages