C-Generation, bagi Kemenangan Peradaban (Bubi Sutomo)

7 views
Skip to first unread message

Suhono Supangkat

unread,
Oct 27, 2013, 11:47:35 AM10/27/13
to Synergy itb, all-pa...@googlegroups.com
Salam,
Berikut saya sampaikan beberapa materi pendukung pertemuan C-generation di Bandung Kemarin dan e-Konferensinya, yg rencana
besuk pagi mereka (c-gen), akan mencoba berikrar di 85 tahun hari Sumpah Pemuda:

Ada beberapa tulisan yg masuk diantaranya : 1. Bubi Sutomo 2. Dr. Dwini  Handayani (Pusat Demografi UI) 3. Ki Sujiwo Tejo (Budayawan) 4. Dr. Bambang Pharma Setiawan (Pengelola Yayasan Pendidikan) 5. Teuku Muhamad Roffi (Ketua PPI Jepang) 6. Hemat  Nuryanto (Komunitas Radio 2.0) 7. Ventje (Mahasiswa ITB) 8. Miss Internet Bali 9. Suhono HS... Panitia sedang menata di  Halaman Web.


C-Generation, bagi Kemenangan Peradaban
Oleh : Bubi Iradiadi Sutomo
Alumni ITB 1984
Penggiat dan Pemerhati Masalah Sosial

 
 
Salah kaprah pembenaran umum; Pembiaran anak muda
Anak muda dengan kesehariannya yang lepas, bebas, lintas batas, seringkali identik dengan masa-masa main-main, hamburkan waktu, tidak serius dan gagap tanggung jawab. Pembawaannya yang seperti itu, membuatnya menjadi pembenaran untuk tidak menjadi/ dijadikan perhatian oleh lingkungannya. Sehingga hal yang lumrah, masa muda adalah masa “Pembiaran”, masa longgar dari berperaturan.
 
Wajah masa depan peradaban,
dipahat oleh kepedulian sosial pemuda nya…… saat ini
Padahal demi meraih jangkauan keberhasilan di masa depan, suatu peradaban amat membutuhkan cikal dalam masyarakatnya, cq anak mudanya (pemuda), yang telah memiliki; pemahaman dan berposisi “kongruen’; kontributif dan berperan aktif; turut serta dan urun rembug…. dalam mengelola tanggung jawab bersama/publik.
Alih-alih pembiaran, sebagai wujud bebas tak-penting, maka mulai menempatkan anak muda sebagai bagian kerangka yang terhubung erat dengan berbagai fungsi dan tanggung jawab awal dalam masyarakat, adalah faktor penentu kritikal. Menempatkan anak muda sebagai bagian dari kebersamaan dan empati sosial, bagian kerangka dari bangunan kepedulian sosial.
Kepedulian sosial sejak dini adalah memori/ingatan yang indah dan solid. Demi menyadari, bahwa pada masanya nanti para anak muda ini adalah pelaku utama, memangku masa depan dirinya, keluarganya, masyarakatnya dan masa depan peradaban,…. yang mau tidak mau menyeret pengalaman masa muda nya, sebagai referensi baku…. Adakah bangun ingatan makhluk sosial di dalamnya?
 
Mengenali asupan informasi, faktor eksternal pembentuk
Secara usia pertumbuhan kejiwaan manusia, masa-masa remaja, anak muda, pemuda/i, adalah bagian dari proses membentuk kematangan, masa pancaroba. Dimana amat wajar dalam pencarian kejati diriannya, keadaan coba-coba, sebagai kesalahan (trial-error) dan bongkar-bongkar (yang nir pasang) adalah hal yang biasa/seharusnya.
Dalam kondisi ini, penting untuk diketahui bahwa ternyata banyak faktor-faktor luar diri (eksternal) yang perlu diperhatikan. Bagaimana karakter dan pemrosesan asupan informasi yang berlangsung, dengan menjawab antara lain pertanyaan berikut ini:
Apa yang menjadi acuan penentu atas tindakan dan keputusan yang diambil? Bagaimana proses menakar asupan informasi? Bagaimana memberlakukan proses uji-keseimbangan (check & balance)? Bagaimana menguji kepatutan panutan? Dan bagaimana mengontrol kekuatan pengaruh faktor ekstrenal, yang melakukan infiltrasi bahkan aneksasi/akuisisi nilai-nilai keyakinan?
 
Program umum: perlindungan kerentanan - pendayagunaan semangat
Dalam menyikapi pembekalan demi “melawan” asupan informasi seperti tersebut di atas, maka banyak ditimbulkan gerakan-gerakan, basis riset, analisis dan rancang program kegiatan yang reaktif dilakukan sebagai bagian antisipasi. Yakni sebagaimana yang dilakukan dalam membekalkan sang ‘gejolak jiwa muda’ dan potensi kepemudaan dimilikinya.
Dengan melakukan eksplorasi; kesadaran peran sosial pemuda, akan pentingnya nilai-nilai luhur dan tujuan mulia, eksploitasi: pemantapan reposisi pemuda sebagai harapan pencerah masa depan bangsa.
Suatu rancangan yang dalam sederhanya diprogramkan- melindungi kerentanannya dan memperkuat semangat sang anak muda.
‘Delivery’ program-program ini dikenali secara umum kemasannya sebagai “Pembangunan motivasi”,…. yang artifisial, tidak mengakar dan ala kadarnya.
 
 
Lambatnya lingkungan mengantisipasi perubahan, menjadikan pemuda selalu merasa menang, didepan dan ‘tak terkalahkan’
Di sisi lainnya,…. sejauh manakah ketepat-sasaran-an dan ke-tepat-guna-an program: Pembentengan/pembendungan informasi dan pembangunan motivasi tersebut di atas?
Antara harapan dan realita, mencoba menata laksana anak muda adalah seperti halnya anak muda tersebut, seringkali menjadi amat tidak dapat ditebak (unpredictable). Bak sasaran yang bergerak yang di sasar dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah (era yang maju).
Kegagalan mensikapinya seringkali mengkambing hitamkan kemajuan zaman yang terlalu cepat, perubahan yang terlalu kerap.
Perubahan adalah kepastian yang tak terhindarkan, dan bukanlah permasalahan. Persoalannya adalah kondisi ketertinggalan, lambatnya akselerasi dalam mensikapi perubahan. Sehingga selalu ditemukan kondisi dimana anak muda selalu memiliki paham dan kedudukan yang lebih cepat dan didepan.
Pembenaran meluas bahwa anak muda adalah cepat dan didepan, adalah pembenaran bagi sang anak muda selalu merasa menang terhadap lingkungannya. Kondisi yang membuat anak muda menjadi “master” di lingkungannya. Sementara pada kenyataannya, kemenangan itu semu. Kemenangan yang belum tepat dan belum berhak sepenuhnya untuk bisa secara gegabah menentukan siapa dirinya (bahkan lebih jauh sampai mendikte keluarganya dan lingkungannya, dst…. Dst)
 
Upaya “mengenali anak muda”, sampai tahapan ini adalah sekedar memposisikannya sebagai manusia yang secara biologis muda usia. Yang akan matang pada saat nya NANTI (sebagai menua). Belum menyentuh tatanan bahwa anak muda yang dikenali adalah penentu dan perancang masa depan, SEKARANG.
(Di sisi lain; menjadi tua itu adalah kehormatan, bukan sekedar menjadi renta)
 
Menyikapi bonus teknologi informasi dan komputer (tik), yang berpotensi mengingatkan manusia akan kelebihannya sebagai makhluk yang amat sosial, memperhubungkannya satu sama lain lintas ruang dan waktu.
 
 
Penemuan Teknologi bukan ukuran kemajuan.
Dampak pemanfaatan teknologi adalah ukuran kemajuan
Mari kita buka dengan pertanyan klasik…. Apakah perubahan?
Singkat kata, dalam memudahkan pengenalan perubahan, caranya adalah dengan mengelaborasi; Siapakah penyebab perubahan?
Jawaban cepatnya adalah keberadaan teknologi (buah pemikiran).
Ternyata Teknologi, bukan lah sekedar penyebab/pendorong perubahan, mereka itulah adalah perubahan itu sendiri. Maka Teknologi adalah Perubahan ‘in action’.
Dalam mengeksekusi perubahan, Teknologi tidak pasif menunggu manusia untuk melakukan perubahan, teknologi menghadirkan perubahan dengan menggilas siapa-siapa yang tak berubah.
Selanjutnya…….Apakah perubahan cq. teknologi membawakan kemajuan? Bilamana kehadiran Teknologi masih sebagai sang penggilas, atau sebagai kuda liar lepas kendali, maka teknologi mungkin masih bisa diceritakan sebagai memajukan industri, tapi pastinya bukan “memajukan manusia”. (manusia kehilangan kontrolnya dibawah ‘tirani’ teknologi). Sehingga kata kuncinya adalah bilaman teknologi dikendalikan bagi kemajuan kekuatan kemanusiaan.
Siapakah kiranya manusia yang paling ‘terbuka’, berani, dan adaptif terhadap hal yang baru? Terhadap perubahan?
Posisi pemuda adalah pihak yang paling sedia berhadapan (early adapter), paling siap menggunakan (early adopter), dan paling siap menerima resiko (risk gainer) atau manfaat yang diperolehnya (advanced).
Sedemikian bilamana anak muda, secara tepat dan jitu bisa melakukan kendali sang perubahan (teknologi), maka tentunya manfaat yang diperoleh adalah kontributor bagi kemajuan.
Perubahan (Teknologi) + Pemuda à Kemajuan. 
Sehingga ukuran kemajuan adalah bagaimana para pemuda (sebagai garda terdepan), berkutat dan bergelut mengelola perubahan (Teknologi), mendayagunakannya sehingga memberikan hasil/manfaat.
Pemuda adalah adaptor dan transformer teknologi menjadi kemajuan
 
C-Generation adalah strategi jitu;
Pemuda berTeknologi= Kemajuan bagi suatu Peradaban
Karenanya sangat tepat, terutama di dekade ini, dalam berkeinginan memahami pemuda, strategi yang paling jitu adalah dengan mencermati penyatuan pemuda dengan Teknologi, dan mendorong/memfasilitasi arahnya menjangkau manfaat-manfaat luas. Melalui pemuda berteknologi, akan mudah ditemukan jalan menuju jawaban; pendayagunaan pemuda, sebagai agen penentu kemajuan dengan pengaruhnya pada multiaspek (aspek-sosial, ekonomi, ketahanan, budaya dan peradaban) berdimensi waktu kini dan masa depan.
 
Menyiapkan C-generation, dan dukungan lingkungan
Keberadaan C-generation, tentunya harus pula mendapat daya dukung dari masyarakatnya/ekosistemnya. Masyarakat, dalam hal ini generasi yang lebih dewasa/senior, generasi tetua, pun harus melakukan gerakan meresponnya. Respon yang berfungsi sebagai pendukung dan adaptif sebangai penyeimbang ekosistem.
Yang dilakukan tidaklah dengan membuat generasi tetua, mencoba menjadi seperti sang muda (dan atau sebaliknya). Tetaplah berada di maqomnya masing-masing.
Yang dilakukan adalah bagaimana masing-masing berjalan saling mengiringi dan beriringan. Suatu perjalanan dalam track berbeda namun terjaga dalam suatu ritme yang sama. Ritme yang harmonis, saling beresonansi dan adaptif.
Demikianlah ekosistem/lingkungan yang saling mendukung dalam geraknya yang dinamis, membentuk keselarasan dalam kemajuan (in harmonia progressio).
 
Keberhasilan C-generation adalah kesuksesan mencapai nilai-nilai yang BUKAN dengan ukuran-ukuran nalar/logika
Bilamana C-Generation adalah kampanye meluas akan nilai-nilai kebaikan, ajakan bagi generasi muda menimbang nilai-nilai positif dalam dan untuk kehidupan, serta mendorong ke arah kedewasaan dengan kebenaran menurut penalaran dan logika, ….. maka……
Harapan tingkat keberhasilannya, sebagai penerimaan di kalangan muda sekaligus masyarakat/linkungan pendukung yang meluas…. Adalah UTOPIA.
Menggerakan anak muda, harus sesuai kondisi NATURALnya. Menemui apa yang menjadi ‘prime mover’ berkeputusan dan bersikap mereka. Bukankah rasa berbalut emosi yang terambur, selalu hadir (present) lebih di depan? Sementara timbang terima nalar dan logika selalu mengekor?
Nalar dan logika untuk mengIDEALkan adalah subordinat Rasa dan emosi yang meNATURALkan tindakan. Nalar dan logika adalah tataran teoretik, sementara Rasa dan emosi adalah tindakan dan pengaruh nyata.
Oleh sebab itu….. Penyampaian dan induksi C-Generation adalah HARUS melalui pendekaran Rasa dan emosi…. Rasa dan emosi yang hadir sebagai ‘anak muda’.
 
Keberhasilan C-Generation adalah merebut kemenangan di kancah peperangan POPULERISME
Menghadirkan C-generation di tengah publik, adalah ibarat menerjunkan pasukan di medan tempur.  Pertempuran yang dimaksud adalah tarik menarik kepentingan dalam memanfaatkan potensi anak muda (kepemudaan). Mulai pertempuran ber nas profit-oriented (menggiring pemuda dalam kepentingan pasar), sampai dengan pertempuran terkejam! Adalah yang ber nas orientasi aneksasi peradaban (menggiring pemuda dalam kepentingan peradaban tertentu). Kondisi yang terakhir ini sangat berbahaya, karena bisa meraup segala-galanya (ekonomi, sos-bud dan harkat kebangsaan). Menghancurkan peradaban adalah dengan menghancurkan para pemudanya.
Seberapa kuatkah (waktu dan daya jangkau) eksistensi C-Generation? Apakah telah ada pola-pola dan strategi yang kuat dan terukur dalam melepasnya ke publik?
Secara singkat keberhasilan penerimaan publik ada dalam bahasa industri pop. Populerisme adalah waham yang dianut dalam pasar kepentingan. Siapa dimana-mana, akan kemana-mana dan melakukan apa-apa kepentingannya.
Bagaimanakah jalan menuju POPULERISME? Sementara yang diusungnya seringkali diluar nalar dan logika akan pemenuhan nilai-nilai yang bermartabat.  Menjadikan jalan menuju nya sebagai suatu pemelacuran yang nihil nilai.
Satu-satunya kurs nilai yang berlaku disini adalah populerisme itu sendiri.
C-Generation adalah JUGA soal, melarutkan diri dalam memenangkan populerisme. Yang tentunya tidak akan mencoba menggarami lautan dengan melempar nilai dalam selubung nalar dan logika….
--Reminder—bertempurlah dengan rasa dan jiwa (emosi)
 
Zaman dimana nalar-logika-teknologi ada dibawah kesadaran rasa
Anak muda, adalah masa transisi membawakan pembaharuan, membawakan kemenangan, atau sekedar mengekor kegagalan para pendahulunya.
Anak muda, sebagai yang terdepan dan terbuka dalam menterjemahkan perubahan (teknologi), mengabdikan dirinya larut sebagai objek kemajuan atau mengendalikan dirinya sebagai subjek yang mengendalikan perubahan sebagai kemajuan.
Anak muda berada dalam batas terluar untuk menjangkau ketak terbatasan, karena seringkali men-tanpa-batas-kan kekuatan rasa (spirit) dan emosi (soul), dengan menggengam dengan mudah perubahan (teknologi) sebagai sekedar toys (mainan)nya….
Maka,
Berikanlah bekal yang tepat bagai anak muda, dengan mereka mengekploitasi kekuatan rasa dan emosi yang berbalut pada kekuatan nilai-nilai, dalam mengendalikan perubahan (teknologi)/kemajuan.
 
Wawasan C-Generation di kaca mata penulis
Penulis sebagai pemerhati dan penggiat sosial pencapaian manusia dalam kesempurnaan masing-masing jatidiri, sebagai suatu kesempurnaan penciptaan/ kehadiran diri di alam raya ini, sekaligus melalui materi “beyond intuitive-creative-sensible mind”, menggagas “CreativeNationInstitute”, mencoba mewacanakan C-Generation, sebagai:
Mempersiapkan format kepemudaan yang berwawasan kesadaran yang meluas. Yang menghadirkan dirinya larut dalam rasa sosial, peduli dan empati yang berbalut kesemangatan yang pantang menyerah, demi mengisi kehidupan yang memenangkan kerelaan, kasih dan sayang.
Maka dari itu…..
Bersama Kehidupan Kita Harus Menang
 
 
 
Bubi Iradiadi Sutomo
__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
Jangan Lupa
Daftarkan diri anda Menjadi Anggota Koperasi ITB 81 KGB81
dan setor ke :
KOPERASI GANESHA 81 BNI Cab. Tebet. a/c. No. 0237047803
Kontak:
Fauzi
Bela
Mastreng (Ketua)

Saya
Hari Ini pada 10:30 PM
Salam,
Berikut saya sampaikan beberapa materi pendukung pertemuan C-generation di Bandung Kemarin dan e-Konferensinya, yg rencana
besuk pagi mereka (c-gen), akan mencoba berbuat sesuatu di 85 tahun hari Sumpah Pemuda:

Ada beberapa tulisan yg masuk diantaranya : 1. Bubi Sutomo 2. Dr. Dwini  Handayani (Pusat Demografi UI) 3. Ki Sujiwo Tejo (Budayawan) 4. Dr. Bambang Pharma Setiawan (Pengelola Yayasan Pendidikan) 5. Teuku Muhamad Roffi (Ketua PPI Jepang) 6. Hemat  Nuryanto (Komunitas Radio 2.0) 7. Ventje (Mahasiswa ITB) 8. Miss Internet Bali 9. Suhono HS... Panitia sedang menata di  Halaman Web.


C-Generation, bagi Kemenangan Peradaban
Oleh : Bubi Iradiadi Sutomo
Alumni ITB 1984
Penggiat dan Pemerhati Masalah Sosial

 
 
Salah kaprah pembenaran umum; Pembiaran anak muda
Anak muda dengan kesehariannya yang lepas, bebas, lintas batas, seringkali identik dengan masa-masa main-main, hamburkan waktu, tidak serius dan gagap tanggung jawab. Pembawaannya yang seperti itu, membuatnya menjadi pembenaran untuk tidak menjadi/ dijadikan perhatian oleh lingkungannya. Sehingga hal yang lumrah, masa muda adalah masa “Pembiaran”, masa longgar dari berperaturan.
 
Wajah masa depan peradaban,
dipahat oleh kepedulian sosial pemuda nya…… saat ini
Padahal demi meraih jangkauan keberhasilan di masa depan, suatu peradaban amat membutuhkan cikal dalam masyarakatnya, cq anak mudanya (pemuda), yang telah memiliki; pemahaman dan berposisi “kongruen’; kontributif dan berperan aktif; turut serta dan urun rembug…. dalam mengelola tanggung jawab bersama/publik.
Alih-alih pembiaran, sebagai wujud bebas tak-penting, maka mulai menempatkan anak muda sebagai bagian kerangka yang terhubung erat dengan berbagai fungsi dan tanggung jawab awal dalam masyarakat, adalah faktor penentu kritikal. Menempatkan anak muda sebagai bagian dari kebersamaan dan empati sosial, bagian kerangka dari bangunan kepedulian sosial.
Kepedulian sosial sejak dini adalah memori/ingatan yang indah dan solid. Demi menyadari, bahwa pada masanya nanti para anak muda ini adalah pelaku utama, memangku masa depan dirinya, keluarganya, masyarakatnya dan masa depan peradaban,…. yang mau tidak mau menyeret pengalaman masa muda nya, sebagai referensi baku…. Adakah bangun ingatan makhluk sosial di dalamnya?
 
Mengenali asupan informasi, faktor eksternal pembentuk
Secara usia pertumbuhan kejiwaan manusia, masa-masa remaja, anak muda, pemuda/i, adalah bagian dari proses membentuk kematangan, masa pancaroba. Dimana amat wajar dalam pencarian kejati diriannya, keadaan coba-coba, sebagai kesalahan (trial-error) dan bongkar-bongkar (yang nir pasang) adalah hal yang biasa/seharusnya.
Dalam kondisi ini, penting untuk diketahui bahwa ternyata banyak faktor-faktor luar diri (eksternal) yang perlu diperhatikan. Bagaimana karakter dan pemrosesan asupan informasi yang berlangsung, dengan menjawab antara lain pertanyaan berikut ini:
Apa yang menjadi acuan penentu atas tindakan dan keputusan yang diambil? Bagaimana proses menakar asupan informasi? Bagaimana memberlakukan proses uji-keseimbangan (check & balance)? Bagaimana menguji kepatutan panutan? Dan bagaimana mengontrol kekuatan pengaruh faktor ekstrenal, yang melakukan infiltrasi bahkan aneksasi/akuisisi nilai-nilai keyakinan?
 
Program umum: perlindungan kerentanan - pendayagunaan semangat
Dalam menyikapi pembekalan demi “melawan” asupan informasi seperti tersebut di atas, maka banyak ditimbulkan gerakan-gerakan, basis riset, analisis dan rancang program kegiatan yang reaktif dilakukan sebagai bagian antisipasi. Yakni sebagaimana yang dilakukan dalam membekalkan sang ‘gejolak jiwa muda’ dan potensi kepemudaan dimilikinya.
Dengan melakukan eksplorasi; kesadaran peran sosial pemuda, akan pentingnya nilai-nilai luhur dan tujuan mulia, eksploitasi: pemantapan reposisi pemuda sebagai harapan pencerah masa depan bangsa.
Suatu rancangan yang dalam sederhanya diprogramkan- melindungi kerentanannya dan memperkuat semangat sang anak muda.
‘Delivery’ program-program ini dikenali secara umum kemasannya sebagai “Pembangunan motivasi”,…. yang artifisial, tidak mengakar dan ala kadarnya.
 
 
Lambatnya lingkungan mengantisipasi perubahan, menjadikan pemuda selalu merasa menang, didepan dan ‘tak terkalahkan’
Di sisi lainnya,…. sejauh manakah ketepat-sasaran-an dan ke-tepat-guna-an program: Pembentengan/pembendungan informasi dan pembangunan motivasi tersebut di atas?
Antara harapan dan realita, mencoba menata laksana anak muda adalah seperti halnya anak muda tersebut, seringkali menjadi amat tidak dapat ditebak (unpredictable). Bak sasaran yang bergerak yang di sasar dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah (era yang maju).
Kegagalan mensikapinya seringkali mengkambing hitamkan kemajuan zaman yang terlalu cepat, perubahan yang terlalu kerap.
Perubahan adalah kepastian yang tak terhindarkan, dan bukanlah permasalahan. Persoalannya adalah kondisi ketertinggalan, lambatnya akselerasi dalam mensikapi perubahan. Sehingga selalu ditemukan kondisi dimana anak muda selalu memiliki paham dan kedudukan yang lebih cepat dan didepan.
Pembenaran meluas bahwa anak muda adalah cepat dan didepan, adalah pembenaran bagi sang anak muda selalu merasa menang terhadap lingkungannya. Kondisi yang membuat anak muda menjadi “master” di lingkungannya. Sementara pada kenyataannya, kemenangan itu semu. Kemenangan yang belum tepat dan belum berhak sepenuhnya untuk bisa secara gegabah menentukan siapa dirinya (bahkan lebih jauh sampai mendikte keluarganya dan lingkungannya, dst…. Dst)
 
Upaya “mengenali anak muda”, sampai tahapan ini adalah sekedar memposisikannya sebagai manusia yang secara biologis muda usia. Yang akan matang pada saat nya NANTI (sebagai menua). Belum menyentuh tatanan bahwa anak muda yang dikenali adalah penentu dan perancang masa depan, SEKARANG.
(Di sisi lain; menjadi tua itu adalah kehormatan, bukan sekedar menjadi renta)
 
Menyikapi bonus teknologi informasi dan komputer (tik), yang berpotensi mengingatkan manusia akan kelebihannya sebagai makhluk yang amat sosial, memperhubungkannya satu sama lain lintas ruang dan waktu.
 
 
Penemuan Teknologi bukan ukuran kemajuan.
Dampak pemanfaatan teknologi adalah ukuran kemajuan
Mari kita buka dengan pertanyan klasik…. Apakah perubahan?
Singkat kata, dalam memudahkan pengenalan perubahan, caranya adalah dengan mengelaborasi; Siapakah penyebab perubahan?
Jawaban cepatnya adalah keberadaan teknologi (buah pemikiran).
Ternyata Teknologi, bukan lah sekedar penyebab/pendorong perubahan, mereka itulah adalah perubahan itu sendiri. Maka Teknologi adalah Perubahan ‘in action’.
Dalam mengeksekusi perubahan, Teknologi tidak pasif menunggu manusia untuk melakukan perubahan, teknologi menghadirkan perubahan dengan menggilas siapa-siapa yang tak berubah.
Selanjutnya…….Apakah perubahan cq. teknologi membawakan kemajuan? Bilamana kehadiran Teknologi masih sebagai sang penggilas, atau sebagai kuda liar lepas kendali, maka teknologi mungkin masih bisa diceritakan sebagai memajukan industri, tapi pastinya bukan “memajukan manusia”. (manusia kehilangan kontrolnya dibawah ‘tirani’ teknologi). Sehingga kata kuncinya adalah bilaman teknologi dikendalikan bagi kemajuan kekuatan kemanusiaan.
Siapakah kiranya manusia yang paling ‘terbuka’, berani, dan adaptif terhadap hal yang baru? Terhadap perubahan?
Posisi pemuda adalah pihak yang paling sedia berhadapan (early adapter), paling siap menggunakan (early adopter), dan paling siap menerima resiko (risk gainer) atau manfaat yang diperolehnya (advanced).
Sedemikian bilamana anak muda, secara tepat dan jitu bisa melakukan kendali sang perubahan (teknologi), maka tentunya manfaat yang diperoleh adalah kontributor bagi kemajuan.
Perubahan (Teknologi) + Pemuda à Kemajuan. 
Sehingga ukuran kemajuan adalah bagaimana para pemuda (sebagai garda terdepan), berkutat dan bergelut mengelola perubahan (Teknologi), mendayagunakannya sehingga memberikan hasil/manfaat.
Pemuda adalah adaptor dan transformer teknologi menjadi kemajuan
 
C-Generation adalah strategi jitu;
Pemuda berTeknologi= Kemajuan bagi suatu Peradaban
Karenanya sangat tepat, terutama di dekade ini, dalam berkeinginan memahami pemuda, strategi yang paling jitu adalah dengan mencermati penyatuan pemuda dengan Teknologi, dan mendorong/memfasilitasi arahnya menjangkau manfaat-manfaat luas. Melalui pemuda berteknologi, akan mudah ditemukan jalan menuju jawaban; pendayagunaan pemuda, sebagai agen penentu kemajuan dengan pengaruhnya pada multiaspek (aspek-sosial, ekonomi, ketahanan, budaya dan peradaban) berdimensi waktu kini dan masa depan.
 
Menyiapkan C-generation, dan dukungan lingkungan
Keberadaan C-generation, tentunya harus pula mendapat daya dukung dari masyarakatnya/ekosistemnya. Masyarakat, dalam hal ini generasi yang lebih dewasa/senior, generasi tetua, pun harus melakukan gerakan meresponnya. Respon yang berfungsi sebagai pendukung dan adaptif sebangai penyeimbang ekosistem.
Yang dilakukan tidaklah dengan membuat generasi tetua, mencoba menjadi seperti sang muda (dan atau sebaliknya). Tetaplah berada di maqomnya masing-masing.
Yang dilakukan adalah bagaimana masing-masing berjalan saling mengiringi dan beriringan. Suatu perjalanan dalam track berbeda namun terjaga dalam suatu ritme yang sama. Ritme yang harmonis, saling beresonansi dan adaptif.
Demikianlah ekosistem/lingkungan yang saling mendukung dalam geraknya yang dinamis, membentuk keselarasan dalam kemajuan (in harmonia progressio).
 
Keberhasilan C-generation adalah kesuksesan mencapai nilai-nilai yang BUKAN dengan ukuran-ukuran nalar/logika
Bilamana C-Generation adalah kampanye meluas akan nilai-nilai kebaikan, ajakan bagi generasi muda menimbang nilai-nilai positif dalam dan untuk kehidupan, serta mendorong ke arah kedewasaan dengan kebenaran menurut penalaran dan logika, ….. maka……
Harapan tingkat keberhasilannya, sebagai penerimaan di kalangan muda sekaligus masyarakat/linkungan pendukung yang meluas…. Adalah UTOPIA.
Menggerakan anak muda, harus sesuai kondisi NATURALnya. Menemui apa yang menjadi ‘prime mover’ berkeputusan dan bersikap mereka. Bukankah rasa berbalut emosi yang terambur, selalu hadir (present) lebih di depan? Sementara timbang terima nalar dan logika selalu mengekor?
Nalar dan logika untuk mengIDEALkan adalah subordinat Rasa dan emosi yang meNATURALkan tindakan. Nalar dan logika adalah tataran teoretik, sementara Rasa dan emosi adalah tindakan dan pengaruh nyata.
Oleh sebab itu….. Penyampaian dan induksi C-Generation adalah HARUS melalui pendekaran Rasa dan emosi…. Rasa dan emosi yang hadir sebagai ‘anak muda’.
 
Keberhasilan C-Generation adalah merebut kemenangan di kancah peperangan POPULERISME
Menghadirkan C-generation di tengah publik, adalah ibarat menerjunkan pasukan di medan tempur.  Pertempuran yang dimaksud adalah tarik menarik kepentingan dalam memanfaatkan potensi anak muda (kepemudaan). Mulai pertempuran ber nas profit-oriented (menggiring pemuda dalam kepentingan pasar), sampai dengan pertempuran terkejam! Adalah yang ber nas orientasi aneksasi peradaban (menggiring pemuda dalam kepentingan peradaban tertentu). Kondisi yang terakhir ini sangat berbahaya, karena bisa meraup segala-galanya (ekonomi, sos-bud dan harkat kebangsaan). Menghancurkan peradaban adalah dengan menghancurkan para pemudanya.
Seberapa kuatkah (waktu dan daya jangkau) eksistensi C-Generation? Apakah telah ada pola-pola dan strategi yang kuat dan terukur dalam melepasnya ke publik?
Secara singkat keberhasilan penerimaan publik ada dalam bahasa industri pop. Populerisme adalah waham yang dianut dalam pasar kepentingan. Siapa dimana-mana, akan kemana-mana dan melakukan apa-apa kepentingannya.
Bagaimanakah jalan menuju POPULERISME? Sementara yang diusungnya seringkali diluar nalar dan logika akan pemenuhan nilai-nilai yang bermartabat.  Menjadikan jalan menuju nya sebagai suatu pemelacuran yang nihil nilai.
Satu-satunya kurs nilai yang berlaku disini adalah populerisme itu sendiri.
C-Generation adalah JUGA soal, melarutkan diri dalam memenangkan populerisme. Yang tentunya tidak akan mencoba menggarami lautan dengan melempar nilai dalam selubung nalar dan logika….
--Reminder—bertempurlah dengan rasa dan jiwa (emosi)
 
Zaman dimana nalar-logika-teknologi ada dibawah kesadaran rasa
Anak muda, adalah masa transisi membawakan pembaharuan, membawakan kemenangan, atau sekedar mengekor kegagalan para pendahulunya.
Anak muda, sebagai yang terdepan dan terbuka dalam menterjemahkan perubahan (teknologi), mengabdikan dirinya larut sebagai objek kemajuan atau mengendalikan dirinya sebagai subjek yang mengendalikan perubahan sebagai kemajuan.
Anak muda berada dalam batas terluar untuk menjangkau ketak terbatasan, karena seringkali men-tanpa-batas-kan kekuatan rasa (spirit) dan emosi (soul), dengan menggengam dengan mudah perubahan (teknologi) sebagai sekedar toys (mainan)nya….
Maka,
Berikanlah bekal yang tepat bagai anak muda, dengan mereka mengekploitasi kekuatan rasa dan emosi yang berbalut pada kekuatan nilai-nilai, dalam mengendalikan perubahan (teknologi)/kemajuan.
 
Wawasan C-Generation di kaca mata penulis
Penulis sebagai pemerhati dan penggiat sosial pencapaian manusia dalam kesempurnaan masing-masing jatidiri, sebagai suatu kesempurnaan penciptaan/ kehadiran diri di alam raya ini, sekaligus melalui materi “beyond intuitive-creative-sensible mind”, menggagas “CreativeNationInstitute”, mencoba mewacanakan C-Generation, sebagai:
Mempersiapkan format kepemudaan yang berwawasan kesadaran yang meluas. Yang menghadirkan dirinya larut dalam rasa sosial, peduli dan empati yang berbalut kesemangatan yang pantang menyerah, demi mengisi kehidupan yang memenangkan kerelaan, kasih dan sayang.
Maka dari itu…..
Bersama Kehidupan Kita Harus Menang
 
 
 
Bubi Iradiadi Sutomo
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages