Salam,
Berikut saya sampaikan beberapa materi pendukung pertemuan C-generation di Bandung Kemarin dan e-Konferensinya, yg rencana
besuk pagi mereka (c-gen), akan mencoba berbuat sesuatu di 85 tahun hari Sumpah Pemuda:
Ada
beberapa tulisan yg masuk diantaranya : 1. Bubi Sutomo 2. Dr. Dwini
Handayani (Pusat Demografi UI) 3. Ki Sujiwo Tejo (Budayawan) 4. Dr.
Bambang Pharma Setiawan
(Pengelola Yayasan Pendidikan) 5. Teuku Muhamad Roffi (Ketua PPI
Jepang) 6. Hemat Nuryanto (Komunitas Radio 2.0) 7. Ventje (Mahasiswa
ITB) 8. Miss Internet Bali 9. Suhono HS... Panitia sedang menata di
Halaman Web.
C-Generation,
bagi Kemenangan Peradaban
Oleh : Bubi Iradiadi Sutomo
Alumni ITB 1984
Penggiat dan Pemerhati Masalah Sosial
Salah kaprah pembenaran umum;
Pembiaran anak muda
Anak muda dengan kesehariannya yang lepas, bebas, lintas
batas, seringkali identik dengan masa-masa main-main, hamburkan waktu, tidak
serius dan gagap tanggung jawab. Pembawaannya yang seperti itu, membuatnya menjadi
pembenaran untuk tidak menjadi/ dijadikan perhatian oleh lingkungannya. Sehingga
hal yang lumrah, masa muda adalah masa “Pembiaran”, masa longgar dari berperaturan.
Wajah masa depan peradaban,
dipahat oleh kepedulian sosial
pemuda nya…… saat ini
Padahal demi meraih jangkauan keberhasilan di masa depan,
suatu peradaban amat membutuhkan cikal dalam masyarakatnya, cq anak mudanya
(pemuda), yang telah memiliki; pemahaman dan berposisi “kongruen’; kontributif
dan berperan aktif; turut serta dan urun rembug…. dalam mengelola tanggung
jawab bersama/publik.
Alih-alih pembiaran, sebagai wujud bebas tak-penting, maka mulai
menempatkan anak muda sebagai bagian kerangka yang terhubung erat dengan
berbagai fungsi dan tanggung jawab awal dalam masyarakat, adalah faktor penentu
kritikal. Menempatkan anak muda sebagai bagian dari kebersamaan dan empati
sosial, bagian kerangka dari bangunan kepedulian sosial.
Kepedulian sosial sejak dini
adalah memori/ingatan yang indah dan solid. Demi menyadari, bahwa pada masanya
nanti para anak muda ini adalah pelaku utama, memangku masa depan dirinya,
keluarganya, masyarakatnya dan masa depan peradaban,…. yang mau tidak mau menyeret
pengalaman masa muda nya, sebagai referensi baku…. Adakah bangun ingatan
makhluk sosial di dalamnya?
Mengenali asupan informasi,
faktor eksternal pembentuk
Secara usia pertumbuhan kejiwaan manusia, masa-masa remaja,
anak muda, pemuda/i, adalah bagian dari proses membentuk kematangan, masa
pancaroba. Dimana amat wajar dalam pencarian kejati diriannya, keadaan
coba-coba, sebagai kesalahan (trial-error) dan bongkar-bongkar (yang nir
pasang) adalah hal yang biasa/seharusnya.
Dalam kondisi ini, penting untuk diketahui bahwa ternyata
banyak faktor-faktor luar diri (eksternal) yang perlu diperhatikan. Bagaimana
karakter dan pemrosesan asupan informasi yang berlangsung, dengan menjawab
antara lain pertanyaan berikut ini:
Apa yang menjadi acuan penentu atas tindakan dan keputusan
yang diambil? Bagaimana proses menakar asupan informasi? Bagaimana
memberlakukan proses uji-keseimbangan (check & balance)? Bagaimana menguji
kepatutan panutan? Dan bagaimana mengontrol kekuatan pengaruh faktor ekstrenal,
yang melakukan infiltrasi bahkan aneksasi/akuisisi nilai-nilai keyakinan?
Program umum: perlindungan
kerentanan - pendayagunaan semangat
Dalam menyikapi pembekalan demi “melawan” asupan informasi seperti
tersebut di atas, maka banyak ditimbulkan gerakan-gerakan, basis riset,
analisis dan rancang program kegiatan yang reaktif dilakukan sebagai bagian
antisipasi. Yakni sebagaimana yang dilakukan dalam membekalkan sang ‘gejolak
jiwa muda’ dan potensi kepemudaan dimilikinya.
Dengan melakukan eksplorasi; kesadaran peran sosial pemuda,
akan pentingnya nilai-nilai luhur dan tujuan mulia, eksploitasi: pemantapan
reposisi pemuda sebagai harapan pencerah masa depan bangsa.
Suatu rancangan yang dalam sederhanya diprogramkan- melindungi
kerentanannya dan memperkuat semangat sang anak muda.
‘Delivery’ program-program ini dikenali secara umum kemasannya
sebagai “Pembangunan motivasi”,…. yang artifisial, tidak mengakar dan ala
kadarnya.
Lambatnya lingkungan mengantisipasi
perubahan, menjadikan pemuda selalu merasa menang, didepan dan ‘tak
terkalahkan’
Di sisi lainnya,…. sejauh manakah ketepat-sasaran-an dan
ke-tepat-guna-an program: Pembentengan/pembendungan informasi dan pembangunan
motivasi tersebut di atas?
Antara harapan dan realita, mencoba menata laksana anak muda
adalah seperti halnya anak muda tersebut, seringkali menjadi amat tidak dapat
ditebak (unpredictable). Bak sasaran yang bergerak yang di sasar dalam kondisi
lingkungan yang berubah-ubah (era yang maju).
Kegagalan mensikapinya seringkali mengkambing hitamkan
kemajuan zaman yang terlalu cepat, perubahan yang terlalu kerap.
Perubahan adalah kepastian yang tak terhindarkan, dan
bukanlah permasalahan. Persoalannya adalah kondisi ketertinggalan, lambatnya akselerasi
dalam mensikapi perubahan. Sehingga selalu ditemukan kondisi dimana anak muda
selalu memiliki paham dan kedudukan yang lebih cepat dan didepan.
Pembenaran meluas bahwa anak muda adalah cepat dan didepan,
adalah pembenaran bagi sang anak muda selalu merasa menang terhadap
lingkungannya. Kondisi yang membuat anak muda menjadi “master” di
lingkungannya. Sementara pada kenyataannya, kemenangan itu semu. Kemenangan
yang belum tepat dan belum berhak sepenuhnya untuk bisa secara gegabah menentukan
siapa dirinya (bahkan lebih jauh sampai mendikte keluarganya dan lingkungannya,
dst…. Dst)
Upaya “mengenali anak
muda”, sampai tahapan ini adalah sekedar memposisikannya sebagai manusia yang
secara biologis muda usia. Yang akan matang pada saat nya NANTI (sebagai
menua). Belum menyentuh tatanan bahwa anak muda yang dikenali adalah penentu
dan perancang masa depan, SEKARANG.
(Di sisi lain; menjadi tua itu adalah kehormatan, bukan
sekedar menjadi renta)
Menyikapi bonus
teknologi informasi dan komputer (tik), yang berpotensi mengingatkan manusia akan
kelebihannya sebagai makhluk yang amat sosial, memperhubungkannya satu sama
lain lintas ruang dan waktu.
Penemuan Teknologi bukan ukuran
kemajuan.
Dampak pemanfaatan teknologi
adalah ukuran kemajuan
Mari kita buka dengan pertanyan klasik…. Apakah perubahan?
Singkat kata, dalam memudahkan pengenalan perubahan, caranya
adalah dengan mengelaborasi; Siapakah penyebab perubahan?
Jawaban cepatnya adalah keberadaan teknologi (buah
pemikiran).
Ternyata Teknologi, bukan lah sekedar penyebab/pendorong
perubahan, mereka itulah adalah perubahan itu sendiri. Maka Teknologi adalah
Perubahan ‘in action’.
Dalam mengeksekusi perubahan, Teknologi tidak pasif menunggu
manusia untuk melakukan perubahan, teknologi menghadirkan perubahan dengan menggilas
siapa-siapa yang tak berubah.
Selanjutnya…….Apakah perubahan cq. teknologi membawakan
kemajuan? Bilamana kehadiran Teknologi masih sebagai sang penggilas, atau
sebagai kuda liar lepas kendali, maka teknologi mungkin masih bisa diceritakan
sebagai memajukan industri, tapi pastinya bukan “memajukan manusia”. (manusia
kehilangan kontrolnya dibawah ‘tirani’ teknologi). Sehingga kata kuncinya
adalah bilaman teknologi dikendalikan bagi kemajuan kekuatan kemanusiaan.
Siapakah kiranya manusia yang paling ‘terbuka’, berani, dan
adaptif terhadap hal yang baru? Terhadap perubahan?
Posisi pemuda adalah pihak yang paling sedia berhadapan
(early adapter), paling siap menggunakan (early adopter), dan paling siap menerima
resiko (risk gainer) atau manfaat yang diperolehnya (advanced).
Sedemikian bilamana anak muda, secara tepat dan jitu bisa
melakukan kendali sang perubahan (teknologi), maka tentunya manfaat yang
diperoleh adalah kontributor bagi kemajuan.
Perubahan (Teknologi) + Pemuda à Kemajuan.
Sehingga ukuran kemajuan adalah bagaimana para pemuda (sebagai
garda terdepan), berkutat dan bergelut mengelola perubahan (Teknologi),
mendayagunakannya sehingga memberikan hasil/manfaat.
Pemuda adalah adaptor dan transformer teknologi menjadi kemajuan
C-Generation adalah strategi jitu;
Pemuda berTeknologi= Kemajuan bagi
suatu Peradaban
Karenanya sangat tepat, terutama di dekade ini, dalam berkeinginan
memahami pemuda, strategi yang paling jitu adalah dengan mencermati penyatuan pemuda
dengan Teknologi, dan mendorong/memfasilitasi arahnya menjangkau
manfaat-manfaat luas. Melalui pemuda berteknologi, akan mudah ditemukan jalan
menuju jawaban; pendayagunaan pemuda, sebagai agen penentu kemajuan dengan
pengaruhnya pada multiaspek (aspek-sosial, ekonomi, ketahanan, budaya dan
peradaban) berdimensi waktu kini dan masa depan.
Menyiapkan C-generation, dan
dukungan lingkungan
Keberadaan C-generation, tentunya harus pula mendapat daya
dukung dari masyarakatnya/ekosistemnya. Masyarakat, dalam hal ini generasi yang
lebih dewasa/senior, generasi tetua, pun harus melakukan gerakan meresponnya.
Respon yang berfungsi sebagai pendukung dan adaptif sebangai penyeimbang
ekosistem.
Yang dilakukan tidaklah dengan membuat generasi tetua, mencoba
menjadi seperti sang muda (dan atau sebaliknya). Tetaplah berada di maqomnya
masing-masing.
Yang dilakukan adalah bagaimana masing-masing berjalan saling
mengiringi dan beriringan. Suatu perjalanan dalam track berbeda namun terjaga dalam
suatu ritme yang sama. Ritme yang harmonis, saling beresonansi dan adaptif.
Demikianlah ekosistem/lingkungan yang saling mendukung dalam
geraknya yang dinamis, membentuk keselarasan dalam kemajuan (in harmonia
progressio).
Keberhasilan C-generation adalah kesuksesan
mencapai nilai-nilai yang BUKAN dengan ukuran-ukuran nalar/logika
Bilamana C-Generation adalah kampanye meluas akan
nilai-nilai kebaikan, ajakan bagi generasi muda menimbang nilai-nilai positif
dalam dan untuk kehidupan, serta mendorong ke arah kedewasaan dengan kebenaran
menurut penalaran dan logika, ….. maka……
Harapan tingkat keberhasilannya, sebagai penerimaan di
kalangan muda sekaligus masyarakat/linkungan pendukung yang meluas…. Adalah
UTOPIA.
Menggerakan anak muda, harus sesuai kondisi NATURALnya.
Menemui apa yang menjadi ‘prime mover’ berkeputusan dan bersikap mereka.
Bukankah rasa berbalut emosi yang terambur, selalu hadir (present) lebih di
depan? Sementara timbang terima nalar dan logika selalu mengekor?
Nalar dan logika untuk mengIDEALkan adalah subordinat Rasa
dan emosi yang meNATURALkan tindakan. Nalar dan logika adalah tataran teoretik,
sementara Rasa dan emosi adalah tindakan dan pengaruh nyata.
Oleh sebab itu….. Penyampaian dan induksi C-Generation
adalah HARUS melalui pendekaran Rasa dan emosi…. Rasa dan emosi yang hadir sebagai
‘anak muda’.
Keberhasilan C-Generation adalah
merebut kemenangan di kancah peperangan POPULERISME
Menghadirkan C-generation di tengah publik, adalah ibarat
menerjunkan pasukan di medan tempur.
Pertempuran yang dimaksud adalah tarik menarik kepentingan dalam
memanfaatkan potensi anak muda (kepemudaan). Mulai pertempuran ber nas
profit-oriented (menggiring pemuda dalam kepentingan pasar), sampai dengan
pertempuran terkejam! Adalah yang ber nas orientasi aneksasi peradaban
(menggiring pemuda dalam kepentingan peradaban tertentu). Kondisi yang terakhir
ini sangat berbahaya, karena bisa meraup segala-galanya (ekonomi, sos-bud dan
harkat kebangsaan). Menghancurkan peradaban adalah dengan menghancurkan para
pemudanya.
Seberapa kuatkah (waktu dan daya jangkau) eksistensi
C-Generation? Apakah telah ada pola-pola dan strategi yang kuat dan terukur
dalam melepasnya ke publik?
Secara singkat keberhasilan penerimaan publik ada dalam
bahasa industri pop. Populerisme adalah waham yang dianut dalam pasar
kepentingan. Siapa dimana-mana, akan kemana-mana dan melakukan apa-apa
kepentingannya.
Bagaimanakah jalan menuju POPULERISME? Sementara yang
diusungnya seringkali diluar nalar dan logika akan pemenuhan nilai-nilai yang
bermartabat. Menjadikan jalan
menuju nya sebagai suatu pemelacuran yang nihil nilai.
Satu-satunya kurs nilai yang berlaku disini adalah
populerisme itu sendiri.
C-Generation adalah JUGA soal, melarutkan diri dalam
memenangkan populerisme. Yang tentunya tidak akan mencoba menggarami lautan
dengan melempar nilai dalam selubung nalar dan logika….
--Reminder—bertempurlah dengan rasa dan jiwa (emosi)
Zaman dimana nalar-logika-teknologi
ada dibawah kesadaran rasa
Anak muda, adalah masa transisi membawakan pembaharuan,
membawakan kemenangan, atau sekedar mengekor kegagalan para pendahulunya.
Anak muda, sebagai yang terdepan dan terbuka dalam
menterjemahkan perubahan (teknologi), mengabdikan dirinya larut sebagai objek
kemajuan atau mengendalikan dirinya sebagai subjek yang mengendalikan perubahan
sebagai kemajuan.
Anak muda berada dalam batas terluar untuk menjangkau ketak
terbatasan, karena seringkali men-tanpa-batas-kan kekuatan rasa (spirit) dan
emosi (soul), dengan menggengam dengan mudah perubahan (teknologi) sebagai
sekedar toys (mainan)nya….
Maka,
Berikanlah bekal yang tepat bagai anak muda, dengan mereka
mengekploitasi kekuatan rasa dan emosi yang berbalut pada kekuatan nilai-nilai,
dalam mengendalikan perubahan (teknologi)/kemajuan.
Wawasan C-Generation di kaca mata
penulis
Penulis sebagai pemerhati dan penggiat sosial pencapaian
manusia dalam kesempurnaan masing-masing jatidiri, sebagai suatu kesempurnaan
penciptaan/ kehadiran diri di alam raya ini, sekaligus melalui materi “beyond
intuitive-creative-sensible mind”, menggagas “CreativeNationInstitute”, mencoba
mewacanakan C-Generation, sebagai:
Mempersiapkan format kepemudaan yang berwawasan kesadaran yang
meluas. Yang menghadirkan dirinya larut dalam rasa sosial, peduli dan empati
yang berbalut kesemangatan yang pantang menyerah, demi mengisi kehidupan yang memenangkan
kerelaan, kasih dan sayang.
Maka dari itu…..
Bersama Kehidupan Kita Harus
Menang
Bubi Iradiadi Sutomo