Bahasa Jerman A1

0 views
Skip to first unread message

Berna Cagley

unread,
Aug 3, 2024, 4:23:12 PM8/3/24
to algatinma

Bahasa Jerman (Deutsch atau deutsche Sprache) adalah anggota bahasa Jermanik Barat yang dipakai sebagai bahasa pengantar terutama di kawasan Eropa Tengah. Bahasa ini adalah salah satu bahasa yang banyak dituturkan di Eropa dan pernah menjadi bahasa pengantar antarbangsa yang penting hingga awal abad ke-20. Meskipun sekarang menurun kepentingannya, bahasa ini masih luas dipelajari karena banyak literatur klasik dunia yang ditulis menggunakan bahasa ini.

Dalam kontinum variasi bahasa di Eropa Tengah bagian utara, bahasa Jerman adalah semua bahasa yang telah mengalami pergeseran bunyi Jermanik kedua. Dengan demikian, ke dalam lingkup ini masuk berbagai bahasa yang dipakai di Jerman selatan, sehingga bahasa Jerman dikenal pula sebagai bahasa Jerman Hulu.

Bahasa Jerman bukanlah bahasa yang tunggal, melainkan bahasa dengan banyak variasi: mulai dari dialek tempatan (lokal, berdasarkan geografi penuturnya), dialek temporal (dikenal paling tidak tiga versi dialek temporal), hingga dialek sosial (berdasarkan kelompok sosial penuturnya). Bahasa Jerman Baku atau Standar, disebut Hochdeutsch ("Jerman Tinggi") atau Standarddeutsch, adalah bahasa yang diajarkan di sekolah dan kursus bahasa serta luas dipakai sebagai bahasa sastra, surat kabar, dan bahasa pengantar di berbagai kantor serta perguruan. Varian ini lahir sebagai usaha pembakuan atas bahasa Jerman Hulu (juga disebut Hochdeutsch, atau sekarang disebut pula Oberdeutsch) oleh Martin Luther pada abad ke-16. Meskipun standar, bahasa Jerman Baku memiliki variasi pelafalan karena pengaruh dialek tempatan.

Bahasa Jerman Baku (bahasa Jerman: Standarddeutsch, Hochdeutsch, atau Schriftdeutsch) adalah variasi bahasa Jerman yang dijadikan sebagai bahasa baku yang digunakan dalam konteks formal maupun bahasa pemersatu komunikasi antardialek. Bahasa Jerman Baku tidak berkembang secara alami dari dialek tradisional tertentu, melainkan hasil perkembangan dari bahasa kepenulisan.[19]

Struktur ketatabahasaan dan ejaan baku Bahasa Jerman Baku diatur dan dipublikasikan oleh Rat fr deutsche Rechtschreibung yang mewakili tata kelola keseluruhan penutur mayoritas dan penutur minoritas di seantero Jerman dan dependensi penutur Bahasa Jerman.[20] Standar baku tersebut dapat tidak dipatuhi secara umum kecuali pada konteks-konteks tertentu seperti situasi formal, institusi pemerintah, dan bahasa pengantar pendidikan. Di samping itu, tidak ada badan atau pembakuan tertentu yang menentukan pengucapan dan pelafalan baku. Akan tetapi, Bhnendeutsch secara de facto disetujui sebagai pelafalan baku yang sering digunakan dalam situasi formal dan materi pembelajaran.

Di Eropa Timur, bahasa ini merupakan bahasa asing kedua yang sangat luas dikenal. Beberapa daerah di Eropa Timur, zaman dahulu kala banyak dihuni oleh orang Jerman perantauan. Setelah Perang Dunia II sekitar 12-15 juta jiwa orang Jerman diusir dari Eropa Timur.

Di Amerika Serikat, bahasa Jerman dialek Pfalz dipakai oleh orang-orang Amish. Di Patagonia (selatan Argentina) terdapat pula komunitas berbahasa Jerman. Namibia, sebagai satu-satunya bekas koloni Jerman di Afrika, juga menjadi tempat sisa-sisa komunitas berbahasa Jerman di Afrika.

Pada masa lalu, bahasa Jerman menggunakan versi khas huruf Latin yang dikenal sebagai tipe huruf fraktur tebal (bold) atau tipe huruf Schwabacher dan disertai dengan bentuk sambung yang bersesuaian (seperti Kurrent dan Stterlin). Bentuk-bentuk ini jauh berbeda dengan bentuk Latin yang dikenal luas pada masa kini (seperti serif atau sans-serif) dan amat menyulitkan bagi orang yang tidak terlatih. Kaum Nazi bahkan menyarankan penggunaan tipe huruf fraktur dan schwabacher, tetapi kemudian melarangnya pada tahun 1941 karena dianggap berbau Yahudi.

Ada banyak istilah bahasa Jerman yang juga dipakai dalam bahasa-bahasa lain. Dalam bahasa Inggris istilah "Kindergarten" (taman kanak-kanak) berasal dari "Kindergarten". Orang Prancis menggunakan "leitmotiv" yang juga diambil dari bahasa Jerman.

Permasalahan literasi sering diabaikan oleh banyak orang karena orang lebih cenderung memilih jalan pintas dan seakan tidak lagi memperhatikan kebutuhan akan baca dan tulis. Literasi bukan sekedar kemampuan seseorang untuk mampu memahami baca dan tulis semata, melainkan kemampuan seseorang untuk mampu beradaptasi dengan lingkungannya dan mampu mengendalikan diri dan tidak hanya sekedar menuruti kemauannya tanpa memperhitungan akibat yang dapat ditimbulkannya. Fenomena munculnya hoax di media sosial yang justru malah diviralkan secara masif oleh sekelompok komunitas tertentu menandakan rendahnya pemahaman masyarakat pada budaya literasi. Pada umumnya, mereka tidak mengganggap pentingnya mengedepankan budaya literasi. Malah justru sebaliknya, mereka kurang memahami budaya literasi itu sendiri.

Literasi, pada mulanya, dimaknai keberaksaraan dan selanjutnya dimaknai melek atau keterpahaman. Pada langkah awal, melek baca dan tulis ditekankan karena kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam berbagai hal atau disebut multiliterasi. Menurut Deklarasi Praha pada tahun 2003 literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (Widarti, 2017). Berdasarkan pada KBBI online, literasi memiliki tiga makna, pertama secara sederhana adalah kemampuan membaca dan menulis. Kedua, literasi bermakna pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu. Ketiga, kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Dari makna literasi tersebut nampak bahwa literasi tidak hanya terkait dengan membaca saja. Hal ini diperkuat dengan penjelasan Unesco mengenai literasi. Unesco menjelaskan bahwa literasi adalah seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks di mana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya. Pemahaman seseorang mengenai literasi akan dipengaruhi oleh kompetensi bidang akademik, konteks nasional, institusi, nila-nilai budaya serta pengalaman.

Bahasa Jerman sering kali sulit dipahami oleh orang yang mempelajarinya. Hal ini disebabkan oleh adanya berbagai aturan yang sangat rinci dan yang tidak dimiliki oleh orang yang bukan penutur bahasanya. Bahasa Jerman adalah bahasa fleksi. Pembelajar bahasa Jerman berasal dari berbagai jenis bahasa seperti berasal dari Indonesia, di mana bahasa Indonesia termasuk bahasa aglutinasi. Bahasa fleksi mengedepankan aturan yang jelas seperti tempus, kasus, genus, dan numerus. Tempus adalah sistem bahasa yang mengatur perubahan tensis akibat perbedaan kala sehingga pemerkahannya bersifat morfologis, paradigmatis, dan derivasional. Kasus yaitu hubungan antara nomina dan unsur lain dalam kalimat yang saling berkaitan. Hubungan ini menyebabkan adanya perubahan bentuk nomina yang mengalami perubahan. Perubahan ini disebut deklinasi. Genus diambil dari bahasa Latin yang berarti gender (grammatical gender) karena semua nomina bahasa Jerman memiliki gender yaitu: maskulin, feminin, dan neutral. Numerus yaitu penanda jumlah karena untuk menandai bentuk singular dan plural.

Kekuranganpahaman pembelajar untuk memahami bahasa Jerman yang dipelajarinya dapat disebabkan oleh adanya ketidaklengkapan pemahaman akan bahasa fleksi seperti bahasa Jerman karena dalam pikirannya sudah tertanam penguasaan akan bahasa aglutinasi seperti bahasa Indonesia. Pola pikir demikian, sangat menghambat akan penguasaan bahasa yang dipelajarinya. Penguasaan bahasa fleksi membutuhkan penguasaan pada struktur atau pola kalimat, dan tatanan gramatikal yang sangat teratur. Hal ini sering kali tidak disadari oleh si pembelajar yang barasal dari bahasa aglutinasi sehingga mereka kesulitan dalam menguasi dan memahmi bahasa asing yang ia pelajarinya tersebut. Akan tetapi, dengan pemahaman akan literasi budaya dan bahasa asing dapat meminimalisir kesalahan. Bahasa Jerman pada konteks tertentu juga tidak tersedia leksikon yang dapat dipadankan dengan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Jawa. Kesepadanan makna hanya dapat diuraikan dengan berbagai penjelasan dan dideskripsikan berdasarkan kumpulan kata-kata seperti mendefinisikan sebuah istilah. Barulah akan dimengerti makna kata yang dimaksudkan. Hal ini dapat diberikan contoh untuk mendeskripsikan istilah yang digunakan pada sapaan kekerabatan dalam bahasa Jerman yang hanya ditemukan enam keturunan atau generasi seperti: der Vater/die Mutter 'bapak/ibu', das Kind 'anak', der Engkel/die Engkelin 'cucu', der Urengkel/die Urengkelin 'cicit', der Urenkel seines Sohnes 'piut', dan der Ur-Groenkel/-in 'anggas'. Berbeda dengan bahasa Jawa yang justru kaya akan leksikon yang terkait dengan kekerabatan tersebut seperti: bapak/ibu, anak, putu, buyut, canggah, wareng, udeg-udeg, gantung siwur, gropak senthe, debog bosok, galih asem, gropak waton, cendheng, giyeng, cumpleng, ampleng, menyaman, menyo-menyo, dan tumerah yang secara berturut-turut bermakna keturunan pertama hingga ke-19 keturunan.

Dalam berbagai buku pembelajaran bahasa Jerman untuk tema Essen und Trinken 'makan dan minum' juga memunculkan berbagai perbedaan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kosa kata yang digunakan untuk mengungkap tema makan dan minum. Penggunaan alat makan berbeda. Kebiasaan orang Jerman untuk melakukan aktivitas makan memerlukan piring besar, piring kecil, sendok besar, sendok kecil, garpu besar dan garpu kecil, mangkuk, pisau makan dsb. Adapun bagi orang Indonesia ada yang tidak menggunakan peralatan makan secara lengkap seperti orang Jerman. Tradisi makan dan minum bagi kebanyakan orang Jerman berbeda dengan orang Indonesia. Orang Indonesia pada umumnya dapat melakukan aktivitas makan dengan baik walaupun tanpa menggunakan peralatan makan sebanyak dan sebanyak yang digunakan orang Jerman. Ini menandakan bahwa budaya, tradisi, dan kebiasaan makan dan minum secara turun temurun di alami oleh orang Indonesia tanpa mengunakan peralatan makan secara lengkap. Orang Jerman pada saat duduk di meja makan harus tersedia peralatan makan dan minum dengan lengkap. Jika tidak, maka tidak lengkap pula hidangan yang dapat dinikmatinya. Seperti halnya, untuk mengungkapan makna negasi dalam bahasa Jerman terdapat 26 macam (Triyono dkk., 2020), sedangkan dalam bahasa Indonesia hanya 12 macam yaitu tidak, bukan, tak, selain itu, kecuali itu, menyangkal, jangan, tidak ada, tidak pernah, kalau tidak, jika tidak, dan mengingkari.

c80f0f1006
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages