Pola Pikir Linier dan Eksponensial

1,425 views
Skip to first unread message

sigit setyawadi

unread,
Nov 19, 2012, 9:21:16 PM11/19/12
to alumni fk 73
Pola pikir linier dan eksponensial :
Ada dua macam cara berpikir yang masing masing akan membawa masa depan yang berbeda pula. Sebagian besar orang berpikir secara LINIER. Polanya berdasarkan penambahan. Umumnya ini dimiliki oleh orang miskin, pegawai, profesional dan pengusaha kecil. Pemikirannya  "menambah penghasilan", "uangnya akan bertambah". Mereka tidak peduli dengan uang yang sudah dimiliki, karena pola pikirnya selalu berdasarkan uang yang akan dia terima dari luar (hasil pekerjaan dll). Misalnya setiap bulan dapat 10 juta. Kalau sekarang tidak punya uang, berarti nanti uangnya menjadi 10 juta. kalau sekarang punya 20 jt, berarti jadi 30 jt. kalau sekarang punya 1 milyar, berarti jadi 1 milyar 10 juta. Artinya, uang yang dimiliki sekarang tidak mempengaruhi jumlah uang yang akan diterima. Akibatnya, rata-rata hidup mereka boros. Mereka enggan menyimpan uang banyak karena "toh tidak banyak gunanya, toh nanti akan dapat lagi". Umumnya mereka hanya menyimpan cadangan utk 6 bulan kedepan saja. Menurut definisi Robert T Kiyosaki tentang kekayaan, kekayaannya hanya  6 bulan. Semua penghasilannya cenderung dihabiskan, mereka hidup semewah mereka bisa. Bahkan banyak yang sudah belanja sebelum mereka mendapatkan uangnya (kredit). Kondisi masa tua mereka sudah bisa diramalkan, yaitu terus bekerja atau . . . . . .

Pemikiran yang dimiliki oleh sedikit orang adalah pola EKSPONENSIAL. Pola pikir berdasarkan perkalian atau kelipatan. Misalnya bisa dapat keuntungan investasi / gain 100% dalam kurun waktu tertentu. Jika investasi 1 juta, uangnya akan menjadi 2 juta. Jika invest 1 milyar, akan menjadi 2 milyar. Uang yang akan diperoleh, sangat tergantung pada jumlah uang yang dimilikinya sekarang. Akibatnya, rata rata mereka hidup hemat. Mereka yang memiliki pola pikir semacam ini, kemungkinan besar akan menjadi kaya. Mereka baru hidup mewah setelah amat sangat kaya, sehingga biaya kemewahan itu menjadi tidak berarti. 
Seorang raja baja India, membangun rumah bertingkat 27 di Mumbai (ex Bombay), senilai 2 milyar dollar. Apakah itu suatu pemborosan ?. Rasanya tidak, karena penghasilan tahunan dia saat membangun rumah itu 4 milyar dollar. Artinya rumah itu senilai 1/2 tahun penghasilan pasif nya. Rumah itu dibangun dalam waktu 5 tahun, jadi setiap tahun dia hanya mengeluarkan 10% dari penghasilan pasifnya. 
Berapa nilai rumah kita dibanding penghasilan kita ? Kata para ahli, kalau harta terbesar kita adalah rumah yang kita tempati, maka itu menunjukkan bahwa finansial kita terancam.

Apakah cukup berharga kalau kita belajar mengubah cara berpikir kita ? Entahlah. Tapi bagi saya sangat berharga.
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages