| Sekali kita masuk ke diversifikasi pangan non beras, maka kita berhadapan dengan hidangan sagu ambon + sweet corn/kacang merah + labu halowen + pisang tanduk dsb. Ada kebutuhan menambah protein, salah satunya paling eksklusif adalah kepiting gembos / kepiting lemburi atau bisa juga jangkang (menu etnis Madura). Tempat yang pasti setiap hari ada yang jualan kepiting gembos (IDR 60k/kg) dan jangkang (IDR 35k/kg) hanya di Pasar Pucang, Surabaya. Kalau dapat barang di sini pasti lah namanya kepiting jauh lebih besar dari jangkang. Kalau di Jakarta ya tentu pastinya ada di menu list Resto Handayani di Matraman atau di Megamendung (jalur Puncak). Kalau dapat barang siap cangking pulang, ketika dibuka, kepitingnya sebesar jangkang di Pasar Pucang. Ketika niat cari, siapa yang berangkat ke handayani mestilah orang yang pernah makan itu menu di situ... baru ada semangat. Kalau sampai di kantor ...... itu kotak diserbu orang se kantor seketika ludes. Ini ada setumpuk korang bekas dibuang orang rumah... saya tengok ada resep simpel mengolah goreng telornya. Asyiiiiiik! Kalau di Pasar Pucang ada orang jualan spesial itu tiap hari... dapat dipastikan dia punya akses ke pembesaran kepiting di air payau Kenjeran mungkin ya. Kalau prediksinya begitu... bisa saja kepiting Papua yang kita dapat... hebat tuh tampilannya..... ditransitkan dulu kotak pembesaran agar mau makan biar dagingnya menyimpan nutrisi kembali montok-montok..... ditunggu ganti kulit baru digoreng telor.... waduh! Kalau enggak gitu dapat dipastikan kita akan kecewa karena dagingnya sudah kempes diserap sendiri manakalai dalam perjalanan dari tandonnya di Papua ke tangan kita mampir dulu ke pedagang perantara di kota domisili kita. Berikut attachment resep goreng telornya. Pola hidup baru ini perlu dicoba... ada gunanya sih... untuk assessment apakah ketika kita menjalani menu diversifikasi non beras ini perut kita bisa toleran tidak ngelih... indikatornya tidak kangen nasi putih. Kalau perut kita bisa tidak ngelih... hebat tenan itu orang Pucang... he..he..he..... Apabila lagi nyidam kepiting gembos dan jangkang... bisa saja ambil pesawat GIA dari CKG pakai Damri berangkat ke SUB ... palai taksi Prima ke Pasar Pucang.. minta tunggu sebentar untuk balik ke Juanda... departure ke CKG lagi. Kalau duren Medan saja bisa kita pesan per SMS dengan trensfer sudah masuk... dalam 6 jam itu paket sudah tiba di Jakarta, asal jaraknya fisibel untuk nyampai 6 jam itu, ditanggung mereka mau melayani. Tentunya untuk kepiting gembos dan jangkang ini bisa dengan pola itu... cari chanellingnya dengan transfer dan SMS pesan... ditunggu ya oke lah. |
| Kalau historis namanya kempet asal dari kode Togel..... kayaknya folklore-nya ransum level ekonomi bawah. Sulit ngangkatnya jadi komoditi komersial... namanya tidak memicu nafsu makan. Beda kan kalau namanya Kepiting Lemburi... Kepiting Soka... (Kepiting Gembos) ... ada genitnya gitu lho.... Jangkang masih genit lah..... Kalau kempet masuk menu list di Hotel Sekar Kedaton abot merekomendasikannya siapa penikmatnya yang mampu nginep atau punya selera nginep ndik situ. Kayak jaman kita kuliah.... di Jembatan Merah dan semua terminal bus ada kelompok preman body guard-nya transportasi ambil nama "37" pakai angka..... asal dari kode Togel gambar pengemis... diibaratkan jalan hidup hariannya itu ngemis tangane nyadong rejeki kanggo ngrokok dino iku. Soal mangan nodong disik... he..he...he... Iki isih eling Togel opo pencandu meramal dan masang kupone sech????? |
--- On Wed, 3/6/13, sigit_...@yahoo.co.id <sigit_...@yahoo.co.id> wrote: |
Kempet (asal nama dari K4 yaitu kode kepiting di ramalan togel). |