Mutiara Hikmah No :097/Tahun II/Jum’at, 22 Syawal 1431H/01 Oktober 2010M
Jangan Mengharap ’terima kasih’ dari seseorang
Allah menciptakan para setiap hamba agar selalu mengingat-Nya, dan Dia menganugerahkan rezeki kepada setiap makhluk ciptaan-Nya agar mereka bersyukur kepada-Nya. Namun, mereka justru banyak yang menyembah dan bersyukur kepada selain Dia.
Tabiat untuk mengingkari, membangkang, dan meremehkan suatu kenikmatan adalah penyakit yang umum menimpa jiwa manusia. Karena itu, Anda tak perlu heran dan resah bila mendapatkan mereka mengingkari kebaikan yang pernah Anda berikan, mencampakkan budi baik yang telah anda tunjukkan. Lupakan saja bakti yang telah anda persembahkan. Bahkan tak usah resah bila mereka sampai memusuhi Anda dengan sangat keji dan membenci Anda sampai mendarah daging padahal Anda telah berbuat baik kepada mereka. ”Dan mereka tidak mencela (Allah & Rasul-Nya) kecuali karena Allah & Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka (Qs.At-Taubah,9:74).”
Anda tak perlu terkejut manakala menghadiahkan sebatang pena kepada orang bebal, lalu ia memakai pena itu untuk menulis cemoohan kepada Anda. Dan Anda tak usah kaget bila orang yang anda beri tongkat untuk menggiring domba gembalaannya justru memukulkan tongkat itu ke kepala anda. Itu semua adalah watak dasar manusia yang selalu mengingkari dan tak pernah bersyukur kepada Penciptanya sendiri Yang Maha Agung dan Mulia. Begitulah, kepada Tuhannya saja mereka berani membangkang dan mengingkari, maka apalagi kepada Anda !!!
Karena itu siapa saja yang kebaikannya diabaikan dan dilecehkan oleh orang-orang yang menyalahi fitrahnya, sudah seyogyanya menghadapi semua itu dengan kepala dingin. Dan, ketenangan seperti itu akan mendatangkan balasan pahala dari Dzat yang perbendaharaannya tidak pernah habis dan sirna. Berbuat baiklah dan terus berbuat baik, tak usah goyah dan terpengaruh sedikitpun oleh kekejian dan pengingkaran mereka atas semua kebaikan yang Anda perbuat. Dan janganlah Anda pernah bersedih dengan apa saja yang mereka perbuat.
Berbuatlah kebaikan hanya demi Allah semata, maka Anda akan menguasai keadaan, tak akan pernah terusik oleh kebencian mereka, dan tidak akan pernah merasa terancam oleh perlakuan keji mereka. Anda harus bersyukur kepada Allah karena dapat berbuat baik ketika orang-orang di sekitar Anda berbuat jahat. ”Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak pernah mengharapkan balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih (Qs.Al-Insan,76:9).”
Muhammad Syafei
* DIkutip bebas dari ‘Laa Tahzan, DR. Aidh bin Abdullah al Qarni
Mutiara Hikmah No :098/Tahun II/Kamis, 28 Syawal 1431H/07 Oktober 2010M
Berbuat baik itu menentramkan & Membahagiakan
Ketika diri Anda diliputi kesedihan dan kegundahan, berbuat baiklah terhadap sesama manusia, niscaya Anda akan mendapatkan ketentraman dan kedamaian hati. Sedekahilah orang yang papa, tolonglah orang-orang yang terdzalimi, ringankan beban orang yang menderita, berilah makan orang yang kelaparan, jenguklah orang yang sakit dan bantulah orang yang terkena musibah, niscaya Anda akan merasakan kebahagiaan dalam semua sisi kehidupan Anda !
Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan manfaat psikologis dari kebajikan itu terasa seperti obat-obat manjur yang tersedia di Apotek orang-orang yang berhati baik dan bersih.
Wahai orang-orang yang merasa terancam oleh himpitan kesengsaraan, kecemasan dan kegundahan hidup, kunjungilah taman-taman kebajikan, sibukkan diri dengan memberi, mengunjungi, membantu, menolong dan meringankan beban sesama. Dengan semua itu, niscaya akan kalian akan mendapatkan kebahagiaan dalam semua sisinya; rasa, warna dan juga hakikatnya. ” Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan, Qs.Al-Lail:19-21.”###
Mutiara Hikmah No :099/Tahun II/Jum’at, 29 Syawal 1431H/08 Oktober 2010M
Isi waktu luang dengan berbuat
Saat paling berbahaya bagi akal adalah manakala pemiliknya menganggur dan tak berbuat apa-apa. Orang seperti ini, ibarat mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi tanpa sopir, akan mudah oleng ke kanan dan ke kiri.
Bila pada suatu hari Anda mendapatkan diri Anda menganggur tanpa kegiatan, bersiaplah untuk bersedih, gundah dan cemas ! sebab, dalam keadaan kosong itulah pikiran Anda akan menerawang ke mana-mana; mulai dari mengingat kegelapan masa lalu, menyesali kesialan masa kini, hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu Anda alami. Dan itu membuat akal pikiran Anda tak terkendali dan mudah lepas kontrol. Maka dari itu, berbuat baik dan bermanfaat itu jauh lebih baik dari ada terlarut dalam kekosongan yang membinasakan.
Berhenti dari kesibukan itu kelengahan dan waktu kosong adalah pencuri yang culas. Adapun akal Anda, tak lain merupakan mangsa empuk yang siap dicabik-cabik oleh ganasnya terkeman kedua hal tadi; kelengahan dan si ’pencuri’ waktu kosong yang sia-sia.
Karena itu bangkitlah sekarang juga. Berbuat dan berbuatlah. Jangan pernah berhenti sejenak pun untuk berbuat kebajikan yang bermanfaat. Bunuhlah setiap waktu kosong dengan ’pisau kesibukan’ ! Dengan cara itu, dokter-dokter dunia akan berani menjamin bahwa Anda telah mencapai 50% dari kebahagiaan. Lihatlah para petani, nelayan dan para kuli bangunan ! Mereka dengan ceria mendendangkan lagu-lagu seperti burung-burung di alam bebas. Mereka tidak seperti orang-orang yang tidur di ranjang empuk tetapi selalu gelisah dan menyeka air mata kesedihan ! ###
Mutiara Hikmah No : 100/Tahun II/Sabtu, 30 Syawal 1431H/09 Oktober 2010M
JANGAN LATAH !
Jangan mudah mengenakan dan meniru-niru ciri kepribadian umat lain. Orang-orang yang lupa dengan dirinya sendiri, suaranya, gerakan tubuhnya, ucapannya, kemampuannya dan kondisinya sendiri, kebanyakan akan meniru-niru budaya bangsa lain. Dan itulah yang disebut dengan latah, mengada-ada, berpura-pura dan membunuh paksa bentuk dan wujud dirinya sendiri.
Sejak zaman Nabi Adam AS hingga makhluk terakhir ciptaan Allah, tak pernah ada dua orang yang sama persis rupanya. Anda merupakan sesuatu yang lain dari pada yang lain. Tak ada seorang pun yang menyerupai anda dalam catatan sejarah kehidupan ini. Belum pernah ada seorang pun yang diciptakan sama dengan anda, dan tidak akan pernah pula ada orang yang akan serupa dengan anda di kemudian hari. Karenanya, jangan memaksakan diri untuk berbuat latah dan meniru-niru kepribadian orang lain! Tetaplah berpijak dan berjalan pada kondisi dan karakter anda sendiri.
Hiduplah sebagaimana anda diciptakan, jangan mengubah suara, mengganti intonasinya dan jangan pula merubah cara berjalan anda! Tuntunlah diri anda dengan wahyu Ilahi, tetapi juga jangan melupakan kondisi anda dan membunuh kemerdekaan anda sendiri.
Umat manusia-dengan pelbagai macam tabiat dan wataknya- seperti alam tumbuhan; ada yang manis dan asam, ada yang pendek dan ada yang panjang.Dan seperti itulah umat manusia, Jika anda seperti pisang anda tidak perlu mengubah diri menjadi jambu, sebab harga dan keindahan anda akan tampak jika anda menjadi pisang.
Begitulah, sesungguhnya perbadaan warna kulit, bahasa dan kemampuan kita masing-masing merupakan tanda-tanda kebesaran Sang Maha Pencipta. Karena itu, jangan sekali-kali mengingkari tanda-tanda kebesaran-Nya. ###
Mutiara Hikmah No : 101/Tahun II/Senin, 02 Dzulqaidah 1431H/11 Oktober 2010M
Qadha dan Qadar
Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan dia telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya, Qs.Al-Hadid;57:22). Tinta pena telah mengering, lembaran-lembaran catatan ketentuan telah disimpan, setiap perkara telah diputuskan dan takdir telah ditetapkan. Maka, Katakanlah: ”Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” (Qs.At-Taubah;9:51).
Apa yang membuat anda benar, maka tak akan membuat anda salah. Sebaliknya, apa yang membuat anda salah maka tidak akan membuat anda benar. Jika keyakinan tersebut tertanam kuat pada jiwa anda dan kukuh bersemayam dalam hati anda, maka setiap bencana akan menjadi karunia, setiap ujian menjadi anugerah dan setiap peristiwa menjadi penghargaan dan pahala. ”Barang siapa yang oleh Allah dikehendaki menjadi baik maka ia akan diuji oleh-Nya.” (Al-Hadits)
Karena itu, jangan pernah gundah dan bersedih dikarenakan suatu penyakit, kematian yang semakin dekat, kerugian harta atau rumah terbakar. Betapapun, sesungguhnya Sang Maha Pencipta telah menentukan segala sesuatunya dan takdir telah bicara. Usaha dan upaya dapat sedemikian rupa, tetapi hak untuk menentukan tetap mutlak milik Allah. Maka berbahagialah orang-orang yang tertimpa musibah atas kesabaran dan kerelaan mereka terhadap Yang Maha Mengambil, Maha Pemberi, Maha Mengekang lagi Maha Lapang. Syaraf-syaraf anda tetap tegang, kegundahan jiwa anda tak akan reda dan kecemasan di dada anda tak akan pernah sirna sebelum anda benar-benar beriman terhadap qadha dan qadar.
Tinta pena telah mengering bersamaan dengan semua hal yang akan anda temui. Maka, jangan biarkan diri anda larut dalam kesedihan. Jangan mengira diri anda sanggup melakukan segala upaya untuk menahan tembok yang akan runtuh, membendung air yang akan meluap, menahan angin agar tak bertiup atau memelihara kaca agar tak pecah. Adalah tak benar bila semua itu dapat terjadi dengan paksaanku dan paksaanmu, karena apa yang telah digariskan akan terjadi. Setiap ketentuan akan berjalan dan semua keputusan akan terlaksana. Demikianlah, ”Orang bebas memilih: boleh percaya dan tidak”
Anda harus menyerahkan semua hal kepada takdir agar tidak ditindas oleh bala tentara kebencian, penyesalan dan kebinasaan. Dan, percayalah dengan kebenaran qadha’ sebelum anda dilanda banjir penyesalan! Dengan begitu jiwa anda akan tetap tenang menjalani segala daya upaya dan cara yang memang harus ditempuh. Dan bila kemudian terjadi hal-hal yang tidak anda inginkan, maka itupun merupakan bagian dari ketentuan yang memang harus terjadi. Jangan pula pernah berandai ”Seandainya saja aku melakukan seperti ini, niscaya akan begini dan begini jadinya. ”Tapi katakanlah, Allah telah mentakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki akan Dia lakukan” (Al-hadits).
Mutiara Hikmah No : 102/Tahun II/Senin, 05 Dzulqaidah 1431H/14 Oktober 2010M
Jadikan Buah Lemon itu Minuman yang Manis !
Orang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda.
Ketika Rasulullah saw diusir dari Mekkah, beliau memutuskan untuk menetap di Madinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah negara yang sangat akrab di telinga dan mata sejarah.
Ahmad ibn Hanbal pernah di penjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu Taimiyyah pernah di penjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya. As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid. Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami’ul Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadits.
Begitulah, ketika tertimpa suatu musibah, anda harus mellihat sisi yang paling terang darinya. Ketika seseorang memberi anda segelas air lemon, anda perlu menambah sesendok gula ke dalamnya. Ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian tubuhnya yang lain. Ketika disengat kala jengking, ketahuilah bahwa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan tubuh anda dari bahaya bisa ular.
Kendalikan diri anda dalam berbagai kesulitan yang anda hadapi! Dengan begitu anda akan dapat mempersembahkan bunga mawar dan melati yang harum, dan
” Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu” (Qs.2:216).
Begitulah, sebaiknya anda selalu melihat sisi lain dari kesedihan itu. Sebab, belum tentu semuanya menyedihkan pasti ada kebaikan, secercah harapan, jalan keluar serta pahala. ###
Mutiara Hikmah No : 103/Tahun II/Senin, 09 Dzulqaidah 1431H/18 Oktober 2010M
Ganti itu dari Allah
Allah tidak pernah mencabut sesuatu dari anda, kecuali Dia menggantinya dengan yang lebih baik. Tetapi, itu terjadi apabila anda bersabar dan tetap ridha dengan segala ketetapan-Nya. ”Barang siapa Ku ambil dua kekasihnya (matanya-orang yang buta) tetap bersabar, maka Aku akan mengganti kedua (mata) nya itu dengan surga.” (Al-Hadits). ”Barang siapa Ku ambil orang yang dicintainya di dunia tetap mengharapkan ridha (Ku), niscaya Aku akan menggantinya dengan surga.” (Al-Hadits). Yakni, barang siapa kehilangan anaknya tetap berusaha bersabar, maka di alam keabadian kelak akan dibangunkan untuknya sebuah Baitul Hamd (Istana Pujaan).
Umur dunia ini sangat pendek dan gudang kenikmatannya pun sangat miskin. Adapun akhirat, lebih baik dan kekal. Sehingga, barang siapa di dunia mendapat musibah ia akan mendapat kesenangan di akhirat kelak, dan barang siapa hidup sengsara di dunia ia akan hidup bahagia di akhirat. Lain halnya dengan mereka yang memang lebih mencintai dunia, hanya mendambakan kenikmatan dunia saja; Hati mereka akan selalu gundah gulana, cemas tidak mendapatkan dunia dan takut tidak nyaman di dunia. Mereka selalu memandang musibah sebagai petaka besar yang mematikan. Mereka juga memandang setiap cobaan sebagai sesuatu yang gelap gulita selamanya. Ini adalah karena mereka selalu memandang ke arah bawah telapak kakinya dan hanya mengagungkan dunia yang fana dan tak berharga ini.
Anda tak usah terlalu bersedih dengan musibah yang menimpa anda, sebab yang menentukan semua itu adalah Dzat yang memiliki surga, balasan, pengganti dan ganjaran yang besar.
Para waliyullah yang ditimpa musibah, ujian dan cobaan akan mendapatkan penghormatan yang agung di surga Firdaus. Itu tersirat dalam firman-Nya :
”Selamat atasmu karena kesabaranmu, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Qs.Ar-Ra’d;13:24).
Betapun, kita harus selalu melihat dan yakin bahwa di balik musibah terdapat ganti dan balasan dari Allah yang akan selalu berujung pada kebaikan kita. Dengan begitu, kita akan termasuk :
” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs.Al-Baqarah,2:157).
Dan sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik, lebih abadi, lebih utama dan lebih mulia. ###
Mutiara Hikmah No : 103/Tahun II/Jum’at, 13 Zulhijjah 1431H/19 Nopember 2010M
Iman adalah Kehidupan !!!
Sesungguhnya orang-orang sengsara adalah mereka yang miskin iman dan yang mengalami krisis keyakinan. Mereka ini, selamanya akan berada dalam kesengsaraan, kepedihan, kemurkaan dan kehinaan. ”Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” Qs.Thaha,20:124.
Tidak ada sesuatu yang dapat membahagiakan jiwa, membersihkannya, mensucikannya, membuatnya bahagia dan mengusir kegundahan darinya, selain keimanan yang benar kepada Alllah swt. Singkatnya, hidup akan hambar tanpa iman karena memang iman adalah kehidupan itu sendiri. Betapa malangnya hidup bagi orang yang miskin iman! Betapa pedihnya siksa dan azab yang akan dirasakan oleh orang-orang yang menyimpang dari tuntunan Allah swt di akhirat kelak! ”Dan, (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sesat.” Qs.Al-An’am,6:110.
Seberapa besar-kuat atau lemah, hangat atau dingin- iman anda, maka sebatas itu pula kebahagiaan, ketentraman, kedamaian dan ketenangan anda. ”Barang siapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesunguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami balas mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” Qs. An-Nahl:16:97.
Maksud kehidupan yang baik (Hayatan Thayyibah) adalah ketenangan jiwa mereka dikarenakan janji baik Rabb mereka, keteguhan hati mereka dalam mencintai Dzat yang menciptakan mereka, kesucian nurani mereka dari unsur-unsur penyimpangan iman, ketenangan hati mereka dalam menghadapi kenyataan hidup, kerelaan hati mereka dalam menerima dan menjalani ketentuan Allah swt dan keikhlasan mereka dalam menerima takdir. Dan itu semua adalah karena mereka benar-benar yakin dan tulus menerima bahwa Allah adalah Rabb mereka, Islam agama mereka dan Muhammad adalah Nabi dan Rasul yang diutus Allah swt untuk mereka.
==========================================================================================================================================================