Bahasa Kasih: Silakan diambil pelajaran

5 views
Skip to first unread message

hudi...@yahoo.com

unread,
Jun 5, 2012, 4:03:09 AM6/5/12
to aksicon...@googlegroups.com
Yang ini, kisah nyata.
Kami sekeluarga sembilan orang. Dua putra, tujuh putri. Saya anak ke tujuh. Di bawah saya ada dua adik perempuan. Saat Ibu kami meninggal, saya umur 10 tahun, dua adik saya, Dik An dan Dik Haning, masing-masing berumur 8 dan 5 tahun. Masa-masa tanpa Ibu kami lalui di bawah pengasuhan kakak sulung kami yang saat itu berusia 20 thn. Dua tahun setelah Ibu meninggal, Bapak menikah lagi. Kami tinggal bersama Ibu tiri.
Bapak kami giat mencari nafkah. Hampir setiap akhir pekan beliau mengajar ke luar kota. Sebagai dosen di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) beliau harus bekerja keras menghidupi kami bersembilan. Alhamdulillah, kebutuhan kami terpenuhi. Demikianlah bahasa kasih mendiang Bapak kami (semoga dirahmati Allah), bekerja keras untuk kami semua. Bahasa kasih seorang laki-laki perkasa.
Perayaan ulang tahun, atau sekedar ucapan selamat ulang tahun, bukan hal yang biasa di keluarga kami saat itu. Ya, memang itu bukan budaya Indonesia. Sekarangpun saya tahu, beberapa ritual pesta ulang tahun berawal dari kesyirikan (silakan tanya Mas Google tentang sejarah pesta ulang tahun). Akan tetapi, budaya itu masuk di keluarga melalui film-film yang ditonton kakak-kakak kami yang mulai remaja. Setiap ulang tahun, kakak-kakak yang sdh di SMA melakukan perayaan atas inisiatifnya sendiri di rumah. Pesta, makan rujak, atau sekedar kumpul-kumpul bersama teman-temannya.
Kami bertiga, yang masih kanak-kanak, tak pernah berpikir soal ulang tahun. Saya juga cuek saja. Namun demikian, adik saya, Dik An, rupanya menyimpan perasaan. Satu saat dia bertanya kepada Bapak, mengapa hari ulang tahunnya tidak pernah dirayakan seperti kakak-kakak kami. Bapak berkata, "Ya, tahun depan ulang tahunmu kita rayakan." Demikian janji beliau.
Sayang sekali, perayaan itu ternyata tidak pernah terjadi. Secara mendadak, Dik An meninggal dunia sebelum sampai hari ulang tahun berikutnya. Bapak terpukul. Untuk kedua kalinya, saya melihat lelaki perkasa itu menitikkan air mata. Sejak saat itu, hingga beliau meninggal, Bapak tidak pernah lupa mengucapkan selamat ulang tahun bagi kami semua, anak-anaknya. Hanya Dik An yang tidak pernah mendapatkannya.
Saya tidak tahu pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah ini. Yang jelas, kami semua yakin 2000 persen, Bapak kami menyayangi kami spenuhnya. Masalah ulang tahun itu, hanyalah perbedaan bahasa kasih di antara beliau dan Dik An. Perbedaan bahasa kasih yang membuat beliau menitikkan air mata.
It's OK Dad, we understood that. We know that you loved us. Rest in peace. Semoga, tempat yang terbaik untukmu di sisiNya. Amin.

Salam,
Hudiyo
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Siswanto Best

unread,
Jun 27, 2012, 12:53:57 PM6/27/12
to aksicon...@googlegroups.com
siiipppp'' Bpk hudio firmanto yg menentang kemusrykan

Dari: "hudi...@yahoo.com" <hudi...@yahoo.com>
Kepada: aksicon...@googlegroups.com
Dikirim: Selasa, 5 Juni 2012 15:03
Judul: Bahasa Kasih: Silakan diambil pelajaran
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages