Hari Kamis kemarin, 17 Mei 2012,
adalah hari libur. Pagi hari setelah sholat subuh, saya berinisiatif untuk
memasak makanan kesukaan anak-anak kami, chicken
drum stick. Kebetulan, asisten rumah tangga kami sedang cuti pulang
kampung. Saya gandeng tangan istri saya.
Kami berjalan berdua menuju pasar kaget di dalam kompleks perumahan. Setengah
kilo sayap ayam kami beli. Agar lebih memudahkan kami memasak, saya minta
penjualnya memotong sayap-sayap ayam tersebut menjadi dua bagian. Bahan lain
dan bumbu-bumbu yang diperlukan pun kami beli. Tepung terigu, tepung roti,
beberapa butir telur, bawang putih, dan merica kami masukkan ke dalam satu tas
plastik.
Sampai di rumah,
kami bekerja sama mengolah sayap-sayap ayam tersebut. Setelah hampir 30 menit
kami berdua sibuk di dapur, akhirnya semua sayap ayam telah berubah menjadi
gorengan chicken drumstick. Tak
terasa, kurang labih satu jam waktu kami habiskan. Mulai dari kami berangkat ke
pasar, hingga makanan tersebut siap dihidangkan.
Rasa penat kaki
saya hilang seketika saat melihat kedua buah hati kami menyantap makanan yang
kami siapkan. “Wuuueeenaak, Pa…,”
katanya. Tidak lebih dari 15 menit, chicken
drumstick telah kami bersih dari meja.
Kawan, kami
perlukan waktu hampir satu jam untuk event
makan pagi selama 15 menit. Kami lakukan kerjasama yang rapi untuk mendapatkan
senyum kepuasan anak-anak kami.
Tak sadar,
ternyata banyak kejadian serupa di dunia ini. Seorang penyanyi superhebat
seperti Agnes Monica, bisa menghabiskan waktu selama tiga bulan untuk
mempersiapkan konser tunggal yang hanya berlangsung selama tiga jam. Bukan
hanya koreografi, atau olah suara. Tetapi juga olahraga untuk menjaga kebugaran
fisiknya; atau meditasi yoga untuk menjaga kestabilan jiwanya. Satu minggu
menjelang konser, Agnes beserta crew-nya
terus berlatih langsung di panggung. Setiap hari bisa memakan waktu delapan
sampai sepuluh jam. Begitu keras perjuangannya untuk memberikan yang terbaik
bagi penggemarnya yang telah membayar mahal untuk konsernya.
Saya jadi teringat
satu sekuel di film “The Mechanic,” yang dibintangi Jason Statham. Di satu
pistol milik seorang jagoan yang tak pernah gagal dalam misinya, pada satu
sisinya tertulis kalimat dalam bahasa latin: "AMAT VICTORIA CURAM.” Sementara
pada sisi yang lain tertulis terjemahannya dalam bahasa Inggris: “VICTORY LOVES PREPARATION”. Dalam Bahasa
Indonesia, kalimat itu berarti: KEMENANGAN MENCINTAI PERSIAPAN.
Kawan,
kisah-kisah di atas mengajarkan kepada saya pentingnya persiapan. Sesingkat
apapun event kita, persiapan yang
baik amat diperlukan. Supaya kita menggapai sukses pada akhirnya; dan
mendapatkan senyum kepuasan dari para client kita. Memang, VICTORY LOVES
PREPARATION; KEMENANGAN ITU MENCINTAI PERSIAPAN.
Salam,
Hudiyo Firmanto
The Super Inspirator