PATRIOT

84 views
Skip to first unread message

hudiyo firmanto

unread,
Dec 31, 2012, 2:47:19 AM12/31/12
to aksicon...@googlegroups.com
PATRIOT
 
Sabtu pagi 28 Maret 1981, pukul 10.15, berita tentang pembajakan pesawat DC 9 Woyla GA 206 sampai kepada Wakil Panglima ABRI Laks. Sudomo. Sudomo meneruskan berita tersebut kepada Kepala Pusat Intelijen Strategis Letjen LB Moerdani yang langsung menghubungi Asrama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha, yang sekarang telah berubah menjadi Kopassus). Berita itu diterima oleh Asisten Operasi Kopasandha Letkol Sintong Panjaitan. Sebuah tim disiapkan untuk melaksanakan aksi pembebasan. Sebanyak 30 orang anggota pasukan Kopasandha dikontak secara individual dan berkumpul di Cijantung, Jakarta, markas Kopasandha.
Tigapuluh pasukan, masih mengenakan baju sipil, dipimpin oleh Letkol Sintong Panjaitan sebagai Perwira Komando Operasi, diberangkatkan ke bandara Don Muang Bangkok (tempat pesawat didaratkan). Semuanya tidak mengetahui ke mana tujuannya. Ditengah-tengah kegelisahan para anggota, tiba-tiba muncul perintah dari Letjen TNI LB Murdhani agar seluruh prajurit memakai seragam lengkap Kopassandha sambil berteriak, “Tunjukkan jati dirimu, lebih baik kita pulang nama dari pada gagal di medan laga.” Kalimat heroik itu akhirnya menjadi semboyan kebanggaan pasukan Kopassus hingga saat ini.
Setelah berlatih beberapa kali di dalam hanggar di Bandra Don Muang Bangkok, taktik penyerbuan diputuskan. Tim Hijau dan Tim Biru dibentuk. Tim Hijau akan mendobrak pintu utama di bagian belakang pesawat. Berikutnya Tim Biru akan menyerbu melalui pintu depan. Sementara itu, Letjen LB Murdani minta disiapkan 17 buah peti mati.
Saat pematangan operasi, suasana hening. Kebuntuan mendera saat penentuan siapa yang akan mendobrak pintu belakang pertama kali. Orang ini yang akan langsung berhadapan dengan kelompok pembajak di dalam pesawat. Sampai akhirnya, “Siap Komandan, saya yang akan mendobrak pintu belakang, “ teriakan lantang Calon Perwira (Capa) Ahmad Kirang memecahkan keheningan.
“Mengapa kamu berani…?” tanya Letkol Sintong Panjaitan setelah meyakinkan pernyataan tersebut.
“Tanpa satu orang yang mendobrak pintu itu, misi ini tidak akan terlaksana,” itulah jawaban Capa Ahmad Kirang, anggota tim yang berasal dari Makasar.
Tanggal 31 Maret 1981 dini hari pukul 02.45, serbuan dimulai. Capa Ahmad Kirang didampingi Pelda Pontas Lumban Tobing mendobrak pintu belakang. Kedua pahlawan tersebut segera disambut tembakan dari para pembajak. Tim Biru menyusul masuk dari depan dan ikut terlibat di dalam baku tembak. Tembak menembak berlangsung selama sekitar lima menit. Seluruh penumpang pesawat selamat. Tiga pembajak tewas tertembak, dua lainnya luka parah. Pilot pesawat, Captain Herman Rante, terluka parah dan meninggal dunia enam hari kemudian. Sementara Capa Ahmad Kirang dan Pelda Pontas Lumban Tobing juga terluka parah. Pelda Pontas Lumban Tobing tertembak di bagian rusuk dan tangannya. Capa Ahmad Kirang tertembak di bagian perut, tepat di bawah rompi anti peluru yang dikenakannya.
Capa Ahmad Kirang akhirnya meninggal pada tanggal 1 April 1981 di Rumah Sakit Bumibhol, Bangkok. Berkat pengorbanannya bersama Pelda Pontas Lumban Tobing, misi pembebasan sukses dilakukan; menyelamatkan semua penumpang, dan mengangkat nama Kopasandha menjadi pasukan khusus yang disegani di dunia. Atas jasanya, Pelda Pontas Lumban Tobing menerima anugerah kehormatan medali “Bintang Sakti Mahawira Ibu Pertiwi” dan kenaikan pangkat istimewa satu tingkat menjadi Pembantu Letnan Satu. Untuk alm Capa Ahmad Kirang, Pemerintah menganugerahi kenaikan pangkat istimewa dua tingkat, menjadi Letnan Satu Anumerta.
Pada banyak episode kehidupan, seringkali jiwa-jiwa patriot diperlukan untuk misi kebaikan. Pengorbanan dan keberanian Lettu Anumerta Ahmad Kirang dan Peltu Pontas Lumban Tobing menjadi contoh betapa jiwa patriot diperlukan untuk suatu misi besar. Sebesar apapun misi yang dijalankan, seberapa mulia tujuannya, akhirnya diperlukan jiwa-jiwa patriot untuk memulainya. Berapa banyak kita temui, orang saling tunjuk untuk memulai misi yang membawa resiko pribadi? Semoga semangat pengorbanan beliau menginspirasi kita untuk berani menjadi pelopor, dengan jiwa patriot, untuk melaksanakan misi kebaikan. Untuk kejayaan keluarga, organisasi kita, atau untuk kesejahteraan umat manusia.
Selamat menyongsong masa depan yang lebih cemerlang.
 
Salam,
Hudiyo Firmanto

Lucki Lukmanulhakim

unread,
Jan 4, 2013, 12:23:04 AM1/4/13
to aksicon...@googlegroups.com

Inspiratif sekali pak Hudiyo. Terimakasih

ACT NOW!

unread,
Jan 29, 2013, 7:59:08 AM1/29/13
to aksicon...@googlegroups.com
dan para patriot tidak pernah mati sesungguhnya karrena mereka lah kita menikmati semua yang kita
rasakan sekarang, inspiring story pak... tx ...


 
ACT NOW!
Training & Consulting
0331-72 71 888


Dari: hudiyo firmanto <hudi...@yahoo.com>
Kepada: "aksicon...@googlegroups.com" <aksicon...@googlegroups.com>
Dikirim: Senin, 31 Desember 2012 14:47
Judul: PATRIOT
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages