PATRIOT
Sabtu pagi 28
Maret 1981, pukul 10.15, berita tentang pembajakan pesawat DC 9 Woyla GA 206
sampai kepada Wakil Panglima ABRI Laks. Sudomo. Sudomo meneruskan berita
tersebut kepada Kepala Pusat Intelijen Strategis Letjen LB Moerdani yang
langsung menghubungi Asrama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha, yang sekarang
telah berubah menjadi Kopassus). Berita itu diterima oleh Asisten Operasi
Kopasandha Letkol Sintong Panjaitan. Sebuah tim disiapkan untuk melaksanakan
aksi pembebasan. Sebanyak 30 orang anggota pasukan Kopasandha dikontak secara
individual dan berkumpul di Cijantung, Jakarta, markas Kopasandha.
Tigapuluh
pasukan, masih mengenakan baju sipil, dipimpin oleh Letkol Sintong Panjaitan
sebagai Perwira Komando Operasi, diberangkatkan ke bandara Don Muang Bangkok (tempat
pesawat didaratkan). Semuanya tidak mengetahui ke mana tujuannya. Ditengah-tengah
kegelisahan para anggota, tiba-tiba muncul perintah dari Letjen TNI LB Murdhani
agar seluruh prajurit memakai seragam lengkap Kopassandha sambil berteriak, “Tunjukkan
jati dirimu, lebih baik kita pulang nama dari pada gagal di medan laga.” Kalimat
heroik itu akhirnya menjadi semboyan kebanggaan pasukan Kopassus hingga saat
ini.
Setelah berlatih
beberapa kali di dalam hanggar di Bandra Don Muang Bangkok, taktik penyerbuan
diputuskan. Tim Hijau dan Tim Biru dibentuk. Tim Hijau akan mendobrak pintu
utama di bagian belakang pesawat. Berikutnya Tim Biru akan menyerbu melalui
pintu depan. Sementara itu, Letjen LB Murdani minta disiapkan 17 buah peti
mati.
Saat pematangan
operasi, suasana hening. Kebuntuan mendera saat penentuan siapa yang akan
mendobrak pintu belakang pertama kali. Orang ini yang akan langsung berhadapan
dengan kelompok pembajak di dalam pesawat. Sampai akhirnya, “Siap Komandan,
saya yang akan mendobrak pintu belakang, “ teriakan lantang Calon Perwira
(Capa) Ahmad Kirang memecahkan keheningan.
“Mengapa kamu
berani…?” tanya Letkol Sintong Panjaitan setelah meyakinkan pernyataan
tersebut.
“Tanpa satu
orang yang mendobrak pintu itu, misi ini tidak akan terlaksana,” itulah jawaban
Capa Ahmad Kirang, anggota tim yang berasal dari Makasar.
Tanggal 31 Maret
1981 dini hari pukul 02.45, serbuan dimulai. Capa Ahmad Kirang didampingi Pelda
Pontas Lumban Tobing mendobrak pintu belakang. Kedua pahlawan tersebut segera
disambut tembakan dari para pembajak. Tim Biru menyusul masuk dari depan dan
ikut terlibat di dalam baku tembak. Tembak menembak berlangsung selama sekitar
lima menit. Seluruh penumpang pesawat selamat. Tiga pembajak tewas tertembak,
dua lainnya luka parah. Pilot pesawat, Captain Herman Rante, terluka parah dan
meninggal dunia enam hari kemudian. Sementara Capa Ahmad Kirang dan Pelda Pontas
Lumban Tobing juga terluka parah. Pelda Pontas Lumban Tobing tertembak di bagian
rusuk dan tangannya. Capa Ahmad Kirang tertembak di bagian perut, tepat di
bawah rompi anti peluru yang dikenakannya.
Capa Ahmad
Kirang akhirnya meninggal pada tanggal 1 April 1981 di Rumah Sakit Bumibhol,
Bangkok. Berkat pengorbanannya bersama Pelda Pontas Lumban Tobing, misi pembebasan
sukses dilakukan; menyelamatkan semua penumpang, dan mengangkat nama Kopasandha
menjadi pasukan khusus yang disegani di dunia. Atas jasanya, Pelda Pontas
Lumban Tobing menerima anugerah kehormatan medali “Bintang Sakti Mahawira Ibu
Pertiwi” dan kenaikan pangkat istimewa satu tingkat menjadi Pembantu Letnan
Satu. Untuk alm Capa Ahmad Kirang, Pemerintah menganugerahi kenaikan pangkat istimewa
dua tingkat, menjadi Letnan Satu Anumerta.
Pada banyak
episode kehidupan, seringkali jiwa-jiwa patriot diperlukan untuk misi kebaikan.
Pengorbanan dan keberanian Lettu Anumerta Ahmad Kirang dan Peltu Pontas Lumban
Tobing menjadi contoh betapa jiwa patriot diperlukan untuk suatu misi besar. Sebesar
apapun misi yang dijalankan, seberapa mulia tujuannya, akhirnya diperlukan
jiwa-jiwa patriot untuk memulainya. Berapa banyak kita temui, orang saling
tunjuk untuk memulai misi yang membawa resiko pribadi? Semoga semangat
pengorbanan beliau menginspirasi kita untuk berani menjadi pelopor, dengan jiwa
patriot, untuk melaksanakan misi kebaikan. Untuk kejayaan keluarga, organisasi
kita, atau untuk kesejahteraan umat manusia.
Selamat
menyongsong masa depan yang lebih cemerlang.
Salam,
Hudiyo Firmanto