PERKAWINAN atau PERNIKAHAN

2,098 views
Skip to first unread message

Tarbereng Takkas

unread,
Feb 16, 2016, 9:40:40 PM2/16/16
to advent...@googlegroups.com

From  : Tarberengtakkas

To : ALL (Advent Global)

 

PERKAWINAN atau PERNIKAHAN

Sangat mengusik hati melihat saat ini  masih banyak Orang engan mempergunakan kata           “ KAWIN “ atau “ PERKAWINAN “ dan menggantinya dengan kata “ NIKAH “ atau                      “ PERNIKAHAN “. Perasaaan tidak nyaman dan engan mengunakan kata Kawin atau Perkawinan juga terlihat dalam Organisasi GMAHK. Dalam acara  pemberkatan mempelai atau pengantin yang mau berumah tangga  umumnya Para Hamba-hamba Allah (Pendeta) dan Jemaat selalu menggunakan kata Nikah atau Pernikahan (bukan Kawin atau Perkawinan) dan mereka merasa nyaman dengan kata Nikah atau Pernikahan tersebut. Demikian juga terlihat dalam milles Advent Global mengenai Pekan Doa Rumah Tangga Kristen dan Pernikahan, dipergunaan kata PERNIKAHAN untuk mengantikan Perkawinan.

Banyak Orang mengartikan kata Kawin atau Perkawinan itu negatif atau jorok dan cendrung menggunakan kata Nikah atau Pernikahan.

Masih ada saja yang percaya bahwa nikah dan kawin itu berbeda bahkan  banyak orang mengatakan kalau NIKAH itu neken  tanda tangan pertanda  Suami Istri dan KAWIN  itu berarti neken  dalam artian menindih  atau berhubungan  seksual .  intinya  kawin itu  adalah istilah yang negative (jorok)\

Apakah kata Perkawinan atau Kawin itu bermakna negatif ?  Let me teel you this, You are totally  wrong

1.    KAWIN ATAU PERKAWINAN

      Menurut  Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia bebas, secara etimologi Perkawinan adalah kata benda turunan dari kata kerja dasar Kawin. Kata ini berasal dari Jawa kuno              “ KA-AWIN “ atau “ KA-AHWIN “ yang berarti dibawa, dipikul, diboyong, dihantar. Kata ini adalah bentuk pasif dari kata Jawa kuno  “ AWIN “ atau   “ AHWIN ”. selanjutnya kata itu berasal dari bahasa sanskerta yakni kata  “ VINI “   

      Kawin atau Kahwin, kata Orang Malaysia itu berasal dari bahasa Indonesia asli yang terderivasi dari bahasa Sanskerta.   

      Dari analisa etimologi tersebut, jelas  kita tidak menemukan  unsur “ HUBUNGAN SEKSUAL “ dalam pengertian kata “ KAWIN “ atau “ KAHAWIN Justru aspek sentral dalam perkataan kawin adalah proses  diboyongnya mempelai perempuan dari rumah keluarga orangtuanya kerumah pria secara resmi sesuai tata cara adat/agama yang berlaku. Contoh dalam perkawinan Suku Batak dikenal istilah “ DIALAP JUAL “ yang berarti  pengantin atau keluarga penganti  laki-laki datang kerumah keluarga pengantin perempuan  menjemput pengantin perempuan  atau  “ DITARUHON JUAL “ yang berarti keluarga pengantin perempuan menghantarkan pengantin perempuan kepada mempelai Laki-laki. Hal sama juga terjadi dalam adat Jawa, Betawi, Minang, dll. Pengantin perempuan dijemput. diboyong, dipikul dan diarak kerumah  pengantin Laki-laki. Sehingga  dengan penggunaan istilah kawin  pada tumbuh tumbuhan dan hewan, sebagaimana anggapan  orang banyak, tidak tepat dan benar. Setahu Kami, mohon koreksi, pada tumbuh tumbuhan istilah biologinya disebut  Penyerbukan, sedangkan pada hewan, mohon maaf disebut  berkelamin atau bereproduksi

2.   “ NIKAH “ ATAU  “ PERNIKAHAN “

      Menurut  Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia bebas. secara etimologi                        “ PERNIKAHAN “ adalah bentuk kata benda dari kata dasar “ NIKAH “. Kata itu berasal dari bahasa Arab yaitu kata “ NIKKAH “ yang berarti perjanjian perkawinan ; berikutnya kata itu berasal dari kata lain dalam bahasa Arab yaitu kata NIKAH yang berarti,  mohon maaf          “ Persetubuhan “ 

      Kalau begitu, apa yang menyebabkan kata “ KAWIN “ itu bermakna  negatif ?, tidak jelas dan tidak terdeksi secara etimologi. Mungkin gara-gara joke-joke seputar kawin dan nikah yang dah kadungan beredar  dimasyarakat.

      Bahwa “ nikah “ atau pernikahan itu hanya dikenal dalam hukum (syariat) Islam atau hukum perkawinan islam (MUNAKAHAT)..Sumber lain mengenai istilah nikah  bisa didapat  internet “ asal kata kawin “ di dokumen atau blog scribd yg di upload Mr Fadelhut

      Selain hal tersebut diatas, dalam perkawinan dikenal beberapa istilah, misalnya Perjanjian Kawin, Mas Kawin bukan Mas Pernikahan. Mas kawin berbeda dengan Mahar dalam pernikahan menurut syariat Islam. Mahar dalam pernikahan menurut syariat Islam  merupakan rukun nikah. Mas Kawin atau Uang antaran dalam hukum adat batak toba dikenal dengan Sinamot atau Tuhor Niboru.

     Juga dikenal istilah kawin lari (Mangalua dalam adat batak toba), kawin gantung. Kalau kata kawin atau perkawinan mengandung istilah negatff yakni hubungan seksual  atau bersetubuh pastilah istilah tersebut tidak dipergunakan dalam perkawinan..  

3.    Kata “ KAWIN “ atau “ PERKAWINAN “ dalam undang-undang dan dokumen Negara;

      Kata “ Kawin “ atau “ Perkawinan “  dalam Undang-undang dan dalam dokumen yang diterbitkan Negara juga tetap  dipergunakan. Undang-undang yang mengatur perkawinan yakni Undang-undang No. 1/1974 disebut dengan  “ Undang-undang perkawinan “ (bukan undang-undang pernikahan). Demikian juga dalam kompilasi hukum Islam masih mempergunakan kata Kawin atau Perkawinan

      Pengertian Perkawinan menurut undang-undang tersebut diartikan  sebagai “ ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa “  (pasal 1 Undang-undang No. 1/1974 Tentang Perkawinan)

      Dalam dokumen atau surat kawin  yang diterbitkan oleh Negara cq Kantor Catatan Sipil untuk mencatat dan membuktikan telah dilangsungkan  perkawinan  bagi yang beragama non muslim tetap menggunakan kata kawin atau perkawinan yakni  “ KUTIPAN AKTA PERKAWINAN “ Sedangkan bagi yang beragama Islam, surat kawin diterbitkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA)  Kecamatan  yang disebut dengan “ BUKU NIKAH

      Kalau begitu sebenarnya Kata Kawin atau Perkawinan sama artinya Nikah atau Pernikahan dalam hukum perkawinan Islam (kompilasi hukum Islam). Hanya saja secara etimologi kata  Nikah memiliki dua arti, sedangkan Kawin  tidak memilik makna atau arti ganda. Kemudian Nikah atau Pernikahan hanya dikenal dalam hukum perkawinan Islam dan hanya berlaku bagi  yang beragama Islam (Muslim);   

4.    KATA KAWIN ATAU PERKAWINAN DALAM ALKITAB.

      Bahwa sepanjang pengetahuan Saya (mohon maaf tolong dikoreksi karena Saya bukan seorang theologia), Alkitab yang Kita Imani kebenarannya baik yang  diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia  (LIA) maupun versi lainya, misalnya KJV (King James Version) masih TETAP mempergunakan kata “ Kawin “ atau “ Perkawinan “ bukan kata “ Nikah “ atau  “ Pernikahan “. Alkitab tidak mengindentikan  Perkawinan dengan persetubuhan. Hal mana jelas tampak dari beberapa ayat berikut ini :

      “ Kemudian Manusia itu BERSETUBUH dengan Hawa, Istrinya dan mengandunglah perempuan itu…….  (Kejadian 4;1) “. Sedangkan untuk perkawinan disebut dengan                     “  Perumpamaan Tentang “ PERJAMUAN KAWIN “ (Matius 22) “ dan  “ PESTA PERKAWINAN di Kana (Yohanes 2) “   

      Jika yang dimaksud dengan Perkawinan dalam Matius 22 dan Yohanes 2 adalah persetubuhan sebagaimana dimaksud dalam kejadian 4;1, maka (mohon maaf kepada Tuhan, Kami tidak bermaksud menghujat atau menghina Nya dan mohon maaf kepada Kita semua) pastilah Tuhan Jesus tidak hadir dalam Pesta perkawinan di Kana dan Pastilah Tuhan Jesus tidak menggunakan perumpamaan Pesta Perjamuan Kawin

      Sekarang, jelaslah sudah kata kawin atau perkawinan tidak bermakna negatif atau jorok.                       Kalau seandainya kata “ Kawin “ atau “ Perkawinan “ bermakna negatif (jorok) pastilah kata itu tidak dipergunakan dalam Undang-undang, dokumen Negara apalagi dalam Alkitab (Kitab Suci)

      So, sekarang kalau begitu kenapa kita engan atau malu mengunakan kata “ kawin “ atau      “ perkawinnan “ dalam upacara pemberkatan mempelai, dalam surat pemberkatan mempelai atau dalam acara Rumah tangga atau minggu sembayang. Rumah Tangga Kristen dan Perkawinan (bukan pernikahan). Jangan sampai Kita menggunakan kata (Nikah atau Pernikahan)  untuk menggantikan kata kawin atau perkawinan yang sesungguhnya hanya dikenal dalam hukum (syariat) perkawinan Islam  dan hanya berlaku bagi mereka yang beragama Islam. 

      Kiranya penjelasan yang singkat dan sederhana ini boleh memberikan pencerahan terhadap Kita. Amen. Tuhan memberkati.

      Mohon maaf sebelumnya kepada Kita semua terlebih kepada Hamba-hama Allah (Pendeta) jika ada kata-kata yang salah, senonoh dalam tulisan ini.

 

     Salam

    Tarberengtakkas

 

 

 

DANIEL SIMANJUNTAK

unread,
Feb 16, 2016, 10:25:18 PM2/16/16
to advent...@googlegroups.com
Terimakasih bro takkas, saya setujuh dengan anda.

Rgds,


DANIEL SIMANJUNTAK.
MTH 1 JKT.
M.0817176980 ( xl ), 0812 2345 5864
PERS HUKUM & HAM
ANTI CORRUPTION.
.

kebutuhan terbesar dunia ini adalah "Kebutuhan akan manusia yang tidak dapat diperjualbelikan, manusia yang dalam sanubarinya setia dan jujur, manusia yang tidak segan menyebut dosa itu dosa, manusia yang angan-angan hatinya setia kepada tugas seperti jarum menunjuk ke kutub, manusia yang mau berdiri demi kebenaran walau langit runtuh sekalipun." Pendidikan.43(ED, 57,58)

Dari: Tarbereng Takkas
Terkirim: ‎17/‎02/‎2016 9:40
Kepada: advent...@googlegroups.com
Subjek: [Advent-Global] PERKAWINAN atau PERNIKAHAN

--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Advent Global" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to advent-globa...@googlegroups.com.
To post to this group, send email to advent...@googlegroups.com.
Visit this group at https://groups.google.com/group/advent-global.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.

Philips Marbun

unread,
Feb 16, 2016, 10:32:43 PM2/16/16
to advent-global
Mantap Pak Tarbereng Takkas.. Sangat jelas etimology kedua kata tersebut ya...

Btw, kalau di jaman PL contoh seperti Ishak anak Abraham siapa yang memberkati perkawinan mereka ya... Kan pendeta belum ada.

Siapa tahu pak Tarbereng bisa membantu jawabannya.

Trims.

--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Advent Global" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to advent-globa...@googlegroups.com.
To post to this group, send email to advent...@googlegroups.com.
Visit this group at https://groups.google.com/group/advent-global.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.



--
Regards,
Philips Marbun

"Cintai Tuhan-mu dengan cara mencintai dirimu, cintai dirimu dengan cara mencintai sesamamu. Mencintai sesamamu sama dengan mencintai Tuhan-mu." #segitiga_yang_mengasyikan

Donaldy Sianipar

unread,
Feb 17, 2016, 12:56:17 AM2/17/16
to advent...@googlegroups.com, milis IMAB

> KA-AWIN “ atau “ KA-AHWIN “ yang berarti dibawa, dipikul, diboyong, dihantar. Kata ini adalah bentuk pasif dari kata Jawa kuno  “ AWIN “ atau   “ AHWIN ”. selanjutnya kata itu berasal dari bahasa sanskerta yakni kata  “ VINI “   


> Kawin atau Kahwin, kata Orang Malaysia itu berasal dari bahasa Indonesia asli yang terderivasi dari bahasa Sanskerta


> dalam bahasa Arab yaitu kata NIKAH yang berarti,  mohon maaf          “ Persetubuhan


> Dalam dokumen atau surat kawin  yang diterbitkan oleh Negara cq Kantor Catatan Sipil untuk mencatat dan membuktikan telah dilangsungkan  perkawinan  bagi yang beragama non muslim tetap menggunakan kata kawin atau perkawinan yakni  “ KUTIPAN AKTA PERKAWINAN “ Sedangkan bagi yang beragama Islam, surat kawin diterbitkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA)  Kecamatan  yang disebut dengan “ BUKU NIKAH



> Kalau begitu, apa yang menyebabkan kata “ KAWIN “ itu bermakna  negatif ?


Jd hanya masalah sentimen agama sj, yaitu bhw yg brasal dr bhs Sanskerta dianggap buruk/jelek/negatif sdangkn yg brasal dr bhs Arab dianggap baik/bagus/positif.

Itulh pl salah 1 alasn sy shg kurang suka nonton sinetron lokal sjak bbrp belas thn yl, yaitu ktika bnyk sinetron lokal berlatar sejarah ratusn thn yl sering mnampilkn konflik/prtarungan antara tokoh2 baik brpakaian spt org Arab kuno n brnama ke-Arab2-an melawan tokoh2 jahat brpakaian spt org India kuno n brnama ke-India2-an/Sanskerta, jd spt ingin menyampaikn pesan pd generasi muda (remaja n bahkn anak2) bhw yg Muslim tu baik sdangkn yg Hindu tu jahat.

Just my personal opinion, You don't have to agree with me.


Salam,
Donaldy Sianipar




Date: Wed, 17 Feb 2016 09:40:36 +0700
Subject: [Advent-Global] PERKAWINAN atau PERNIKAHAN
From: tarbere...@gmail.com
To: advent...@googlegroups.com

hutauruk joshua

unread,
Feb 18, 2016, 12:50:58 AM2/18/16
to advent...@googlegroups.com, milis IMAB
kebenaran tidak ditentukan diterima umum atau tidak

Richard Hutasoit

unread,
Feb 21, 2016, 3:23:04 AM2/21/16
to advent...@googlegroups.com
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang dinamis. Hampir setiap waktu kita menemukan istilah baru atau perubahan makna kata dalam bahasa Indonesia. Berbicara mengenai perubahan makna tentunya tidak terlepas dari ilmu bahasa kajian semantik. Artinya, dahulu makna sebuah kata A lalu berganti menjadi B kemudian di masa selanjutnya berubah makna menjadi C. Misalnya kata "wanita" berasal dari betina. Sementara itu  kata "perempuan" muncul dari  kata dasar puan,  artinya mulia, tuan, atau mahir. Tetapi kemudian, kata perempuan dan wanita mengalami perubahan makna dari waktu ke waktu. Kata wanita ternyata mengalami proses perubahan makna yang semakin positif, sebutan tersebut merupakan bentuk halus dari kata perempuan. Sebaliknya, kata perempuan justru mengalami penurunan di mata masyarakat.

Berdasarkan contoh tersebut di atas, dapat dikatakan perubahan makna kata terjadi seiring dengan perkembangan waktu. Proses perubahan makna kata yang memiliki makna baru dan dirasakan lebih rendah nilainya dari arti yang lama disebut Peyoratif. Contohnya adalah kata bini. Dahulu kata bini dianggap tinggi maknanya, tetapi sekarang dianggap kasar dan penyebutan kata bini selalu dihindarkan dan orang lebih suka menggunakan kata istri. Hal ini serupa dengan kata bunting. Dahulu kata bunting dianggap tinggi untuk penyebutan 'seorang wanita yang sedang mengandung', namun sekarang penyebutan bunting dianggap kasar dan kurang sopan. 

Contoh lain kata: tapal gigi? Untuk generasi tua, pasti sudah sangat lama tidak mendengar istilah ini, untuk generasi muda mungkin malahan belum pernah mendengar istilah ini. Tapal gigi sama dan sebangun maknanya dengan ’pasta gigi’ atau ’odol’. Tanpa kita sadari istilah ’tapal gigi’ ini perlahan-lahan surut dan menghilang dari peredaran wacana. ’Tapal gigi’ adalah salah satu kata/istilah hampir-hampir tak pernah dipakai orang lagi. Alasan kata-kata ini tak dipakai orang bisa bermacam-macam. Mungkin karena kata tersebut mengacu kepada nama benda-benda yang sudah tidak lagi dipakai di zaman sekarang ini. Mungkin juga karena ada istilah penggantinya yang lebih afdal dan lebih akurat. Namun tak sedikit kata yang memudar dalam memori masyarakat tanpa alasan yang jelas. 

Bagaimana dengan kata "pernikahan" dan "perkawinan"? Mungkin saja dari aspek semantik historis apa yang dipaparkan Bapak Tarberengtakkas benar. Tetapi pemilihan kata tidak cukup didasarkan pada kajian historis. Hal ini sudah ditunjukkan dengan contoh-contoh di atas. Aspek Peyoratif yang berkembang di masyarakat sangat dominan mempengaruhi si pemakai bahasa dalam cara memilih kata-kata. Pemilihan kata yang benar tergantung pada selera kontemporer pengguna bahasa yang bersangkutan.

Perubahan kata di bahasa Indonesia memang harus kita sikapi, agar kita mampu berkomunikasi dengan lawan bicara dengan tepat, dapat mengexpresikan keinginan kita secara akurat, dan lawan bicara dapat memahami dengan benar apa yang kita maksudkan. Itulah yang terpenting dalam pemilihan kata.

Saya akan mengakhiri tulisan ini juga dengan iklan seorang tabib di sebuah koran jadul yang antara lain menyebutkan sanggup mengobati penyakit pitam. Penyakit apa gerangan itu? Tak lain dia adalah penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi. Zaman selalu berubah, kata-kata yang kini populer, bisa saja menjadi kata usang esok lusa. 

Referensi: dari berbagai sumber






--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Advent Global" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to advent-globa...@googlegroups.com.
To post to this group, send email to advent...@googlegroups.com.
Visit this group at https://groups.google.com/group/advent-global.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.



--


Before God we are all equally wise - and equally foolish.

Daniel_simanjuntak2005

unread,
Feb 21, 2016, 8:40:34 PM2/21/16
to advent...@googlegroups.com
Dear bro Richan.

Ada hal-hal yang bisa dirubah dengan tidak merubah makna atau artinya secara etimologi.
Terutama secara Alkitabiah bukan menyesuaikan sesuai keadaan zaman.  Terimakasih atas penjelasan yg panjang.
Kadang  orang menggunakan kata asal nyeplak tidak tahu makna dan artinya tergolong ikut-ikutan situasi walau salah jadi benar oleh mayoritas yg menggunakannya.



Rgds,





DANIEL SIMANJUNTAK
MTH 1 JKT
M.0817176980, 0812 2345 5864.
PERS HUKUM & HAM
ANTI CORRUPTION.

Kebutuhan terbesar dunia ini adalah "Kebutuhan akan manusia yang tidak dapat diperjualbelikan, manusia yang dalam sanubarinya setia dan jujur, manusia yang tidak segan menyebut dosa itu dosa, manusia yang angan-angan hatinya setia kepada tugas seperti jarum menunjuk ke kutub, manusia yang mau berdiri demi kebenaran walau langit runtuh sekalipun." Pendidikan.43(ED, 57,58)








Sent via the Samsung Galaxy Tab® 3, an AT&T 4G LTE tablet

Tarbereng Takkas

unread,
Feb 22, 2016, 3:18:55 AM2/22/16
to advent...@googlegroups.com
Yth Sdr Richad Hutasit
Apa  yang Saudara kemukakan adalah benar dan dapat  dipahami. Namun sesungguhny hingga saat ini arti atau makna kata Kawin atau Perkawinan yakni diboyong, diangkut, dipikul, diantar belum berubah menjadi hubungan seksual atau menjadi jorok atau negstif. Perlu  kami sampaikan pada saat Undang undang Perkawinan dibuat Pemerintah sudah mengundang
Ahli ahli bahasa dan para pakar udaya, agama dan sosiologi. Sehingga penyebutan Kata Kawin atau Perkawinan baik sebagai nama Undang undang (Undang undang Perkawinan) maupun dalam pasal pasalnya sudah benar benar digali dan dipilih sebagai kata yang benar , baik , tidak bermakna negatif. Demikisn juga dalam dokumen Negara seperti Akta Perkawinan, pemberian kata Perkawinan dalam dokumen Negara bukan sembarangan. Hal itu sudah dikaji dari segi bahasa oleh ahli bahsa indonesia. Kalau kata Kawin atau Perkawinan sdh berubah arti dan maknanya manjadi negatif atau jorok pastiah tidak dipergunakan dan undang undang petkawinan pasti diganti menjadi Undang undang pernikahan dan akta perkawinan menjadi  akta pernikahan dan akta perkawinan yang sdh dimiliki masyarakat atau Saudars miliki, jika Saudara sdh kawin pasti ditarik dan diganti oleh pemerintah. Bahwa ternyata sampai saat ini kata Kawin atau Perkawinan masih dipergunakan dalam undang undang dan dokumen negara bahkan dalam kompiladi hukum islam mengenai perkawinan dan dalam Alkitab kata Kawin dan Perkawinan masih tetsp dipergunaksn. Hal tersebut cukup membuktikan arti kata Kawin atau Perkawinan belum berubah, masih sesuai dengan aslinya.

Note : sesungguhnya Pernikahan sama dengan Perkawinan, akan tetapi Pernikahan mengandung dua arti, sedangkan Perkawinan mengandung satu arti. Krmufian istilah Pernikahan hanya dikenal dalsm perkawinan islam dan hanya berlaku bagi yang beragama Islam. Kalau Alkitab, undang undang dan dokumen negara masih menggunàkan kata Kawin atau Perkawinan kenapa kita malu atau enganmenggunakanya .

Salam
Tarbereng Takkas

Daniel_simanjuntak2005

unread,
Feb 22, 2016, 6:01:47 AM2/22/16
to advent...@googlegroups.com
Dear rekan saya takkas,
Memang sudah takkas yang anda posting itu.Terimakasih.

Richard Hutasoit

unread,
Feb 22, 2016, 3:29:25 PM2/22/16
to advent...@googlegroups.com
Dear Bapak Tarbereng Takkas,

Saya memahami gagasan yang bapak sampaikan.  Gagasan yang bapak sampaikan didasarkan pada pengertian kata "Nikah" dan "Kawin" dalam WIKIPEDIA BAHASA INDONESIA. Masalah dalam Wikipedia adalah bahwa pendefinisian istilah atau kata dalam situs itu sifatnya unofficial. Siapa saja dapat melakukan kontribusi dan editing pada artikel-artikel Wikipedia. Misalnya saya saja sudah melakukan hampir 5.000 kontribusi di Wikipedia Bahasa Indonesia padahal kemampuan bahasa saya sangat terbatas.

Saya pikir lebih tepat bila bapak menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia. KBBI adalah kamus ekabahasa resmi bahasa Indonesia yang disusun oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Kamus ini menjadi acuan tertinggi bahasa Indonesia yang baku, karena kamus ini merupakan kamus bahasa Indonesia terlengkap dan yang paling akurat yang pernah diterbitkan oleh penerbit yang memiliki hak paten dari pemerintah Republik Indonesia yang dinaungi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Dalam KBBI, kata "Nikah"  berarti n ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama.
kata "Kawin" berarti   v melakukan hubungan kelamin; berkelamin (untuk hewan);  v bersetubuh:v membentuk keluarga dengan lawan jenis; bersuami atau beristri; menikah. 

Pada saat menulis posting ini, saya iseng searcing untuk mengetahui apa pendapat orang secara umum perihal "perbedaan nikah dan kawin." Pendapat mereka ini tentu saja belum akurat tetapi pendapat mereka ini menjadi "general sampling" yang dapat kita gunakan menjadi acuan bahwa demikianlah potret pendapat umum perbedaan kedua kata tersebut:

Nikah pake resepsi, kawin pake kontrasepsi; 
Pernikahan itu anugerah. Perkawinan bikin "Anu" gerah.
Nikah banyak yg lihat, bangga. Kawin banyak yang ngintip, malu.
Nikah butuh ketegasan suami. Kawin butuh ketegangan suami.
Source: Perbedaan Nikah dan Kawin


Terima kasih pada pak Tarbereng Takkas yang sudah memulai thread ini. Karena akibat tulisan beliau saya jadi belajar bahasa lagi. Mari kita belajar dengan hati gembira ria riang girang senang suka-cita bahagia. 


Donaldy Sianipar

unread,
Feb 22, 2016, 7:06:54 PM2/22/16
to advent...@googlegroups.com, milis IMAB

Tdk trlalu mngherankn, krn opini massa di Indonesia dikendalikan oleh (is driven by) sentimen Muslim (bahkn bs jd adlh intentional social engineering dgn psikologi massa), shg kalau ad kata2 yg tadinya bersinonim (maknanya sama) maka kata yg brasal dr bhs Sanskerta akn cenderung (sengaja) diberi konotasi negatif sdangkn kata yg brasal dr bhs Arab akn cenderung (sengaja) diberi konotasi positif.


Salam,
Donaldy Sianipar




From: rhut...@gmail.com
Date: Mon, 22 Feb 2016 12:28:40 -0800

Subject: Re: [Advent-Global] PERKAWINAN atau PERNIKAHAN

Philips Marbun

unread,
Feb 23, 2016, 12:14:03 AM2/23/16
to advent-global
Wah baru kali ini pak Donaldy berbicara tanpa berdasar data...  Hehehe...

Coba pak, apakah sudah ada research summary nya utk statement pak Sianipar ini.

GBU

Donaldy Sianipar

unread,
Feb 23, 2016, 4:09:59 AM2/23/16
to advent...@googlegroups.com

Sorry, mmg tdk brdasarkn research, hanya brusaha mncari "pnjlasn" yg paling masuk akal sj, mnurut dugaan sy sndiri.
Kl ad yg bs mngajukn"pnjlasn" lain yg lbh masuk akal, silahkn sj.

Lgpl sy gunakn kata2 "bs jd".

Tdk trlalu mngherankn, krn opini massa di Indonesia dikendalikan oleh (is driven by) sentimen Muslim (bahkn   B-I-S-A   J-A-D-I   adlh intentional social engineering dgn psikologi massa), shg kalau ad kata2 yg tadinya bersinonim (maknanya sama) maka kata yg brasal dr bhs Sanskerta akn cenderung (sengaja) diberi konotasi negatif sdangkn kata yg brasal dr bhs Arab akn cenderung (sengaja) diberi konotasi positif.


Just my personal opinion, You don't have to agree with me.


Salam,
Donaldy Sianipar




Date: Tue, 23 Feb 2016 12:13:59 +0700

Subject: Re: [Advent-Global] PERKAWINAN atau PERNIKAHAN

Philips Marbun

unread,
Feb 23, 2016, 4:35:21 AM2/23/16
to advent-global
Tapi opini ini cukup menarik pak.. Mulai sekarang saya akan coba mengamati hal tsb juga.

Thanks sudah menambah wawasan bahasa. GBU
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages