Kelompok
tradisionalis Katolik menyalahkan Fransiskus karena sikapnya yang
terlalu longgar terhadap Lutheran, khususnya dalam "doa bersama" yang
akan digunakan kedua agama selama peringatan Reformasi Protestan 2017.
http://news.detik.com/bbc/3127349/paus-fransiskus-meminta-maaf-kepada-umat-protestanPaus Fransiskus Meminta Maaf kepada Umat Protestan
Paus Fransiskus meminta maaf kepada kaum Protestan dan Gereja Kristen
lainnya atas penganiayaan yang dilakukan kaum Katolik, dalam upaya
terbarunya untuk membina kesatuan umat Kristen.
Dalam acara
kebaktian malam di Basilika Santo Petrus, Roma, yang dihadiri perwakilan
sejumlah agama, ia meminta "maaf bagi perilaku penganut Katolik yang
tidak sesuai injil terhadap kaum Kristiani dan Gereja lain". Ia juga
meminta umat Katolik memaafkan siapapun yang telah menganiaya mereka,
demikian lansir kantor berita Reuters.
Vatikan mengumumkan, pada
31 Oktober Paus Fransiskus akan pergi ke kota Lund di Swedia, tempat
Federasi Dunia Lutheran (LWF) didirikan pada 1947, untuk kebaktian
bersama kaum Lutheran dalam peringatan Reformasi Protestan yang akan
berlangsung di seluruh dunia tahun depan.
Martin Luther, pria
berkebangsaan Jerman, diakui sebagai perintis Reformasi Protestan pada
tahun 1517 dengan menulis 95 tesis yang mengkritik Gereja Katolik karena
menjual pengampunan dosa dengan uang.
Langkah itu berujung pada
perpecahan politik di seluruh Eropa dan dalam agama Kristen, memicu di
antaranya Perang 30 Tahun di Eropa, penghancuran biara di Inggris, dan
pembakaran sejumlah 'orang sesat' di kedua pihak.
Kelompok
tradisionalis Katolik menyalahkan Fransiskus karena sikapnya yang
terlalu longgar terhadap Lutheran, khususnya dalam "doa bersama" yang
akan digunakan kedua agama selama peringatan Reformasi Protestan 2017.
Mereka menyebut doa tersebut terlalu memuji Luther, yang dikecam sebagai orang sesat dan dikucilkan.
Meski demikian, Paus Fransiskus telah menjadikan dialog antar agama sebagai keunggulan dalam masa jabatannya.
Rekonsiliasi
Dialog
teologi antara Katolik Roma dan Lutheran dimulai pada akhir 1960-an
setelah Konsili Vatikan II. Namun penganut Katolik dan Lutheran belum
secara resmi diizinkan untuk mengambil komuni di kebaktian satu sama
lain.
Sekretaris Jenderal LWF, Martin Junge, mengatakanbahwa perpecahan antara Katolik dan Lutheran merupakan persoalan masa lalu.
"Saya yakin bahwa dengan berupaya mewujudkan rekonsiliasi antara
Lutheran dan Katolik, kita berusaha mewujudkan keadilan, perdamaian, dan
kerukunan di dunia yang terpecah-belah oleh konflik dan kekerasan,"
ujarnya dalam pernyataan yang dikutip kantor berita AFP.
Acara
di Lund ialah bagian dari proses dialog antara gereja Katolik dan
Lutheran, yang berusaha menyepakati penyebab Reformasi. Kedua gereja
sepakat pada tahun 1999 dalam pernyataan bersama tentang persoalan
teologi yang menjadi akar pergolakan tersebut.
Di antara
persoalan itu adalah pertanyaan apakah manusia dapat masuk surga dengan
amal baik ataukah keselamatan hanya datang lewat kasih sayang Tuhan.