FW: [itb77] Freeport dan Nasionalisme Orang Papua

104 views
Skip to first unread message

Donaldy Sianipar

unread,
Jan 5, 2016, 5:08:13 AM1/5/16
to milis IMAB, MA ITB, Alumni ITB, advent...@googlegroups.com



Date: Tue, 5 Jan 2016 16:24:36 +0700
To: suwo...@cbn.net.id; it...@bhaktiganesha.or.id
Subject: Re: [itb77] Freeport dan Nasionalisme Orang Papua
From: it...@bhaktiganesha.or.id

Mantan Bandit Ekonomi AS Bongkar Permainan Freeport dan Modus Korupsi Indonesia

Posted on Jan 3rd, 2016

AntiLiberalNews – Inilah kesaksian John Perkins, mantan bandit ekonomi binaan intelijen AS tentang berbagai modus korupsi di Indonesia. Melalui bukunya yang terkenal “Confession of Economic Hitman dan The Secret History of the American Empire” ,sepak-terjang beberapa korporasi AS terungkap. Pada 1995, Perkins sempat dikontak sebuah firma konstruksi dan konsultan Stone and Webster Engineering Company(SWEC), sebagaimana dilaporkan SB, Senin (14/12/2015).

SWEC mengatakan kepada Perkins, berencana untuk membangun proyek kompleks pemerosesan bahan kimia di Indonesia yang bernilai kurang lebih 1 miliar dolar AS. Namun yang bikin SWEC kebingungan, bagaimana caranya membayar salah seorang anggota keluarga Suharto sebesar 150 juta dolar AS. Itulah makanya pihak SWEC bertanya kepada Perkins yang waktu itu masih jadi bandit ekonomi yang punya pengalaman luas bermain di Indonesia.

Perkins menawarkan empat opsi untuk menyuap para pejabat tinggi maupun keluarga para pejabat tersebut. Dalam hal proyeknya SWEC ini yang dimaksud adalah keluarga Suharto. Pertama, sewa buldozer, mesin Derek, truk, dan peralatan berat lainnya dari perusahaan milik keluarga Suharto dan kroninya dengan harga lebih tinggi dari harga normal.

Kedua, dengan mengalihkan kontrak beberapa proyek kepada perusahaan milik keluarga Suharto dengan harga tinggi. Ketiga, menggunakan cara serupa untuk memenuhi kebutuhan makanan, perumahanan, mobil, bahan bakar, dan kebutuhan lainnya.

Dan keempat, mereka bisa menawarkan diri untuk memasukkan putra-putri para kroni orang Indonesia itu ke beberapapa kampus prestisius di AS, menanggung biaya mereka, dan menggaji mereka setara dengan konsultan perusahaan ketika berada di AS.

jihn-perkins1

Berdasarkan pengalaman Perkins sebelumnya sebagai bandit ekonomi pelayan beberapa korporasi asing di Indonesia termasuk Freeport, siasat tersebut biasanya sangat berhasil untuk membelokkan arah kebijakan pemerintahan yang menguntungkan korporasi-korporasi asing. Bahkan beberapa perusahaan dan eksekutif AS yang pernah melakukan praktik-praktik semacam ini tak pernah terseret hukum.

Hanya saja, Perkins mungkin tak membayangkan bahwa tiga tahun kemudian, pada Mei 1998, pemerintahan Suharto runtuh yang berakibat seluruh keluarga dan kroni bisnis Cendana tidak lagi berada dalam posisi mengatur arah kebijakan perekonomian nasional. Wallhasil, skenario SWEC tidak berjalan mulus.

Pada 15 Maret 2006, The Boston Globe memuat tajuk di halaman muka: Memo Suap dan Bangkrutnya Stone & Webster. Dalam liputannya The Boston Globe membeberkan kisah tragis bagaimana perusahaan yang berdiri sejak 1889 dan punya sejarah yang cemerlang itu ambruk dengan mencatatkan kebangkrutannya pada 2000. Sehingga perusahaan itu diakuisisi Shaw Group.

Dalam kesimpulan wartawan Globe, Steve Bailey, keruntuhan tersebut berpangkal pada “Memo Kritis” yang membeberkan suatu usaha rahasia perusahaan secara mendetail. Yaitu membayar suap senilai 147 juta dolar AS kepada seorang kerabat Presiden Suharto untuk mengamankan kontrak terbesar sepanjang sejarah Stone & Webster.

john-perkins

Apakah rent seeking activities seperti terungkap melalui kesaksian Perkins tersebut kemudian berhenti menyusul kejatuhan Suharto dan beralihnya pemerintahan ke tangan sipil? Sepertinya, hanya ganti aktor dan ganti aturan main. Sedangkan secara skematik, tetap berada dalam orbit pengaruh kepentingan korporasi-korporasi asing.

Menurut cerita seorang narasumber kepada Perkins, sejak Suharto lengser pada 1998, segalanya malah lebih buruk lagi. Ketika anggaran militer dipangkas dengan perhitungan bahwa para petinggi militer akan bisa dijinakkan, para jenderal tahu ke mana mereka harus meminta bantuan: perusahaan-perusahaan pertambangan dan energi asing.

Model semacam ini menurut Perkins mirip seperti di Nigeria, Kolombia,dan Nikaragua.

Alhasil, selain sumberdaya alam, militer kita pun berada dalam pengaruh kepentingan-kepentingan korporasi asing.

Betapa rapuhnya militer kita dirembesi kepentingan-kepentingan korporasi asing, tak ada berita yang lebih spektakuler selain kelakuan Freeport McMoRan Copper and Gold. Betapa tidak. Menurut sebuah artikel The New York Times maupun Associated Press terbitan 30 Desember 2005, para petinggi korporasi tambang dan emas tersebut membayar (baca: Suap) sebesar 20 juta dolar AS kepada para komandan dan unit militer di Papua selama tujuh tahun (yang berarti sejak 1998), sebagai imbalan perlindungan terhadap berbagai fasilitas mereka di sana.

Fakta ini jadi krusial, karena dengan begitu hanya sepertiga dari anggaran untuk angkatan bersenjata Indonesia yang berasal dari anggaran negara. Selebihnya, dikumpulkan dari sumber “tak resmi” sebagai “biaya perlindungan,” sehingga administrasi militer bisa berjalan terpisah dari kontrol keuangan pemerintah.

Intinya, ketika Suharto lengser dan beralih ke pemerintahan sipil di era reformasi, pada perkembangannya justru perusahaan tambang dan energi mengendalikan sistem regulasi Indonesia yang lemah.

Perkins benar adanya. Lahirnya UU No 22/2001 tentang Migas maupun UU No 20/2002 maupun UU No 30/2009 tentang kelistrikan, sepenuhnya berada dalam supervisi kepentingan-kepentingan korporasi asing.

Bahkan UU No 4/2009 tentang Mineral dan Batubara yang pada dasarnya dimaksud untuk melumpuhkan dominasi Freeport dan Newmont melalui kewajiban membangun smelter untuk pemurnian konsentrat, telah dijegal melalui keluarnya PP No/2014, yang tetap memberi hak istimewa kepada kedua korporasi raksasa tersebut.

Edit : Adiba Hasan

Sumber: antiliberalnews.com


2016-01-05 14:52 GMT+07:00 via Itb77 <it...@bhaktiganesha.or.id>:
Ada banyak hal yang dicakup dalam tulisan ini. Tampaknya ada kesimpulan bahwa adanya Freeport sama sekali tidak membantu peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Papua/ Irian. Selain itu Freeport malah jadi sumber penderitaan bagi masyarakat asli di sekitar daerah tambang tsb.

Banyaknya wang yang mengalir keluar dan sedikitnya manfaat bagi masyarakat asli Papua/ Irian inilah yang menjadi sebab pemberontakan menuntut kemerdekaan. Berdirilah OPM dan kemudian TPN yang terus menerus menjadi masalah di Papua/ Irian.

Lantas bagaimana baiknya strategi pemerintah pusat untuk provinsi di ujung timur RI tsb?

Kalau pendapat saya, mungkin akan lebih baik untuk sementara waktu gubernur Papua dan Papua Barat dijabat oleh non-putra-daerah. Tampaknya selama ini gubernur2 di sana yang putra-daerah belum mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat asli dengan kuat di hadapan pemerintah pusat.

Bahkan perlu dipertimbangkan bupati2 juga sebagian dijabat oleh non-putra-daerah yang (mohon maaf) sudah lebih maju dan lebih cerdik dalam menyusun strategi pembangunan bersama dengan gubernur2 tsb.


HS.


Quoting Hilmanmuchsin via Itb77 <it...@bhaktiganesha.or.id>:

Ilustrasi TNI-Freeport (foto:Istimewa/Hasan)


FREEPORT dan PAPUA merupakan satu keping mata uang yang masing-masing sisinya saling bertolak belakang. Sisi yang satu menginginkan emas, tembaga dan perak, dan yang lainnya menginginkan kemerdekaan.

Mengupas konflik yang terjadi di Papua Barat dan hubungannya dengan perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan yang berada di dataran tinggi Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.

Sebelum mengungkap akar terjadinya konflik di Papua Barat, akan diulas sedikit sejarah PT Freeport bercokol di tanah Papua. Freeport McMoran Copper and Gold merupakan konglomerat tambang transnasional yang bermarkas di New Orleans, Amerika Serikat.



Perusahaan ini memulai aktivitasnya di Papua Barat dengan menandatangani kontrak kepada Pemerintah Indonesia untuk menambang tembaga di lahan seluas 10.000 hektare dari tanah-tanah yang diduduki suku asli Amungme pada 1967.

Hingga kini, hak penambangan Freeport telah diperluas lebih dari tiga kali hingga mencapai 25.000 hektare lebih. Namun perusahaan itu tidak memiliki kebijakan atau komitmen apapun yang didistribusikan kepada masyarakat lokal.

Bahkan, dengan menggunakan model pembangunan dunia ketiga, Freeport mendirikan kota satelit yang glamor lengkap dengan berbagai fasilitas dan hotel Sheraton bintang lima. Hal itu terlihat kontras dengan suku Amungme yang miskin.



Dengan berbagai fasilitas yang mewah dan dimanjakan itu, para staf Freeport menikmati hidup yang serba mewah. Sementara masyarakat suku Amungme yang masih memegang teguh kepercayaan dan tradisi nenek moyang itu tetap tertinggal.

Pada 1977, masyarakat suku Amungme menggelar protes menuntut kompensasi atas hilangnya tanah-tanah mereka. Namun protes masyarakat suku Amungme ini diabaikan begitu saja oleh Pemerintah Indonesia dan PT Freeport Indonesia.

Konon suku Amungme yang dipercaya menjadi keturunan pertama dari anak sulung bangsa manusia itu banyak hidup di daerah pegunungan dan berwatak keras. Lingkungan yang keras kerap membuat mereka bertindak berani dengan melakukan gerakan protes.



Namun Pemerintah Indonesia dan Freeport menganggap gerakan protes itu sebagai aksi teroris yang harus dibasmi. Seakan tidak mau mendengar protes itu, Freeport malah membuka daerah pertambangan di Gasberg, dua kilometer dari Timika

Areal pertambangan di atas lahan seluas 2,6 juta hektare inilah yang berhasil mendongkrak produksi Freeport hingga 900 juta pound tembaga, serta 1,1 juta ons emas per tahun, dan membuatnya menjadi operator tambang terbesar di dunia.

Dari keuntungan yang sangat besar itu, masyarakat Amungme tidak mendapatkan apa-apa. Begitupun dengan Pemerintah Indonesia yang hanya mau menerima sebagian kecil saja keuntungan dari pajak-pajak dan jasa pengelolaan keamanan militernya.




Pada 2002, PT Freeport McMoran Copper and Gold Inc mengakui bahwa anak perusahaannya di Indonesia, yakni PT Freeport Indonesia telah mengucurkan dana sebesar USD10,7 juta untuk membayar TNI dan polisi selama 2001-2002.

Jauh hari sebelumnya, kerja sama antara TNI/Polri dengan Freeport sebenarnya sudah terjadi. Hal ini tampak pada banyaknya kekerasan yang dilakukan TNI/Polri di sekitar areal pertambangan terhadap masyarakat sekitar.

Puncak kekerasan TNI/Polri yang pertama di Freeport terjadi pada 1995. Sebanyak 37 warga desa yang melakukan protes terhadap Freeport dibunuh secara kejam karena melakukan protes terhadap operasi tambang perusahaan itu.



Aksi kekerasan terhadap penduduk di sekitar pertambangan bukan hanya dilakukan oleh aparat TNI/Polri. Tetapi juga oleh pihak keamanan dalam Freeport. Melalui kerja sama pengamanan itu, Freeport telah memanfaatkan TNI/Polri.

Pihak TNI/Polri sebenarnya sadar telah dimanfaatkan Freeport. Namun kebutuhan finansial mereka dan tidak bisa dipenuhi seluruhnya oleh pemerintah membuat mereka rela menjadi centeng-centeng tukang jagal perusahaan-perusahaan asing.

Peneliti dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Heru Cahyono mengatakan, hal itu membuat masyarakat asli Papua hidup dalam kolonialisasi baru yang sangat menyengsarakan kehidupan mereka.


"Di satu sisi mereka menghadapi persoalan pelanggaran HAM. Di sisi lain, mereka berhadapan dengan kenyataan bahwa hadirnya perusahaan tambang besar telah mengakibat keprihatinan mendalam terhadap dampak lingkungan yang merusak," katanya.

Dia melanjutkan, semua persoalan tanah, perusakan lingkungan, dan pelanggaran HAM yang terjadi terhadap masyarakat Papua Barat harus menjadi tanggung jawab penuh Pemerintah Indonesia, Freeport, dan Amerika Serikat.

Sejak Freeport berdiri dan terjadi okupasi tanah-tanah, relokasi penduduk, dan polusi telah mengakibatkan perubahan yang sangat besar terhadap masyarakat Amungme dan membahayakan berbagai spesies yang hidup di kawasan itu.



Limbah-limbah tembaga yang telah mencemari ikan-ikan yang ada di sungai sekitar Freeport juga sangat membahayakan bagi sumber air minum masyarakat setempat. Hal ini tidak pernah diperhatikan oleh Pemerintah Indonesia dan Freeport.

Hingga kini, keberadaan Freeport banyak menyumbang penderitaan masyarakat Amungme dan menambah konflik yang terjadi di Papua. Namun begitu, kasus Freeport bukan satu-satunya yang membuat masyarakat Papua ingin merdeka dari Indonesia.

Konflik antara masyarakat Papua dengan Pemerintah Indonesia sebenarnya telah berlangsung jauh hari sebelumnya, yakni saat Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.



Saat itu, Soekarno tegas mengatakan yang menjadi wilayah Republik Indonesia adalah seluruh daerah jajahan Belanda. Papua merupakan salah satu wilayah jajahan Belanda yang dengan sendirinya menjadi bagian dari Indonesia.

Namun, Pemerintah Belanda berusaha menghalangi Indonesia untuk memasukkan wilayah Nieuw Guinea ke dalam daerah kekuasaan Indonesia dengan menyatakan bahwa Nieuw Guinea perlu mendapatkan kedudukannya sendiri.

Melalui politik pecah belah itu, Letnan Gubernur Jenderal van Mook yang bertindak atas nama pemerintah Belanda berhasil untuk sementara waktu mencegah Nieuw Guinea kembali ke pangkuan Republik Indonesia, melalui tiga konferensi.



Pada konferensi pertama di Malino, Belanda berencana membentuk negara federal di daerah-daerah yang dikuasai Indonesia. Sedang dalam Konferensi Pangkalpinang, Belanda ingin Nieuw Guinea diberikan status politik sendiri.

Begitupun dengan konferensi ketiga yang terjadi di Denpasar. Pemerintah Kolonial Belanda tidak ingin Indonesia membentuk Indonesia Timur yang meliputi wilayah kekuasaannya Nederlands Nieuw Guinea. Dari sinilah akar konflik di Papua.

Konflik Papua antara Belanda dengan Indonesia ini berlangsung cukup lama, sejak 1945-1962. Puncaknya terjadi saat Soekarno mengeluarkan maklumatnya yang terkenal dengan Tri Komando Rakyat, di Yogyakarta pada 19 Desember 1961.



Tri Komando Rakyat atau Trikora berisi tiga hal, pertama gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda kolonial, kedua kibarkan sang saka merah putih di Irian Barat, ketiga mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan.

Konflik ini tidak hanya melibatkan Indonesia dan Belanda, tetapi juga negara-negara besar lainnya. Baru pada 1962, akhirnya konflik Papua bisa diselesaikan melalui rencana Bunker atau dikenal dengan Persetujuan New York.

Dengan disetujuinya perjanjian itu, maka secara langsung Papua kembali ke dalam pangkuan Indonesia. Dalam pidatonya di Kota Baru 4 Mei 1963, Soekarno kembali menegaskan kedudukan Irian Barat dalam wilayah kekuasaan Indonesia.



Yang dinamakan Tanah Air Indonesia adalah wilayah yang sejak dulu dijajah oleh pihak Belanda, yang dulu dinamakan Hindia Belanda, yang dulu dinamakan Nederland Indie (Karesidenan Ternate-red). Itulah wilayah Republik Indonesia.

Dengarkan benar kataku (rakyat Papua-red), itulah wilayah Republik Indonesia. Itu berarti bahwa sejak 17 Agustus 1945, Irian Barat telah masuk di dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Apa yang belum terjadi?

Karena penjajahan Belanda setelah proklamasi masih berjalan terus, maka Irian Barat belum kembali termasuk di dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Saudara-saudara perhatikan benar-benar.

Bukan memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia, tetapi memasukkan kembali Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Kesalahan ini masih kadang-kadang dibuat (Sengaja dibuat-buat).

Namun, sejak kembali ke dalam pangkuan Indonesia nasib rakyat Papua tidak banyak berubah. Bahkan berkembang lebih buruk dari yang sebelum-sebelumnya. Pembangunan sama sekali tidak berjalan di Papua dan masyarakatnya sangat miskin.

Papua Barat terkenal dengan peradaban zaman batunya, keindahan lereng-lereng gunung yang curam dan hutan-hutannya yang perawan, serta puncak gunung Jaya Wijaya tertinggi ketiga di dunia setelah Himalaya dan Andes.

Tidak hanya itu, alam Papua juga sangat kaya. Di bumi ini terkandung kekayaan alam yang melimpah, meliputi deposit emas dan tembaga, di samping kandungan gas dan minyak bumi yang sangat melimpah, serta lainnya.



Di daerah ini juga terdapat 1.000 kelompok bahasa yang berbeda, di mana 250 di antaranya tinggal di perbatasan Papua Nugini. Penduduk asli Papua Barat beragama Kristen dan berasal dari ras Melanesia. Demikian sungguh kaya Papua itu.

Namun semua kekayaan alam Papua itu tidak pernah dinikmati oleh masyarakat Papua sendiri. Angka kematian bayi sangat tinggi, mencapai 117 kematian dari setiap 1.000 anak yang berusia di bawah satu tahun.

Di daerah yang kaya ini, hanya ada satu rumah sakit dengan fasilitas 70 tempat tidur untuk 400.000 orang, dan hanya ada satu dokter untuk daerah 53.000 km persegi dengan penderita penyakit kusta dan HIV/AIDS paling tinggi.



Angka-angka kematian bayi dan kekurangan gizi pada masyarakat Papua lebih mengkhawatirkan lagi. Sebanyak 25% bayi Papua meninggal karena radang paru. Angka ini paling tinggi di dunia. Sedang 20% dari total penduduknya mengalami gizi buruk.

Kenyataan pahit inilah yang harus diterima masyarakat Papua selama turun temurun. Di bawah ketidakadilan dan penindasan, serta konflik berkepanjangan inilah masyarakat Papua bangkit melawan Pemerintah Indonesia.

Maka lahirlah sebuah organisasi kecil dan regional yang bertujuan mendorong kebebasan bagi masyaraat Papua. Aktivitas organisasi ini yang utama mendesak militer Indonesia keluar dari Papua dan mendirikan negara Papua merdeka.



Organisasi itu kemudian dikenal dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan belakangan disebut sebagai Tentara Pembebasan Nasional (TPN) yang terdiri dari unit-unit militer yang senjatanya masih tradisional dan sangat terbatas.

Perlawanan masyarakat Papua terhadap Pemerintah Indonesia telah berlangsung sejak 1962 dan masih berlangsung hingga kini. Total masyarakat Papua yang tewas dibunuh selama 40 tahun oleh TNI/Polri telah mencapai 100.000-800.000 orang lebih.


Sumber Tulisan:

Heru Cahyono, Dimensi Ekonomi dan Politik Konflik Papua, Masyarakat Indonesia, LIPI Press, 2004.

JR Mansoben, Arti Sebuah Nama: Penggunaan Nama Papua untuk Menggantikan Irian Jaya, Masyarakat Indonesia, LIPI Press, 2004.

Hasan Kurniawan, Praktik Kolonialisme di Balik Nama Papua, dikutip dalam Laman Sindonews.com.

Suku Amungme Mimika Papua, dikutip dalam laman http://kebudayaanindonesia.net
PT Freeport Indonesia, dikutip dalam laman http://ptfi.co.id.

Hasan Kurniawan
Minggu,  6 Desember 2015  −  05:05 WIB
http://daerah.sindonews.com/read/1066955/29/freeport-dan-nasionalisme-orang-papua-1449249816/3


Sent from my iPhone



_______________________________________________
Itb77 mailing list
It...@bhaktiganesha.or.id
http://bhaktiganesha.or.id/cgi-bin/mailman/listinfo/itb77


_______________________________________________ Itb77 mailing list It...@bhaktiganesha.or.id http://bhaktiganesha.or.id/cgi-bin/mailman/listinfo/itb77
ATT00001

Naibaho Albert

unread,
Jan 5, 2016, 6:24:57 AM1/5/16
to advent...@googlegroups.com
manttap tks infonya, membuat pikiran sy jadi terbuka , menjijikkan memang kkn ini...

DAN


--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Advent Global" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to advent-globa...@googlegroups.com.
To post to this group, send email to advent...@googlegroups.com.
Visit this group at https://groups.google.com/group/advent-global.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.


Situmorang, Asiroha

unread,
Jan 6, 2016, 5:26:09 AM1/6/16
to advent...@googlegroups.com, milis IMAB, MA ITB, Alumni ITB

All, Informasi tentang Freeport dalam tulisan ini salah dan tidak benar dan hanya merupakan opini seseorang yang tidak mengetahui tentang Freeport. Kami sudah bekerja di Freeport 19 tahun dan hampir 10 tahun bertanggung jawab untuk semua aspek financial perusahaan. Freeport di audit secara rutin oleh Badan Pemeriksa Keuangan RI (BPK RI), Kementerian Keuagan (Taxes and Customs), Kementerian Pertambangan (ESDM), Erst & Young (external auditor), Deloitte & Touche (internal auditor), juga audit Foreign Corrupt Practices Act (FCPA), Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB) and Justice Department. The Company is committed to conducting business in accordance with high ethical standards and in compliance with both the letter and the spirit of all applicable laws. Thanks, Asi

--

samuel simorangkir

unread,
Jan 6, 2016, 5:31:23 AM1/6/16
to advent...@googlegroups.com, MA ITB, Alumni ITB, milis IMAB

Dear brother Asiroha,

Puji Tuhan dan terimakasih untuk klarifikasinya.
Kita bersyukur kepada Tuhan karena salah satu anak Tuhan ada yang bekerja diperusahaan ini dan dapat menjadi terang.
Tuhan memberkati.

Salam berkat,

Pdt. S. Simorangkir

Hendrik Sinaga

unread,
Jan 6, 2016, 7:38:15 PM1/6/16
to advent...@googlegroups.com, milis IMAB, MA ITB, Alumni ITB
Bro Asiroha,
Sangat bagus untuk penyeimbang informasi.

Thanks,
Hendrik Sinaga


From: asi...@fmi.com
To: advent...@googlegroups.com; milis...@yahoogroups.com; ma-...@yahoogroups.com; alum...@yahoogroups.com
Subject: RE: [Advent-Global] FW: [itb77] Freeport dan Nasionalisme Orang Papua
Date: Wed, 6 Jan 2016 10:26:00 +0000

ning...@yahoo.com

unread,
Jan 6, 2016, 8:19:33 PM1/6/16
to Hendrik Sinaga, milis IMAB, MA ITB, Alumni ITB
Yang jadi pokok permasalahannya adalah; Mampukah Pemerintah keluar sepenuhnya dari bayang2 praktek yang seperti ini yg terjadi di FP?... 
Saya hanya berpendapat sulit, krn terlalu gampangnya kita di DIKTE oleh Asing sehingga suatu saat bukan tidak mungkin cara2 itu tetap berlanjut‎...

Wassalam

Zagallo Ningot

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.
From: Hendrik Sinaga
Sent: Thursday, 7 January 2016 07:40
To: advent...@googlegroups.com; milis IMAB; MA ITB; Alumni ITB

anjaya...@yahoo.com

unread,
Jan 7, 2016, 1:50:12 AM1/7/16
to samuel simorangkir, advent...@googlegroups.com, MA ITB, Alumni ITB, milis IMAB

samuel simorangkir <simoran...@gmail.com> wrote:

>Dear brother Asiroha,
>
>Puji Tuhan dan terimakasih untuk klarifikasinya.
>Kita bersyukur kepada Tuhan karena salah satu anak Tuhan ada yang bekerja
>diperusahaan ini dan dapat menjadi terang.
>Tuhan memberkati.
>
>Salam berkat,
>
>Pdt. S. Simorangkir
>On Jan 6, 2016 6:26 PM, "Situmorang, Asiroha" <asi...@fmi.com> wrote:
>

>> All, Informasi tentang Freeport dalam tulisan ini salah dan tidak benar
>> dan hanya merupakan opini seseorang yang tidak mengetahui tentang Freeport.
>> Kami sudah bekerja di Freeport 19 tahun dan hampir 10 tahun bertanggung
>> jawab untuk semua aspek financial perusahaan. Freeport di audit secara
>> rutin oleh Badan Pemeriksa Keuangan RI (BPK RI), Kementerian Keuagan (Taxes
>> and Customs), Kementerian Pertambangan (ESDM), Erst & Young (external
>> auditor), Deloitte & Touche (internal auditor), juga audit Foreign Corrupt
>> Practices Act (FCPA), Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB) and
>> Justice Department. The Company is committed to conducting business in
>> accordance with high ethical standards and in compliance with both the
>> letter and the spirit of all applicable laws. Thanks, Asi
>>
>>
>>

>> *From:* advent...@googlegroups.com [mailto:
>> advent...@googlegroups.com] *On Behalf Of *Donaldy Sianipar
>> *Sent:* Tuesday, January 05, 2016 5:08 PM
>> *To:* milis IMAB <milis...@yahoogroups.com>; MA ITB <

>> *Subject:* [Advent-Global] FW: [itb77] Freeport dan Nasionalisme Orang
>> Papua
>>
>>
>>
>>
>> ------------------------------


>>
>> Date: Tue, 5 Jan 2016 16:24:36 +0700
>> To: suwo...@cbn.net.id; it...@bhaktiganesha.or.id
>> Subject: Re: [itb77] Freeport dan Nasionalisme Orang Papua
>> From: it...@bhaktiganesha.or.id
>> Mantan Bandit Ekonomi AS Bongkar Permainan Freeport dan Modus Korupsi
>> Indonesia

>> <https://www.nahimunkar.com/mantan-bandit-ekonomi-as-bongkar-permainan-freeport-dan-modus-korupsi-indonesia/>


>>
>> Posted on Jan 3rd, 2016
>>
>>
>>
>> [image: John-Perkins-Economic-Hitman]

>> <https://cdn.nahimunkar.com/wp-content/uploads/2016/01/John-Perkins-Economic-Hitman.jpg>
>>
>> *AntiLiberalNews – *Inilah kesaksian John Perkins, mantan bandit ekonomi


>> binaan intelijen AS tentang berbagai modus korupsi di Indonesia. Melalui

>> bukunya yang terkenal *“Confession of Economic Hitman dan The Secret
>> History of the American Empire”* ,sepak-terjang beberapa korporasi AS


>> terungkap. Pada 1995, Perkins sempat dikontak sebuah firma konstruksi dan

>> konsultan *Stone and Webster Engineering Company*(SWEC), sebagaimana
>> dilaporkan *SB*, Senin (14/12/2015).
>>
>> *SWEC* mengatakan kepada Perkins, berencana untuk membangun proyek


>> kompleks pemerosesan bahan kimia di Indonesia yang bernilai kurang lebih 1
>> miliar dolar AS. Namun yang bikin SWEC kebingungan, bagaimana caranya
>> membayar salah seorang anggota keluarga Suharto sebesar 150 juta dolar AS.

>> Itulah makanya pihak *SWEC* bertanya kepada Perkins yang waktu itu masih


>> jadi bandit ekonomi yang punya pengalaman luas bermain di Indonesia.
>>
>> Perkins menawarkan empat opsi untuk menyuap para pejabat tinggi maupun

>> keluarga para pejabat tersebut. Dalam hal proyeknya *SWEC* ini yang


>> dimaksud adalah keluarga Suharto. Pertama, sewa buldozer, mesin Derek,
>> truk, dan peralatan berat lainnya dari perusahaan milik keluarga Suharto
>> dan kroninya dengan harga lebih tinggi dari harga normal.
>>
>> Kedua, dengan mengalihkan kontrak beberapa proyek kepada perusahaan milik
>> keluarga Suharto dengan harga tinggi. Ketiga, menggunakan cara serupa untuk
>> memenuhi kebutuhan makanan, perumahanan, mobil, bahan bakar, dan kebutuhan
>> lainnya.
>>
>> Dan keempat, mereka bisa menawarkan diri untuk memasukkan putra-putri para
>> kroni orang Indonesia itu ke beberapapa kampus prestisius di AS, menanggung
>> biaya mereka, dan menggaji mereka setara dengan konsultan perusahaan ketika
>> berada di AS.
>>
>> [image: jihn-perkins1]
>>
>> Berdasarkan pengalaman Perkins sebelumnya sebagai bandit ekonomi pelayan
>> beberapa korporasi asing di Indonesia termasuk Freeport, siasat tersebut
>> biasanya sangat berhasil untuk membelokkan arah kebijakan pemerintahan yang
>> menguntungkan korporasi-korporasi asing. Bahkan beberapa perusahaan dan
>> eksekutif AS yang pernah melakukan praktik-praktik semacam ini tak pernah
>> terseret hukum.
>>
>> Hanya saja, Perkins mungkin tak membayangkan bahwa tiga tahun kemudian,
>> pada Mei 1998, pemerintahan Suharto runtuh yang berakibat seluruh keluarga
>> dan kroni bisnis Cendana tidak lagi berada dalam posisi mengatur arah
>> kebijakan perekonomian nasional. Wallhasil, skenario SWEC tidak berjalan
>> mulus.
>>

>> Pada 15 Maret 2006, *The Boston Globe* memuat tajuk di halaman muka: Memo
>> Suap dan Bangkrutnya Stone & Webster. Dalam liputannya *The Boston Globe* membeberkan


>> kisah tragis bagaimana perusahaan yang berdiri sejak 1889 dan punya sejarah
>> yang cemerlang itu ambruk dengan mencatatkan kebangkrutannya pada 2000.
>> Sehingga perusahaan itu diakuisisi Shaw Group.
>>

>> Dalam kesimpulan wartawan *Globe*, Steve Bailey, keruntuhan tersebut


>> berpangkal pada “Memo Kritis” yang membeberkan suatu usaha rahasia
>> perusahaan secara mendetail. Yaitu membayar suap senilai 147 juta dolar AS
>> kepada seorang kerabat Presiden Suharto untuk mengamankan kontrak terbesar
>> sepanjang sejarah Stone & Webster.
>>
>> [image: john-perkins]
>>

>> Apakah* rent seeking activities* seperti terungkap melalui kesaksian

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages