PATUT DI RENUNGKAN: PEPERANGAN ROHANI

263 views
Skip to first unread message

John Maruli Situmorang

unread,
May 14, 2015, 8:10:35 PM5/14/15
to

PEPERANGAN ROHANI

 

Efesus 6:11,12 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

Peperangan rohani bukanlah lelucon dan permainan. Setan dan iblis-iblis merupakan makhluk nyata dengan kepribadian yang menyesatkan, hati yang fasik, dan memiliki tujuan-tujuan yang jahat. Hal yang paling berbahaya di dalam peperangan rohani adalah kepercayaan diri yang berlebihan.  Di dalam menghadapi peperangan rohani, ada empat dimensi yang harus kita pertimbangkan dengan matang, yaitu senjata yang kita gunakan di dalam peperangan, otoritas kerohanian kita, pertempuran kita melawan musuh, dan rencana tindakan kita.

 

Senjata Kita dalam Peperangan (2 Korintus 10:3-4)  

 

Kegiatan yang mendasar dalam peperangan rohani adalah doa. Di satu sisi, doa merupakan senjata peperangan dan di sisi lain, doa merupakan media yang melaluinya semua senjata lain dipergunakan (Efesus 6:12,18). Tanpa doa, kita menjadi tidak berdaya dalam perjuangan kita melawan musuh. Jika doa merupakan pusat aktivitas bagi peperangan rohani, pusat sikap kita dalam peperangan rohani adalah iman dan ketaatan (Matius 17:20).   Selain berdoa dengan iman dan dalam ketaatan, Allah juga menyediakan senjata-senjata khusus bagi kita untuk peperangan rohani. Apakah senjata-senjata khusus itu?

 

a. Nama Tuhan Yesus (Markus 16:17; Yohanes 14:14; Filipi 2:9)          

Apakah pentingnya sebuah nama? Nama membawa suatu kuasa. Seorang duta besar Amerika Serikat bagi negara lain berbicara atas nama Presiden Amerika Serikat. Seorang polisi mengetuk pintu dan berkata, "Atas nama hukum, buka!" Ketika Yesus mengundang kita untuk menggunakan nama-Nya, Dia memindahkan kuasa kudus-Nya kepada kita. Nama Tuhan Yesus merupakan senjata yang penuh kuasa di dalam peperangan rohani, dan nama itu memiliki otoritas yang luar biasa, bila kita menggunakannya seturut dengan kehendak-Nya. Tak seorang pun pernah memiliki kuasa Yesus, kecuali kalau Yesus adalah Tuhan orang itu (Matius 7:22-23; Kisah Para Rasul 19).    

 

b. Darah Tuhan Yesus (Wahyu 12:11)  

Wahyu 12 menunjukkan satu dari episode-episode peperangan rohani yang paling dahsyat, yang dapat dibayangkan. Mikhael dan para malaikatnya berperang melawan naga. Mikhael mengalahkan dia "oleh darah Anak Domba". Ketika Yesus mencurahkan darah-Nya di atas kayu salib, sesungguhnya kuasa setan benar-benar sudah dipatahkan (Kolose 2:14-15). Setan paling tidak suka bila diingatkan tentang darah Yesus. Salib merupakan sesuatu yang sangat mempermalukannya. Setiap jiwa yang sudah diselamatkan melalui darah Yesus benar-benar mempermalukan setan. Setan tidak sanggup bertahan berdiri menghadapi darah Yesus.        

 

c. Kesehatian (Kisah Para Rasul 2:1,14)           

Dalam hal apakah kita sehati dan sepikir? Pertama, kita sehati dan sepikir mengenai apa yang sedang Allah firmankan kepada kita. Kedua, kita sehati dan sepikir dalam menyaksikan pekerjaan yang Bapa lakukan. Adalah mungkin bagi kita untuk memahami secara pribadi apa yang sedang Bapa lakukan, tetapi adalah lebih baik jika kita memiliki kesehatian dan pikiran yang sama dengan orang lain (Matius 18:19; Yohanes 5:19). Ini salah satu alasannya mengapa doa yang sehati dan sepikir begitu penting di dalam peperangan rohani. Jika sejumlah orang percaya dalam sebuah gereja atau dari berbagai gereja berkumpul bersama dan bersehati di dalam doa, maka kekuatan untuk melawan musuh akan meningkat dengan luar biasa. 

 

d. Puasa          

Ada beberapa jenis peperangan rohani yang memprasyaratkan puasa, sebagai suatu syarat untuk memperoleh kemenangan (Matius 17:21; Kisah Para Rasul 13:2-3). Tingkat peperangan terbesar dari segala zaman adalah ketika Yesus dicobai di padang gurun. Salah satu bagiannya adalah Yesus melakukan puasa selama 40 hari. Apakah hal itu membuat Dia lemah? Secara fisik Ia lemah, tetapi secara roh hal itu menguatkan-Nya.

Kita harus berhati-hati mengambil sikap selama berpuasa. Berpuasa merupakan suatu hak istimewa yang membawa kita lebih dekat kepada Allah dan lebih sensitif dalam mendengarkan suara-Nya. Puasa bukanlah sebuah tanda penghargaan yang membuat kita lebih baik dari orang lain. Dengan sikap yang benar dan sesuai dengan waktu serta pimpinan-Nya, maka puasa merupakan salah satu senjata yang sangat berdaya guna.

 

e. Puji-Pujian  

Alkitab mengajarkan bahwa dalam keadaan apa pun, kita harus memuji Allah (Mazmur 145:2). Paulus dan Silas dengan lagu pujiannya terlepas dari penjara (Kisah Para Rasul 16:25).           

 

f. Firman Allah (Efesus 6:17)

Dari enam perlengkapan senjata Allah, lima di antaranya merupakan senjata untuk bertahan dan hanya satu senjata yang dipergunakan untuk menyerang: Pedang Roh, yaitu firman Allah. Ayat-ayat Alkitab merupakan sebuah senjata perang yang penuh kuasa. Sebagai balasan terhadap semua serangan Iblis, Yesus mengutip ayat-ayat dari kitab Perjanjian Lama sehingga Iblis tidak sanggup bertahan. Akan tetapi, ada juga firman Allah yang dinyatakan, yaitu rhema. Mendengar perkataan Allah yang baru difirmankan-Nya merupakan suatu bagian penting dalam menggunakan Pedang Roh (Yeremia 32:6,8; Yohanes 5:19; Efesus 6:18).

 

Semoga masing-masing kita mengunakan cara diatas dalam PEPERANGAN ROHANI saat kita menanti kedatangan Yesus yang ke dua kali. Tuhan memberkati.

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages