Kerajaan Bizantium

0 views
Skip to first unread message

Егор Ульянов

unread,
Aug 3, 2024, 6:13:52 PM8/3/24
to abtrenrofsast

Berikut ini merupakan sebuah daftar Kaisar Romawi Timur atau Kekaisaran Bizantium. Daftar ini tidak termasuk sejumlah rekan-kaisar yang tidak pernah secara tunggal atau status senior sebagai pemimpin, tidak termasuk pula sejumlah penyerap atau pemberontak yang menuntut gelar kerajaan (seperti yang dapat anda temukan pada Daftar Penyerap Bizantium).

Daftar ini dimulai dengan Konstantinus I, Kaisar Romawi pertama yang menganut Kristiani, yang mendirikan Konstantinopel, dan yang juga dianggap oleh Kaisar-kaisar Bizantium selanjutnya sebagai tokoh pemimpin. Diokletianus yang merupakan pendahulunya terkadang dianggap Kaisar "Bizantium" pertama di dalam akal politik, karena ia menggantikan jebakan-jebakan republika di kantor dengan otokrasi yang mudah, menandai transisi dari Kepangeranan menjadi Dominan yang absolutis, bentuk yang biasanya lebih oriental dan monarki Helenistik yang mencirikan Kekaisaran. Akan tetapi hanya di bawah kekuasaan Konstantinuslah karakteristik utama dari negara Bizantium muncul: sebuah pemerintahan Romawi berpusat di Konstantinopel dan budaya didominasi oleh Timur Yunani, dengan agama Kristen sebagai agama negara.

Seluruh Kaisar Bizantium menganggap diri mereka sendiri sebagai Kaisar-kaisar Romawi, istilah "Bizantium" diciptakan pertama kali oleh historiografi Barat beberapa saat kemudian, pada abad ke-16. Meskipun Paus Roma dan para pemimpin Jermanik di Barat mengakui pewaris Kekaisaran Timur atas warisan Romawi setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat, pada tanggal 25 Desember 800, Paus Leo III memahkotai Raja Franka Charlemagne sebagai Kaisar Romawi (yang akhirnya menyebabkan pembentukan Kekaisaran Romawi Suci) karena ketidaknyamanan hubungan dengan Orthodoks Timur, suatu tindakan yang dibenci oleh rakyat Bizantium. Hal ini terjadi setelah pemahkotaan Maharani Irene, yang sebagai seorang wanita, tidak diakui oleh Paus memiliki hak bertahta.

Gelar seluruh Kaisar yang terdaftar sebelumnya Heraklius secara resmi Augustus, meskipun berbagai gelar lainnya seperti Dominus juga dipergunakan. Untuk kepentingan resmi, nama-nama mereka diawali dengan Imperator Caesar dan diikuti oleh Augustus. Diikuti dengan Heraklius, gelar yang umumnya menjadi Yunani Basileus (Gr. Βασιλεύς), yang sebelumnya umumnya berarti "raja", "berdaulat" namun sekarang digunakan sebagai pengganti 'Imperator. Diikuti dengan pendirian Kekaisaran saingan di Eropa Barat (Kekaisaran Romawi Suci), gelar Autokrator (Gr. Αυτοκράτωρ) juga sering dipergunakan. Pada beberapa abad kemudian Kekaisaran, kaisar sering disebut oleh Kristiani Barat sebagai "Kaisar Yunani," meskipun mereka masih menganggap diri mereka sendiri Kaisar-kaisar "Romawi". Menuju berakhirnya Kekaisaran tersebut, mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai "[Nama Kaisar] di dalam Kristiani, Kaisar dan Otokrasi Romawi."

Kekaisaran Romawi Timur, juga dikenal sebagai Kekaisaran Bizantium,[a] adalah sebuah kekaisaran yang melanjutkan kedaulatan Kekaisaran Romawi, terutama di wilayah-wilayah yang berbahasa Yunani[1] pada Abad Kuno dan Pertengahan. Penduduk dan tetangga-tetangga Kekaisaran Romawi Timur menjuluki negeri ini Kekaisaran Romawi atau Romania (Yunani: Ῥωμανία, Rōmana). Kekaisaran ini berpusat di Konstantinopel, dan dikuasai oleh kaisar-kaisar yang merupakan pengganti kaisar Romawi kuno setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat. Tidak ada konsensus mengenai tanggal pasti dimulainya periode Romawi Timur. Beberapa orang menyebut masa kekuasaan Diokletianus (284-305) dikarenakan reformasi-reformasi pemerintahan yang ia perkenalkan, yang membagi kerajaan tersebut menjadi pars Orientis dan pars Occidentis.[2] Pihak lainnya menyebut masa kekuasaan Theodosius I (379-395), atau setelah kematiannya pada tahun 395, saat kekaisaran terpecah menjadi bagian Timur dan Barat. Ada juga yang menyebut tahun 476, ketika Roma dijajah untuk ketiga kalinya dalam seabad yang menandakan jatuhnya Barat (Latin), dan mengakibatkan kaisar di Timur (Yunani) mendapatkan kekuasaan tunggal.[3] Bagaimanapun juga, titik penting dalam sejarah Romawi Timur adalah ketika Konstantinus yang Agung memindahkan ibukota dari Nikomedia (di Anatolia) ke Byzantium (yang akan menjadi Konstantinopel) pada tahun 330.

Negeri ini berdiri selama lebih dari ribuan tahun. Selama keberadaannya, Romawi Timur merupakan kekuatan ekonomi, budaya, dan militer yang kuat di Eropa, meskipun terus mengalami kemunduran, terutama pada masa Peperangan Romawi-Persia dan Romawi Timur-Arab. Kekaisaran ini direstorasi pada masa Dinasti Makedonia, bangkit sebagai kekuatan besar di Mediterania Timur pada akhir abad ke-10, dan mampu menyaingi Kekhalifahan Fatimiyah. Setelah tahun 1071, sebagian besar Asia Kecil direbut oleh Turki Seljuk. Restorasi Komnenos berhasil memperkuat dominasi pada abad ke-12, tetapi setelah kematian Andronikos I Komnenos dan berakhirnya Dinasti Komnenos pada akhir abad ke-12, kekaisaran kembali mengalami kemunduran. Romawi Timur semakin terguncang pada masa Perang Salib Keempat tahun 1204, ketika kekaisaran ini dibubarkan secara paksa dan dipisah menjadi kerajaan-kerajaan Yunani dan Latin yang saling berseteru. Kekaisaran berhasil didirikan kembali pada tahun 1261 di bawah pimpinan kaisar-kaisar Palaiologos, tetapi perang saudara pada abad ke-14 terus melemahkan kekuatan kekaisaran. Sisa wilayahnya dicaplok oleh Kesultanan Utsmaniyah dalam Peperangan Romawi Timur-Utsmaniyah. Akhirnya, Konstantinopel berhasil direbut oleh Utsmaniyah pada tanggal 29 Mei 1453, menandai berakhirnya Kekaisaran Romawi Timur.

Kekaisaran ini mulai disebut "Bizantium" di Eropa Barat pada tahun 1557, ketika sejarawan Jerman Hieronymus Wolf menerbitkan karyanya yang berjudul Corpus Histori Byzantin. Istilah "Bizantium" berasal dari kata "Byzantium", yaitu nama kota Konstantinopel sebelum menjadi ibukota Konstantinus yang Agung. Semenjak itu, nama lama ini jarang digunakan, kecuali dalam konteks sejarah dan puisi. Selanjutnya, Byzantine du Louvre (Corpus Scriptorum Histori Byzantin) tahun 1648 dan Historia Byzantina karya Du Cange tahun 1680 semakin memopulerkan istilah Bizantium di antara pengarang-pengarang Prancis, seperti Montesquieu.[4] Istilah ini kemudian menghilang hingga pada abad ke-19 ketika orang-orang Barat kembali menggunakannya.[5] Sebelumnya, istilah Yunani-lah yang digunakan untuk kekaisaran ini.

Meskipun Kekaisaran Romawi Timur memiliki ciri multietnis dalam sejarahnya,[10] serta menjaga tradisi Romawi-Helenistik,[11] negeri ini dikenal oleh negeri-negeri barat dan utara pada masanya dengan nama Kekaisaran Orang-orang Yunani[n 2] karena kuatnya pengaruh Yunani.[12] Penggunaan istilah Kekaisaran Orang-orang Yunani (Latin: Imperium Graecorum) di Barat merupakan lambang penolakan klaim Bizantium sebagai Kekaisaran Romawi.[13] Klaim Romawi Timur terhadap pewarisan Romawi ditentang di Barat pada masa Maharani Irene dari Athena karena pengangkatan Karel yang Agung sebagai Kaisar Romawi Suci pada tahun 800 oleh Paus Leo III, yang memandang takhta Romawi kosong (tidak ada penguasa laki-laki). Paus dan penguasa dari Barat lebih menyukai istilah Imperator Romani daripada Imperator Romanorum, gelar yang digunakan hanya untuk Karel yang Agung dan penerus-penerusnya.[14]

Dalam atlas-atlas sejarah modern, kekaisaran ini biasanya dijuluki Kekaisaran Romawi Timur pada periode antara 395 hingga 610. Pada peta-peta yang menggambarkan Kekaisaran setelah tahun 610, istilah Kekaisaran Bizantium biasanya dipakai karena pada tahun 620 kaisar Heraklius mengganti bahasa resmi kekaisaran dari Latin ke Yunani.[17]

"Kekaisaran Romawi Timur bisa didefinisikan sebagai kekaisaran multi-etnis yang muncul sebagai kekaisaran Kristen, yang kemudian segera terdiri dari kekaisaran Timur yang sudah di-Helenisasi dan mengakhiri sejarah ribuan tahunnya, pada 1453, sebagai Negara Ortodoks Yunani: Sebuah kerajaan yang menjadi negara, hampir dengan arti modern kata tersebut".1

Dalam abad-abad setelah penjajahan Arab dan Langobardi pada abad ke-7, sifat multi-etnisnya (meski bukan multi-bangsa) tetap ada meskipun bagian-bagiannya, Balkan dan Asia Kecil, mempunyai populasi Yunani yang besar. Etnis minoritas dan komunitas besar beragama lain (misalnya bangsa Armenia) tinggal dekat perbatasan. Rakyat Romawi Timur menganggap diri mereka adalah seorang Ρωμαίοι (Rhomaioi - Romawi) yang telah menjadi sinonim bagi seorang Έλλην (Hellene - Yunani), dan secara giat mengembangkan kesadaran diri sebagai negara, sebagai penduduk Ρωμανία (Romania, yang merupakan panggilan bagi Negara Romawi Timur dan dunianya). Hal ini secara jelas tampil dalam karya sastra pada periode tersebut, terutamanya dalam wiracarita seperti Digenes Akrites.

Pasukan Romawi ketika itu telah berhasil menguasai daerah luas yang melingkupi seluruh wilayah Mediterania dan sebagian besar Eropa Timur. Wilayah-wilayah ini terdiri dari berbagai kelompok budaya, baik yang masih primitif maupun yang telah memiliki peradaban maju. Secara umum, provinsi-provinsi di wilayah Mediterania timur lebih makmur dan maju karena telah mengalami perkembangan pesat pada masa Kekaisaran Makedonia serta telah mengalami proses hellenisasi. Sementara itu, provinsi di wilayah Barat kebanyakan hanya berupa pedesaan yang tertinggal. Perbedaan antara kedua wilayah ini bertahan lama dan menjadi penting pada tahun-tahun berikutnya.[18]

Pada tahun 293, Diokletianus menciptakan sistem administratif yang baru (tetrarki)[19] sebagai institusi yang dimaksudkan untuk mengefisienkan kontrol Kekaisaran Romawi yang luas. Ia membagi Kekaisaran menjadi dua bagian, dengan dua kaisar memerintah dari Italia dan Yunani, masing-masing memiliki wakil-kaisar. Setelah masa kekuasaan Diokletianus dan Maximianus berakhir, tetrarki runtuh, dan Konstantinus I menggantinya dengan prinsip penggantian turun temurun.[20]

Konstantinus memindahkan pusat kekaisaran, dan membawa perubahan-perubahan penting pada konstitusi sipil dan religius.[21] Pada tahun 330, ia mendirikan Konstantinopel sebagai Roma kedua di Byzantium. Posisi kota tersebut strategis dalam perdagangan antara Timur dan Barat. Sang kaisar memperkenalkan koin (solidus emas) yang bernilai tinggi dan stabil,[22] serta and mengubah struktur angkatan bersenjata. Di bawah Konstantinus, kekuatan militer kekaisaran kembali pulih. Periode kestabilan dan kesejahteraan pun dapat dinikmati.

c80f0f1006
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages