Mengikat Makna Hernowo Pdf Download

0 views
Skip to first unread message
Message has been deleted

Fanny Lococo

unread,
Jul 12, 2024, 12:33:17 AM7/12/24
to absefema

Salah-satu hal penting dari mengikat makna adalah ia mengikat apa yang kita baca menjadi sesuatu yang kongkrit. Gagasan mengikat makna sendiri berarti kita menuliskan apa yang kita baca ke dalam sebuah artikel. Mengikat makna adalah proses yang 'selfish' bukan dalam arti arogan melainkan kita menjadi individu yang sendiri dalam menuliskan apa yang kita baca. 'Selfish' berarti kita memusatkan diri dalam ego kita.

Mengikat Makna Hernowo Pdf Download


Download File https://ckonti.com/2yLJQu



Gagasan "mengikat makna" datang dari almarhum Hernowo Hasim, mantan CEO Penerbit Mizan, Bandung. Menurut Hernowo --yang meninggal bulan Puasa 2018 lalu- mengikat makna adalah sebuah upaya mengenali dan berdialog dengan diri sendiri. Menulis sesungguhnya merupakan upaya berdialog dengan pikiran kita sendiri. Menulis sebenarnya bukan tindakan yang sepi, tapi dalam menulis kita diajak untuk memahami diri kita sendiri. Ada interaksi antara pikiran kita di otak. Menulis sesungguhnya tindakan yang membebaskan.

Menulis sesungguhnya adalah tindakan kita berdialog dengan pikiran kita sendiri. Kenapa orang suka menulis dalam keadaan sepi? Karena dalam ketenangan dan kesepian itu kita bisa menemukan hakikat diri. Ini berbeda ketika kita melebur dengan keramaian. Kita tidak bisa menjadi individu yang utuh di tengah keramaian.

Keramaian meleburkan identitas kita. Walaupun manusia adalah makhluk sosial, namuan kadang suatu waktu kita perlu pergi dari keramaian untuk berkontemplasi. Orang-orang besar sering melakukan itu. Nabi Muhammad SAW sebelum menjadi nabi secara rutin pergi ke Gua Hira untuk berkontemplasi. Menjauhkan diri dari khalayak ramai yang meracuni kita dengan berbagai macam hal.

Menulis yang baik adalah mengeluarkan orisinalitas pikiran kita. Selama ini pembelajaran menulis kita di sekolah dan perguruan tinggi cenderung membelenggu. Kita harus mengikuti sekian banyak aturan dalam menulis. Hal ini semacam sudah kuno. Menulis adalah sebuah seni. Untuk rancak menulis kita membutuhkan berbagai macam alat (tools) seperti kemampuan menguasai tata bahasa, gaya bahasa, koherensi, dan lain sebagainya. 'Alat-alat' menulis tersebut harus kita kuasai sebelum menghasilkan tulisan yang indah dan bernas. Dalam menulis kita harus menguasai ilmu menulis. Dan dalam hal ini, almarhum Hernowo adalah jagonya.

Aturan---aturan dalam menulis sebenarnya dibuat untuk memudahkan. Para ahli bahasa telah merumuskan aturan-aturan dalam menulis agar tercipta tulisan yang bagus. Namun hal itu kini sudah ketinggalan zaman. Beberapa pakar pembelajaran menulis seperti Natalie Goldberg, Tony Buzan, Joyce Wycoff, dan Gabrielle Lusser Rico telah menemukan berbagai macam metode untuk mempelajari menulis.

Wycoff dan Rico memperkenalkan teknik membuka pikiran yang diambill dari teknik memetakan pikirannya Tony Buzan. Rico memperkenalkan apa yang disebut sebagai teknik clustering. Teknik pemetaan pikiran Tony Buzan cukup ampuh untuk memudahkan kita menulis. Menurut Buzan, dengan pemetaaan pikiran kita seperti mengeluarkan neuron-neuron terkecil dalam otak kita.

Berbagai metode pun diciptakan. Dalam bukunya Mengikat Makna Update, Hernowo menulis beberapa definisi menulis, seperti mengikat, mengonstruksi, menata, memproduksi, menggambarkan atau menampakkan, mengeluarkan, menggali, menjabarkan, membuang, dan membagikan.

Ada pula yang disebut brain-based writing, yakni menulis dengan memberdayakan kedua belah otak. Dengan memberdayakan kedua belah otak --otak kiri dan kanan- kita akan mencapai hasil maksimal dalam menulis. Brain-based writing berarti menyinergikan kedua potensi otak dalam diri kita. Otak kiri bersifat linear, rasional dan logis. Otak kiri lebih rigid dan kaku. Sedangkan otak kanan menyimpan kreativitas, lebih luas, dan membawa cita rasa seni.

Salah-satu cara lagi untuk menulis adalah dengan free writing atau menulis bebas. Caranya dengan berlatih menulis setiap hari tanpa memperhatikan aturan dalam menulis. Free writing seperti yang disarankan oleh Peter Elbow merupakan sarana untuk membebaskan kreativitas dalam menulis. Menulis perlu kreatif, bukan hanya mematuhi aturan-aturan saja.

Semula saya kenal Pak Hernowo melalui karya-karyanya. Hingga suatu saat, saya mendirikan sebuah komunitas menulis dan Pak Hernowo saya minta menjadi penasihat. Dari situ, saya tahu betapa gigih perjuangan Pak Hernowo menghidupkan budaya literasi. Terlebih, beberapa kali pula saya satu panggung sama Pak Hernowo dalam sebuah acara kepenulisan.

Dalam membaca ngemil, ada kegiatan membaca lantang (reading aloud) yang dilakukan secara perlahan-lahan dan cara membacanya diupayakan agar selain ingin menemukan sesuatu yang penting dan berharga dari teks yang dibaca, pembaca diharapkan juga ada keinginan untuk belajar dari teks yang ditulis oleh seorang penulis mumpuni. Karena membacanya hanya sedikit, tentu upaya ke arah menemukan makna dan proses belajar itu pasti dapat dilakukan.

Jadi, mengikat makna, selain akan melatih seseorang untuk meningkatkan kemampuan memahami dan menyampaikan pemahaman secara tertulis (inilah inti prinsip berkomunikasi secara baik itu), juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan membaca sekaligus menulis.

Selamat mencoba. Menurut Pak Hernowo, berkat konsep mengikat makna ini dia berhasil membaca buku yang tak terhitung banyaknya. Lebih dari itu, dia berhasil memproduksi buku dalam jumlah 37 selama 17 tahun. Pak Hernowo tetap memiliki semangat dan gairah untuk membaca dan menulis buku hingga ajal menjemputnya pada Kamis, 24 Mei 2018. Pak Hernowo meninggalkan kita dalam usia 60 tahun. Bahkan, menjelang wafat, Pak Hernowo tengah menyelesaikan buku yang ke-38.

Mas Hernowo tak hanya bicara tentang keterampilan baca-tulis; lebih dari itu, dia terutama bicara tentang sebuah kehidupan yang bermakna. Saya kira tidak berlebihan mengatakan beliau demikian. Karena saya banyak belajar perihal bagaimana memahat huruf yang baik dan benar darinya.

Saya buka kembali buku kitab suci tentang bagaimana cara menulis juga membaca yang baik. Betul, buku kitab suci saya itu berjudul "Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza" dan "Mengikat Makna Update". Keduanya karya Mas Hernowo. Salah satu mentor di dalam saya belajar menulis yang begitu sangat saya hormati karena saya begitu banyak belajar dan mendapat ilmu dari buku karya-karyanya!

Pada buku pertama saya jadi ingat diajarkan oleh beliau bagaimana cara menyerap gizi dari sebuah buku secara maksimal. Tidak sekadar membaca saja. Membaca adalah kegiatan "active reading". Diusahakan mampu menggali setiap makna tentang sesuatu yang sudah dibaca, lalu saat membaca jangan pernah melewatkan sebuah istilah atau kata yang tidak dimengerti, dan ambillah jeda saat melakukan kegiatan membaca agar mampu menangkap dan mengikat makna yang lengkap dari kegiatan membaca. Dengan menuliskannya kemudian.

Itulah sabda pertama dari mas Hernowo tentang bagaimana cara membaca yang baik. Yang disampaikan di dalam buku "Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza". Bagaimanapun membaca adalah cara paling efektif belajar menulis.

Kemudian dilanjutkan dengan membaca kitab suci kepenulisan saya yang kedua yaitu buku berjudul "Mengikat Makna Update". Di dalam buku ini, mas Hernowo memberikan sebuah petunjuk pentingnya membuat sebuah peta pemikiran, lazim kemudian disebut membuat sebuah mind mapping akan setiap topik dan tema yang hendak ditulis.

Tidak cukup di situ saja. Esensi dari isi buku ini, adalah bahwa menjadi penting setiap pembaca buku itu mampu menuliskan kembali dengan bahasanya sendiri, tentang isi buku yang sudah dilahap, dipahaminya dengan baik. Kegiatan ini adalah ritual wajib yang harus dilakukan oleh seorang penulis. Tanpa melakukan ritus ini lupakan mau menjadi penulis.

Disampaikan juga bahwa secara mendasar ada 4 pilar utama di dalam kegiatan "mengikat makna" itu sendiri. Pertama kegiatan mengikat makna adalah memadukan kegiatan membaca dan menulis. Kedua, mengikat makna adalah kegiatan personal melibatkan diri pribadi yang paling terdalam saat membaca dan kemudian mengikat ilmunya dengan membuat tulisan yang baru. Ketiga, mengikat makna memerlukan kontinuitas dan konsistensi karena mengikat makna layaknya sebuah keterampilan yang kudu dilatih terus menerus. Keempat, mengikat makna akan efektif bila menggunakan teknik membaca dan menulis yang berbasis kan kerja otak yang disebut sebagai "brain based writing". Lakukan kegiatan menulis menggunakan otak kanan yang kreatif lalu edit lah kemudian dengan otak kiri yang runtut, urut, cara kerjanya!

Saya kira meski dengan terbata. Pagi ini saya membaca kembali. Lembar demi lembar isi kedua buku kitab suci kepenulisan saya di atas. Dan kemudian ditutup bukunya, dan maknanya coba saya panggil lalu tulis ulang kembali sepemahaman yang mampu saya ikat maknanya. Yaitu tulisan ini.

Buku ini memanfaatkan sebuah model sinergi empat pilar komunikasi dalam satu paket kegiatan yang disebut mengikat makna untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan mengalirkan pesan secara tertulis. Selain itu didemontrasikan pula efek dahsyat mengikat makna lewat praktik membaca lantang dan membaca ngemil, menyimak secara aktif serta menulis mengalir bebas untuk menyinarkan tekanan pikiran dan membuang berbagai emosi negatif

Pada buku ini mengajarkan pembacanya untuk menulis. Menulis adalah sebuah proses mengikat makna. Menulis dapat membantu seseorang mengenali diri,pikiran, perasaan, dan apapun yang bergejolak. Menulis akan menyatukan pikiran, hati dan tangan guna menuliskan apa yang diinginkan. Entah itu menulis karangan, buku harian, puisi, dan lain-lain.

Secara langsung, buku ini mengajarkan bagaimana menulis karya-karya resensi buku yang menarik dari para remaja. Hernowo telah berhasil menyemangati para pembacanya terutama remaja untuk aktif membaca dan menulis dengan cara yang fun. Dalam buku ini juga terdapat langkah-langkah mudah membaca dan menulis yang membuat diri lebih bermakna. Sungguh buku yang sangat pantas untuk dibaca.

7fc3f7cf58
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages