Filmini mengambil genre religi. Menceritakan tentang Syamsul Hadi, pemuda yang ingin menuntut ilmu di salah satu pesantren di Kediri. Perjalanan pertamanya menuju pesantren mempertemukannya dengan Zizi, wanita yang duduk di sebelahnya saat berada dalam bus dan diselamatkannya dari pencopet.
Bukan kebetulan, Zizi adalah putri dari kiai pondok pesantren tempat Syamsul menimba ilmu. Tanpa sadar, mereka saling menyimpan perasaan. Suatu ketika, Burhan dengan sengaja memfitnah Syamsul dengan dalih tak menyukai hubungan antara Syamsul dan Zizi. Tidak ada yang mempercayai Syamsul, bahkan keluarganya sendiri, dia diusir dari pesantren dan rumahnya.
Syamsul pergi tak tahu arah, dia menjadi pencopet untuk memenuhi kehidupannya, sampai Allah memberinya hidayah kembali ke jalan yang benar. Kehidupannya berubah ketika dia bertemu dengan Silvie, dia menjadi pria yang bermartabat, menjadi seorang ustad dan namanya terkenal di mana-mana. Tapi sayang, saat dia memutuskan untuk menikah dengan Silvie, kemalangan terjadi, Silvie mengalami kecelakaan yang membuatnya meregang nyawa.
Tuhan Maha Mengetahui, kebenaran tentang fitnah yang diterima Syamsul terbongkar, dalam keterpurukannya setelah kehilangan Silvie, dia disatukan kembali dengan keluarganya. Perlahan Syamsul mulai mengobati keterpurukannya dengan kembali membuka hati untuk perempuan yang selalu ada dan bertekad untuk membongkar kebenarannya, Zizi.
Pengemasan cerita dan alur yang sangat menarik. Kisah Syamsul banyak memberikan pelajaran bahwa hidayah adalah rezeki tiada terkira yang Tuhan berikan. Sosok Syamsul memiliki karakter dan pendirian yang kuat, meski apa yang dilakukannya salah, tapi dia tetap memiliki niat untuk mengembalikan semua uang yang dia peroleh dari mencopet tanpa menguranginya sedikitpun. Juga sifat jujurnya yang tidak ingin menutupi masa lalunya pada calon istrinya.
Film ini juga mengajarkan tentang arti kepercayaan dan kesetiaan. Tentang perjuangan Zizi, ibu dan adik Syamsul dalam mencari dan berusaha membersihkan nama baik Syamsul. Bukan hanya itu, dari film ini menyorot pada masyarakat yang mudah sekali menghakimi sesuatu dan percaya pada hal-hal yang belum diselidiki kebenarannya.
Film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton setiap kalangan. Meski sudah tergolong dalam film lama, tapi masih sangat selaras dengan kehidupan saat ini. Dalam Mihrab Cinta mengajarkan tentang kepercayaan, kesetiaan, kerja keras, dan cinta dari Sang Maha Cinta yang tidak pernah putus selama kita percaya.
Film ini bergenre drama. Para pemain film ini adalah pemain-pemain yang sudah malang melintang di dunia perfilman, yaitu: Dude Harlino, Asmirandah, Meyda Sefira, Tsania Marwa, Boy Hamzah, El Manik, Niniek L Karim, Elma Theana, Umar Lubis, Neno Warisman, Iszur Muchtar, Berliana Febrianti, Kaharudin Syah
Tahun 2010 Film berjudul "Dalam Mihrab Cinta" ini menjadi salah satu film bertema religi yang banyak ditonton. Dengan pemain -- pemain hebat sekelas Dude Herlino, Asmirandah, Meyda Safira, film ini menyedot penoton kurang lebih 623.105 penonton pada tahun 2010.
Pada saat perjalanan di kereta dia menolong seorang perempuan yang akan dijambret bernama Zizi (Meyda Sefira) puteri seorang pendiri pesantren. Akhirnya Syamsul menjadi santri di pesantren tempat orang tua Zizi. Di pesantren ini dia terusir karena dituduh mencuri akibat fitnah sahabatnya sendiri Burhan (Boy Hamzah). Dia dipukuli dan dikeluarkan dari pesantren.
Syamsul terpukul saat anggota keluarganya sendiri tidak memperrcayainya dan ikut menghukumnya. Hanya adik dan ibunya yang mempercayai jika. Syamsul tidak mencuri. Akhirnya Syamsul pergi dari rumah menuju kota Semarang. Demi mencukupi kebutuhan hidupnya, Samsul bekerja menjadi pencopet. Namun naas, baru sekali mencopet Syamsul tertangkap dan dipenjara. Dia disatukan dengan tahanan lain yang mengajarkan tentang kejahatan sehingga dia lebih pandai mencopet.
Dari dompet yang diambilnya, Samsul mengetahui jika Burhan, sahabatnya di pesantren yang tega mengkhianatinya, Dorongan membalas dendam melalui gadis tersebut. Rencana mengunjungi gadis tersebut mengantarkannya menjadi ustad di sebuah rumah. Allah memberikan jalan baginya untuk bertobat dan mempertemukannya dengan Syilvie (Asmirandah) seorang gadis soleha.
Batin Syamsul bergulat antara pilihan untuk menjadi orang baik yang sangat sangat berat. Namun, saat orang-orang di sekitarnya memberikan kepercayaan, Syamsul yakin bahwa kebaikan itu ada dalam dirinya.
Ibu Syamsul sangat terpukul saat Syamsul menghilang. Zizi sahabat santriwatinya yang selalu percaya pada kebaikan hati Samsyul selalu rutin mengunjungi ibu Syamsul untuk menguatkan hatinya. Kemudian Syamsul terbukti tak bersalah dan kembali ke dalam keluarganya. Kini Syamsul bingung harus memilih dua orang gadis saleha yang sama-sama menyukainya.
Film ini sangat mudah ditebak alurnya. Konflik yang dibuatnya pun tidak tajam sehingga bisa saja menimbulkan kejenuhan. Tidak ada kejutan-kejutan dalam alur ceritanya. Film "Dalam Mihrab Cinta" menggambarkan tentang kenyataan hidup sosial masyarakat yang mudah terhasut saat ada fitnah menimpa seseorang tanpa dibuktikan kebenarannya.
Film ini memang sarat tentang nilai moral yang kental, antara lain: ketika Zizi memandang Syamsul yang berwajah gondrong sehingga kita diantarkan pada pesan moral agar tidak melihat penampilan fisik seseorang saja. Tokoh Syamsuk yang dikhianati oleh sahabatnya sendiri memberikan nilai dan nasihat agar tidak terlalu percaya kepada orang lain meskipun sahabatnya semdiri. Nilai moral yang utama adalah jangan memfitnah orang lain karena fitnah dapat menimbulkan sesuatu yang dahsyat dalam hidup seseorang yang difitnahnya. Ibarat pepatah fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
Jurnal Sastra Indonesia is published by the Department of Indonesian Language and Literature, Universitas Negeri Semarang, supported by the Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta pengajarnya, three times a year. Jurnal Sastra Indonesia has a focus on:
Research, consisting of scientific reports that increase knowledge about literature in general, the branch of literature, linguistics, and the branch of linguistics. The Indonesian Literature Journal contains articles that report the results of quantitative or qualitative research studies.
Conceptual Ideas, publishing articles that are conceptually relevant to advancing literature in general, literary, linguistic, and linguistic branches, etc. Articles can take advantage of theories / or material developed in literature and linguistics that are studied in depth.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk transformasi makna simbolik mihrab dalam novel dan film Dalam Mihrab Cinta. Penelitian ini menggunakan pendekatan ekranisasi dan Semiotik Riffaterre. Terdapat perbedaan pada hasil pemaknaan simbolik mihrab antara novel dan film karena fokus cerita yang juga berbeda, meski keduanya bermuara pada makna yang sama. Hasil transformasi menimbulkan adanya penciutan, penambahan dan perubahan bervariasi. Makna simbolik mihrab pada novel dan film diartikan sebagai pejalanan pencarian jati diri Syamsul untuk menjadi orang yang ditakdirkan baik oleh Allah, dengan mendekatkan diri kepada-Nya. Hal itu didasarkan pada hasil pembacaan heuristik, hermeneutiknya.
This study aims to determine the form of transformation of symbolic meaning mihrab in novel and film. This research use approach of ekranisasi and Semiotik Riffaterre. There is a difference in the meaning of mihrab between novels and movies because the focus of the story is also different, although both boils down to the same meaning. The result of the transformation caused the shrinkage, addition and varied change. The symbolic meaning of mihrab in novels and films is defined as the quest for the identity of Syamsul in order to be a person who is destined well by Allah, by drawing closer to Him. It is based on the result of heuristic readings, hermeneutics.
Syamsul ( Dude Harlino) pemuda 20-an bertekad menuntut ilmu di sebuah pesantren di Kediri, meninggalkan kehidupannya yang cukup nyaman. Di sini ia bertemu dengan Zizi ( Meyda Sefira), putri pemilik pesantren yang pernah ditolongnya ketika dijambret di kereta, yang membuat mereka jadi dekat. Di pesantren ini dia terusir karena dituduh mencuri akibat fitnah sahabatnya sendiri Burhan ( Boy Hamzah).
Saat pulang ke rumah, keluarganya sendiri juga tidak mempercayainya. Akhirnya Syamsul kehilangan kepercayaan diri. Ia meninggalkan rumahnya di Pekalongan menuju Semarang. Tanpa bekerja, maka ia pun benar-benar menjadi seorang pencopet untuk bertahan hidup.
Baru sekali mencopet, tindakannya diketahui massa yang kemudian menghajarnya. Berita tertangkapnya Syamsul di koran semakin membuat ayahnya tidak percaya pada Syamsul. Lepas dari penjara, yang mempertemukannya dengan penjahat kelas kakap, Syamsul lebih pintar mencopet.
Dari dompet yang dicopetnya, Syamsul mengetahui bahwa Burhan ternyata memiliki tunangan di Jakarta. Dorongan membalas dendam melalui gadis tersebut. Rencana mengunjungi gadis tersebut mengantarkannya menjadi ustad di sebuah rumah. Di tengah kekacauan dan kegelapan hidupnya inilah, Allah memberikan jalan baginya untuk bertobat dan mempertemukannya dengan Syilvie ( Asmirandah) seorang gadis soleha.
Perjuangan dan pergulatan batin Syamsul dalam menjadi orang baik sangat berat. Namun, ketika orang-orang di sekitarnya memberikan kepercayaan penuh, Syamsul menyakini kebaikan itu memang ada dalam dirinya.
Hidup tak selamanya indah, saat Syamsul menghilang Zizi yang selalu percaya pada kebaikan hati Samsyul secara rutin mengunjungi ibu Syamsul untuk menguatkan hatinya. Takdir yang akhirnya mempersatukan kembali Syamsul pada keluarganya. Lantas, dilema melanda saat Syamsul harus memilih antara Syilvie ataukah Zizi yang bakal jadi pendamping hidupnya.
Alur film ini sangat lunak sehingga mudah ditebak. Ini bisa menimbulkan kejenuhan, karena semua mendapat posisi yang jelas. Percakapan pun kemungkinannya sangat mudah ditebak. Keindahan setiap kota dirangkum baik oleh sutradara.
3a8082e126