MOCHTAR NAIM; MINANGKABAU DAN DUNIA MELAYU'

111 views
Skip to first unread message

Mochtar Naim

unread,
Jan 23, 2016, 12:10:04 AM1/23/16
to Rant...@googlegroups.com
 
 
 
MINANGKABAU
DAN DUNIA MELAYU
 
Disampaikan pada Simposium Diaspora Minang:
Sejarah, Budaya dan Teknologi serta Seni Bina,
Di Politeknik Port Dickson, Negeri Sembilan,
Faculty of Built Environment,
UTM (Universiti Teknologi Malaysia), Johor Bahru,
Malaysia, 26-27 April 2014
 
 Mochtar Naim
 
I
Pengantar
 
M
INANGKABAU adalah bahagian dari Dunia Melayu, sebagaimana sekian banyak lainnya di Asia Tenggara ini yang tergolong ke dalam suku ataupun bangsa Melayu, yang jumlahnya tidak kurang dari 300 juta jiwa seluruhnya. Suku Melayu ini merupakan kelompok mayoritas di kawasan Nusantara dan Semenanjung Melayu dan Filipina. Ada minoritas Melayu di Thailand, terutama di Pattani di bagian Selatan, di Kambodya, di Myanmar, di Sri Langka, dan bahkan di Madagaskar, di Suriname, lalu di kepulauan Pasifik. Suku Melayu yang tadinya menguasai Singapura di bawah Kerajaan Temasek sekarang jadi minoritas di negerinya sendiri di bawah kekuasaan Cina perantau. Juga begitu di Filipina yang secara demografis mayoritas penduduknya adalah tergolong pribumi Melayu tetapi secara politis, ekonomi dan bahkan sosial-budaya dikuasai perantau Cina.
     Indonesia kontemporer sekarang ini kelihatannya juga menuju ke arah itu; walau mayoritas terbesar penduduk adalah pribumi Melayu, serta suku2 di Papua, Maluku dan NTT yang non-Melayu, tetapi ekonominya juga didominasi atau bahkan dikuasai oleh penduduk non-pri Cina. Seperti di Filipina dan Singapura, dari penguasaan ekonomi lalu menjurus ke arah penguasaan politik dan sosial-budaya, sedang jumlah penduduk non-pri Cina sangat kecil sekali – sekitar 2% -- sementara di Malaysia penduduk Cina di atas 25 %, di Filipina 2 %.
Di Malaysia untung ada Mahathir yang sejak awal 1970an memberi peluang lebih besar kepada bumi-putera Melayu untuk berkiprah dalam mengangkatkan diri dari keterbelakangannya yang juga didukung sepenuhnya oleh pemerintah Malaysia. Ribuan mahasiswa Melayu dikirim tiap tahun bersekolah ke luar negeri untuk mempercepat terkejarnya ketinggalan di bidang pendidikan yang efek multiplairnya menjurus kepada terbukanya usaha lain2nya. Sekarang orang Melayu di Malaysia tidak hanya di pedesaan menggarap pertanian dan perkebunan tetapi juga di bidang industri, bisnis dan teknologi di perkotaan – walau Cina masih dominan.
Indonesia sampai sekarang ini kelihatannya belum ada usaha yang sama ke arah itu. Indonesia tidak punya tokoh seperti Mahathir yang mendahulukan kepentingan pribumi dalam mengejar segala ketinggalannya. Kelompok birokrat-aristokratik
 
penguasa pribumi cenderung memanfaatkan peluang mempergemuk diri dengan bekerjasama dengan pengusaha non-pri Cina dalam mengelolakan ekonomi NKRI ini yang potensi sumberdaya alamnya termasuk terkaya di dunia. Korupsi, kolusi dan nepotisme yang merajalela sejak Orde Baru sampai sekarang ini adalah dan hanyalah konsekuensi logis dari hasil kerjasama yang mesra antara kelompok penguasa pribumi dan pengusaha non-pri Cina itu. Kelompok penguasa pribumi makanya lebih memberi peluang kepada pengusaha-konglomerat non-pri Cina dalam menggeluti usaha2 di bidang ekonomi, perdagangan dan industri, ketimbang memberi peluang kepada kelompok pribumi seperti yang dilakukan oleh penguasa pribumi Melayu di Malaysia itu. Pemerintah dan penguasa NKRI sejauh ini lebih memikirkan percepatan pertumbuhan angka2 statistik ekonomi per tahunnya daripada memikirkan bagaimana kelompok pribumi yang merupakan pewaris yang sah dari Republik ini terlepas dari kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan. Sekarang saja kelompok pengusaha konglomerat non-pri Cina di Indonesia telah menguasai kegiatan ekonomi, bisnis dan industri, dari hulu sampai ke muara, di darat, laut dan udara. Mereka, seperti di Fipilina, mulai bergerak ke bidang politik dan sosial-budaya. Yang jadi alasan, seperti dikemukakan di awal Orde Baru oleh para pakar ekonomi lulusan Berkeley (Berkeley Mafia), pendukung Suharto, adalah: “Seratus tahunpun diberi peluang kepada penduduk pribumi untuk menyelesaikan kemelut ekonomi yang ditinggalkan oleh Sukarno, tidak akan berhasil, karena mereka tidak punya budaya bisnis-entrepreneurial, seperti yang dimiliki oleh non-pri Cina. Makanya mau tak mau kita mengandalkan kepada kelompok konglomerat non-pri Cina untuk menyelamatkan dan mengangkatkan ekonomi Indonesia yang ditinggalkan oleh Sukarno yang sudah di ambang kehancuran itu.”
 
II
Melayu Proto dan Deutero
 
     Suku Melayu ini secara antropo-etnografis, pertama, terbagi dua: Melayu Proto (Tua) dan Melayu Deutero (Muda). Yang tua seperti Batak, Nias, Mentawai, Enggano, Kubu, Dayak, dan suku2 Melayu di Filipina Utara; dan yang muda seperti yang lain2nya, termasuk Minangkabau ini. Melayu Proto yang menjadi inceran kristenisasi kebanyakan sekarang Kristen atau masih animis, sementara Melayu Deutero: Islam.
     Ada yang mengatakan kedua-duanya berasal dari Asia Belakang, yakni daratan Asia Tenggara, yang ada unsur Mongoloidnya. Yang Proto lebih dahulu datang ke Nusantara dari yang Deutero. Ada yang datang melalui Semenanjung Melayu, turun ke Sumatera dan Jawa, dan pulau2 lainnya di bagian Tengah dan Timur. Lalu ada pula yang datang melalui Korea ke Filipina, ke pulau2 lainnya di Nusantara. Tapi ada pula yang mengatakan, yang Proto, asli autokton di Nusantara, hanya yang Deutero yang bergerak bermigrasi dari Asia Belakang. Lalu ada pula teori Kon Tiki dari Thor Heyerdahl yang memperkirakan bahwa orang Melayu, seperti orang2 di Polinesia, berasal dari suku2 asli di Amerika Selatan, serumpun dengan orang2 Indian yang ada di Amerika Latin itu. Mereka bergerak dengan perahu2 Kon Tiki ke pulau2 di Pasifik, dan ada yang lanjut ke Asia Tenggara ini.
     Semua ini apakah fakta atau legenda atau mitos dan cerita belaka, kita tidak tahu. Kabut tebal sejarah ke masa lalu menyelimutinya yang makin ke belakang makin tebal dan gelap. Kita serahkanlah kepada para ahlinya untuk menggelutinya. Cerita2 yang
 
bersifat legenda yang juga tertuang dalam Tambo sendirinya juga tidak kurangnya menghiasi cerita masa lalu itu. Dan masing2 suku Melayu itu punya legenda sendiri2. Suku Melayu Minangkabau misalnya mengaitkan asal-usulnya ke Gunung Merapi ketika masih sebesar telur itik. Ketika galodo Nabi Nuh di mana yang kelihatan hanya puncaknya, tiga orang bersaudara dari anak2 Sultan Iskandar Zulkarnain, atau Alexander the Great,  dari Masedonia, berlayar ke arah pulau Perca di Nusantara ini. Yang satu turun di puncak Gunung Merapi, yang satu terus ke timur ke Tiongkok, dan yang satu lagi kembali ke Benua Ruhum.
Dengan surutnya air, merekapun turun, ke Sawah Setampang Benih, ke Langgundi nan Baselo, kira2 di Pariangan-Sungai Jambu sekarang. Dst, dst. Dengan perkembangan penduduk, dari Taratak jadi Dusun, Dusun jadi Koto dan Koto jadi Nagari. Dan Nagaripun menjadi Luhak nan Tigo yang seterusnya juga berkembang ke Rantau, ke Barat ke Pesisir Pariaman, Padang dan Pesisir Selatan, yang kemudian juga sampai ke Muko2 dan Bangkahulu di Selatan dan ke Pasaman, Air Bangis, Natal, Sibolga, Singkil, Tapak Tuan, dan terus ke utara ke sepanjang pantai barat Aceh, ke daerahnya Anak Jameu sekarang ini. Belum pula yang turun ke pantai Timur, di Riau, Jambi dan Sumatera Selatan sekarang ini serta ada pula yang melintas ke Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Pahang dan Selangor di Malaysia sekarang ini. Dengan proses migrasi yang terus berlanjut sampai sekarang ini, akhirnya orang Minang bisa ditemukan di mana saja, baik di Nusantara, di Dunia Melayu sampai ke Manca Negara sekalipun. Diaspora orang Minang ini hanya bisa ditandingi oleh orang Yahudi yang juga bertebaran ke mana-mana di dunia ini, di samping juga orang Cina. Orang Minang, seperti juga orang Yahudi dan Cina, hanya memilih kota2 (urban oriented migration), di bidang perdagangan dan jasa, dan tidak desa2 (rural oriented migration), di bidang pertanian dan nelayan, seperti orang Jawa dan Bugis-Makasar. Profesi mereka sendirinya banyak2 di bidang perdagangan, terutama yang menengah ke bawah, di pasar2 dan kaki lima; sementara yang menengah ke atas diborong habis oleh orang Cina dan di bidang industri dasar oleh para kapitalis Barat dengan bekerjasama dengan konglomerat Cina. Orang Minang melalui proses pendidikan juga bergerak di bidang jasa dan sivil, swasta maupun pemerintah. Satu hal yang istimewa: budaya kuliner yang menyebabkan warung nasi Padang ditemukan berjejer sejak dari Aceh sampai ke Papua, di semenanjung Malaysia dan Singapura, dan di kota2 di Australia dan bahkan beberapa di Eropah dan Amerika. Rendang Padang akhirnya mencapai puncaknya yang dinyatakan sebagai “masakan terenak” di dunia.
 
III
Kenapa bernama Minangkabau
 
     Kenapa maka bernama “Minangkabau,” itupun ada legendanya, yang larinya ke masa Majapahit mau memperluas daerah kekuasaannya ke pulau Sumatra. Karena cerdiknya orang Minang, peperangan dialihkan ke adu kerbau. Pada waktu yang telah ditentukan, orang Jawa membawa kerbau jantan, besar dan garang, sementara orang Minang membawa anak kerbau yang masih erat menyusu, dan dikandangkan beberapa hari tidak disusui. Dua2 dilepas di medan laga, yang kerbau Minang langsung menyerbu dan menyeruak mencari puting susu dari kerbau Jawa itu, yang mengira induknya. Kerbau Jawa yang besar dan kuat itu akhirnya rebah kena serudukan taji
 
yang dipasangkan di tempat tanduk akan tumbuh di kepala anak kerbau Minang itu. Semua dari kelompok Minang bersorak kegirangan, manang kabau, manang kabau! Watak cerdik orang Minang rupanya sampai ke sana, ke legenda itu. Intinya: mentang kecil tapi mana mau kalah.
IV
Sisi Tinjauan Sosiologinya
 
     Itu semua adalah cerita masa lalu yang penuh berkabut yang kita hanya pandai mengutip tapi tidak tahu benar-tidaknya. Sisi sosiologi dari orang Minang dalam kerangka Dunia Melayu ini bagi kita yang awam sejarah dan arkeologi ini mungkin akan lebih menarik, dan di jalur ini kita akan mencoba melihat bagaimana peranan orang Minang dalam Dunia Melayu itu.
     Dengan masuknya Islam ke Nusantara ini maka orang Melayu pun terbelah dua dalam sikapnya terhadap agama2. Ada yang sintetik ada yang sinkretik. Garis pemisahnya adalah Laut Jawa: utara Laut Jawa dan selatan Laut Jawa. Semua yang ada di utara Laut Jawa beraliran sintetik, termasuk Minangkabau, dan semua puak Melayu sampai ke Semenanjung, Thailand Selatan, Borneo Utara dan Filipina Selatan. Dan yang ada di selatan Laut Jawa, termasuk Jawa, Madura dan Sunda, berorientasi sinkretik. Tipis-tebalnya paham sintetisme-sinkretisme ini banyak dipengaruhi oleh tipis-tebalnya pengaruh agama dan budaya Hinduisme dan Budhisme yang masuk ke wilayah budaya masing2 sebelumnya. Jawa yang kental unsur Hinduisme dan Budhismenya, di samping unsur budaya primordial Jawa: Kejawen, memang cenderung berorientasi sinkretik dari sintetik, karena latar-belakang dari unsur budaya yang membentuknya itu.
     Di Jawa, karenanya, sikap yang menonjol adalah sinkretisme yang melihat semua agama sebagai sama (Jw: sadaya agami sami kemawon), sama baiknya dan sama benarnya, walau ajaran berbeda. Yang terjadi lalu adalah perbauran antara agama2 dengan tingkat toleransi yang tinggi, sehingga tidak hanya dalam masyarakat dan kelompok masyarakat yang sama, dalam keluarga yang samapun bisa dan biasa terjadi perbauran antar-agama. 
     Dengan mayoritas penduduk Indonesia adalah orang Jawa, dan pusat kekuasaan sejak semula ada di Jawa, kecenderungan sinkretisme Jawa ini juga masuk ke dalam sistem kenegaraan yang terefleksi ke dalam NKRI sekarang ini yang memang didominasi oleh kelompok berbudaya Jawa, baik sivil maupun militer. Kendati sila pertama Pancasila mengatakan: Ketuhanan Yang Maha Esa, dan kita tahu bahwa satu2nya agama yang berketuhanan YME adalah Islam, tetapi NKRI bukanlah negara Islam, tetapi negara yang belakangan dilambangkan dengan “Empat Pilar Kebangsaan,” yaitu: Pancasila, UUD1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika -- tapi yang kemudian dimahzulkan oleh MK (Mahkamah Konstitusi) kembali. Semua ini jelas menunjukkan kecenderungan orientasi budaya sinkretik tadi.
     Dalam masyarakat Melayu Luar Jawa, sebaliknya. Yang terjadi adalah sintetisme antara budaya primordial Melayu dan Islam, dengan prinsip, mana yang sesuai dengan Islam, diterima; yang tidak, dibuang. Itulah yang sekarang dibuhul ke dalam filosofi budaya: “ABS-SBK – Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah.” Biasanya dilengkapi lagi: “Syarak Mengata, Adat Memakai. Alam Terkembang Jadi Guru.” Dan dengan itu pula muncul adagium Melayu: DMDI – Dunia Melayu Dunia Islam.
 
Konsekuensinya, orang Melayu yang keluar dari Islam, dan pindah ke agama lain, dia juga berhenti jadi orang Melayu dan tidak lagi diterima dalam masyarakat Melayu. Artinya, dibuang sepanjang adat.
     Sinkretisme versus sintetisme juga berkaitan dengan sistem dan struktur sosial masyarakat Melayu: Jawa yang hirarkis-vertikal, aristokratik-feodal, sentripetal; Luar Jawa yang horizontal, egaliter, demokratik, sentrifugal. Ketika pentolan2 dari kedua belah pihak, Jawa dan Luar Jawa, akhirnya bertemu untuk bersama-sama memperjuangkan hapusnya penjajahan dan tegaknya Negara Indonesia Merdeka, di pentas sejarah itu kita melihat bagaimana kedua kelompok Melayu ini saling memperlihatkan ciri2 dari latar-belakang budaya yang berbeda yang membentuk watak dan karakter masing2, yang garis-besarnya berujung pada dikotomi budaya J (Jawa) yang sinkretik dan M (Melayu, Minang) yang sintetik itu. Lihatlah bagaimana wajah penampilan dari tokoh2 yang berbudaya Jawa, sejak dari Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantoro, sampai ke Sukarno, Supomo, Sastroamijoyo, dan sekian banyak o-o yang lainnya itu. Dan lihat pula, dan langsung bandingkan dengan yang dari Luar Jawa, khususnya Minangkabau, yang ber a-a, sejak dari Tan Malaka, Agus Salim, Hatta, Mohd Yamin, Syahrir, Natsir, Assaat, dsb. Baik secara sendiri2 maupun secara kolektif mereka memperlihatkan pantulan dari sifat2 budaya primordial mereka masing2, kendati semua mereka telah mendapat sepuhan budaya Barat melalui sekolah yang mereka masuki, yang ujungnya adalah dikotomi itu, yaitu J yang sinkretik, dan M yang sintetik.
V
Dunia Melayu Dunia Islam
 
Islam sendiri sekarang telah memasuki era gelombang ketiga dari perkembangan peradabannya, yang masing2 era itu berjalan selama lk tujuh abad. Ini sesuai dengan bunyi ayat: “Hari2 itu Kami peredarkan di antara manusia2 (Al Qur’an, Ali ‘Imran 140). Era gelombang pertama adalah sejak lahirnya Islam di sahara Arabia, di kota Makkah dan Madinah di abad ke 6-7 M, lalu menjalar ke berbagai negara, dan mencapai titik zenitnya di Kordoba di Spanyol dan Baghdad di Parsia, di abad ke 13-14. Sehabis-habis mendaki di zaman keemasannya, sampai di puncaknya, lalu meluncur, dan meluncur habis ke titik nadirnya, di gelombang kedua, selama lk 7 abad pula (abad 13-20), dengan seluruh dunia Islam berada di bawah kekuasaan dan penjajahan Barat. Baru mulai bangkit kembali setelah usainya Perang Dunia Kedua (1945) dengan terbebaskannya satu per satu negara2 Islam itu dari penjajahan Barat yang Keristen itu. Era gelombang ketiga ini diperkirakan juga akan berjalan selama 7 abad pula ke depan.
Sekarang Dunia Islam sedang mulai bangkit kembali untuk menuju zenitnya kembali. Dalam rangka itulah kita melihat di awal titik balik ini munculnya DMDI di Asia Tenggara ini. Waktu dan peluang sekarang berada di pihak mereka. Ummat Islam sekarang, sebagaimana yang lainnya, harus belajar banyak dari gelombang sejarah yang dilaluinya.
Inspirasi DMDI ini sebenarnya sudah bermula sejak sebelum Perang Dunia Kedua, di mana tokoh2 politik dan pujangga dari Indonesia, Malaysia dan Filipina sudah memikirkan untuk terbangunnya sebuah commonwealth negara2 Melayu di Asia Tenggara ini. Namun hubungan antara sesama Melayu sendiri tidak selalu berjalan
 
mulus. Ada waktunya mereka bertengkar bercakar-cakaran, terutama di zaman Konfrontasi Orde Lamanya Sukarno. Ada istilah: Ganyang Malaysia. Karena latar-belakang pembentukan budaya moderen yang berbeda, Malaysia yang dijajah oleh Inggeris, dan Indonesia oleh Belanda, perbedaan cara berfikir, di atas dari dikotomi sintetisme dan sinkretisme primordial tadi, juga melempias kepada cara masing2 membangun dan membentuk negara. Malaysia menekankan pada filosofi Law and Order, sementara Indonesia pada supremasi birokrasi di mana hukum jadi obyek, bukan subyek. Lantunannya adalah pada tiada terkendalinya nafsu ber KKN – Korupsi, Kolusi, Nepotisme -- di mana saja, dari atas sampai ke bawah pun, dari pusat sampai ke daerah. Malaysia, yang menjunjung budaya Melayu, lebih berorientasi sentrifugal, sementara Indonesia yang terkonsentrasi di Jawa lebih berorientasi sentripetal.
Ide DMDI gampang tercerna oleh Dunia Melayu yang di utara Laut Jawa, tetapi tidak oleh Dunia Melayu yang di selatan Laut Jawa, yang larinya pada perbedaan orientasi budaya antara yang sintetis dan yang sinkretis tadi. Karena negara NKRI lebih dikendalikan dari budaya sinkretik daripada sintetik, maka, walaupun sila pertama Pancasila mengatakan: Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi NKRI dengan orientasi sinkretismenya itu tidak mungkin menjadi Negara Islam – kendati satu2nya agama yang berketuhanan YME adalah Islam. Apalagi mayoritas terbesar (85 %) dari warga negara adalah orang Islam, dan Indonesia pun adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Namun karena dasarnya adalah sinkretik, bukan sintetik, prinsip demokrasi yang juga dianut tidak bisa diberlakukan secara efektif, tapi dibumbui dengan dan dikendalikan oleh budaya sinkretik itu.
Aspirasi DMDI sejauh ini masih diserap dan diresapi di belahan Malaysia, termasuk Brunei dan Sabah, di samping juga mungkin ada sentuhannya ke Pattani di Thailand Selatan dan Moro di Filipina Selatan, tetapi belum ke Indonesia. Walau hubungan dagang dan bisnis antara Malaysia dan Indonesia, dan khususnya di kedua belah sisi Selat Melaka, di atas permukaan berjalan biasa tanpa gangguan berarti, tapi hubungan budaya tidak selancar seperti diharapkan. Kendalanya a.l. adalah karena adanya ketimpangan pertumbuhan ekonomi antara kedua negara, yang Malaysia lebih cepat naiknya dari Indonesia. Banyak tenaga kerja yang berdatangan dari Indonesia berupa TKI dan TKW di tingkat akar rumput, tetapi di Malaysia mendapat perlakuan yang kurang dihargai. Dan ini merembet ke bidang budaya, yang Malaysia lalu melihat ke bawah ke Indonesia. Ini juga adalah lempiasan dari ketidak-sukaan hubungan di masa lalu di masa Orde Lama di bawah Sukarno yang sebaliknya melihat rendah kepada Malaysia, dengan serangan2 politis: Ganyang Malaysia, dsb. Serangan balik yang dilakukan Malaysia yang berkelanjutan ke saat ini adalah dicecarnya Indonesia dengan sebutan2 yang sinis dan bahkan menghina, seperti penggunaan istilah “Indon” kepada warga Indonesia yang ada di Malaysia, di samping pembabatan trade mark puncak2 budaya Indonesia yang lalu dikleim dan bahkan dipatenkan sebagai trade mark budaya Malaysia. Sejauh ini sudah ada 200 obyek warisan kebangsaan yang dipatenkan oleh Malaysia sebagai warisan budaya mereka – termasuk makanan, spt rendang, dendeng, serundeng, ikan bakar, ayam panggang, cendol, air kelapa, otak-otak, sate, pisang goreng, kerupuk, dodol, wajik, serikaya, tapai, dsb; lalu di bidang kesenian, spt silat, wayang kulit, batik, dsb; lalu pantun, syair, tulisan jawi, dsb. Semua itu kalau bukan berasal dari Indonesia, sekurangnya milik bersama; tapi lalu dikleim sebagai milik sendiri. 
    
Yang bermain di belakang ini jangan2 adalah pihak2 yang tidak menginginkan adanya kesatuan dan keserasian antara dua suku bangsa Melayu dan dua negara Melayu yang berjiranan ini, yang kebetulan di kedua negara berjiran ini mereka menguasai ekonomi, perdagangan dan industrinya. Istilah lama: “divide et impera” demi kekuasaan adalah sebuah lagu lama yang berlaku di mana2 di sepanjang sejarah manusia.
     Di sisi lain, denyut yang makin bermakna dari Tamaddun Dunia Islam Gelombang Ketiga di abad ke 21 dst ini mau tak mau akan juga mempertemukan Dunia Melayu di Asia Tenggara ini makin dekat antara sesama ke masa depan. Kerjasama-kerjasama di berbagai bidang dan berbagai tingkat diharapkan akan makin mempertemukan puak2 dari Dunia Melayu ini ke masa depan. Makin menonjolnya penguasaan ekonomi, bisnis perdagangan dan industri dari Dunia Kuning, sejalan dengan makin berkembangnya mereka sebagai negara termaju di Dunia ke masa depan, menggantikan supremasi Dunia kapitalis Barat selama ini, pada gilirannya, sebagai reaksi sebaliknya, Dunia Melayu pun akan makin mendapatkan pegangan yang makin kuat, yang terlahir dengan bermacam kerjasama di berbagai bidang kehidupan itu. Dan di atas semua itu, DMDI yang sekarang masih berupa impian, nanti akan menjadi kenyataan. Siapa tahu, yang diimpikan oleh Jose Rizal, Tan Malaka dan Tuanku Abdul Rahman, maupun Yousuf Ishaq di masa lalu, ke depan akan menjadi kenyataan, dan kenyataan sejarah, di penggal selanjutnya dari abad ke 21 M ini.
 
VI
Peran Potensial Suku Melayu Minangkabau
dalam Konteks Dunia Melayu
 
Suku Melayu Minangkabau sejak dari hulunya memang sudah tergolong kepada suku Melayu yang tertinggi tingkat mobilitas sosialnya. Dorongan ke arah mobilitas sosial yang tinggi ini juga terkait kepada sistem sosialnya yang mengharuskan anak mudanya merantau terlebih dahulu “selagi di rumah berguna belum,” sesuai dengan bunyi liriknya: “Karatau madang di hulu, berbuah berbunga belum; merantau bujang dahulu di rumah berguna belum.” Akibatnya, lebih dari separoh orang Minang, yang jumlah totalnya sekitar 10 juta, berdiaspora keluar kampung halamannya, bertebaran ke mana2 di segenap penjuru Dunia Melayu, bahkan ke banyak negara di dunia ini.
Karena orientasi budayanya adalah sentrifugal, bukan sentripetal, di samping juga egaliter-demokratis, mereka juga punya kemampuan yang tinggi untuk menyesuaikan diri dengan situasi setempat. ... “Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”...  “Menyauk di hilir2, mandi di bawah2” ... “Nan di urang diiyakan, nan di awak dilalukan,” dst, dst. Karenanya jadilah dia seorang Yousuf Ishaq dan Zubir Said di Singapura; Rais Yatim dan sekian banyak yang lainnya di Malaysia; Datuk yang bertiga di Sulawesi Selatan – Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, Datuk Ri Pattimang – yang mengembangkan Islam di Sulawesi, serta Raja Baginda di Sulu, Raja Solaiman di Manila, yang mengembangkan Islam di Filipina. Dan tentu saja nyaris tak terhitung banyaknya para peneruka kemerdekaan dan pelopor-pendiri NKRI, yang dalam persentase perbandingannya adalah suku yang tertinggi dalam memberikan kontribusinya. Belum pula kalau kita turun ke bawah, ke tingkat menengah sampai ke akar rumput sekalipun di seluruh Nusantara dan Dunia Melayu ini, sesuai dengan
 
kemampuan serta minat dan himmat masing2.
     Ini semua karena bertemunya adat dan budaya Minangkabau dengan Islam yang kedua-duanya ternyata punya banyak kesamaan dalam pandangan weltanschauung-nya yang berorientasi global-universal dan terbuka, yang “kalau dibalun sebalun kuku, kalau dikembang selebar alam.”
     Namun, karena jalur sejarah itu memang beriak-bergelombang, sejak peristiwa PRRI di dekade 1950-an sampai ke masa kini, performansi orang Minang sudah banyak meluntur dan meluncur, sehingga sudah sukar untuk melihat mana dari ketokohan mereka yang menonjol di pelataran nasional maupun daerah sekalipun, seperti sebelumnya. Faktor penyebabnya ternyata juga banyak: internal dan eksternal. Internal, ternyata tali tempat perpegangan mereka, yaitu budaya adat dan Islam itu sendiri, sudah banyak yang dilepas tak bertali, sehingga yang adat dan agama itu banyak yang tinggal hanya formalitasnya. Rata2 generasi muda sekarang tak lagi mengetahui isi dan inti hakekat dari budaya ABS-SBK itu. Eksternal, dalam pakaian hidup hari2 mereka sudah lebih banyak melihat ke luar, ke ajaran nasional yang disalurkan melalui pelajaran Sivik-Kewarganegaraan di sekolah2 dan jejaran budaya global melalui komputer dan jaringan teknologi hiper-canggih lainnya sekarang ini. Semua itu memperjauh mereka dari nilai2 luhur yang diajarkan oleh adat dan agama mereka.
     Dengan upaya mengangkatkan kembali nilai2 luhur yang dibuhul dalam bentuk filosofi hidup: ABS-SBK itu, kita mengharapkan, inilah nanti yang akan menjadi suluh-bendang dalam mengangkatkan kembali marwah dan semangat juang dari suku Minang dan Melayu umumnya dalam menghadapi tantangan ke masa depan itu. Dengan filosofi ABS-SBK itu pula kita mengharapkan agar futurisme DMDI akan bergerak menuju ke cita luhurnya, yaitu bersatunya Dunia Melayu dalam genggaman ajaran Islam dalam konteks Dunia Islam. Peranan potensial dari suku Melayu Minangkabau dalam memajukan Dunia Melayu dalam konteks Dunia Islam ke masa depan adalah tantangan terbesar yang kita hadapkan kepada suku Minang, di ranah dan di rantau di manapun. ***
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages