Tinjau Ulang Perda Wisata Mentawai, "Ketut: Bisa Timbulkan Konflik"

66 views
Skip to first unread message

Nofiardi

unread,
Apr 11, 2008, 3:22:44 AM4/11/08
to Rant...@googlegroups.com
Baru ajo dilirik wisatawan asing, Pemda Mentawai alah bamasalah jo retribusi.
Kalo mambuek Perda tu pikikan baa indak kamaambek kemajuan wisata nan dipromosi kesaluruh panjuru angin.
Iko nampakno alun apo2 lah pitih masuk nan baolah.
NRM
  
 
Tinjau Ulang Perda Wisata Mentawai, "Ketut: Bisa Timbulkan Konflik"
Selasa, 08 April 2008
Sample ImagePadang, Padek-- Asosiasi Kapal Selancar Sumatera Barat (AKSSB) meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Mentawai untuk meninjau ulang Peraturan Daerah (Perda) No 16 Tahun 2002 tentang Kepariwisataan dan Retribusi Objek Wisata. Pasalnya, Perda yang diberlakukan 2008 ini tidak relevan mengingat kondisi dan jumlah kapal yang ada saat ini telah berubah. Revisi Perda ini berguna untuk menghindari praktik-praktik monopoli.

”Perda No 16 ini dikhawatirkan dapat menimbulkan konflik di antara pengusaha yang melaksanakan usaha di Kepulauan Mentawai. Perda ini juga hanya dirancang untuk hotel, villa, land camp. Jelas ini tidak adil untuk kapal-kapal selancar yang telah beroperasi sejak belasan tahun dan telah memberikan kontribusi bagi Mentawai,” kata Ketua AKSSB Ketut Wirdayasa, saat Pelantikan Pengurus AKSSB di Hotel Pangerans Beach, kemarin.

Hadir dalam pelantikan tersebut, Asisten II Setprov Sumbar Surya Dharma Sabirin, Danlantamal II Padang Laksamana Pertama Syarif Husin, Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang Didi Aryadi, Wakil Ketua Bidang Pariwisata Aim Zein, Wakil Ketua Asita Ian Hanafiah, pemilik beberapa kapal selancar Mr Martin Daly (warga negara Australia) dan pelaku pariwisata. Ketut menuturkan selama ini, tidak ada koordinasi yang jelas dari Pemkab Mentawai langsung kepada pengusaha kapal selancar tentang Perda No 16. “Akibatnya, para pengusaha kapal selancar tidak memiliki suara apa pun dalam pengambilan keputusan sehubungan dengan perkembangan masa depan usaha mereka.

 

Sample ImageBenahi Regulasi: Surfer (peselancar) mancanegara berselancar di Karamajat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, beberapa waktu lalu. Asosiasi Kapal Selancar Sumbar meminta Pemkab Mentawai untuk meninjau ulang Perda No 16 tahun 2002 tentang Kepariwisataan dan Retribusi Objek Wisata. Aturan ini dinilai tidak relevan lagi dengan kondisi dan jumlah kapal yang ada sekarang.

Padahal, pengusaha ini telah memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian pariwisata Sumbar,” ungkapnya. Sebenarnya, tutur Ketut, ada beberapa poin pada Perda No 16 yang pihak pengusaha kapal selancar setuju. Poin tersebut, perlindungan dan pemeliharaan terhadap lingkungan, retribusi $3 per orang per hari bagi semua surfer (peselancar) yang datang untuk berselancar ke Kepulauan Mentawai. “Dengan demikian, mendukung perkembangan perekonomian Kepulauan Mentawai,” sebutnya.

Ketut menyarankan sebagai solusi terhadap permasalahan tersebut, perlu ditambahkan satu poin dalam Perda No 16, mengizinkan pelaku usaha yang ada pada saat ini tetap untuk melaksanakan usahanya dan tidak ada yang tereleminasi. “Kemudian, memberikan izin kepada pelaku usaha baru dengan izin terpisah (darat dan laut) untuk mewakili semua usaha pariwisata bahari,” ujarnya.

Selain itu, saran Ketut, pemerintah bisa mempunyai konter di bandara untuk mengumpulkan retribusi atau pajak dari peselancar yang datang dan dipungut kemudian diserahkan ke pemerintah. “Dengan cara demikian, pemerintah akan mendapatkan data yang lengkap mengenai industri selancar,” tuturnya. Dalam kesempatan itu, dilakukan penyerahan cheque retribusi secara simbolik dengan nominal Rp520 juta kepada Pemkab Mentawai. Untuk diketahui, di AKSSB bergabung 22 kapal selancar. Yaitu, Pelagic, Arimbi, Southern Cross, Budyadhari, Mikumba, Managlui, Nusa Dewata, Nomad, Kuda Laut, Midas, Huey I, Barrenjoey, Freedom I, II, III, Indes Trader I, II, III, IV, Irish Mist, Tengirri, dan Saranya.

Asisten II Setprov Sumbar Surya Dharma Sabirin menuturkan, secara kelembagaan AKSSB perlu melakukan fasilitasi dan koordinasi dengan pemerintah setempat, terkait rencana usulan revisi Perda No 16 ini. “Kalau nantinya, tidak ada titik temu dengan pemerintah setempat terkait rencana revisi Perda ini, Pemprov siap menjadi fasilitator,” janji Surya. Surya menuturkan, Pemprov juga akan melakukan evaluasi kembali Perda 16 yang menurut AKSSB perlu direvisi. Pengevaluasian Perda ini merupakan kewenangan provinsi. “Untuk itu, revisi Perda diperlukan kajian yang mendalam dan mencakup seluruh aspek,” tukasnya. (ril)

  -----Original Message-----
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com]On Behalf Of Nofiardi
Sent: Wednesday, April 09, 2008 9:31 AM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Budaya Hidup dan Alam Mentawai Disukai Warga Australia

KEPARIWISATAAN SUMBAR
Budaya Hidup dan Alam Mentawai
Disukai Warga Australia


Rabu, 9 April 2008
Kepariwisataan Sumatera Barat (Sumbar) memang menarik. Selain pesona alam Bukittinggi dan Kota Padang yang selalu dikunjungi banyak wisatawan asing, daerah Mentawai juga tak boleh dianggap enteng. Buktinya, tanpa promosi besar-besaran, setiap pekan Mentawai dikunjungi banyak wisatawan asing dari berbagai negara.

"Kebanyakan turis ke sini dalam tiga bulan terakhir adalah orang Australia, kemudian dari Eropa. Mereka ke sini hanya untuk meneliti tentang budaya masyarakat Mentawai, kemudian melakukan surfing di ombak yang besar," ujar Salomon Dalimunte, salah seorang petugas kepariwisataan Mentawai, ketika ditemui Suara Karya di stan Mentawai pada pameran dunia selam-menyelam dan wisata bahari di Jakarta Convention Center, 28 Maret lalu.

Menurut Salomon, saat ini ada sekitar 100 mahasiswa Australia melakukan penelitian tentang kebudayaan di Mentawai. Bulan lalu juga sekitar 100 turis Australia datang ke Mentawai hanya untuk membikin film tentang budaya masyarakat Mentawai.

Film-film tentang budaya masyarakat Mentawai dan objek wisata baharinya ternyata sudah banyak dibuat seniman dan pencinta wisata di Australia-Selandia Baru. Hingga kini, menurut beberapa petugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumbar, ada sebuah film dokumenter tentang budaya orang Mentawai yang sudah ditonton sekitar empat juta warga Australia di Canberra, Melbourne, dan beberapa kota besar lain di Negeri Kanguru.

Film dokumenter masyarakat Mentawai yang disukai warga Australia itu adalah film yang merekam gaya hidup keseharian orang Mentawai dan kekayaan alam Kepulauan Mentawai. "Film itu memang menceritakan tentang daya tarik surfing dan aksi selancar diselingi dengan adat istiadat sehari-hari warga Mentawai. Ternyata film itu disukai, dan kini menjadi bentuk sosialisasi dan promosi daerah Mentawai dalam rangka menarik wisatawan asing sebanyak mungkin ke Mentawai," tutur Martin Daly, pemimpin Indies Trader Marine Adventures.

Martin menyebutkan, film dokumenter itu diputar pada sejumlah stasiun televisi di Australia dan banyak menarik perhatian warga di negara ini. Hingga kini dilaporkan sudah sekitar empat juta orang Australia menontonnya. "Dengan demikian, budaya dan kehidupan tradisional Mentawai kini makin populer di Australia," tambahnya.

 



 

Masoed Abidin

unread,
Apr 11, 2008, 8:47:32 AM4/11/08
to Rant...@googlegroups.com, Noviardi
Assalamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,
 
Ananda Nofiardi Nofi...@pec-tech.com,
 
Sejak pertama jadi kabupaten, Mentawai itu ingin berdiri sendiri.
Bahkan kalau boleh ingin keluar dari Indonesia, tidak saja dari Sumbar.
 
Kepatuhan berpemerintahan sukar diminta dari mereka. 
Pengamatan buya bertahun-tahun mengatakan begitu.
Silah baca buku buya ISLAM DALAM PELUKAN MUHTADIN MENTAWAI, Abadi  Jakarta -1997. 
 
Memang susah.
Ini bahaya besar masa depan.
 
Wassalam Buya HMA
Rant...@googlegroups.com]On Behalf Of Nofiardi
Sent: Wednesday, April 09, 2008 9:31 AM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Budaya Hidup dan Alam Mentawai Disukai Warga Australia

KEPARIWISATAAN SUMBAR
Budaya Hidup dan Alam Mentawai
Disukai Warga Australia


 


 





__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

alif

unread,
Apr 11, 2008, 10:20:34 AM4/11/08
to RantauNet
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Pak Nofiardi Nampaknyo ndak usahlah kito talampau capek dulu ma agiah
komentar, ambo kebetulan banyak punyo klien urang urang nan manjua
pariwisata surfing di mentawai tu. Pernah sato rapek di Bumi Minang
samo jo wakil Bupati, karano mampresentasian website salah satu dari
organisasi urang bule tu. Kini urang urang bule tu, sampai ba Tinju,
Bakuhampeh, untuak mamparabuik an, spot ombak di mentawai tu. Ntah
nama nan batua, awak indak tau do.

Sabana nyo nan penting di pemerintah, baa caronyo bisa mandapek an
restribusi dari Kasado pemain ko. dan tantunyo kalau bisa menjembatani
kaduonyo ko bisa akur.

Wassalam

Nofiardi

unread,
Apr 11, 2008, 9:01:34 PM4/11/08
to Rant...@googlegroups.com
'Alaikumsalam urang-tuo kami Buya HMA
Samoga Buya sehat selalu & tatap bisa mambari arahan ka kami2 ko
Nampaknyo Mentawai ko nanti jadi Bali nyo Sumbar.
Kito tau disinan dominasi agamo non Muslim.
Mungkin nan paralu diwaspadai pangaruahnyo jan sampai malunturkan adat & budaya Minang di Ranah.
Nanti ambo cubo cari bukunyo Buya,
Tarimokasih & Wassalam Buya
Nofiardi RM 41

The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you.

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages