|
Baru ajo dilirik wisatawan
asing, Pemda Mentawai alah bamasalah jo
retribusi.
Kalo mambuek Perda tu pikikan baa indak kamaambek
kemajuan wisata nan dipromosi kesaluruh panjuru angin.
Iko nampakno alun apo2 lah pitih masuk nan
baolah.
NRM
Tinjau Ulang Perda Wisata Mentawai, "Ketut: Bisa Timbulkan Konflik"
|
| Selasa, 08 April 2008 | |
Padang, Padek-- Asosiasi
Kapal Selancar Sumatera Barat (AKSSB) meminta Pemerintah Kabupaten
(Pemkab) Kepulauan Mentawai untuk meninjau ulang Peraturan Daerah (Perda)
No 16 Tahun 2002 tentang Kepariwisataan dan Retribusi Objek Wisata.
Pasalnya, Perda yang diberlakukan 2008 ini tidak relevan mengingat kondisi
dan jumlah kapal yang ada saat ini telah berubah. Revisi Perda ini berguna
untuk menghindari praktik-praktik monopoli.”Perda No 16 ini dikhawatirkan dapat menimbulkan konflik di antara pengusaha yang melaksanakan usaha di Kepulauan Mentawai. Perda ini juga hanya dirancang untuk hotel, villa, land camp. Jelas ini tidak adil untuk kapal-kapal selancar yang telah beroperasi sejak belasan tahun dan telah memberikan kontribusi bagi Mentawai,” kata Ketua AKSSB Ketut Wirdayasa, saat Pelantikan Pengurus AKSSB di Hotel Pangerans Beach, kemarin. Hadir dalam pelantikan tersebut, Asisten II Setprov Sumbar Surya Dharma Sabirin, Danlantamal II Padang Laksamana Pertama Syarif Husin, Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang Didi Aryadi, Wakil Ketua Bidang Pariwisata Aim Zein, Wakil Ketua Asita Ian Hanafiah, pemilik beberapa kapal selancar Mr Martin Daly (warga negara Australia) dan pelaku pariwisata. Ketut menuturkan selama ini, tidak ada koordinasi yang jelas dari Pemkab Mentawai langsung kepada pengusaha kapal selancar tentang Perda No 16. “Akibatnya, para pengusaha kapal selancar tidak memiliki suara apa pun dalam pengambilan keputusan sehubungan dengan perkembangan masa depan usaha mereka.
Padahal, pengusaha ini telah memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian pariwisata Sumbar,” ungkapnya. Sebenarnya, tutur Ketut, ada beberapa poin pada Perda No 16 yang pihak pengusaha kapal selancar setuju. Poin tersebut, perlindungan dan pemeliharaan terhadap lingkungan, retribusi $3 per orang per hari bagi semua surfer (peselancar) yang datang untuk berselancar ke Kepulauan Mentawai. “Dengan demikian, mendukung perkembangan perekonomian Kepulauan Mentawai,” sebutnya. Ketut menyarankan sebagai solusi terhadap permasalahan tersebut, perlu ditambahkan satu poin dalam Perda No 16, mengizinkan pelaku usaha yang ada pada saat ini tetap untuk melaksanakan usahanya dan tidak ada yang tereleminasi. “Kemudian, memberikan izin kepada pelaku usaha baru dengan izin terpisah (darat dan laut) untuk mewakili semua usaha pariwisata bahari,” ujarnya. Selain itu, saran Ketut, pemerintah bisa mempunyai konter di bandara untuk mengumpulkan retribusi atau pajak dari peselancar yang datang dan dipungut kemudian diserahkan ke pemerintah. “Dengan cara demikian, pemerintah akan mendapatkan data yang lengkap mengenai industri selancar,” tuturnya. Dalam kesempatan itu, dilakukan penyerahan cheque retribusi secara simbolik dengan nominal Rp520 juta kepada Pemkab Mentawai. Untuk diketahui, di AKSSB bergabung 22 kapal selancar. Yaitu, Pelagic, Arimbi, Southern Cross, Budyadhari, Mikumba, Managlui, Nusa Dewata, Nomad, Kuda Laut, Midas, Huey I, Barrenjoey, Freedom I, II, III, Indes Trader I, II, III, IV, Irish Mist, Tengirri, dan Saranya. Asisten II Setprov Sumbar Surya Dharma Sabirin menuturkan, secara kelembagaan AKSSB perlu melakukan fasilitasi dan koordinasi dengan pemerintah setempat, terkait rencana usulan revisi Perda No 16 ini. “Kalau nantinya, tidak ada titik temu dengan pemerintah setempat terkait rencana revisi Perda ini, Pemprov siap menjadi fasilitator,” janji Surya. Surya menuturkan, Pemprov juga akan melakukan evaluasi kembali Perda 16 yang menurut AKSSB perlu direvisi. Pengevaluasian Perda ini merupakan kewenangan provinsi. “Untuk itu, revisi Perda diperlukan kajian yang mendalam dan mencakup seluruh aspek,” tukasnya. (ril) |
KEPARIWISATAAN SUMBAR
Budaya Hidup dan Alam Mentawai
Disukai Warga Australia
Rabu, 9 April 2008
Kepariwisataan Sumatera Barat (Sumbar) memang menarik. Selain pesona alam Bukittinggi dan Kota Padang yang selalu dikunjungi banyak wisatawan asing, daerah Mentawai juga tak boleh dianggap enteng. Buktinya, tanpa promosi besar-besaran, setiap pekan Mentawai dikunjungi banyak wisatawan asing dari berbagai negara.
- "Kebanyakan turis ke sini dalam tiga bulan terakhir adalah orang Australia, kemudian dari Eropa. Mereka ke sini hanya untuk meneliti tentang budaya masyarakat Mentawai, kemudian melakukan surfing di ombak yang besar," ujar Salomon Dalimunte, salah seorang petugas kepariwisataan Mentawai, ketika ditemui Suara Karya di stan Mentawai pada pameran dunia selam-menyelam dan wisata bahari di Jakarta Convention Center, 28 Maret lalu.
- Menurut Salomon, saat ini ada sekitar 100 mahasiswa Australia melakukan penelitian tentang kebudayaan di Mentawai. Bulan lalu juga sekitar 100 turis Australia datang ke Mentawai hanya untuk membikin film tentang budaya masyarakat Mentawai.
- Film-film tentang budaya masyarakat Mentawai dan objek wisata baharinya ternyata sudah banyak dibuat seniman dan pencinta wisata di Australia-Selandia Baru. Hingga kini, menurut beberapa petugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumbar, ada sebuah film dokumenter tentang budaya orang Mentawai yang sudah ditonton sekitar empat juta warga Australia di Canberra, Melbourne, dan beberapa kota besar lain di Negeri Kanguru.
- Film dokumenter masyarakat Mentawai yang disukai warga Australia itu adalah film yang merekam gaya hidup keseharian orang Mentawai dan kekayaan alam Kepulauan Mentawai. "Film itu memang menceritakan tentang daya tarik surfing dan aksi selancar diselingi dengan adat istiadat sehari-hari warga Mentawai. Ternyata film itu disukai, dan kini menjadi bentuk sosialisasi dan promosi daerah Mentawai dalam rangka menarik wisatawan asing sebanyak mungkin ke Mentawai," tutur Martin Daly, pemimpin Indies Trader Marine Adventures.
- Martin menyebutkan, film dokumenter itu diputar pada sejumlah stasiun televisi di Australia dan banyak menarik perhatian warga di negara ini. Hingga kini dilaporkan sudah sekitar empat juta orang Australia menontonnya. "Dengan demikian, budaya dan kehidupan tradisional Mentawai kini makin populer di Australia," tambahnya.
Rant...@googlegroups.com]On Behalf Of Nofiardi
Sent: Wednesday, April 09, 2008 9:31 AM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Budaya Hidup dan Alam Mentawai Disukai Warga Australia
KEPARIWISATAAN SUMBAR
Budaya Hidup dan Alam Mentawai
Disukai Warga Australia
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you.