Sesekali menikung dari topik serius dan berat di Palanta ko, ambo ingin sharing saketek pengalaman ambo kemarin seharian jo induak bareh dan anak-anak di akhia pakan.
Satalah pekan lalu kami manonton "Sokola Rimba" dari buku (non-fiksi) bajua samo karya Butet Manurung (versi Inggris bajudua "The Jungle School") yang pernah masuk ke dalam Suku Kubu di Jambi dan mengajar anak-anak di sana, pekan ini ado duo film Indonesia nan rancak, yakni "99 Cahaya di Langit Eropa" dan "Soekarno". Timeline di social media agak lebih heboh dengan "Soekarno" dek karano pado saat premiere hari Kamih kapatang, kalua pulo keputusan Pengadilan Niaga untuk menghentikan peredaran film tu sabagai akibat "cakak" Rachmawati dengan Hanung Bramantyo, sang sutradara. (Aa problem utamo mereka silakan dibrowse, banyak linknyo).
Tapi ambo mamiliah maajak anak-anak ambo manonton "99 Cahaya" yang berasal dari buku berjudul sama karya Hanum Rais & Rangga Almahendra. Iko buku cukuik laris meski ambo alun sampek mambaco pulo. Nan ambo tahu cumo sapotong data: Hanum Rais adolah putri Amien Rais.
Masuak bioskop, ambo caliek katigo wajah putri ambo indak talalu basumangek. "Mereka pikir seperti Ketika Cinta Bertasbih," bisiak istri ambo. KCB bukan berarti indak rancak, tapi memang kurang bisa dikunyah oleh anak SD-SMP.
1/
Adegan pertama dibuka. Sepotong wajah Wina, Austria, dengan segala kesibukan yang memerangkap Hanum (juga namanya sebagai tokoh film) yang sedang di kota itu mengikuti suaminya Rangga, kandidate doktor. Gambar tajam. Indah. "Picturesque" kalau meminjam istilah para penggemar kartu pos romantis.
Lalu adegan pindah di sebuah kelas dengan guru perempuan (berbahasa Jerman) menjelaskan tentang salah satu fase kehadiran tentara Turki di bumi Eropa. Anak-anak mendengarkan, seorang anak lelaki bule yang jahil langsung mengolok-olok Ayse, bocah perempuan asal Turki yang berhijab. Ayse balas menunjuk teman (lelaki) lainnya yang mengenakan kupluk, macam penyanyi hip hop, "kalau dia boleh pakai itu, kenapa saya tidak?" katanya dengan suara kekanak-kanakan yang lantang.
Baru beberapa menit itu saja suasana Eropa sudah hadir jauh lebih kuat dibandingkan dalam film "Ainun & Habibie" karena para pemain "lokal" (berbahasa Jerman) tampil dengan porsi lebih intens.
Ayse punya seorang ibu bernama Fatma Khan, perempuan muda cantik khas Turki yang ingin bekerja tapi selalu ditolak. Dan secara kebetulan, Hanum pernah melihat penolakan terhadap Fatma terjadi di depan matanya. Setelah Hanum dan Fatma berkenalan, di sebuah tempat kursus bahasa Jerman, Hanum bertanya apa yang menyebabkan Fatma sulit mendapat kerja padahal dia pintar? Fatma tersenyum sambil menunjuk hijabnya, "mungkin karena ini." Hanum terpana. Dia sendiri tak berhijab.
Sementara Rangga, suami Hanum, punya masalahnya sendiri di kampus (berkaitan dengan jadwal konsultasi dengan Profesor pembimbing yang selalu tabrakan dengan waktu shalat Jumat, kesulitan mendapatkan makanan halal, atau harus shalat di ruangan kampus berbarengan dengan mahasiswa Buddha yang sedang membakar shio), sisi lain cerita yang bergerak paralel adalah kesibukan baru Hanum bersama Fatma, yang makin sering jalan bersama.
Satu ketika saat mereka minum kopi di sebuah cafe bersama Ayse, Hanum mendengar dua lelaki pirang di dekatnya meledek Turki, dan Islam, melalui croissant yang mereka makan. Hanum yang marah ingin langsung menegur, tapi Fatma menenangkan. "Jangan. Saya punya cara lain untuk mengatasi soal ini. Kamu harus pelajari soal seperti ini," katanya seraya memanggil pelayan. (Untuk tidak menganggu pengalaman menonton yang lain, elemen kejutan dari adegan ini tak akan ambo ceritakan. Tapi indah sekali. Hanum tercengang melihat ide Fatma. Dan ambo rasa, penonton yang belum membaca buku aslinya pun, akan tercengang seperti ambo juga). Kelak, cara itu juga dilakukan Hanum terhadap tetangga apartemennya, juga seorang lelaki bule, yang sering menunjukkan rasa tidak senangnya terhadap kehadiran Hanum dan Rangga.
Hanum semakin jauh masuk ke dalam lingkaran pertemanan Fatma dan kawan-kawannya, yang ternyata mendedikasikan diri mereka untuk menjadi "duta Islam" yang ramah bagi lingkungan. Slogan mereka, "Be the best muslim agent. Spread the peace", dll. Dan mereka tak hanya bicara, juga membuktikannya.
Dari Fatma barulah Hanum tahu, bahwa di Wina ada beberapa tempat bersejarah yang merupakan warisan kebesaran peradaban Islam. Mereka mengunjungi itu satu persatu. Dari Fatma pula Hanum mendapat informasi, bahwa segala informasi itu berasal dari Marion Latimer, seorang ilmuwan Prancis, mualaf, yang bekerja di Arab World Institute.
Kelak menjelang pengujung film, Hanum bisa bertemu dengan Marion di Paris, dan peneliti itu mengajaknya ke Museum Louvre. Di tengah pengunjung yang berdesakan melihat lukisan Mona Lisa, Marion malah mengajak Hanum ke tempat lain. "Ada lukisan yang lebih bagus yang harus kau lihat," katanya sambil mengajak Hanum ke sebuah dinding yang memanjang lukisan seniman Italia Ugolino di Nerio berjudul "The Virgin & The Child". Pada lukisan itu Bunda Maria menggendong anaknya yang masih bayi. Hijab yang dipakainya menjuntai. "Coba perhatikan tulisan di bagian dalam hijab itu," ujar Marion.
Hanum mengikuti saran Marion, dan merasa agak mengenal bentuk huruf seperti lidi itu, meski tak paham betul. "Itu huruf Pseudo Kufic," papar Marion. "Coba perhatikan lagi. Sebenarnya itu adalah tulisan Laa Ilaaha Illallah. Kamu bisa lihat sekarang?"
Hanum tersentak. (Dan saya kira, begitu juga penonton yang belum membaca bukunya seperti ambo. Istri ambo berbisik lagi. "Nggak apa-apa ya dialognya seterus terang itu? Apa nggak SARA?" keceknyo. Ambo jawek pendek. "Buktinya sudah lulus sensor. Dan ini pasti bukan imajinasi, ada risetnya."
Fakta lain yang disodorkan Marion yang membuat Hanum tercengang adalah ketika mereka berada di atas Arc de Triomphe, melihat jalan itu satu garis lurus sampai ke ... (Nah, bagian ko sabaiaknyo juo disimpan sebagai surprise bagi penonton, agar indak spoiler).
Singkek carito, ending kisah film juo ado twist nan mambuek haro. Dengan gambar-gambar indah, dan dialog yang mengalir lancar, film "99 Cahaya" ko jauh labiah bagus dari nan ambo bayangkan sabalun manonton. Dek sabaok itu ambo rekomendasikan untuk ditonton oleh adidunsanak Palanta, basamo keluarga.
Ado beberapa adegan nan sangek menyentuh hati, sampai indak taraso mato ambo pun basah.
2/
Pulang nonton, kami sakaluarga shalat Maghrib di Masjid Darussalam Kota Wisata, lanjut mandanga kuliah Maghrib sampai Isya. Ustad nan mambao materi adolah Ust. Taqiyuddin Lc.
Ambo indak akan mambahas materi nan inyo sampaikan, melainkan sebuah percakapan pendek antaro ambo dan liau, nan tajadi manjalang iqamat shalat Isya.
Dek karano baitu turun dari kursi baliau duduak di samping ambo bana, ambo batanyo. "Di mana ustad tinggal?"
Inyo manjawek, "Saya di Kampung Sawah, Pak. Kalau bapak pernah dengar ada Gereja di mana jemaatnya pakai songkok dan kerudung, ya di sini. Karena ini mungkin satu-satunya tempat di mana ada Betawi asli yang menganut agama Kristen. Bayangkan di daerah yang tidak terlalu besar itu ada 12 gereja," katanya. "Saya tinggal di Islamic Center di sana bersama kawan-kawan untuk terus berdakwah."
Kampung Sawah ko memang sajak lamo dikenal sebagai "enclave" nan unik, tampek ado komunitas Betawi beragama Kristen dan Katolik. Dulu ambo hanyo mandanga sajo, tapi sajak pindah ka Cibubur dek karano paralu tahu "jalan-jalan tikus" ambo acok eksplorasi berbagai jalan, dan satu kutiko iyo takajuik pulo mancaliek di pemukiman khas Betawi ado gereja nan bahkan alah barusio labiah dari satu abad bagai.
Untuk gambaran labiah jauah tantang Kampung Sawah bisa dibaco di siko:
Jadi samantaro di film "99 Cahaya" ado minoritas muslim nan barusaho eksis di tengah masyarakat non-muslim, indak jauah bana dari rumah ambo ado minoritas non-muslim (dan Betawi pulo) nan iduik badampingan jo sanak sudaro Betawi lainnyo nan muslim.
3/
Pulang shalat Isya, ambo maajak diskusi anak-anak sambil makan malam, tarutamo tentang film "99 Cahaya" dari sisi 4 pemeran padusi (Hanum, Fatma Khan, Asye, dan Marion Latimer), bagaimana perubahan karakter dan porsi pengadeganan mereka sesuai plot film.
Mereka tanyato sangaik suko dengan film ko (babedo jo respon awal mereka nan memang indak basumangek), bahkan sampai si bungsu Mayla (7 tahun) sampai panjang komentarnyo tentang Ayse.
Tapi satu kesimpulan nan anak-anak sampaikan adolah berkait dengan adegan caro Fatma menghadapi orang-orang nan alergi, bahkan menunjukkan sikap kebencian terbuka terhadap Islam. "Pasti susah sekali punya kemampuan seperti Fatma yang bisa tetap tersenyum dalam memberi, bahkan kepada orang yang membenci dia," kecek anak ambo no duo, Aura (11 tahun).
Wass,
ANB
45, Cibubur
(Bukan humas "99 Cahaya", tapi senang mempromosikan film indah ini).
PS: Kamis pekan ini, 19 Desember, akan premiere salah satu film Indonesia yang paling layak dinanti sepanjang tahun: "Tenggelamnya Kapal van der Wijck" dari roman legendaris Buya Hamka.