Si Pitung Dari Kota Padang

40 views
Skip to first unread message

Arnoldison

unread,
Mar 19, 2009, 3:24:19 AM3/19/09
to Rant...@googlegroups.com
Si Pitung Dari Kota Padang

Kisah Robin Hood di Inggris ataupun si Pitung di Batavia ternyata
banyak juga terjadi didearah lain. Salah satunya adalah orang yang
terkenal dengan sebutan si Rancak dari Kota Padang pada awal abad 19.

Kota Padang sejak abad 18 merupakan kota metropolis terbesar di
Sumatera karena aktivitas perekonomiannya apalagi sejak dibukanya
tambang batubara di Ombilin dan pelabuhan Teluk Bayur serta
perkebunan-perkebunan baru.

Seiring dengan kemajuan perekonomian angka kriminalitaspun turut
bertambah. Perkelahian antar perguruan silat ataupun kelompok kriminal
seringkali terjadi. Orang-orang dari Pauh dan Koto Tengah juga
tercatat paling sering membuat onar di kota Padang karena rasa benci
yang mendalam terhadap Belanda sebagai penjajah.

Si Rancak digambarkan sebagai pemuda yang rupawan, mungkin karena itu
pula ia disebut si Rancak. Pada wajahnya terpancar sifat keras
hatinya. Badannya tinggi semampai, atletis, sigap dan lincah seperti
macan. Hidungnya sedikit bengkok dengan kumis panjang dan tipis. Yang
paling menonjol adalah sorot matanya yang tajam dan berapi-api dan
disebut si Mata Setan oleh Belanda.

Si Rancak ini selain ditakuti, ia juga memiliki banyak pengagum dan
pengikut. Pada tahun 1880, ia merupakan musuh nomor satu aparat
kepolisian kota Padang. Usaha menangkapnya sering gagal, mungkin
karena si Rancak ini lebih mengenal medan atau karena banyak penduduk
kota Padang yang menyembunyikannya bila dikerjar Belanda ataupun
banyak aparat kepolisian yang tidak ingin konfrontasi fisik langsung
dengan si Rancak.

Si Rancak adalah seorang penjahat yang mencari nafkah dengan melakukan
perbuatan melawan hukum. Tetapi ia juga dikenal sebagai orang yang
tidak senang menindas orang yang lemah. Si Rancak selalu mengandalkan
kemampuan silatnya, ia selalu menantang orang-orang yang dianggapnya
mampu bertarung kecuali bila orang tersebut secara sukarela memberinya
uang sirih atau uang tembakau. Seringkali pula uang yang didapat dari
satu tempat diberikan kepada orang lain yang membutuhkan.

Si Rancak memiliki banyak pengikut, murid dan lebih banyak lagi
pengagumnya. Bila seseorang ketahuan sebagai mata-mata polisi, adalah
hal yang beruntung bila rumahnya hanya dibakar oleh kawanan si Rancak
ini.

Dalam aksinya tidak selalu si Rancak ini berhasil, tercatat dua kali
ia pernah gagal. Pertama, di gelanggang kuau (burung aduan), dekat
kota Padang. Disana si Rancak melihat seorang pria berjalan bersama
putrinya yang masih kecil dengan membawa bungkusan. Seperti biasa si
Rancak sedang tidak punya uang dan ia menyapa hormat pria itu dan
setelah basa-basi diketahui bahwa pria itu berasal dari Indrapura dan
hendak pergi ke Mekkah. Seperti biasa juga ia menantang pria tersebut,
hasilnya si Rancak terpaksa mengambil langkah seribu dengan mata merah
berair, untung saja ia tidak buta.

Si Rancak mungkin adalah pendekar silat jempolan tetapi silat bukan
satu-satunya ilmu beladiri yang berkembang di kota Padang. Pada masa
itu telah berkembang pula beladiri kuntao yang dipakai orang Cina dan
kebetulan calon haji yang ditemuinya ini adalah ahli kuntao yang
jari-jarinya telah terlatih, keras dan sangat berbahaya.

Kekalahan si Rancak yang kedua ialah ketika ia sedang meminta uang
tembakau tetapi kali ini yang ditemuinya adalah ahli gulat. Mungkin
karena cara bertarung yang tidak biasa ditemui, si Rancak mengalami
kesialan, ia berhasil dipiting dan tidak dapat bergerak hingga
berteriak-teriak minta ampun.

Walaupun dengan dua catatan kekalahan itu, si Rancak tetap tidak jera
dan dianggap jagoan. Diantara pengikutnya ini terdapat pula
orang-orang Belanda yang lahir dan besar di kota Padang yang bekerja
sebagai pegawai rendahan ataupun penjaga toko. Tugasnya adalah
mengambil barang-barang milik majikan mereka.

Entah berapa banyak perampokan dan pembakaran yang dilakukan si Rancak
dan kelompoknya, pihak kepolisian kota Padang selalu gagal
menangkapnya walaupun telah mengetahui tempat persembunyiannya. Si
Rancak ternyata telah mengembangkan jaringan mata-matanya seperti yang
dilakukan polisi. Ketika pengawasan dilakukan makin ketat, si Rancak
melarikan diri ke Jambi dan bergabung dengan kelompok Sultan Taha.

Penangkapan si Rancak
Marah Pense adalah seorang mantri kopi tetapi ia memiliki banyak tugas
seperti polisi, mantri jalan, penyuluh pertanian, pengamat irigasi dan
lain-lain. Marah Pense sering mendapat tugas-tugas yang berat karena
oleh Belanda, ia dianggap tahu benar keadaan rakyat. Marah Pense
menjabat sebagai mantri kopi di Panjalinan, sebuah daerah yang rawan.

Kontrolir Pauh memberi Marah Pense dan saudaranya Marah Dayat Sutan
Pangeran untuk menangkap si Rancak, hidup atau mati, sebuah tugas yang
cukup sulit. Setelah mengeluarkan banyak uang untuk membeli informasi,
Marah Pense mengetahui bahwa Si Rancak tidak pergi ke Jambi tetapi ke
utara dekat Manggopoh. Dengan membawa enam pengawal bersenjata lengkap
mereka berangkat ke Manggopoh, Marah Pense sendiri membawa senapan
laras ganda.

Didepan sebuah lapau (warung kopi), Marah Pense melihat seorang wanita
dengan bungkusan disebelahnya. Ketika bungkusan itu diperiksa,
didalamnya ditemukan sepucuk pistol dan beberapa senjata tajam.
Setelah diinterogasi, ditemukanlah pemiliknya dan ia mengaku bernama
si Rancak.

Kebiasaan si Rancak tetap tidak berubah, ia menantang bertarung Angku
Mantari tetapi belum selesai si Rancak bicara, senapan pengawal Marah
Pense telah menyalak mengenai dada dan tembus kepunggung. Menyadari
keadaan tidak menguntungkan si Rancak segera terjun ke sungai
disebelah lapau, Marah Pense segera mengejarnya dan terus menerus
memukuli si Rancak dengan senapannya. Menurut laporan si Rancak terus
melawan hingga akhirnya ia berhasil menyelam dan tiba diseberang
sungai, akan tetapi tidak lama kemudian ia jatuh pingsan. Berakhirlah
riwayat si Rancak.

Si Rancak diikat erat dengan sebuah tangga dan dibawa kerumah
kontrolir di Lubuk Bagalung tetapi kontrolir menyuruh si Rancak dibawa
ke kota Padang, dengan iringan banyak orang yang ingin ikut melihat si
Rancak. Sesampainya mereka ke kota Padang, kontrolir dan
asisten-asistenya menolak dan menyuruh si Rancak dibawa kembali ke
Lubuk Bagalung. Tetapi sekali lagi si Rancak disuruh dibawa kembali ke
kota Padang, setelah rombongan Marah Pense beristirahat dan si Rancak
dalam keadaan terluka parah ditaruh digudang untuk dipertontonkan
kepada masyarakat, mereka berangkat lagi ke kota Padang.

Karena kabar penangkapannya telah tersiar, makin berduyun-duyun
masyarakat datang untuk melihat si Rancak. Tentara didatangkan untuk
menjaga keamanan dipenjara Pulau Karam karena beredar isu bahwa rakyat
Pauh ingin membebaskannya. Akhirnya si Rancak meninggal dunia pada
hari yang sama karena kehabisan terlalu banyak darah.

Si Rancak dan Marah Pense adalah saudara seperguruan silat yang
menurut aturan pada waktu itu, sesama saudara seperguruan tidak boleh
saling serang dan baku hantam. Berita yang beredar waktu itu, Marah
Pense kesal karena si Rancak meniduri janda Marah Pense tanpa ijinnya.
Atas jasanya menangkap si Rancak, Marah Pense mendapat hadiah 50
gulden.

Kisah Pengikut si Rancak

Si Galuang dan Baruak adalah dua pengikut si Rancak yang ditangkap
setelah si Rancak meninggal dunia. Sebuah ekspedisi yang terdiri dari
satu pasukan polisi dari Pauh, Penghulu Rajo Dihilir, centeng bernama
si Gagak Rajo Jambak dan beberapa jagoan asal Jawa seperti Kadirun dan
Gundat juga dikerahkan untuk menangkap mereka berdua di Bandarbuat
ketika mereka menginap dirumah saudara perempuan salah seorang dari
mereka, didekat jalan menuju ke Mata Air, perbatasan Wijk VII tetapi
ekspedi ini kembali dengan tangan hampa.

Seorang kontrolir Belanda bernama H.A Mess yang bertugas di Painan
mendengar nama si Kabuik, seorang pendekar silat. Ia sering mendengar
kehebatan para pendekar silat di Sumatera, mungkin karena si Kabuik
ini luar biasa hebatnya maka ia menawarkan pekerjaan sebagai pembantu
polisi. Si Kabuik senang bukan kepalang, karena ia hanyalah seorang
pemancing ikan dan sekarang mendapat penghasilan tetap. Si Kabuik
tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai pemancing ikan diwaktu
luangnya.

Si Kabuik adalah orang yang sopan dan mungkin lebih manusiawi, tidak
seperti Marah Pense yang senang main keroyokan dan gemar menyiksa. Si
Kabuik menangkap Galuang dan Baruik seorang diri, dua orang sekali
tangkap. Sebenarnya ia dikawal dua pengawal bersenjata, tetapi sewaktu
tiba ditempat persembunyian kedua orang itu, si Kabuik masuk seorang
diri untuk menantang keduanya berkelahi, setelah keduanya menyerah
kalah, mereka dibawa ke kota Padang tanpa di borgol, saat memasuki
kota, mereka diborgol untuk sekedar formalitas saja. Menurut berita di
surat kabar waktu itu, keris pusaka yang dipinjamkan oleh regen itupun
tidak sempat keluar dari sarungnya dalam perkelahian itu.

Berikut adalah nasib dari beberapa anggota kelompok si Rancak, Baruak
akhirnya dipenjara untuk waktu yang lama, Mara Otong dibawa ketempat
pembuangan, Galuang tewas, Abang dieksekusi mati dengan cara
digantung. Beberapa orang tidak pernah tertangkap.

Reference:
Rusli Amran, Padang Riwayatmu Dulu, 1988, Cetakan Kedua, Penerbit CV.
Yasaguna.

sumber
http://www.pelaminanminang.com/tahukah/si_pitung_dari_padang.html

Sri Yansen

unread,
Mar 19, 2009, 4:12:05 AM3/19/09
to Rant...@googlegroups.com
..kalau indak salah carito ko pernah diterbitkan jadi carito basambuang di koran Canang dulu...indak tahu apokoh koran ko masih ado
salam,
Yansen/37/lk/sawangan


Dari: Arnoldison <arn...@spij.co.id>
Kepada: Rant...@googlegroups.com
Terkirim: Kamis, 19 Maret, 2009 14:24:19
Topik: [R@ntau-Net] Si Pitung Dari Kota Padang


Si Pitung Dari Kota Padang

Kisah  Robin  Hood  di  Inggris  ataupun si Pitung di Batavia ternyata
banyak  juga  terjadi  didearah  lain. Salah satunya adalah orang yang
terkenal dengan sebutan si Rancak dari Kota Padang pada awal abad 19.




Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!!
Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah

hafi...@telkom.net

unread,
Mar 19, 2009, 4:31:58 AM3/19/09
to Rant...@googlegroups.com
Bg Yansen....lai ado abg kironyo di milis ko mah.....sajak bilo abg bagabuang...?????kalau koran canang ko io ndak ado nampak lai bg....

Irwan Setiawan

unread,
Mar 19, 2009, 1:31:26 PM3/19/09
to Rant...@googlegroups.com
Belajar Dari Bung Hatta

(Bung Hatta sebagai tokoh organisasi dan partai politik)
Oleh : Irwan Setiawan

Bung Hatta adalah nama salah seorang dari beribu pahlawan yang pernah memperjuangkan kemerdekaan dan kemajuan Indonesia. Sosok Bung Hatta telah menjadi begitu dekat dengan hati rakyat Indonesia karena perjuangan dan sifatnya yang begitu merakyat. Besarnya peran beliau dalam perjuangan negeri ini sehingga ai disebut sebagai salah seorang “The Founding Father’s of Indonesia”.
Berbagai tulisan dan kisah perjuangan Muhammad Hatta telah ditulis dan dibukukan, mulai dari masa kecil, remeja, dewasa dan perjuangan beliau untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Namun ada hal yang rasanya perlu sedikit digali dan dipahami yaitu melihat Bung Hatta sebagai tokoh organisasi dan partai politik, hal ini dikaitkan dengan usaha melihat perkembangan kegiatan politik dan ketokohan politik di dunia politik Indonesia sekarang maka pantas rasanya kita ikut melihat perjuangan dan perjalanan kegiatan politik Bung Hatta.
Setelah perang dunia I berakhir generasi muda Indonesia yang berprestasi makin banyak yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan luar negeri seperti di Belanda, Kairo (Mesir). Hal ini diperkuat dengan diberlakukannya politik balas budi oleh Belanda. Bung Hatta adalah salah seorang pemuda yang beruntung, beliau mendapat kesempatan belajar di Belanda.. Kalau kita memperhatikan semangat berorganisasi Bung Hatta, sebenarnya telah tumbuh sewaktu beliau berada di Indoensia. Beliau pernah menjadi ketua Jong Sematera (1918-1921) dan semangat ini makin membara dengan asahan dari kultur pendidikan Belanda / Eropa yang bernafas demokrasi dan keterbukaan.
Keinginan dan semangat berorganisasi Bung Hatta makin terlihat sewaktu beliau mulai aktif di kelompok Indonesische Vereeniging yang merupakan perkumpulan pemuda-pemuda Indonesia yang memikirkan dan berusaha memajukan Indonesia, bahkan dalam organisasi ini dinyatakan bahwa tujuan mereka adalah : “ kemerdekaan bagi Indonesia “. Dalam organisasi yang keras dan anti penjajahan ini Bung Hatta makin “tahan banting” karena banyaknya rintangan dan hambatan yang mereka hadapi.
Walau mendapat tekanan, organisasi Indonesische Vereeniging tetap berkembang bahkan Januari 1925 organisasi ini dinyatakan sebagai sebuah organisasi politik yang kemudian dinamai Perhimpunan Indonesia (PI). Dan dalam organisasi ini Bung Hatta bertindak sebagai Pemimpinnya.
Keterlibatan Bung Hatta dalam organisasi dan partai poltik bukan hanya di luar negeri tapi sekembalinya dari Belanda beliau juga aktif di PNI (Partai Nasional Indonesia) yang didirikan Soekarno tahun 1927. Dalam organisasi PNI, Bung Hatta menitik beratkan kegiatannya dibidang pendidikan. Beliau melihat bahwa melalui pendidikanlah rakyat akan mampu mencapai kemerdekaan. Karena PNI dinilai sebagai partai yang radikal dan membahayakan bagi kedudukan Belanda, maka banyak tekanan dan upaya untuk mengurangi pengaruhnya pada rakyat. Hal ini dilihat dari propaganda dan profokasi PNI tehadap penduduk untuk mengusakan kemerdekaan. Hingga akhirnya Bunga Karno di tangkap dan demi keamanan organisasi ini membubarkan diri.
Tak lama setetah PNI (Partai Nasional Indonesia) bubar, berdirilah organisasi pengganti yang dinamanakan Partindo (Partai Indonesia). Mereka memiliki sifat organisasi yang radikal dan nyata-nyata menentang Belanda. Hal ini tak di senangi oleh Bung Hatta. Karena tak sependapat dengan Partindo beliau mendirikan PNI Pendidikan (Partai Nasional Indonesia Pendidikan) atau disebut juga PNI Baru. Organisasi ini didirikan di Yogyakarta bulan Agustus 1932, dan Bung Hatta diangkat sebagai pemimpi. Organisasi ini memperhatikan “ kemajuan pendidikan bagi rakyat Indonesia, menyiapkan dan menganjurkan rakyat dalam bidang kebathinan dan mengorganisasikannya sehingga bisa dijadakan suatu aksi rakyat dengan landasan demokrasi untuk kemerdekaan “.
Organisasi ini berkembang dengan pesat, bayangkan pada kongres I di Bandung 1932 anggotanya baru 2000 orang dan setahun kemudian telah memiliki 65 cabang di Indonesia. Organisasi ini mendapat pengikut dari penduduk desa yang ingin mendapat dan mengenyam pendidikan. Di PNI Pendidikan Bung Hatta bekerjasama dengan Syahrir yang merupakan teman akrabnya sejak di Belanda. Hal ini makin memajukan organisasi ini di dunia pendidikan Indonesia waktu itu. Kemajuan, kegiatan dan aksi dari PNI Pendidikan dilihat Belanda sebagai ancaman baru tehadap kedudukan mereka sebagai penjajah di Indonesia dan mereka pun mengeluarkan beberapa ketetapan ditahun 1933 diantaranya:
a. Polisi diperintahkan bertindak keras terhadap rapat-rapat PNI Pendidikan.
b. 27 Juni 1933, pegawai negeri dilarang menjadi anggota PNI Pendidikan.
c. 1 Agustus 1933, diadakan pelarangan rapat-rapat PNI Pendidikan di seluruh Indonesia.
Akhirnya ditahun 1934 Partai Nasional Indonesia Pendidikan dinyatakan Pemerintahan Kolonial Belanda di bubarkan dan dilarang keras bersama beberapa organisasi lain yang dianggap membahayakan seperti : Partindo dan PSII. Ide-ide PNI Pendidikan yang dituangkan dalam surat kabar ikut di hancurkan dan surat kabar yang menerbitkan ikut di bredel. Namun secara keorganisasian, Hatta sebagai pemimpin tak mau menyatakan organisasinya telah bubar. Ia tetap aktif dan berjuang untuk kemajuan pendidikan Indonesia.
Soekarno yang aktif di Partindo dibuang ke Flores diikuti dengan pengasingan Hatta dan Syahrir. Walau para pemimpin di asingkan namun para pengikut mereka tetap konsisten melanjutkan perjuangan partai. PNI Pendidikan tetap memberikan kursus-kursus, pelatihan-pelatuhan baik melalui tulisan maupun dengan kunjungan kerumah-rumah penduduk.
Dalam sidang masalah PNI Pendidikan M.Hatta, Syahrir, Maskun, Burhanuddin ,Bondan dan Murwoto dinyatakan bersalah dan dibuang ke Boven Digul (Papua). Demi harapan terciptanya ketenangan di daerah jajahan. Walau telah mendapat hambatan yang begitu besar namun perjuangan Hatta tak hanya sampai disitu, beliau terus berjuang dan salah satu hasil perjuangan Hatta dan para pahlawan lain tersebut adalah kemerdekaan yang telah kita raih dan kita rasakan sekarang.
Sebagai tulisan singkat mengenai sejarah ketokohan Muhammad Hatta di organisasi dan partai politik yang pernah beliau geluti, kita haruslah dapat mengambil pelajaran dari hal ini. Karena sejarah tak berarti apa-apa bila kita tak mampu mengambil manfaat dan nilai-nilai positif didalamnya. Dari kehidupan Hatta di dunia politik kita bisa melihat bahwa : Munculnya seorang tokoh penting dan memiliki jiwa patriot yang tangguh dan memikirkan kehidupan orang banyak serta memajukan bangsa dan negara “bukan hanya muncul dalam satu malam” atau bukanlah tokoh kambuhan yang muncul begitu saja, dan bukanlah sosok yang mengambil kesempatan untuk tampil sebagai pahlawan dan sosok pemerhati masyarakat. Tapi tokoh yang dapat kita jadikan contoh dan panutan dalam organisasi, partai, dan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesunguhnya adalah seorang sosok yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat, ia terlatih untuk mampu memahami keinginan dan cita-cita masyarakat, serta bertindak dengan menggunakan ilmu dan iman.
Seiring dengan meruaknya wacana demokrasi, terutama di era reformasi kita bisa melihat bahwa di Indonesia berkembang berbagai partai baru yang jumlahnya telah puluhan. Dalam kenyataanya memunculkan nama-nama baru sebagai tokoh, elit partai, elit politik yang berpengaruh di berbagai partai tersebut. Ada juga tokoh politik yang merupakan wajah-wajah lama yang konsisten di partainya atau beralih membentuk partai baru. Apakah mereka sudah pantas dikatakan sebagai tokoh, elite politik / elite partai?. Sebagai salah satu sosok tokoh ideal, dengan mencontoh ketokohan Bung Hatta kita harus mampu melihat berapa persen diantara tokoh-tokoh, orang-orang penting, elite politik / elite partai di Indonesia sekarang yang telah memperhatikan kehidupan masyarakat, berapa persen diantara mereka yang sudah melakukan usaha untuk memajukan kehidupan masyarakat Indonesia baik di bidang ekonomi, pendidikan, politik dan lain-lain.
Dalam kenyataannya, kebanyakan kita melihat tokoh politik, elite politik dan tokoh-tokoh partai di Indonesia dewasa ini kurang memperhatikan kehidupan dan kemajuan masyarakat. Mereka hanya mengambil simpati masyarakat disaat-saat mereka membutuhkan suara dan partisipasi penduduk, seperti saat-saat akan diadakannnya pemilihan umum (nasional), saat diadakannya pemilihan kepala daerah (Pilkada), setelah kegiatan itu berlangsung mereka mulai meninggalkan dan melupakan masyarakat. Namun ada beberapa partai dan tokoh yang sering terlihat dalam berbagai kegiatan social dan memperhatikan masyarakat.
Apakah kita masih menganggap bahwa seorang penjahat, pemaling (koruptor) yang lolos dari sergapan hukum sebagai tokoh panutan kita di organisasi, partai politik, pemerintahan, atau kehidupan sehari-hari?. Jadi pantaslah kita belajar dari ketokohan Muhammad Hatta dalam kehidupan politiknya yang selalu bertindak demi kesejahteraan dan kemajuan rakyat Indonesia.

--- Pada Kam, 19/3/09, Arnoldison <arn...@spij.co.id> menulis:

Dari: Arnoldison <arn...@spij.co.id>
Topik: [R@ntau-Net] Si Pitung Dari Kota Padang
Kepada: Rant...@googlegroups.com
Tanggal: Kamis, 19 Maret, 2009, 2:24 PM


Si Pitung Dari Kota Padang

Kisah  Robin  Hood  di  Inggris  ataupun si Pitung di Batavia ternyata
banyak  juga  terjadi  didearah  lain. Salah satunya adalah orang yang
terkenal dengan sebutan si Rancak dari Kota Padang pada awal abad 19.

Lubuk Bagalung.. Tetapi sekali lagi si Rancak disuruh dibawa kembali ke
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages